Keramahan Bukit Menoreh

Category: Budaya, Geografis, Sosial 2,018 3


Belum lama seorang tetangga perempuan mendapat hardikan dari orangtuanya karena menggunakan pakaian terlalu ketat ketika menghadiri upacara pemakaman. Tetangga yang berusia belasan tahun ini kemudian pulang dan berganti pakaian yang lebih longgar. Kami tidak akan membahas mengenai ketidakpekaan beliau dalam memlilih pakaian dengan konteks situasi. Norma kesopanan dan kesantunan begitu dijaga di Bukit Menoreh, Kulon Progo.

Suasana Desa Bulurejo Pengasih, Bukit Menoreh Kami ingin mengatakan bahwa norma kesopanan dan kesantunan menjadi aturan yang begitu melekat di masyarakat. Meskipun tidak ada aturan tertulis yang mengharuskan masyarakat mentaati peraturan ini.

Kesopanan sebagai norma yang berlaku dan muncul dari hasil pergaulan masyarakat sifatnya relatif. Artinya, kesopanan di berbagai tempat dan waktu memiliki ciri khas masing-masing yang membedakannya satu sama lain. Kesopanan sering dipandang sebagai bentuk luar dari perilaku seseorang seperti cara berpakaian, berbicara dan berperilaku. Sedangkan santun lebih kepada kepribadian yang dimiliki seseorang yang menjadi landasan sikap baginya untuk berperilaku sopan.

Keduanya memiliki sanksi yang juga tidak tertulis namun disepakati sebagai hukuman sosial yang cukup tegas. Lalu apa korelasi kesopanan dan kesantunan ini terhadap kehidupan masyarakat di perbukitan Kulon Progo? Entah aspek apa yang membuat realita ini nyata terjadi di lereng Bukit Menoreh. Kami ingin mengatakan bahwa kesopanan dan kesantunan masih terawat baik disana. Dibalut utuh dengan keramahan terhadap satu sama lain. Termasuk dengan orang yang baru saja mereka kenal atau bahkan tidak mereka kenal sama sekali.

Keramahan pegunungan

Setiap perjalanan ke pelosok dusun di Kulon Progo, selalu kami dapati pengalaman unik yang mungkin tidak kami temui ketika berada di tempat lain. Bahkan di Wates sekalipun sulit ditemui kadaan seperti ini. Padahal ibukota kabupaten Kulon Progo ini hanya berjarak beberapa kilometer  dari Girimulyo, Kokap, Nanggulan, Kalibawang dan Samigaluh.

Entah apa yang menyebabkan penduduk di bukit Menoreh menjadi begitu ramah. Kami generalisasikan memang. Namun sebagian besar penduduk yang kami temui memang memiliki keramahan yang justru sampai membuat kami tidak enak saking ramahnya. Terkadang kami merasa njangkar kalau di bahasa Jawa karena ketidaksopanan kami dalam meminta informasi. Namun mereka membalas itu dengan senyum ramah. Seakan tidak mempersoalkan perilaku kami yang kadang kurang sopan untuk ukuran masyarakat disana.

Pernah suatu kali kami berpapasan dengan serombongan bapak bapak yang membawa besek di Girimulyo. Sepertinya selesai mengikuti upacara kenduri di salah satu rumah warga. Kami takjub ketika belasan bapak-bapak ini menyapa kami yang memelankan laju motor karena jalan aspal tidak cukup lebar. Senyumnya tulus. Kami yang hanya menganggukan kepala dan tersenyum dibalasnya dengan sapaan monggo pinarak, nggih monggo, dengan senyumnya yang tulus. Keadaan seperti ini sulit didapat di tempat lain.

Ketika menyusuri jalan di kebun teh, Samigaluh, kami kerap bertemu dengan para penggarap kebun teh yang tidak sungkan menyapa duluan sebelum kami menyapa. Untuk ukuran wisata gratis yang sebenarnya berpotensi merusak tanaman teh milik mereka, perlakuan mereka terhadap kami bisa sampai seperti ini. Bahkan kami diantar langsung menuju lokasi lokasi luar biasa yang sama sekali tidak pernah kami bayangkan ada di Kulon Progo.

Di lain lokasi kami justru dijamu dengan hangat disebuah rumah sederhana di bukit Samigaluh. Bercerita tentang ternak dan mitos yang menyelimuti belasan lokasi di sekitar kebun teh Kulon Progo ini. Kaget, terharu dan kagum. Siapakah kami sampai mereka dengan sangat antusias menyambut bak tamu penting dari pusat kabupaten.

Keramahan yang patut dijadikan teladan. Hidup berdampingan langsung dengan alam membuat jiwa mereka sangat bersahabat dengan makhluk hidup, terutama manusia. Jauh dari hingar bingar perkotaan yang menyesakan mereka dapat hidup sejahtera dengan apa yang didapat dari alam. Kesederhanaan mereka mengajarkan bagaimana kita menyikapi hidup selaras dengan alam dan lingkungan. Kontras dengan keadaan di kota yang katanya ramah ini. Sulit sekarang kami temui orang orang dengan wajah berbinar dengan senyum tulus menyapa kepada setiap kita yang belum dikenalnya. Senyum yang tanpa tipu muslihat.

Sebagai balas budi atas keramahan ini kami mengajak kawan-kawan untuk menyempatkan mampir setidaknya nglarisi warung warung di setiap tempat yang kita singgahi atau sekedar memberikan uang seiklasnya untuk banyak tempat parkir yang belum berdiri secara resmi. Membangkitkan kesadaran akan nilai ekonomis dari pariwisata kawasan Bukit Menoreh yang sebenarnya begitu potensial. Kami mengajak untuk tidak sekedar berkunjung di objek wisata lokal Kulon Progo, namun juga menyelami masyarakatnya yang bersahaja dan memberikan mereka nilai tambah untuk semakin bersemangat mengelola potensi lokal daerahnya secara mandiri. Walaupun tanpa perhatian yang cukup dari pemerintah.

Perjalanan ini belum usai. Selamat mengunjungi wisata lokal Kulon Progo. Selamat datang di kawasan Bukit Menoreh. Kalau bukan kita siapa lagi?

Related Articles

3 thoughts on “Keramahan Bukit Menoreh

  1. Dadang Nurcahyo

    Memang luar biasa masyarakat bukit menoreh.. untuk adminnya mungkin dikasih gambar lebih keren lagi artikelnya. Sukses terus om

    Reply
    1. kulonprogoid

      Terimakasih mas. Ada gambarnya di sisi kiri atau atas. Tapi tidak semua artikel memang yang kami cantumkan gambar. Sekali lagi terimakasih 🙂

      Reply

Tuliskan Komentarmu