Hidupkan Wates dengan Bersepeda

Category: Olahraga, Pariwisata, Sosial 1,321 4


Semua bermula dari kota Jogja. Nama besar ‘Jogja Last Friday Ride” tidak asing bagi pecinta sepeda di Indonesia. Jogja Last Friday Ride merupakan agenda rutin tiap akhir bulan bagi pesepeda dari berbagai kalangan untuk berbarengan bersepeda keliling kota pada malam hari. Semakin lama agenda ini mulai menjamur ke berbagai wilayah. Di Kulon Progo namanya ‘Wates Last Friday Ride’

wates last friday rideSemua ingin mengisi kemeriahan kota masing-masing dengan agenda bersepeda. Termasuk di ibukota kabupaten ini, Wates. Tidak ada tujuan negatif. Semua ingin membudayakan aktivitas bersepeda, karena kami yakini betul bahwa bersepeda adalah kegiatan yang menyenangkan.

Sempat muncul ide bagaimana jika aktifitas seperti Jogja Last Friday Ride diadakan di Wates namun dengan nama yang berbeda. Akhirnya muncul lah ‘Wates Last Friday Ride’ itu. Bukan tanpa makna, nama ini memiliki maksud ingin mengajak semua komunitas sepeda dan umum untuk bersepeda pada malam hari di Jumat setiap akhir bulan. Banyak orang di Wates yang gemar bersepeda. Hanya saja masih bersepeda sebatas lingkungan sesama komunitas. Suatu hari bertemulah kami dengan seorang teman dan ternyata beliau satu pemikiran mengenai aktivitas bersepeda ini. Pada akhirnya terjadi kesepakatan untuk menghidupkan kota Wates dan Kulon Progo pada umumnya dengan bersepeda.

Inilah kesempatan menerapkan ide yang sekian lama tersimpan melalui agenda bersepeda. Gerakan ini didasari keinginan dan kemauan untuk menghidupkan kota Wates dengan sepeda, sekaligus membudayakan kembali aktivitas bersepeda yang kini mulai redup. Pada awalnya kami mengundang teman-teman dari berbagai komunitas untuk bergabung ke dalam aksi kecil ini. Sejak itulah Wates Last Friday Ride dimulai.

Publikasi dilakukan kurang lebih selama satu minggu. Publikasi dilakukan melalui media online, sms, juga lewat undangan yang kami sampaikandari  mulut ke mulut. Akhirnya pada Jumat terakhir di bulan Agustus 2013 edisi pertama Wates Last Friday Ride digelar. Pada edisi pertama ternyata sudah banyak peserta yang ambil bagian. Jauh dari ekspektasi yang dibayangkan sebelumnya. Hanya saja pesepeda saat itu masih didominasi oleh kalangan remaja dan pemuda, belum merata ke segala usia.

Wates Last Friday Ride tetap melaju dengan kondisi apapun. Semua dirangkul untuk bersinergi bersama membudayakan kegiatan bersepeda. Setiap bulan semakin bertambah pesertanya. Saat agenda diadakan, kota Wates selalu dipenuhi dengan pesepeda dari berbagai kalangan. Dibalik keberhasilan yang belum seberapa ini selalu ada pro dan kontra yang mengiringi perjalanan Wates Last Friday Ride. Salah satunya adalah munculnya pihak-pihak yang kurang menerima dengan aktifitas bersepeda yang rutin diselenggarakan di Wates.

Penyebabnya adalah ketika ratusan pesepeda bergerak menyusuri jalan di sekitar kota Wates jalanan menjadi relatif padat. Meskipun tidak macet, banyaknya peserta Wates Last Friday Ride tidak dipungkiri sedikit memenuhi badan jalan. Dalam hal apapun, jika jumlah massa terlalu banyak maka pada saat yang sama akan menghasilkan volume kendaraan yang banyak, sehingga mengakibatkan jalan raya tidak dapat menampung beban pengguna jalan. Sampai suatu ketika jalan raya yang dipergunakan untuk menampung volume kendaraan tidak cukup lagi menampung beban jumlah pengendara.

Mari lihat dari sisi yang lain. Bagaimana jika massa tersebut adalah para pejalan kaki, contoh sederhana sebuah pasar malam yang dipadati pengunjung. Semua pejalan kaki akan terasa sumpek jika pengunjung yang berdatangan semakin banyak. Contoh lain, jika beberapa orang keluar dari area parkir kendaraan bersamaan apakah yang akan terjadi? Tentu ruang gerak kendaraan menjadi lebih sempit.

Rasanya tidak perlu saling menyalahkan ketika jalanan menjadi penuh. Beberapa hal yang harus dan harus selalu diingat adalah pesepeda harus tertib, rapi dan selalu patuh kepada peraturan lalu lintas. Pesepeda harus mampu memberikan contoh kepada pengguna jalan lain. Begitu pula pengendara lain, karena jalan raya adalah milik bersama, bijak rasanya jika masing-masing dapat menahan diri dengan kesadaran penuh bahwa esensi dari kegiatan ini adalah menciptakan dan mempererat persaudaraan. Baik di antara sesama pesepeda dan pengguna jalan lain.

Wates Last Friday Ride telah berjalan cukup lama. Kegiatan bersepeda pada hari Jumat malam ini tidak memiliki sistem kepengurusan layaknya sebuah organisasi atau komunitas. Tidak ada koordinator, tidak ada leader, semua memiliki tanggungjawab yang sama. Wates Last Friday Ride bukanlah komunitas, melainkan wadah dari sebuah agenda dimana para pesepeda dari berbagai kalangan di Kulonprogo saling bertemu, saling mengenal satu sama lain kemudian bersama-sama bersepeda keliling kota Wates.

Tidak berhenti bersepeda pada hari itu saja, tujuan besarnya adalah mengajak segenap masyarakat untuk kembali memilih sepeda sebagai sarana transportasi. Menciptakan budaya bersepeda, sehingga pada akhirnya muncul kesadaran dari dalam diri bahwa bersepeda adalah kebutuhan, bukan sekadar hobi yang hanya dilaksanakan pada hari dimana acara ini berlangsung.

Wates Last Friday Ride adalah milik bersama. Semua bermuara ke tujuan yang sama. Yah.. Apalagi kalau bukan memunculkan budaya bersepeda, mempererat persaudaraan, menghidupkan suasana kota Wates dan Kulon Progo pada umunya serta menyalurkan hobi melalui kegiatan yang positif. Wates Last Friday Ride tentu tidak akan berhenti memberikan edukasi kepada pesepeda untuk membiasakan bersepeda dengan santun, tentu juga membangun sikap dan sifat positif yang dapat diambil dari aktifitas bersepeda.

Mari bersepeda bersama. Sampai jumpa Jumat malam tiap akhir bulan, kami tunggu yah.

Related Articles

4 thoughts on “Hidupkan Wates dengan Bersepeda

Tuliskan Komentarmu