Keadaan Sosial Masyarakat Kulon Progo

Category: Pendidikan, Sosial 1,464 0

Manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang membutuhkan interaksi dengan makhluk lain untuk bertahan hidup. Dalam diri manusia terdapat mekanisme yang mengatur bahwa setiap individu akan merasa terasing bila sama sekali tidak bergaul dengan sesamanya. Sebagai makhluk yang kompleks dan berbeda satu sama lain manusia
 membutuhkan akses untuk selalu hidup dengan manusia lain. Inilah gambaran keadaan sosial masyarakat Kulon Progo.
Suasana Desa Bulurejo Pengasih_kulon progoBegitu pula dengan manusia yang tinggal di daerah ini, Kabupaten Kulon Progo. Mungkin kata manusia kurang pas, bagaimana jika menggunakan kata masyarakat? Sepertinya lebih pantas jika menggunakan kata ini. Masyarakat Kulon Progo juga sangat membutuhkan satu sama lain. Banyak aktivitas sosial yang pada akhirnya terjadi. Kesemuanya mencerminkan aktivitas sosial dari masyarakat Kulon Progo yang begitu dinamis. Mari kita simak lebih jauh.
Keadaan bidang sosial Kabupaten Kulon Progo tahun 2010 bisa dilihat melalui indikator agama, keamanan dan kesehatan yang ada pada masyarakat, karena dari beberapa aspek tersebut mencerminkan adanya korelasi yang saling terkait. Antara satu aspek dengan aspek yang lain saling memberikan pengaruh yang signifikan.

Berdasarkan data tahun 2010 yang diperoleh, mayoritas penduduk kabupaten Kulon Progo adalah pemeluk agama Islam, yakni sebesar 93,62%, kemudian agama Katholik 4,67%, agama Kristen 1,57%, agama Buddha 0,14% dan agama Hindu 0,03%. Tempat peribadatan yang tersedia di Kulonprogo tahun 2010 terdiri dari 1.022 masjid, 518 mushola, 501 langgar, 21 gereja kristen, 4 gereja katholik dan 48 kapel dimana jumlah kapel terbanyak di kecamatan Kalibawang sebanyak 20 kapel.

Banyak terdapat kapel di wilayah Kalibawang karena disana memang menjadi daerah dengan konsentrasi umat Katolik yang cukup banyak di Kulon Progo. Tempat ibadah umat Buddha vihara hanya terdapat di Kecamatan Girimulyo yaitu 5 vihara dan 1 cetya. Sedangkan tempat ibadah umat Hindu belum terdapat di Kulonprogo. Secara umum kehidupan beragama di daerah ini cukup kondusif. Tidak ada gesekan yang menimbulkan pertikaian. Warga Kulonprogo memang mempunyai kekuatan sosial dan toleransi yang bagus dalam hal kerukuan antar umat beragama.

Dalam hal kesehatan. Fasilitas kesehatan yang tersedia di Kulon Progo terdiri dari 7 rumah sakit umum dengan 81 dokter dan 304 paramedis. Ketujuh rumah sakit tersebut terletak di Kecamatan Temon 1 unit, kecamatan Wates 3 unit, Kecamatan Lendah 1 unit, Kecamatan Nanggulan 1 unit, dan Kecamatan Kalibawang 1 unit. Sekali lagi kami menggunakan data tahun 2010 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Masih di tahun yang sama di Kulon Progo terdapat 21 puskesmas dan 63 puskesmas pembantu dengan 71 dokter dan 347 paramedis. Seiring perkembangan waktu, hingga tahun 2013 ini diperkirakan jumlahnya telah semakin banyak. Perkembangan ini kami yakini terkait dengan status Bupati Kulon Progo yang menjabat saat ini yang merupakan seorang dokter.

RSUD Wates adalah rumah sakit terbesar di Kulon Progo. Kinerjanya selalu diperbaiki dari tahun ke tahun. Di rumah sakit inilah rujukan dari berbagai Puskesmas ditujukan. Daerah yang berhasil adalah daerah yang mampu meminimalisr warganya dari penyakit memang. Namun apabila terlanjur sakit, penanganan terhadap pasien juga menjadi salah satu tolak ukur. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan adalah tingkat kesehatan balita.

Pada tahun 2010 dari 22.777 balita yang mendapat pelayanan kesehatan dari puskesmas, ada sebanyak 201 balita (0,88%) dengan status gizi buruk. Jika dibandingkan dengan tahun lalu yang sebanyak 215 balita berstatus gizi buruk, secara kuantitas angka ini mengalami penurunan. Dari 5.734 kelahiran yang dilaporkan 0,30% diantaranya lahir mati (yakni sejumlah 17 kelahiran). Pada tahun 2010 jumlah bayi yang meninggal sebanyak 56 orang dan 24 balita meninggal. Status kematian balita terkait langsung dengan ibu yang mengandungnya. Semakin sehat ibu yang mengandung, akan semakin kecil pula resiko kematian bayi yang baru saja lahir.

Selain itu, jumlah penduduk yang mendapatkan jaminan kesehatan pra bayar gratis dari Jamkesmas sebanyak 141.893 peserta, dari jamkesos sebanyak 56.000 peserta dan 4.468 peserta untuk jamkesos kader. Kesehatan harus mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Karena bagi masyarakat kecil fasilitas kesehatan yang memadai di setiap puskesmas akan menimbulkan rasa aman bagi mereka yang sedang menderita sakit. Meskipun pada akhirnya memang harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap sarana dan prasarananya.
Gambaran sisi yang tidak kondusif di Kabupaten Kulon Progo dari aspek sosial masyarakat dapat dilihat dari data kejahatan yang terjadi. Jumlah kejahatan yang terjadi di Kulon Progo tahun 2010 sebanyak 488 kasus. Jumlah tambahan napi berdasarkan putusan pengadilan mencapai 184 orang. Berdasarkan klasifikasi umur, tambahan napi tersebut terdiri dari dewasa sebanyak 80,98%, pemuda sebanyak 11,96% dan anak-anak 7,07%. Jika didasarkan pada lama kurungan <1 tahun ada 89,67%, 1-5 tahun 9,78%, lebih dari 5 tahun 0,54&% dan pidana seumur hidup tidak ada.
Masyarakat yang bersosialisasi dengan baik akan menimbulkan situasi yang baik pula pada pembangunan daerah. Suasana yang kondusif akan memudahkan pemkab dalam memberikan kesejahteraan kepada warganya. Komunikasi yang lancar menjadikan masyarakat Kulonprogo menjadi masyarakat yang bahagia. Sebagai outputnya nanti, masyarakat bersama pemerintah akan saling bahu membangun kabupaten dengan semangat yang sama. Yakni semangat nasionalisme kedaerahan. (sumber: Badan Pusat Statistik Kulon Progo)

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.