Hikayat Pabrik Gula Sewu Galur

Category: Sejarah, Sosial 3,837 6


Gurat senja melukis langit di ufuk jingga. Pabrik Gula Sewu Galur menunggu di kejauhan. Menjelang datangnya musim penghujan sayup-sayup terdengar alunan adzan maghrib dari Masjid Trayu. Masjid sederhana di desa kecil bernama Tirtorahayu menjadi saksi perjalanan waktu Kabupaten Adikarta. Masjid ini dibangun oleh Kadipaten Pakualaman, selain Masjid Pakualaman di Girigondo, Temon, Kulon Progo

pabrik gula sewu galurJika diruntut sejarah panjangnya, Adikarta merupakan bagian Kadipaten Pakualaman Yogyakarta. Luas Kabupaten Adikarta bahkan jauh lebih luas dari tanah Kadipaten Pakualaman di pusat kota Yogyakarta. Adikarta membentang dari Galur menuju Temon bahkan sampai utara sampai daerah Bendungan. Bendungan yang kini menjadi ibukota Kecamatan Wates tercatat pernah pula menjadi ibukota Adikarta.

Sebelum berganti nama menjadi Adikarta, nama daerah ini Karang Kemuning.  Dalam catatan, Adikarta merupakan wilayah Kraton Yogyakarta. Tanah Pakualaman diperoleh dari pemberian Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Bingley Raffles kepada pangeran Notokusumo yang dianggap berjasa kepada Inggris. Setelah itu Kadipaten Pakualaman berdiri sendiri sebagai pecahan dari Kraton Yogyakarta. Dengan bujukan Raffles akhirnya Pangeran Notokusumo (Paku Alam I) terpaksa menyepakati politik kontrak yang dibuat oleh Gubernur Inggris pada 17 Maret 1813. Setelah itu Pakualaman harus mematuhi 9 pasal yang sudah disepakati dengan Inggris.

Bercokolnya Kadipaten Pakualaman di Adikarta ditandai dengan adanya sebuah Pesanggrahan yang saat ini tinggal reruntuhan serta sebuah prasasti di halaman depan Kantor Kecamatan Galur. Pesanggrahan yang menurut warga sekitar disebut Pesanggrahan Karang Kemuning konon merupakan tempat singgah Sri Paduka Paku Alam I hingga Sri Paduka Paku Alam VIII berburu mliwis di pantai. Seiring berjalannya waktu, pesanggrahan kini menjadi lokasi Pasar Brosot.

Menurut seorang juru kunci yang sehari-hari tinggal dan berprofesi sebagai juru parkir di pasar, pesanggrahan dulu merupakan tempat yang megah. Ditandai dengan temboknya yang tebal dan deret pintu yang besar. Memanjang dari tepi jalan raya Brosot masuk ke kampung sepanjang kuranglebih 100 meter. Di dalamnya terbentang deret kamar di bagian kanan dan kiri seperti kamar kos. Disinilah keluarga Pura Paku Alam biasa beristirahat sebelum kembali ke Kadipaten. Di tengah terdapat rumah utama yang dikelilingi pepohonan. Menurutnya masih ada beberapa pohon yang asli sudah ada sejak jaman pesanggrahan berdiri kokoh.

Mendengar nama Adikarta mungkin cukup asing bagi masyarakat Yogyakarta. Bisa jadi malah warga Kulon Progo sendiri belum mengerti bagaimana sebenarnya Adikarta. Salah satu sejarah paling penting di Adikarta adalah keberadaan pabrik gula Sewu Galur. Sebuah pabrik gula yang mentereng dengan cerobong asap menjulang, jalur-jalur lori berkelok menembus kebun-kebun tebu, lengkap dengan rumah-rumah gedongan ala Belanda dihiasi taman indah serta parit yang tertata rapi.

Itulah Adikarta. Sejak bergabung dan memilih nama baru menjadi Kulonprogo tahun 1951, Adikarta perlahan tenggelam ditelan jaman. Jaman dengan peristiwa yang semakin kompleks mengubur Adikarta, termasuk pabrik gula Sewu Galur. Menyisakan puing-puing kejayaan masa lalu yang beberapa di antaranya terjaga hingga kini.

pabrik gula sewu galur

Jika menuju Adikarta beranjak dari Kadipaten Pakualaman, perjalanan akan melawati wilayah kekuasaan Kraton Yogyakarta. Jika ditarik garis imaginer maka sekitar 25 kilometer jarak yang harus ditempuh dari dari Kadipaten Pakualaman menuju Adikarta. Adikarta yang begitu luas mengakibatkan jumlah penduduk disana jauh lebih banyak dibanding di pusat Kadipaten Pakualaman. Ditambah aktifitas industri dan perkebunan yang berkembang pesat mengakibatkan banyak pendatang masuk ke Adikarta.

Meskipun jauh dari pusat kota, Adikarta tetap menjadi daerah yang menggiurkan di mata Belanda. Belanda yang bermaksud berdagang sangat menikmati hasil dari kekayaan alam Adikarta. Hal ini nampak dari keseriusan Belanda mengolah perkebunan dan pabrik Gula Sewu Galur.

Lokasi pabrik gula Sewu Galur saat ini berada di daerah yang bernama Mbabrik. Menurut penuturan warga, kata Mbabrik berasal dari kata pabrik yang berubah secara fonetik selama puluhan tahun. Masyarakat seolah tak ingin melupakan fakta sejarah bahwa di kawasan tersebut pernah berdiri pabrik pengelohan tebu yang begitu masyur di masanya.

Pabrik gula Sewu Galur merupakan satu-satunya pabrik gula yang berada di wilayah kekuasaan Pakualaman. Pesisir Kulon Progo memang memiliki tanah yang subur, meskipun saat itu pesisir selatan sering dilanda banjir karena sebagian tempatnya bekas rawa-rawa.

Rawa-rawa mendominasi kenampakan tanah di pesisir Kulon Progo. Keadaan ini menyebabkan wabah malaria dan influenza tahunan selalu terjadi dan menyebar begitu cepat. Belanda mencari cara untuk mengatasi permasalahan ini, diantaranya menggeser muara Sungai Serang sehingga laguna pantai dapat mengering. Dalam sebuah pemberitaan di surat kabar Hindia Belanda disebutkan bahwa untuk mempercepat proses pengeringan rawa-rawa Belanda sampai mendatangkan beberapa kincir angin dari Belanda pertengahan tahun 1939.

Selain influenza dan wabah malaria, sekitar tahun 1945 di dekat pabrik gula Sewu Galur terdapat camp interniran atau pengasingan yang diisi oleh warga pribumi. Para wanita dan anak-anak yang ditahan di sana, terutama dari Yogyakarta kota. Setiap tahanan mendapat jatah 200 gram beras per orang per hari. Ada dapur umum sebenarnya tetapi sebagian mereka lebih memilih memasak sendiri.

Tidak ada air yang berkualitas. Kamar mandi hanya seperti jamban yang diletakan di atas parit. Cahaya hanya bergantung pada lampu minyak. Hampir semua tahanan tidur beralaskan tikar di atas lantai. Ada banyak tahanan menderita penyakit malaria, campak, cacar air dan kulit. Jika ada tahanan dinyatakan sakit parah, maka akan dilarikan ke Yogyakarta.

Satu yang kontradiktif mengingat di sekitar lokasi itu administrator pabrik Cosmus von Bornemann (lihat foto) dapat hidup dengan sangat layak, bahkan berjalan melintasi jalan-jalan desa menggunakan mobil Cadillac. Bornemann yang lahir di Semarang, 18 Desember 1863, tidak tinggal sendirian. Banyak pemilik modal lain kebanyakan warga asing tinggal di Adikarta. Dengan kehidupan dan cara berpakaian yang perlente, menggunakan pakaian khas Eropa, kumisnya tebal serta mengenakan topi. Mereka sangat berbeda dengan pribumi yang bertelanjang dada.

Rumah-rumah gedongan dengan taman-taman indah menjadi tempat dimana pejabat-pejabat pabrik gula Sewu Galur tinggal. Pribumi tinggal di rumah-rumah sederhana khas pedesaan. Pabrik gula Sewu Galur yang berbentuk seperti hanggar pesawat terbang dengan cerobong asap tinggi menjulang menjadi tempat mereka mencari nafkah sebagai buruh.

Tebu yang diolah pabrik gula Sewu Galur merupakan komoditi utama yang terdapat di Galur. Selain tebu juga terdapat beberapa perkebunan nila, rosela dan tembakau. Industri pengolahan tebu dan perdagangan bekembang pesat. Lambat laun daerah ini menjadi ramai dengan hiruk pikuk perdagangan.

Rumah Seorang Pejabat Pabrik Mr Engelbert Gula Sewu Galur 1917

Untuk memperlancar proses pendistribusian gula hasil olahan di pabrik gula Sewu Galur menuju Semarang, Belanda membangun sebuah jembatan yang membelah Sungai Progo, yaitu Jembatan Srandakan Lama yang khusus digunakan untuk kereta lori.

Kebijakan ini cukup aneh mengingat akan lebih mudah jika membuat jalur kereta dari Brosot menuju Wates. Lagipula kontur tanah menuju Wates dari Brosot tidak sulit. Terbentang daratan datar yang memudahkan pembangunan rel kereta api.

Ada unsur politis di dalam pengambilan keputusan. Nampaknya kedekatan Belanda dengan Kadipaten Pakualaman lebih memudahkan Belanda untuk membuat jalur melintang di atas sungai daripada harus berpanjang-panjang urusan dengan pihak Kraton Yogyakarta yang notabene sang empunya tanah di daerah Wates.

Sebelumnya, sadar akan potensi besar perkebunan di selatan Yogyakarta bernilai ekspor tinggi sehingga memunculkan ide dalam diri pengusaha kereta api swasta Belanda untuk membuat jalur kereta api. Kebijakan ini disusun untuk mempermudah pendistribusian gula dan komoditi lainnya menuju Yogyakarta kemudian dibawa ke pelabuhan Semarang. Kala itu di Bantul sudah berdiri pabrik pengolahan gula antara lain di Bantul, Pundung, Gondang Lipuro dan Gesikan.

Nederlands(ch)-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS atau NISM) yang merupakan perusahaan kereta api pertama di Hindia Belanda membuat perluasan jalur yang menghubungkan Yogyakarta dengan Adikarta pada tahun 1893.  Jalur ini dimulai dari Stasiun Tugu dan berakhir Adikarto tepatnya di daerah Brosot. Jalur ini merupakan perpanjangan dari jalur utama yang menghubungkan Yogyakarta dengan Semarang.

NIS tidak membangun secara langsung namun bertahap. Tahap pertama dibangunlah jalur kereta api dari Stasiun Tugu menuju Srandakan sepanjang 23 kilometer difungsikan tahun 1895. Tahap kedua baru Srandakan ke Brosot yang sekitar 3 kilometer difungsikan tahun 1915.

Distribusi hasil perkebunan lancar. Kereta api juga dimanfaatkan untuk transportasi manusia. Sampai akhirnya Jepang berhasil memasuki Yogyakarta dan merangsek ke daerah-daerah.

Tahun 1943 penjajah Jepang justru membongkar jalur kereta dari Palbapang menuju Brosot. Pada tahun-tahun itu berakhirlah kejayaan perkeretaapian yang menghubungkan Bantul dengan Adikarta. Puncaknya sekitar tahun 1975, saat Djawatan Kereta Api (DKA) menghapus jalur Yogyakarta menuju Brosot dikarenakan banyak penumpang enggan membayar tiket, rusaknya lokomotif dan rel. Merawat jalur ini dinilai tidak menghasilkan nilai ekonomis, maka dihapuslah jalur tersebut. Saat ini sisa-sisa rel kereta api masih terilihat di sekitar jalan Bantul dan pabrik gula Madukismo.

Keroncong kenangan Sewu Galur

C von Bornemann dan pejabat Pabrik Gula Sewu Galur 1917

Malam hari tanggal 8 Februari 1905, Kali Progo banjir besar, jembatan lori pengangkut gula dari pabrik gula Sewu Galur dengan panjang 803 meter rusak. Bahkan sekitar 60 meter dari total panjang jembatan telah hanyut terbawa arus. Kerugian akibat rusaknya jembatan cukup besar. Jembatan yang dibangun oleh NISM ini akhirnya diperbaiki dengan cara patungan antara pihak NISM sebagai pengelola dan pabrik gula Sewu Galur. Beruntung saat itu harga gula sedang tinggi sehingga ada sedikit harapan untuk bisa memperbaiki jembatan ini segera. Beberapa hari sebelum tragedi ini, seorang wanita pekerja terpeleset dari lori dan hanyut ditelan ganasnya Sungai Progo.

Yah begitulah, saat ini pabrik gula Sewu Galur tinggal kenangan. Degup perdagangan dan industri tanaman ekspor di Galur berhenti setelah Jepang berkuasa. Pabrik gula yang tadinya ramai perlahan ditinggalkan. Hiruk pikuk para buruh yang diisi warga lokal akhirnya berhenti. Bangunan rumah gedong di sekitar pabrik yang tadinya ditinggali oleh para pejabat pabrik mulai ditinggalkan.

Rumah para tamu pabrik menjadi sepi. Entah untuk apa kemudian bangunan-bangunan itu setelah pabrik berhenti beroperasi. Cerobong asap runtuh. Dinding-dinding tebal runtuh. Lapangan besar nan asri dikelilingi bangunan khas Belanda menghilang. Toko-toko yang berderet di daerah Brosot menghilang, sebagian milik warga Tionghoa. Sampai akhirnya bangunan-bangunan yang megah ditahun 1900 an kini berkalang tanah. Beberapa di antaranya seperti rumah yang sekarang dipergunakan sebagai tempat penggilingan gabah di daerah Mbabrik. Juga sebuah rumah tua peninggalan Belanda yang kini difungsikan menjadi kantor BRI unit Galur.

Cerita pernah berjayanya daerah Adikarta khususnya Galur dengan perkebunan gula akan selalu diingat. Rangkaian cerita nostalgia tentang betapa pentingnya posisi Galur bagi Kadipaten Pakualaman dan bagi Belanda selalu terkenang.

Dalam sebuah reuni di Belanda dibuatlah nama Sewoe Galoer sebagai judul acara tersebut. Beberapa warga Belanda mengadakan pertemuan dengan rekan-rekan yang pernah terkait langsung dengan denyut kehidupan di Galur. Musik keroncong mengalun dari piringan hitam miliknya. Mereka yang pernah tinggal di Sewu Galur. Mereka yang pernah merasakan hidup bersama masyarakat Galur. Kenanglah kawan. (sumber foto: geheugenvannederland)

Related Articles

6 thoughts on “Hikayat Pabrik Gula Sewu Galur

  1. Siti Winarsih

    Saya lahir di Sewu Galur, tapi tidak tahu letak pabriknya di sebelah mana. Di sebelah mana letak pabrik gulanya?

    Reply
    1. Admin

      Di daerah Mbabrik mbak, sekarang tersisa satu rumah yang dulu jadi tempat tinggal pejabat pabrik gula Sewoe Galoer

      Reply
      1. Siti Winarsih

        Saya juga dari mbabrik mas…dan ada beberapa rumah tinggalan Belanda yang masih apik dan terawat. Apakah pabriknya di tempat yang sekarang digunakan sebagai penggillingan gabah? di depan pasar mbabrik atau yang di dekat lapangan sepakbola?

        Reply
        1. Admin

          Bangunan pabriknya ada di area lapangan sepakbola dan gedung sekolah muhammadiyah. Cukup besar sehingga detail cakupannya kami tidak bisa memastikan

          Reply

Tuliskan Komentarmu