Kulon Progo Terdampak Abu Kelud

Category: Ekonomi, Geografis, Sosial 741 0


Gunung berapi menjadi pemandangan umum hampir di setiap kota di Pulau Jawa. Hampir tiap kota besar di Jawa bertahta gunung berapi dengan karakter masing masing. Setiap gunung menyimpan legenda masing masing yang menempatkan gunung berapa layaknya sesuatu yang harus dihormati dan pendapat perhatian khusus. Tempo hari giliran Gunung Kelud. Letusannya menyebabkan debu vulkanik beterbangan hingga Kulon Progo.

gunung keludGunung berapi di Jawa ada yang masih aktif ada pula yang pasif. Kesemuanya terangkum dalam istilah Cincin Api Pasifik. Sebuah jalur kegempaan dan gunung berapi yang memanjang seperti tapal kuda dari kepulauan di timur Australia, kemudian Indonesia, Jepang, pantai barat Amerika Utara sampai pantai barat Amerika selatan. Daerah daerah ini sangat sering dilanda gempa dan letusan gunung berapi serta efek lain yang diakibatkan dari kejadian tersebut.

Bukti tentang Cincin Api Pasifik ini dijabarkan dengan jelas saat meletusnya Gunung Merapi (2930 mdpl) di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2006 yang terhitung cukup dahsyat. Kemudian pada 2010 yang merenggut sedikitnya 341 korban jiwa. Lalu Gunung Sinabung (2460 mdpl) di Sumatera Utara yang meletus pada 2010 dan 2013 yang merenggut belasan nyawa. Terakhir adalah Gunung Kelud (1731 mdpl) di Jawa Timur yang baru tadi malam mengalami letusan. Suara letusan terdengar hingga Wates, tempat kita tinggal, yang berjarak sekitar 290 kilometer dari Gunung Kelud.

Letusan Gunung Kelud dikenal sebagai Gunung bertipe eksplosif. Namun pada 2007 karakter itu seakan berubah karena Gunung Kelud yang sudah berada di status awas ternyata hanya meletus pelan saja. Justru melahirkan kubah baru yang oleh masyarakat disebut Anak Gunung Kelud. Perkembangannya, lokasi puncak Gunung Kelud ini menjadi primadona wisata. Menjadi lumbung APBD bagi Jawa Timur.

Dentuman keras

Tadi malam bersama beberapa kawan duduk sambil ngobrol di Wates. Mendadak terdengar suara seperti bedug dipukul. Mirip suara gludug karena biasanya jika hawanya sumuk maka akan turun hujan. Ternyata bukan, di media social sudah banyak statement yang berkata bahwa letusan tadi merupakan dentuman yang berasal dari letusan Gunung Kelud. Ngerinya, dentuman ini juga terdengar sampai Purbalingga. Sontak segera mencari informasi setepat mungkin. Apakah benar suara itu merupakan letusan Gunung Kelud? Ternyata kabar itu dibenarkan oleh salah satu berita tv. Gunung Kelud meletus pukul 22.50. Ribuan warga mengungsi.

Beberapa orangtua bergumam mengenai kemungkinan abu vulkanik sampai ke Wates. Tidak disangka tebakan ini benar karena ketinggian letusan mencapai 17 kilometer. Merapi yang pada 2013 lalu juga mengalami erupsi freatik memiliki ketinggian kolom asap setinggi 2 kilometer, letusan 2010 sekitar 4 kilometer saja sudah mampu menjamah halaman Kulon Progo. Akhirnya benar tebakan ini. Abu vulkanik menurut kawan kawan dirasakan di Wates sekitar pukul 04.00 tadi saat badan ini masih lelap tertidur.

Kembali Kulon Progo diguyur abu vulkanik setelah terakhir pada 2013 lalu, itupun tidak begitu banyak. Seketika aktifitas masyarakat di kabupaten paling barat Yogya ini lumpuh. Instansi pemerintah masih melayani masyarakat namun tetap tidak optimal. Sarana transportasi lumpuh. Kegiatan ekonomi di pasar pasar juga lumpuh. Jalanan sepi. Warung dan toko tutup bahkan sampai malam. Hanya nampak beberapa saja yang nekat menembus hujan abu di tengah jalanan yang penuh tebal abu muntahan Gunung Kelud. Hanya apotik dan sarana yang berhubungan dengan kesehatan saja yang siang tadi relatif masih ramai.

Sungguh meletusnya Gunung Kelud berdampak cukup besar bagi kehidupan masyarakat Kulon Progo. Tumbuhan yang berwarna hijau berubah menjadi warna abu yang pucat. Sayuran di pegunungan Kulon Progo, padi serta komoditi tanaman di pesisir Kulon Progo diperkirakan akan merugi. Belum aktifitas lain seperti pariwisata yang tentu mandek seiring minimnya wisatawan yang berkunjung. Untuk sektor pariwisata mungkin baru akan mulai ramai setelah 2 minggu ke depan. Kegiatan belajar mengajar diliburkan. Puskesmas disiagakan 24 jam. Ini menjadi tanda bahwa kabupaten ini mersa perlu bertindak cepat dan sadar betul bahwa letusan Kelud bukan letusan biasa.

Dampak dan manfaat abu vulkanik

Rontokan abu vulkanik berhasil mengubur aktivitas masyarakat Kulon Progo sehingga mayoritas warga hanya berdiam di rumah. Banyak sekolah yang diliburkan. Mayoritas warung dan toko yang memilih tutup. Abu vulkanik dianggap menjadi sesuatu yang mengganggu kesehatan sehingga harus dihindari. Dianggap menjadi bencana yang hanya menebar kesusahan. Kenyataannya tak seburuk ini. Abu vulkanik memberikan jaminan manfaat kepada anak cucu kita.

Memang betul kandungan abu vulkanik sarat akan materi kimia yang dapat mengganggu kesehatan dan lingkungan. Terlepas dari itu, kandungan kimia dari abu vulkanik muntahan Gunung Kelud juga memunculkan manfaat bagi makhluk hidup.

Dalam jangka pendek, abu vulkanik gunung berapi memiliki dampak buruk bagi manusia dan makhluk hidup pada umumnya. Namun ketika sudah bereaksi dengan zat lain dalam jangka panjang, abu vulkanik berubah menjadi manfaat yang dibutuhkan manusia yakni menyuburkan area pertanian.

Abu vulkanik dengan dampak jangka pendek yang buruk diakibatkan karena material abu memiliki sifat kimiawi yang dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah. Abu vulkanik memiliki kadar keasaman (Ph) sekitar 4 sampai 4,3. Abu vulkanik yang menyentuh tanah akan membuat tanah memiliki kadar keasaman (Ph) tanah sebesar 5 sampai 5,5. Hal ini berdampak buruk terhadap kesuburan tanah karena normalnya tanah dikatakan subur jika memiliki kadar keasaman (Ph) sebesar 6 sampai 7.

Kadar keasaman yang turun akan menurunkan tingkat kesuburan tanah sehingga dampaknya adalah produktivitas lahan menjadi berkurang. Tanaman akan sulit berkembang di lahan yang baru saja terkena abu vulkanik. Sekalipun hidup produktivitas tanaman tidak akan optimal. Namun, selain menurunkan tingkat kesuburan tanah, efek jangka pendek abu vulkanik terhadap tanah ternayata dapat membunuh hama pertanian seperti serangga atau gulma. Keasaman tanah menjadi alasan mengapa hama akan sulit berkembang jika abu vulkanik mengurung permukaan tanah.

Selain dampak buruk  dalam jangka pendek turunnya abu vulkanik ternyata seiring bergulirnya waktu abu ini dapat memunculkan manfaat yang tidak kalah laur biasanya. Abu vulkanik dapat memberikan dampak yang positif bagi peningkatan produktivitas tanah, tentu dalam jangka panjang dan memerlukan proses. Saat kadar keasaman dari abu vulkanik telah dapat dinormalisasi melalui proses alamiah ataupun dengan bantuan manusia melalui proses pengapuran (CaCO3 maka kandungan mineral yang tersimpan dalam abu vulkanik akan menjadi pupuk yang cocok pembudidayaan tanaman pertanian. Kandungan abu vulkanik yakni Besi (Fe), Aluminium (Al), Magnesium (Mg) dan Silika (Si) adalah mineral yang dapat yang dapat membantu menyuburkan tanaman. Namun sekali lagi, untuk menjadi pupuk memerlukan proses yang cukup lama.

Kulon Progo sebagai kabupaten dengan mayoritas mata pencaharian masyarakatnya bertani dan berkebun tentu terpukul dengan dampak abu vulkanik. Namun layaknya hidup yang harus terus berjalan. Kepercayaan untuk selalu bangkit menjadi kunci untuk dapat bangkit dari bencana. Bencana akan usai, tanah beranjak subur, masyarakat tak lama kemudian menjadi makmur. Jangan mengeluh kawan-kawan Kulon Progo. Tetap berkarya, walaupun raga ini tengah dikepung bencana. (foto: kulonprogonews.com)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu