Berjuang Persikup Kulon Progo

Category: Olahraga, Pendidikan, Sosial 2,687 0


Sepakbola Kulon Progo tengah bergeliat. Pelantikan pengurus baru Pengcab PSSI Kulon Progo satu tahun yang lalu memberi angin segar bagi pecinta sepakbola di daerah ini. Persikup Kulon Progo yang lama tertidur sedikit demi sedikit mulai bangkit dari keterpurukan. Harapan kembali menyeruak diantara pesimisme yang menumpuk saling timbun selama bertahun-tahun.

Stadion Cangkring Persikup Kulon ProgoAngin segar yang berhembus terasa sejuk mengingat tiga tahun lamanya kompetisi sepakbola di Kulon Progo berhenti total. Alhasil roda kompetisi di tiga divisi yakni Divisi Utama, Divisi I dan Divisi II sama sekali tak berjalan sejak tahun 2010. Jangan bertanya mengenai nasib SSB jika klub utamanya saja tak memiliki kompetisi seperti ini. Pengcab PSSI Kulon Progo terpuruk. Akhirnya tim perserikatan milik pemerintah Kabupaten, Persikup Kulon Progo, terkena imbasnya.

Persikup menjadi bulan-bulanan klub perserikatan lain. Berkompetisi di divisi III Pengprov PSSI Daerah Istimewa Yogyakarta pun Persikup Kulon Progo kepayahan. Menghadapi Sleman United, Persikup Kulon Progo kesulitan. Menghadapi Persig Gunung Kidul juga demikian. Sebagai perbandingan, kini tim perserikatan di Yogya kecuali Persig minimal sudah berlaga di Divisi Utama nasional, bahkan Persiba Bantul malah bercokol di kasta tertinggi sepakbola tanah air, Liga Super.

Seiring berjalannya waktu muncul tim dari Bantul yakni Protaba yang saat ini berada di Divisi II nasional, kemudian Tunas Jogja dari Kota yang berada di Divisi I nasional. PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta sudah terlebih dulu berjuang di Divisi Utama nasional. Lantas bagaimana Persikup Kulon Progo? Tim ini masih bertahan di divisi terbawah negeri ini.

Apa yang menyebabkan Persikup Kulon Progo begitu sulit bangkit dari keterpurukan? Beberapa pendapat menilai faktor dana, totalitas dan integritas menjadi kendala utama. Tidak salah memang. Pada pos pendanaan, Pengcab PSSI Kulon Progo hanya menerima alokasi Rp 54 juta untuk satu tahun anggaran tahun ini.

Jika diruntut dari proses pengajuannya, dana bagi Pengcab PSSI Kulon Progo bermula di Pengcab PSSI Kulon Progo kemudian diajukan ke KONI Kulon Progo lalu menuju Disbudparpora setelah itu dana diajukan ke DPR. Pengcab PSSI Kulon Progo cukup banyak meminta dana, walaupun tetap tidak sebanyak dengan Sleman ataupun Kota, namun realisasinya hanya berkisar di angka Rp 54 juta.

Dana yang sangat mepet dipergunakan untuk semua agenda Pengcab PSSI Kulon Progo. Termasuk memutar kompetisi, pembinaan pesepakbola usia dini dan membiayai tim Persikup itu sendiri. Selain dana sebagai kendala klasik adapula pekerjaan rumah lain bagi kita perihal totalitas dan integritas.

Kendala totalitas dan integritas dirasa tidak kalah penting. Tidak banyak yang mau dengan ketulusan hati dan kerelaan penuh bergotong royong melakukan sesuatu bagi Persikup Kulon Progo. Bekerja untuk Persikup dipandang sebagai pekerjaan yang tidak menguntungkan, bahkan justru tombok. Oleh karena itu sulit bagi orang-orang yang tidak memiliki totalitas dan integritas bekerja sungguh-sungguh membaktikan diri kepada persepakbolaan Kulon Progo.

Gerak roda kompetisi

Pengcab PSSI Kulon Progo benar-benar terpuruk karena selama tiga musim ke belakang tidak ada kompetisi, musim 2010 sampai 2012. Entah sebelumnya pernahkan Persikup Kulon Progo mengalami keterpurukan yang sama. Yah sudahlah, tidak perlu jauh menerawang terlalu ke belakang jika beberapa tahun terakhir pun sudah berada di titik nadir. Saat tidak mampu memutar roda kompetisi cukup untuk membuat seorang pecinta sepakbola merasa terpukul. Pembibitan pemain otomatis terhenti.

Memasuki tahun 2013 Persikup Kulon Progo seperti terlahir kembali. Gairah pengurus baru mampu menggulirkan roda kompetisi dan semangat baru. Patut digarisbawahi kompetisi di tingkat Pengcab merupakan jantung dari prestasi klub perserikatan milik Pengcab.

Saat ini sebutan klub perserikatan bagi klub mantan kompetisi perserikatan yang berlaga di Divisi Utama nasional menjadi kurang tepat. Hal ini dikarenakan klub yang berlaga di Liga Super Indonesia dan Divisi Utama diharuskan menjadi klub profesional dengan berbagai syarat yang sangat ketat. Salah satu diantaranya tidak boleh lagi menerima dana dari APBD.

Klub perserikatan dari Divisi I hingga Liga Nusantara masih diperkenankan menggunakan dana APBD. Berbeda dengan klub yang berasal dari kompetisi Galatama di masa lalu sudah menjadi klub professional sejak kemunculannya. Dahulu klub seperti ini biasanya dimiliki oleh perusahaan tertentu.

Tahun 2013 menjadi musim yang cukup manis bagi Persikup Kulon Progo. Prestasi yang patut diapresiasi. Setelah tertidur selama tiga musim akhirnya musim lalu Pengcap PSSI Kulonprogo berhasil menjalankan kompetisi. Tidak tanggung-tanggung dari mulai Divisi Utama, Divisi I dan DIvisi II berhasil digulirkan dengan lancar tanpa kendala berarti. Bahkan di musim yang sama ada pula kompetisi bagi SSB dengan kategori umur di bawah 16 tahun dan 13 tahun.

Sedikitnya dana bukan alasan untuk tidak memberikan prestasi yang baik. Selain berhasil membungkus kompetisi dengan mulus di tahun pertama. Persikup Kulon Progo melalui tim Porda juga berprestasi cukup baik di ajang Porda 2013 yang digelar di Gunung Kidul.

Tim Porda dan LPI mengejutkan

Tim Porda Kulon Progo dibentuk dan melakukan persiapan selama 6 bulan. Efektifnya hanya 4 bulan karena beberapa kendala di awal pembentukan tim. Selama kurun waktu itu hingga selesai perhelatan Porda hanya tersedia dana Rp 22 juta. Padahal realisasi kebutuhan dana Persikup mencapai Rp 40 juta. Sebagai perbandingan, kontingen PSS Sleman yang dilatih mantan pemain PSS senior yang asli Kulon Progo, Mohammad Eksan, menerima dana hingga Rp 400 juta menurut sumber yang kami temui.

Bermain apik di kancah Porda membawa Kulon Progo bertengger di peringkat tiga, sehingga meraih medali perunggu. Pada penyelanggaraan Porda dua tahun sebelumnya, Kulon Progo berada di juru kunci. Sudah menjadi tradisi jika Persig dan Persikup hanya berebut posisi keempat. Kenyataan yang sulit dihindarkan.

Kecurigaan sempat hinggap pada kontingen Kulonprogo karena mampu menunjukan permainan impresive. Kulon Progo dicurigai menggunakan pemain dari luar daerah. Padahal pemain yang berlaga di kompetisi Porda 2013 kesemuanya adalah pemain lokal Kulonprogo.

Minimnya dana tidak dijadikan kendala untuk berusaha mendapatkan prestasi terbaik. Kenyataan bahwa dunia olahraga Kulonprogo selalu kesulitan dalam hal pendanaan diamini dengan kendala serupa di semua cabang olahraga.

Beralih ke kompetisi Liga Pelajar Indonesia yang baru saja selesai beberapa saat yang lalu. Prestasi mengejutkan juga muncul. Bertanding di Gunung Kidul, satu wakil Kulon Progo yakni SMA N 1 Lendah berhasil mencapai babak final melawan SMA N 4 Yogyakarta. Pertandingan berjalan ketat dan berimbang. Andai saja dewi fortuna menaungi kubu Kulonprogo, SMA N 1 Lendah akan menjadi sekolah Kulon Progo pertama yang mampu melaju ke babak nasional mewakili provinsi.

Kompetisi sebagai ujung tombak

Pengurus memilih berkonsentrasi membenahi internal Pengcab PSSI Kulon Progo, sebuah pekerjaan berat, meskipun pada saat bersamaan prestasi terbaik tetap dikejar sekuat tenaga. Hal itu juga dibarengi dengan pemutaran roda kompetisi di lingkup Pengcab PSSI Kulon Progo. Kompetisi merupakan ujung tombak, oleh karena itu semua divisi termasuk kompetisi yang dibagi dalam kategori umur harus dapat terlaksana rutin. Harapannya dari kkompetisi ini dapat tercipta pemain-pemain yang tidak hanya siap secara skill, namun juga fisik dan mental.

kompetisi Divisi Utama tahun lalu Halilintar dari Beji berhasil merengkuh juara pertama. Dari Divisi I PS Alaska Lendah promosi ke Divisi Utama setelah berhasil menjadi juara saat itu. Beranjak ke divisi terbawah yakni Divisi II PS Putra Agung Kaliagung membawa piala juara ke Sentolo sekaligus menggondol tiket naik kasta ke Divisi I. Untuk saat ini baru digelar kompetisi Divisi Utama di Lapangan Klampok, Kecamatan Galur dan Alun alun, Kecamatan Wates. Divisi lain akan digelar setelahnya.

Atas gagasan Bupati, diselenggarakan pula kompetisi kategori umur dibawah 16 tahun dan dibawah 13 tahun. Beberapa SSB di Kulonprogo bergabung. Pada tahun pertama HW Wates memenangkan kompetisi ini. Selanjutnya pemain-pemain potensial yang dihasilkan melalui kompetisi ini dibina seperti semi diklat untuk diperhatikan betul perkembangannya. Selain itu secara berkala orangtua wali dari anak diberikan masukan dan arahan untuk kemudian  beliau mengarahkan anaknya. Mereka diharapkan menjadi generasi emas pengisi skuad Persikup.

Persikup Kulon Progo yang menjadi kumpulan pemain sepakbola terbaik di daerah ini dalam waktu dekat akan berkompetisi di Liga Nusantara. Liga Nusantara berbeda format dari format liga musim lalu. Jika melihat persiapan daerah lain, kompetisi ini akan digelar pada Juni 2014.

Kemungkinan besar Persikup Kulon Progo akan bertanding melawan Sleman United, Persig Gunung Kidul, Rajawali Handayani Gunung Kidul dan Protaba Bantul. Juara dari tingkat propinsi akan melaju ke tingkat regional kemudian Liga Nusantara tingkat nasional. Entah kapan kepastian kompetisi ini dimulai namun tim Lereng Menoreh tidak boleh tinggal diam. Persiapan matang harus segera dilakukan.

Kabar berhembus jika Kulon Progo akan kedatangan investor dalam hal sepakbola. Sebatas desas-desus kebenaran ini masih harus dibuktikan. Jikapun demikian, investor yang masuk harus memberikan banyak manfaat bagi persepakbolaan Kulon Progo. Di samping itu cukup banyak pelatih berlisensi lumayan mengajukan diri menjadi pelatih Persikup Kulon Progo. Apapun itu sepak bola Kulon Progo harus berbenah mengejar ketertinggalan.

Stadion Cangkring

Stadion Cangkring yang menjadi stadion kebanggaan masyarakat Kulon Progo sedang dibangun guna menyongsong Porda tahun depan. Stadion Cangkring seolah merepresentasikan keadaan olahraga di Kulonprogo, khususnya sepakbola. Beberapa sisinya sedang dibangun. Konon rumput, lintasan atletik beserta tribun terbuka akan segera dibangun. Beberapa waktu yang lalu bahkan Bupati meminta Menpora secara langsung turut andil dalam proses pembangunan stadion ini.

Kita tidak boleh tinggal diam. Segenap tokoh persepakbolaan di Kulon Progo harus bekerja keras. Pengurus Pengcab PSSI Kulon Progo, pengurus klub, pemain bahkan kita yang hanya menjadi penonton pun harus memberikan sumbangsih sesuai kapasitas masing-masing. Jangan ragu untuk memberikan bantuan kepada persepakbolaan Kulon Progo. Agar senyum ceria dari anak-anak Kulon Progo yang bermimpi menjadi pesepakbola profesional dapat segera membuncah. Supaya prestasi yang kita impikan bisa segera terwujud. Maju terus Persikup Kulon Progo. (foto: www.pssikulonprogo.ga)

Download Jadwal Divisi Utama Persikup 2014. Klik disini

Download Daftar Juara dan Klub Pengcab PSSI Kulonprogo 2014. Klik disini 

Related Articles

Tuliskan Komentarmu