Banjarasri Markas Republik

Category: Politik, Sejarah, Sosial 1,657 0


Minggu pagi mentari terbit di desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Tiga anak berjalan menuju gereja dengan bebas tanpa takut akan ramainya kendaraan di sisi jalan aspal yang kasar. Inilah desa Banjarasri di Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo. Desa dimana revolusi pada awal kemerdekaan menyelimuti warganya. Desa dengan sejarah di awal berdirinya republik.

WhatsApp-Image-20160608 (1)Di Banjarasri berdiri rumah sakit yang sudah ada sejak jaman kolonial, Rumah Sakit Santo Yusuf, rumah sakit yang lekat sejarah rakyat melawan penjajah. Disana lalu lalang perawat dan dokter ketika bangsa ini khususnya Yogyakarta dilanda kepanikan setelah peristiwa Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta. Banyak pengungsi berbondong keluar berpencar keluar kota. Salah satunya ke daerah bernama Banjarasri, Kalibawang.
Pada kesempatan lain rumah sakit dimana para pejuang dengan darah mengucur terbaring di bangsal bangsal kecil Santo Yusuf akan menjadi fokus cerita. Kali ini titik cerita akan berpusat pada Desa Banjarasri. Sebuah desa yang menjadi tempat kekuatan politik dan militer disusun kembali, setelah Yogyakarta berhasil diduduki Belanda.
Sama seperti desa lain di Yogyakarta, Banjarasri merupakan desa yang menjadi pendukung perjuangan melawan penjajah. Dukungan terhadap perjuangan melawan Belanda dipimpin oleh Carik Desa dan para Kepala Dusun. Mereka membentuk Barisan Pager Desa yang bertugas menjaga keamanan, memberikan bantuan sosial, membuat dapur umum, menjadi kurir dan sebagainya. Pager Desa berada dibawah komando Lurah yang akan mengorganisir pergerakan setiap anggotanya.
Tidak disangka, setelah Jembatan Bantar berhasil direbut oleh Belanda, dalam waktu singkat 27 Desember 1948 daerah Wates, Sentolo, Pengasih dan Watulunyu sudah berada di genggaman tentara musuh. Khusus untuk Wates dan Sentolo, daerah ini merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarta, sebelum akhirnya disatukan pada 15 Oktober 1951 dengan ditandai selesainya proses administrasi penggabungan. Kemudian pada 1 Januari 1952, administrasi pemerintahan baru mulai dilaksanakan dengan pusat pemerintahan di Wates.
Kerja keras pejuang
Pejuang di Kulon Progo berusaha keras menghalangi masuknya tentara Belanda. Jembatan jembatan banyak dijebol. Termasuk jembatan Kali Papah yang berada di sekitar Kantor Pegadaian Sentolo yang menuju Kaliagung saat ini. Pepohonan ditebang untuk diletakkan di tengah jalan. Setidaknya tentara musuh akan sangat kesulitan melewati rintangan rintangan ini. Memperlambat laju pergerakan mereka.
Sementara itu pertempuran yang terus berlangsung menyebabkan semakin banyak dibutuhkan peralatan perang. Di Banjarasri terdapat tempat pembuatan peralatan perang TNI, seperti peluru, detonator, granat, pistol dan senjata lainnya. Termasuk hasil rampasan dari tentara musuh.
Proses perbaikan dan pembuatan senjata dilakukan di rumah rumah penduduk secara terpencar, antara lain rumah milik Panjangrejo, Manguntukimin, Secopawiro, Kromowijoyo, Kromoinangun, Joyopawiro dan Joyoukoro.
Strategisnya letak desa Banjarasri memungkinkan para pejuang melakukan pertahanan, mengatur strategi politik dan militer dengan cukup aman. Belanda kesulitan menemukan lokasi ini mengingat kontur tanah yang menanjak dan hutan Kalibawang dan Samigaluh saat itu masih sangat lebat.
Posisi Banjarasri yang strategis secara geografis juga ditunjang keadaan desa yang tertata rapi stuktur administratifnya. Adanya Missionaris Katolik yang datang ke wilayah Kalibawang sejak awal abad ke – 20 menjadi salah satu faktor Banjarasri menjadi markas yang ideal. Tidak heran apabila wilayah ini menjadi pusat konsentrasi pengungsi dari kota.
Struktur pejabat desa yang tersusun rapi memungkinkan mereka mengurusi pengungsi, pertahanan sipil, perbekalan dan penerangan dengan baik. Apalagi ditambah keberadaan Rumah Sakit Santo Yusuf. Adanya rumah sakit sangat membantu pejuang dan warga yang saat itu didera sakit penyakit dan luka akibat peperangan.
Hutang budi TNI, POLRI dan Kejaksaan
Hal ini tentu menjadi modal penting bagi Desa Banjarasri untuk mendukung pergerakan mempertahankan kemerdekaan. Sejarah mencatat bahwa Kepolisian Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia berhutang budi pada desa kecil di utara Kulonprogo ini. Saat Agresi Militer Belanda II pecah, Jaksa Agung Tirtowinoto dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Besar Polisi Sosrodanukusumo mengungsi bersama rakyat ke desa Banjarasri.
Di Banjarasri mereka mendirikan Pos Kejaksaan Agung dan Pos Kepolisian guna melanjutkan mekanisme pemerintahan negara meskipun dalam pengungsian. Adapun rumah yang digunakan adalah rumah milik Pawirosuwarno. Kedua pejabat ini bersikap layaknya rakyat biasa. Tidak ada yang berbeda antara mereka dengan rakyat sekitar. Hanya saja militer benar benar memastikan keamanan keduanya.
Siapa tidak kenal Nama besar Abdul Haris Nasution atau lebih familiar dengan nama Jenderal Besar A. H. Nasution lalu Tahi Bonar Simatupang atau lebih dikenal dengan nama Jenderal T. B. Simatupang dan Alex Evert Kawilarang atau banyak dipanggil Kolonel A. E. Kawilarang yang kelak mendirikan cikal bakal Koppasus? Mereka adalah sebagian petinggi TNI yang ternyata pernah bermukim di Kalibawang dan Samigaluh untuk menyusun strategi perang.
Pada Februari 1948, A. H. Nasution menjadi Wakil Panglima Besar TKR atau orang kedua setelah Jendral Soedirman. Sebulan kemudian jabatan Wakil Panglima Besar dihapus dan ia ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Pada tahun 1948 ini A. H. Nasution mendirikan MBKD (Markas Besar Komando Jawa) di Perbukitan Borogunung, masih di Desa Banjarasri, Kalibawang, menyusul dikuasainya Yogyakarta oleh Belanda.
Pertimbangannya adalah perbukitan Borogunung memudahkan tentara memantau pergerakan musuh yang mungkin saja akan menyusup. Rumah seorang warga bernama Nitirejo, gambarnya rumah dengan gebyok aslinya ada di bawah, hanya saja lokasi rumah sudah berpindah sekitar 1 km dari lokasi rumah asli. Rumah ini dipergunakan menjadi tempat tinggal A. H. Nasution selama di Banjarasri, sedangkan lokasi kesekretariatan MBKD menumpang di rumah Suparja di dusun Padoan, Banjarharjo. Di penghujung tahun 1949, A. H. Nasution diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat. 
Sedikit ke selatan Kalibawang, sekitar 20 Desember 1948 pagi hari T. B. Simatupang mengungsi ke arah Kulonprogo menggunakan rakit menyeberangi Sungai Progo. Setelah itu tibalah ia di Dekso sebelum akhirnya menuju Desa Banaran, Banjarsari, Samigaluh.
Saat itu T. B. Simatupang menjabat wakil II Kepala Staff Angkatan Perang. Kepala Angkatan Perang kala itu dijabat Jenderal Soedirman, ia merangkap menjadi Panglima Besar Angkatan Perang. Sementara itu, perlu dicatat bahwa sebelum menuju Banjarasri, Kalibawang, A. H. Nasution juga singgah di Dekso setelah perjalanan dari Jawa Timur menggunakan kereta api dan turun sebelum kereta memasuki Kota Yogyakarta.
Pedal baterai sumber informasi

Di Banjarasri, A. H. Nasution yang dikenal sebagai ahli perang gerilya, meneruskan kegiatan Pos MBKD, dikenal dengan nama Pos X-2. Dari sini A. H. Nasution mengirimkan informasi dan perintah kepada Pos MBKD dan pejuang di tempat lain. Berita tersebut dikirim menggunakan radiogram yang dioperasikan menggunakan tenaga baterai yang dibuat sendiri. Untuk keperluan ini setiap pukul 15.00 sampai 17.00 bergantian dua orang penduduk Borogunung memutar pedal baterai untuk menyalakan pesawat radio. Pengiriman berita kepada Pos MBKD di tempat lain menjadikan Presiden Soekarno dan Moh. Hatta yang diasingkan ke Bangka dapat mendengar update terkini mengenai keadaan negara.

Lokasi tempat dimana pejuang mengintip pergerakan Belanda masih tersisa kini. Letaknya di sebuah puncak yang dapat dilihat dari rumah Nitirejo. Dari sana kita dapat memandang hamparan luas sawah Nanggulan dan jalannya yang berkelok. Di seputar lokasi ini lah radio informasi dipancarkan ke seluruh Indonesia.

banjarasriMengingat keberadaan A. H. Nasution dan Pos MBKD sangat dirahasiakan, hubungan beliau dengan rakyat menjadi sangat terbatas. Orang orang yang hendak menemui beliau harus melalui seleksi ketat dan berbelit, bahkan berita yang akan masuk ke markas disampaikan dengan cara beranting dari bawah menuju ke atas. Surat surat penting dari MBKD Borogunung disampaikan kepada kurir untuk dibawa ke alamat tujuan dengan pengawalan seorang tentara. Cerita unik dari perjalanan A. H. Nasution ketika memasuki Banjarasri adalah pengakuannya kepada warga bahwa ia hanya seorang guru dari Sumatra bernama Abdul Haris yang tidak bisa pulang karena tersesat.
Setelah 3,5 bulan berlalu akhirnya A. H. Nasution bersama para staffnya meninggalkan Dusun Borogunung, Desa Banjarasri. Tepat 7 Juli 1949 ia melanjutkan perjalanan perjuangannya melawan Belanda dengan tantangan yang mungkin lebih berat.
Bangsa Indonesia akhirnya menikmati kemerdakaan. Tahun ini, Agustus 2014 merupakan peringatan 69 tahun bangsa Indonesia di alam kemerdekaan. Jauh sebelum itu, pejuang kemerdekaan mengorbankan segala kepentingan untuk bangsa dan negara. Jauh di pelosok pelosok negeri, termasuk di Desa Banjarasri, perjuangan gigih dilakukan.
Kini di desa Banjarasri tepat  berdiri sebuah monumen. Di depan sebuah rumah milik warga. Monumen MBKD Pos X-2 1948-1949 terpancang dengan gagah. Diresmikan 29 Juni 1982 atas prakarsa mantan Presiden Soeharto. Sri Sultan Hamengkubuwono IX mendapat kehormatan untuk meresmikan monumen penuh kenangan. Monumen berbentuk tugu batu yang didirikan untuk mengenang jerih payah warga dan pejuang kemerdekaan dalam memperjuangkan hak bangsa ini, hak untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri.
Akhirnya disadari bahwa peran rakyat sangat penting. Mulai dari menjaga keamanan dan kerahasiaan, menyediakan tempat tinggal dan logistik. Bukti bahwa bersatunya rakyat dan tentara dipadu dengan semangat juang tinggi pasti memunculkan kekuatan yang luar biasa.
Dari sebuah desa kecil yang kini hidup tenang, damai dan bersahaja. Desa yang menjadi saksi sejarah pergolakan militer dan politik demi tegaknya ibu pertiwi. Desa yang menjaga kestabilan negara ketika republik baru saja diproklamirkan. Desa Banjarasri masih sangat asri. Warganya hidup tenang dan nyaman. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu.(sumber: Bappeda Kulon Progo; foto: https://www.flickr.com/photos/innsid3/)

Related Articles

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.