Jepang Merayu Kulonprogo

Category: Politik, Sejarah, Sosial 1,086 0
838px-tanaka_shizuichiSama seperti daerah lain di Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta khususnya. Kulonprogo juga menjadi saksi bagaimana bangsa asing menduduki ataupun menjajah bangsa ini. Kulonprogo yang relatif dekat dengan pusat pemerintahan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat cukup sering dijadikan sebagai tempat pelarian para pejuang untuk meraih kemerdekaan. Letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat kota dan kontur tanahnya yang berbukit sangat cocok untuk lokasi persembunyian dan menyusun stategi menyerang tentara Belanda.
Saat masa penjajahan kolonial Belanda, sebagian besar rakyat Kabupaten Adikarta mengalami penderitaan dan sangat benci terhadap penjajah. Rakyat Kabupaten Adikarta sudah begitu lama mendamba sebuah kemerdekaan, walaupun dalam pergerakan politik praktis jarang diantara mereka yang aktif. Ketika Belanda dan Jepang sudah terlibat dalam perang, jauh sebelum menduduki Kulonprogo tersiar kabar di sana sini bahwa Jepang bermaksud melepaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Ini adalah propaganda Jepang yang sangat ampuh melunakan hati bangsa Indonesia. Masyarakat Kulonprogo percaya begitu saja akan kabar tersebut, maka masuknya tentara Jepang ke Kabupaten Adikarta dan kabupaten Kulonprogo yang kemudian berubah menjadi satu Kabupaten bernama Kulonprogo ini berjalan begitu lancar. Justru malah mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Pada akhirnya Jepang justru malah menjajah Indonesia, termasuk kabupaten kita ini. Dengan propaganda yang manis di awal hati masyarakat Kabupaten Adikarta dan Kabupaten Kulonprogo saat itu luluh. Namun pada akhirnya tetap saja, kekejaman Jepang dirasa justru lebih menyengsarakan daripada saat Belanda yang bernaung. Awalnya, suasana masyarakat baik di Adikarta maupun di Kulonprogo bisa dikatakan cukup tenang. Sebab pada waktu itu tentara Jepang bersikap simpatik dan cukup membaur dengan masyarakat. Saat awal masa penjajahan Jepang suasana perang seolah telah berakhir,sehingga keadaan cukup kondusif. Sebenarnya di Kabupaten ini pada masa itu tidak begitu banyak terdapat tentara Jepang. Tidak seperti saat masa penjajahan Belanda, orang Belanda lalu lalang hampir di semua wilayah Kulonprogo. Tidak demikian dengan orang Jepang. Orang Jepang antara lain hanya terdapat di barak tentara PETA, di markas Kenpeitai dan di sebuah pos yang sekarang terletak di pertigaan Congot.
Sesudah berada dalam penjajahan Jepang, baik kabupaten Adikarta maupun Kabupaten Kulonprogo menyesuaikan diri atau mematuhi perturan yang dibuat oleh Jepang. Baik Adikarta maupun Kulonprogo masing-masing merupakan kebupaten dan dipimpin oleh Kentyo (Bupati). Bagian kentyo disebut son (kecamatan) dan dipimpin oleh Sontyo (camat). Bagian son disebut ku (desa) dan dipimpin oleh Kutyo (kepala desa). Di Kabupaten Kulonprogo juga terdapat jabatan yang berada di atas asisten wedana yaitu wedana. Pada saat Jepang berkuasa, Wedana disebut guntyo dan berkewajiban memimpin wilayah yag disebut gun (kawedanan).
Baik pada jaman penjajahan Belanda maupun dalam penjajahan Jepang kabupaten Adikarta terdiri atas empat kecamatan dan merupakan bagian dari kadipaten Pakualaman yang berpusat di pusat kota Yogyakarta. Sedangkan kabupaten Kulonprogo terdiri atas delapan kecamatan dan merupakan bagian dari kasultanan Yogyakarta. Kabupaten Adikarta beribukota di Wates. Lalu Kabupaten Kulonprogo beribukota di Sentolo. (sumber: Bappeda Kulonprogo)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu