Loyalitas Kulon Progo Pada Petasan

Category: Budaya, Ekonomi, Sosial 956 1


Hari kemenangan tinggal dua hari. Seorang teman berkomentar jika puasa selalu tidak terasa. Tanpa kita sadari sudah hari ke dua puluh misalnya. Teman yang lain berkata sangat lama. Sangat lama karena ia menjalani bulan puasa jauh dari keluarga untuk yang pertama kalinya setelah merantau ke negara tetangga. Komentar yang bervariasi memang. Tapi kita mungkin sepakat bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh kebersamaan dan sukacita. Termasuk di Kulon Progo.

Seakan mepetasan kulon progonjadi agenda wajib. Ketika bulan puasa tiba, jadwal untuk berbuka bersama, reuni, rekreasi atau sekedar berbelanja bersama seolah menjadi rutinitas yang berlangsung dari tahun ke tahun. Empat minggu lamanya umat muslim menjalankan ibadah puasa. Ibadah yang syarat utamanya menahan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Empat minggu pula lamanya kita akan banyak melihat guratan datar, terkadang menjadi sumringah ketika pembeli datang memesan makanan atau barang yang mereka tawarkan. Mereka adalah pedagang musiman yang hanya ada ketika bulan puasa tiba.
Seperti di daerah lain. Kulon Progo yang merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta juga banyak terdapat pedagang musiman yang berdagang ketika bulan puasa. Dari mulai makanan kecil hingga berat, minuman, pakaian dan lain sebagainya. Mereka memanfaatkan momentum bulan puasa untuk meraup keuntungan. Sah saja karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang tidak merugikan orang lain. Namun ada yang unik. Jika kita cermati, ada kekhasan tersendiri dari pedagang musiman di Kulonprogo.
Mari kita lihat dan rasakan kembali apa keunikan tersebut. Sudah? Jika belum tengoklah sepanjang jalan di Kulon Progo. Jalanan manapun. Maka yang banyak terlihat bukanlah penjual makanan kecil khas puasa atau bahkan aneka minuman segar. Namun penjual petasan lah yang akan banyak kita temui.
Sukacita petasan
Cukup menggelitik memang, kenapa bisa petasan yang justru dominan ketika di daerah lain barang seperti ini bisa dibilang sulit didapatkan dengan bebas? Bukan soal ini yang akan kami ceritakan. Namun bagaimana warga Kulon Progo lebih senang untuk menjadi pedagang dadakan petasan daripada produk lain yang sebenarnya juga banyak menghasilkan keuntungan. Semuanya adalah soal kepraktisan produk. Selain praktis, berjualan petasan ternyata menghasilkan keuntungan yang cukup banyak.
Bayangkan jika satu petasan yang dijual menghasilkan keuntungan separuh dari harga petasan ketika kulakan. Tentu jika dikalikan sekian banyak petasan akan berapa keuntungan yang dihasilkan. Beberapa penjual tidak setuju jika barang dagangannya dinamakan petasan. Mereka lebih senang jika dagangannya disebut kembang api, karena menurutnya kembang api tidaklah seberbahaya petasan. Setelah kita cermati ya sama saja berbahayanya.
Selain itu, para pedagang menjajakan petasan tepat disisi jalan raya. Mudah dilihat oleh anak-anak yang secara umur belum diperkenankan memainkan permainan yang berbahaya ini. Selain mudah dilihat, siapapun dapat membeli termasuk anak-anak tersebut. Cukup disayangkan memang namun inilah Ramadhan. Dalam beberapa hal memang banyak keadaan yang menjadi kita toleransi.
Inilah yang selalu saya temukan ketika bulan puasa tiba di Kulon Progo. Fenomena ini jamak terjadi di berbagai sudut Kulonprogo. Entah kenapa. Banyak alasan mungkin yang menimbulkan keseragaman ini muncul. Apapun alasannya bulan puasa memang identik dengan petasan. Tidak masalah, hanya saja penjualannya harus diawasi betul sehingga tidak sembarang orang dapat membeli. Petasan telah menjadi asesoris bulan Ramadhan dan akan mencapai puncaknya pada malam terakhir menjelang Idhul Fitri. Demikianlah celah yang dimanfaatkan masyarakat Kulon Progo.
Dalam legenda Tiongkok, petasan ditemukan saat Dinasti Han berkuasa tahun 200 SM untuk mengusir makhluk pengganggu Imlek bernama Nian. Kemudian Marcopollo dalam ekspedisinya membawa petasan ke Italia dan mengembangkannya sehingga bentuk letusannya dapat berwarna warni. Di Indonesia sendiri petasan diperkirakan dibawa oleh pedagang asal Tionghoa. Saat VOC berkuasa, petasan sempat dilarang karena dapat menimbulkan kebakaran dan mengganggu keamanan. Menurut Bakdi Soemanto, orang Tionghoa di Surakarta pernah memakai petasan sebagai senjata untuk melakukan perlawanan. Selain itu, pada tahun 1971 Presiden Soeharto bahkan pernah mengeluarkan instruksi khusus dan pelarangan petasan.
Yah begitulah… Melewatkan bulan puasa di kampung halaman tak tergantikan maknanya. Termasuk bagi masyarakat Kulon Progo. Kabupaten yang tidak memiliki Pendapatan Asli Daerah besar namun cukup loyal dalam merayakan bulan penuh kebersamaan. Selamat lebaran. Selamat bersilaturahmi dengan keluarga. Selamat datang para pemudik, mari rayakan dengan kembang apimu. (sumber: Majalah Historia, foto: www.kabarselebes.com)

Related Articles

One thought on “Loyalitas Kulon Progo Pada Petasan

Tuliskan Komentarmu