Penjajahan Jepang di Kulon Progo

Category: Politik, Sejarah, Sosial 1,641 0


Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata Jepang? Apa yang pemuda pemudi jaman sekarang rasakan jika mendengar kata Jepang? Mulai dari film kartunnya yang menarik, kebudayaannya yang unik atau masakannya yang menggugah selera? Banyak jawaban akan muncul. Namun ketika pertanyaan ini ditanyakan pada pemuda dan pemudi Indonesia sekitar tahun 1943 maka bukan seperti itu jawaban yang akan muncul. Jaman itu adalah jaman penjajahan Jepang. Jaman dimana Jepang masuk ke Kulon Progo.

Jepang adalah mesin kesengsaraan yang memeras tenaga bangsa ini. Tenaga rakyat diperas untuk memperkuat ketahanan tentara Jepang saat perang di Pasifik. Termasuk rakyat Yogyakarta. Banyak saudara yang telah berumur sepuh mengisahkan bahwa kekejaman Belanda tergolong mendingan jika dibanding dengan perlakuan Jepang terhadap masyarakat pada kala itu. Meskipun pada awalnya berjalan baik. Seolah menjadi dewa penyelamat ketika Belanda tidak kunjung berhasil kita usir dari bumi Indonesia ini. Tentara Jepang berkeliaran, tidak terkecuali di Kabupaten Kulon Progo.

alah satu cara Jepang adalah menyebar propaganda kepada masyarakat Indonesia, termasuk di Kulonprogo. Masyarakat Kabupaten Adikarto dan Kabupaten Kulon Progo yang sekarang digabung menjadi Kabupaten Kulonprogo sudah merasakan hal tersebut. Kabar ini telah tersebar luas dan masyarakat memahaminya sebagai sebuah cahaya terang diujung terowongan. Apalagi setelah bulan Maret 1942 seiring berdirinya gerakan Tiga A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia) di Jakarta, pimpinan Mr. Samsoeddin, di Kabupaten Adikarta dan Kulon Progo juga terdiri organisasi bawahannya yang disebut komite. Tetapi organisasi ini hanya sebentar kemdian bubar.

Sekitar bulan April 1943 di Kabupaten Adikarta dan di Kabupaten Kulon Progo terbentuk komite Poesat Tenaga Kerja (Putera) yang mulanya dipimpin Ir. Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan Kyai Haji Mas Mansyur. Tujuannya membangun dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang telah dirobohkan Jepang. Akan tetapi pihak Jepang berpendapat bahwa tujuan (Putera) adalah untuk memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia dalam rangka membantu usaha perangnya.

Oleh karena itu Jepang membuat semacam peraturan yang mencakup apa yang harus dilakukan organisasi ini. Sebelas macam kegiatan itu antara lain yang terpenting adalah memimpin rakyat supaya kuat rasa kewajiban dan tanggung jawabnya untuk menghapuskan pengaruh Amerika, Inggris dan Belanda; mengambil bagian dalam usaha mempertahankan Asia Raya; memperkuat rasa persaudaraan Indonesia dan Jepang dan mengintensifkan pelajaran bahasa Jepang.

Selama berada di Kabupaten Adikarta dan Kabupaten Kulonprogo, PUTERA juga mempunyai tugas dalam bidang sosial ekonomi. Tugasnya cukup sulit memang, yakni membina masyarakat dan memaksimalkan potensinya itu untuk kepentingan perang Jepang. PUTERA mempunyai pimpinan pusat dan pimpinan daerah, yang masing-masing dibag atas beberapa jabatan, yaitu Jabatan Susunan Pembangunan, Jabatan Usaha dan Budaya dan Jabatan Propaganda. Pimpinan daerah dibagi sesuai dengan tingkat daerah, yaitu pimpinan tingkat shu, ken, dan gun. Pada tingkat daerah hanya diadakan dua pejabat saja yang kegiatannya terbatas pada daerah.

Putera berhasil berkembang sampai ke daerah-daerah dengan waktu yang relatif singkat. Anggotanya adalah kumpuan organisasi profesi seperti, Persatuan Guru Indonesia, perkumpulan pegawai pos, radio dan telegraf, perkumpulan Istri Indonesia, Barisan Banteng dan Badan Perantara Pelajar Indonesia serta Ikatan Sport Indonesia. Di kabupaten kita ini Putera tidak dapat berkembang dengan baik karena kondisi sosial ekonomi yang tidak memungkinkan, terutama dalam hal pendanaan.

Hal Ini dikarenakan Putera tidak mendapat bantuan keuangan dari pemerintah, walaupun aslinya PUTERA adalah organisasi resmi milik pemerintah Jepang kala itu. Oleh karena itu, Poetera harus memungut iuran dari anggotanya dan meminta sebagian keuntungan dari badan perdagangan yang didirikan olehnya.

Putera dirasakan lebih cenderung menjadi alat perjuangan bangsa Indonesia, padahal maksud didirikannya untuk membantu Jepang. Dengan alasan tersebut Jepang akhirnya membubarkan Poetera pada Januari 1944. Setelah membubarkan Poetera, Jepang lalu mendirikan organisasi baru yang diberi nama Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa). Alasan dibentuknya organisasi baru ini karena perang yang diikuti oleh Jepang semakin berkecamuk, sehingga segenap rakyat perlu dipersatukan.

Jawa Hokokai dengan tegas dinyatakan sebagai organisasi resmi pemerintah. Berbeda dengan Poetera yang pimpinannya dipegang oleh para tokoh nasionalis Indonesia, sebaliknya Jawa Hokokai berada langsung di bawah pimpinan gunseikan. Di beberapa daerah Jawa Hokokai berada di bawah pimpinan shutyokan, kentyo, guntyo, santyo sampai kutyo. Di Kabupaten Adikarta dan kabupaten Kulonprogo organisasi Jawa Hokokai juga dibentuk sampai tingkat ku atau desa.

Banyak cara digunakan Jepang untuk mendapatkan hati masyarakat Kabupaten Adikarta dan Kabupaten Kulon Progo. Cara tersebut tidak mengurungkan niat masyarakat bisa berdaulat atas tanahnya sendiri. Bayangkan jika kita hidup di massa itu. Saat tentara Jepang masih sliwar-slier. Ktika Kabupaten Adikarta dan Kabupaten Kulon Progo belum disatukan. Era yang penuh perjuangan. Kulonprogo saat ini jauh lebih baik ketimbang saat itu. Lalu apakah kita akan berdiam diri ketika sudah dimanjakan dengan segala kemudahan seperti saat ini. Sudah selayaknya kita berkarya. Mari bergerak kawan, tantangan bagimu di depan mata, bukan Jepang lagi. (sumber: Bappeda Kulon Progo)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu