Kulon Progo Saatnya Berbenah

Category: Budaya, Ekonomi, Sosial 1,495 0


Kulon Progo ingin berbenah. Daerah ini bertekat mensejahterakan warga tanpa sekalipun meninggalkan kearifan lokal dan identitas yang telah terbangun rapi. Masyarakat lelah dengan stigma kawasan tertinggal. Kulon Progo ingin bangkit menggunakan kemampuan serta sumber daya yang dimiliki. Sumber daya alam dan melimpahnya sumber daya manusia menjadi ujung tombak perubahan. Salah satu gagasan revolusioner yang akhirnya menyeruak adalah batik bermotif Geblek Renteng.

Taman Segitiga Alun alun Wates Kulon ProgoStigma daerah tertinggal kerap menjadi bahan ejekan bagi mahasiswa yang berasal dari Kulon Progo. Mereka sering mendapat perlakuan berbeda ketika sesi perkenalan di kuliah di kelas. Ketika menyebut nama Kulon Progo, setidaknya beberapa tahun lalu ketika beberapa kami mengawali perkuliahan, muncul kemudian sorak sorai gaduh. Entah apa yang menyebabkan ini terjadi tetapi keadaan ini benar-benar terjadi. Mengapa Kulon Progo mendapat perlakuan seperti ini?

Pada event olahraga pun demikian. Kulon Progo menjadi bulan-bulanan kabupaten lain. Walaupun dalam beberapa kesempatan acap kali mengejutkan dengan mengalahkan kontestan dari Bantul, Sleman atau Kota, sadarkah jika kalimat acap kali mengejutkan begitu menyesakkan dada. Kulon Progo dipandang sebagai kuda hitam yang tidak diperhitungkan. Fenomena ini telah berlangsung sangat lama dan seolah melekat dalam benak para olahragawan. Memunculkan perasaan minder bagi mereka yang tidak benar-benar kuat secara mental.

Peran besar Geblek Renteng

Batik Geblek Renteng berkembang menjadi busana populer di Kulon Progo. Kenapa baru akhir-akhir ini lambang-lambang bernuansa semangat kedaerahan dimunculkan? Sejatinya lambang kedaerahan bermanfaat untuk mengikat masyarakat ke dalam semangat dan prinsip yang sama. Bentuknya bisa beraneka ragam disesuaikan dengan karakter dan potensi daerah masing-masing. Sebelum menjawab pertanyaan di atas mari tengok dari aspek sejarah dan kultur sosial.

Kulon Progo resmi bergabung bersama Adikarta membentuk kawasan administratif baru setelah bangsa ini memperoleh kemerdekaan. Sebagai kabupaten yang baru lahir dan paling muda, Kulon Progo sedikit tertinggal dibanding kabupaten/kota lain di Yogyakarta. Kenyataan yang tidak terelakan. Oleh karena itu masyarakat Adikarta ingin berbenah.

Kabupaten Sleman yang berbatasan langsung dengan Kota berdiri 15 Mei 1916. Kabupaten Bantul yang terkenal dengan Pantai Parangtritis diresmikan 20 Juli 1831. Kabupaten Gunung Kidul bahkan sudah sah sebagai kabupaten sejak 27 Mei 1831. Meskipun Kulon Progo dan Adikarta sudah eksis jauh sebelum tanggal penetapan penggabungan, tetap saja, Kulonprogo hasil penggabungan dua kabupaten baru menetas pasca kemerdekaan.

Menurut cerita beberapa warga, masyarakat Kulon Progo terbiasa dengan kemolekan dan kemudahan yang diberikan oleh alam. Dibanding kabupaten lain, Kulon Progo relatif jarang dilanda bencana alam, dianugrahi tanah yang subur, warganya relatif homogen sehingga minim konflik, debit air melimpah karena itu menjadi daerah dengan surplus pangan.

Keadaan ini membentuk karakter masyarat Kulon Progo menjadi manja, enggan mencoba, enggan bekerja keras, lantas kesulitan jika dihadapkan dengan kenyataan bahwa masyarakat kabupaten lain lebih berprestasi di bidang ekonomi, sosial, pendidikan bahkan olahraga karena terbiasa berinovasi serta bekerja keras. Pada posisi ini peran Geblek Renteng sangat vital menjadi momentum perubahan.

Berbagai usaha dilakukan

Tidak tinggal diam. Banyak cara digunakan Kulon Progo untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat beberapa tahun belakangan. Mulai dari membuat slogan yang membangkitkan semangat berwirausaha, membuat rumah sakit dan berbagai kebijakan pro rakyat kaitannya dengan pendidikan dan kesehatan, memperbaiki akses jalan, menguatkan budaya gotong royong dengan bedah rumah, menggerakan ekonomi kreatif masyarakat dengan pariwisata, memberikan bantuan kepada pengusaha kecil menengah, mendorong produsen produk-produk usaha kecil dan menengah giat berinovasi, sampai memunculkan batik motif Geblek Renteng untuk memadukan perbedaan di tengah masyarakat sehingga muncul semangat yang sama. Semangat perubahan.

Banyak usaha dilakukan. Termasuk mendukung gagasan bandara yang digadang-gadang menggantikan Bandara Adi Sutjipto yang dianggap tak lagi layak. Rencana ini memunculkan pro kontra di tengah masyarakat. Termasuk masyarakat dari luar Kulon Progo turut masuk dalam hiruk pikuk bandara. Persoalan bandara harus diselesaikan dengan baik serta adil bagi siapapun.

Bandara tidak serta merta mengubah kehidupan masyarakat Kulon Progo. Tetapi keberadaannya bisa menjadi stimulus bagi masyarakat untuk bekerja lebih keras dan berinovasi karena ada peluang yang kemudian tercipta. Kulon Progo akan semakin diperhitungkan dan semakin sering dilihat oleh masyarakat luar. Roda perekonomian makin bergeliat seiring sejalan dengan kearifan lokal yang terus terjaga.

Dampak baik dari bandara tidak hanya dirasakan warga yang tinggal di selatan tapi juga menjadi penyemangat bagi warga di seluruh sudut Kulonprogo untuk belajar lebih peka, berusaha dan bekerja lebih giat seiring munculnya kesempatan yang terbuka lebar. Memang dampak negatif selalu akan muncul, kenyataan ini selalu ada. Tetapi biarkan Kulon Progo mencoba. Biarkan daerah ini mengusahakan apa yang menjadi potensinya sekaligus menjaga tekat untuk selalu memupuk kearifan lokal.

Bandara tak boleh menjadikan masyarakat kehilangan identitas, kehilangan lapangan pekerjaan, kehilangan tempat tinggal, kehilangan kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan. Bandara harus adil bagi siapapun yang terdampak langsung proses pembangunan. Mereka adalah warga yang harus mendapat perhatian ekstra. Merekalah yang nantinya akan menjadi pahlawan. Tentu dengan ganti keuntungan yang sesuai dengan hak yang seharusnya diperoleh.

Terlalu naif mengidam-idamkan bandara terwujud tanpa sosialisasi yang seimbang bagaimana dampak positif dan negatifnya. Sosialisasi penting sebab masyarakat harus bersiap diri. Bukan untuk menolak keberadaannya tapi untuk memberi gambaran bagaimana bersikap dengan bijak kaitannya dengan efek baik dan buruk yang kemudian akan muncul. Seminar dan diskusi harus sering digelar untuk menguatkan pemahaman masyarakat serta membiasakan musyawarah dalam menentukan keputusan.

Yah memang, terlalu polos jika menganggap dengan adanya bandara kehidupan Kulon Progo akan langsung berubah. Perlu waktu, kerja keras, ketelatenan, inovasi dan kemampuan untuk cepat menangkap peluanglah yang menentukan perubahan.

Bandara dan berbagai usaha yang dirintis Kulon Progo merupakan upaya pemanfaatan sumber daya. Batik motif Geblek Renteng memadukan berbagai upaya di atas sehingga selalu berada di koridor yang benar.

Berbagai usaha yang dirintis sesungguhnya impian untuk dapat memanfaatkannya bagi kepentingan banyak orang, bukan untuk menjerumuskan beberapa warga. Tidak ada sama sekali niatan ke arah itu. Kulon Progo adalah keluarga yang saling menguatkan satu sama lain. Ada cita-cita besar yang sedang direncanakan. Bagi semuanya. Seluruh warga Kulon Progo dan Yogyakarta pada umumnya.

Related Articles

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.