Tarian Rodat Asli dari Kulon Progo

Category: Budaya, Sosial 3,326 0


Besar kemungkinan banyak warga Kulon Progo yang belum kenal sepenuhnya mengenai potensi kesenian di Kulon Progo. Jangankan yang baru menetap atau generasi muda, para orangtua yang sudah lama tinggal di Kulon Progo mungkin juga banyak yang belum tau apa saja potensi budaya daerahnya. Dalam hal kesenian tari tradisional khususnya, ada beberapa tarian tradisional khas Kulon Progo yang keberadaannya hampir punah. Salah satunya kesenian tari tradisional yang bernama Tarian Rodat.

Rodat atau yang sering disebut Rodat adalah tarian rakyat tradisional yang saat ini cukup sulit ditemukan di Kulon Progo. Dahulu kesenian Radat hidup dan berkembang di Dusun Gerjen, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah. Di daerah Gerjen tersebut, Tari Rodat disebut Radat Gerjen, sebuah tarian yang diresmikan keberadaannya tanggal 1 Januari 1989. Di beberapa tempat seperti Desa Kepek, Desa Kedungtangkil, Desa Kembang dan beberapa tempat lain juga ada kelompok yang mementaskan tarian sejenis beberapa tahun yang lalu.
Sebenernya Tari Rodat adalah tarian yang dipentaskan dengan cara berkelompok, bukan tunggal. Kebanyakan seni tari yang berkembang di Kulon Progo kebanyakan memang bersifat kelompok. Tarian Rodat bukan juga seperti drama tari Pentasnya juga tidak memerlukan peralatan yang terlalu rumit. Biasanya hanya dipentaskan di dalam rumah, walaupun tidak menutup kemungkinan dapat dipentaskan di halaman pada siang atau malam hari. Alat musik yang dipergunakan untuk mengiringi Tari Rodat seperti terbang besar, terbang tengah, jedor, genjring dan dhodog atau kendang. Untuk yang tidak biasa dengan alat musik gamelan pasti tidak familiar dengan nama-nama ini. Pada umumnya, lama pertunjukan Tarian Rodat berlangsung sekitar 5 jam dan ditarikan oleh 20 orang penari pria.
Iringan tari

Tari Radat beserta satu paket pengiring musiknya tidak terlalu rumit, hanya memerlukan beberapa penabuh saja. Para penabuh dalam pementasasan Tari Radat letaknya juga di atas pentas, berdekatan dengan para penari. Pada umumnya, pertunjukan ini akan diawali dengan pembacaan Salawat Nabi. Baru setelah Salawat Nabi selesai akan disusul dengan alunan musik pengiring. Tarian rodat dimulai dengan para penari berposisi duduk, kemudian mengangguk-anggukan kepala. Kemudian setelah srokal yang dilakukan oleh dalang, penari baru mulai berdiri dan tetap membentuk garis lurus.

Posisi kaki para penari kadang terbuka, kadang juga tertutup. Begitu pula dengan posisi lengan yang kadang rendah, kadang juga sedang. Posisi tangan tidak begitu jelas, ada beberapa gerakan tidak dapat admin gambarkan. Para penari Rodat tidak menggunakan make up dan kostum. Yang dipergunakan untuk prosesi adalah hanya pakaian sehari-hari. Dalam bentuk kain sarung, dengan baju yang disebut potong mangkok semacam piyama tanpa krah. Kadang juga memakai kopiah sebagai pelengkap accesoris.

Bentuk dialog yang digunakan dalam kesenian Rodet adalah prosa. Tarian Rodat menggunakan semacam lagu dengan irama gurun pasir Arab. Lagu tersebut dibawakan oleh Dalang Rodat yang kemudian akan disaut oleh para penari dalam bahasa Arab. Dialog tersebut dari sebuah kitab yang bernama Kitab Tlodho, sedangkan lagu bacaan Tlodho dinamakan Rawi. Adapun tema ceritanya bersumber dari kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kami sangat yakin bahwa keberadaan kesenian Tari Rodat ini telah hamper punah jika tidak ingin dikatakan telah punah. Seiring berkembangnya jaman, kesenian ini cukup memprihatinkan. Bukan hanya tidak sering dipentaskan lagi. Bahkan mungkin generasi saat ini sudah tidak mengetahui lagi bahwa ada kesenian khas Kulon Progo yang bernama Tari Rodat. Jika tidak banyak masyarakat Kulon Progo minim pengetahuan akan akan kesenian ini, susah untuk sekedar membagikan informasinya. Pada akhirnya tarian ini tidak akan dipentaskan lagi suatu saat nanti.

Tarian Rodat menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi Kabupaten Kulon Progo. Oleh karena itu, kita berkewajiban untuk melestarikannya. Agar keberadaanya dapat terus terjamin, perlu peran serta semua pihak. Dari mulai pemerinah, swasta bahkan warga masyarakat sekitar. Sehingga pada saatnya nanti anak cucu kita akan tau bagaimana dan apa saja kebudayaan asli Kulon Progo itu. Tentu, kesenian ini dapat bertahan atas kemauan masyarakat dan peran serta pemerintah. Semakin sering kita menanggap kesenian tradisional Kulon Progo, apapun jenisnya, kemudian masyarakat mau untuk berduyun-duyun sekedar menonton misalnya.

Jika semakin sering dipentaskan dan disosialisasikan apa cerita dan maksud tarian ini maka secara alami kesenian di Kulonprogo, khususnya Tarian Rodat akan terus terjaga. Di samping itu, kesenian sangat berhubungan dengan selera masyarakat, sehingga perlu modifikasi khusus. Namun pengembangannya tidak diperkenankan merubah garis besar atau benang merah tariannya. Harapan kita semua, semoga semua jenis kesenian di Kulon Progo dapat diterima oleh masyarakat seiring dengan perkembangan jaman yang dinamis. (sumber: Bappeda Kulonprogo)

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.