Lautan Api di Wates dan Sentolo

Category: Politik, Sejarah, Sosial 4,152 5

Rakyat Sentolo bertarung dengan tentara Belanda di Jembatan Bantar. Korban berjatuhan dari kubu republik maupun pasukan Belanda. Darah mengalir mengucur di aliran Sungai Progo. Jembatan Bantar, salah satu jembatan gantung menumental di Indonesia, dengan panjang 176 meter dan menghubungkan Kabupaten Bantul serta Kabupaten Kulon Progo menjadi saksi bisu perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan yang diperoleh dengan berkorban darah, pikiran, materi dan peluh.

Jembatan Bantar Kulon Progo

Perlawanan ini dipicu keputusan Belanda membatalkan gencatan senjata kemudian menyerang lapangan terbang Maguwo dan kota Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Serangan Belanda sedikit demi sedikit merangsek ke barat mencapai daerah Demak Ijo, dengan ini rakyat menjadi yakin bahwa Belanda tidak sedang main-main. Warga berbondong-bondong mengungsi ke arah barat. Demak Ijo yang tak luput dari serangan Belanda saat ini menjadi markas Batalyon Infanteri 403/Wirasada Pratista Kompi C atau tepatnya di perempatan ringroad jalan Godean.

Dengan sangat cepat pada sore hari di hari yang sama kota Yogyakarta sudah dapat dikuasai Belanda. Tidak cukup sampai disitu. Untuk benar-benar melumpuhkan Yogyakarta, Belanda juga mengerahkan pasukannya menuju tempat-tempat yang dinilai penting di Bantul, Sleman, Gunung Kidul dan Kulon Progo yang menjadi daerah dengan akses luas ke Jawa Tengah dan Jawa Barat tak luput dari perhatian Belanda. Menurut Belanda jika Jembatan Bantar dapat dikuasai maka lambat laun kota Wates yang saat itu masih menjadi pusat wilayah Kabupaten Adikarta dan Sentolo yang menjadi ibukota Kabupaten Kulon Progo dapat segera dikuasai.

Hanya delapan hari sejak Belanda menyerang lapangan udara Maguwo, Belanda telah berhasil merangsek ke wilayah Bantul yang berbatasan dengan Kulonprogo. Tepatnya pada 27 Desember 1948 Jembatan Bantar jatuh ke tangan Belanda. Belanda menggunakan rumah salah satu warga bantar untuk dijadikan markasnya. Meskipun demikian sudah ada tentara Belanda yang berusaha menyeberang jembatan dengan cara merangkak, karena sebelumnya jembatan sudah sedikit dirusak oleh gerilyawan.

Bom gagal diledakan

Kedatangan tentara Belanda yang semuanya berjalan kaki sebenarnya sudah dapat dilihat oleh para pejuang di Kecamatan Sedayu, Bantul. Para pejuang yang bertugas menjaga Jembatan Bantar mendapat tugas untuk memasang beberapa bom. Jembatan Bantar pertama mempunyai panjang total 176 meter dengan jumlah bentang 3 buah, yakni 48 meter, 80 meter dan 48 meter. Jenis bangunan atas berupa jembatan gantung, bangunan bawahnya pondasi sumuran dan jenis lantainya yakni balok dan papan kayu. Kita tau saat ini Jembatan Bantar sudah berjumlah 3 buah.

Dua buah bom digantungkan di bawah jembatan sedangkan sisanya dipasang di pondasi jembatan. Rangkaian bom akan menjadi penyambut tentara Belanda jika tetap berjalan melintasi Jembatan Bantar. Belum sempat diledakan, tentara Belanda sudah berhasil melewati Jembatan Bantar. Rencana pejuang gagal total. Tentara musuh berhasil memasuki wilayah Kulon Progo.

Setelah berhasil menguasai Desa Bantar, Belanda membakar sejumlah rumah, membuat lubang persembunyian dan memasang kawat tajam. Dapur umum dan persenjataan begitu lengkap diletakan di sebelah timur sungai dengan anggota sekitar 81 orang. Di barat sungai atau di wilayah Kulon Progo hanya terdapat sekitar 30 tentara yang berjaga.

Dapur umum yang dibangun Belanda memiliki sejumlah juru masak yang diambil dari warga sekitar. Salah satu dari mereka menjadi informan bagi para pejuang. Sepulang bekerja di markas Belanda, sang informan selalu memberikan informasi-informasi yang dirasa penting bagi pergerakan pejuang dalam menentukan taktik dan strategi perlawanan.

Sebelum tentara menginjakan kaki ke Kulon Progo, tiap kecamatan di Kulon Progo sudah siap menghadapi kemungkinan apapun, termasuk konfrontasi secara terbuka dengan tentara Belanda. Semua penduduk yang sudah dewasa, baik tua maupun muda, pria atau wanita, diwajibkan untuk mengikuti perang rakyat, sebutan untuk perang yang dilakukan oleh masyarakat diluar militer pada saat itu.

Bumi hangus dan pergerakan rakyat

Begitu mengetahui tentara Belanda sudah memasuki daerah Sedayu maka pihak militer memerintahkan untuk melakukan pembumihangusan kantor dan rumah serta penjebolan jembatan di seputar Wates dan Sentolo. Tujuannya agar Belanda tidak memanfaatkan bangunan dan menyulitkan tentara musuh memasuki kota Wates dan Sentolo.

Tak lama setelah pengumuman itu akhirnya gedung kabupaten, rumah kerajinan, gedung pegadaian, kantor pos, pasar, stasiun, rumah orang keturunan Tionghoa dan rumah wedana tidak luput dari kobaran api. Mungkin ini sebabnya tidak banyak ditemukan bangunan dengan arsitektur masa lalu atau bahkan bangunan yang berciri khas Belanda di sekitar Wates dan Sentolo.

Pembumihangusan bangunan dan penjebolan jembatan ternayata cukup efektif menahan laju tentara Belanda memasuki Wates dan Sentolo. Berhasilnya menahan pergerakan tentara Belanda tidak luput dari perjuangan Gerakan Pemuda Sentolo dan Pasukan Suro Panggah. Pasukan Suro Panggah sendiri memiliki pimpinan yang berasal dari sebuah desa bernama Salamrejo. Lokasinya kini terletak sebelum Pasar Sentolo baru belok ke kiri jika dari arah pusat kota Jogja.

Pasukan Suro Panggah berisikan para pemuda yang memiliki keberanian lebih, gagah berani dan tangguh, termasuk mereka yang kala itu termasuk dalam golongan pemuda yang nakal. Jumlahnya tak banyak, namun keberanian yang terdapat di dalam diri setiap anggotanya tidak dapat diragukan lagi. Pasukan Suro Panggah menggunakan senjata yang lebih modern. Kebanyakan merupakan senjata bekas tentara Belanda, Jepang serta mendapat suplai dari militer, seperti granat dari pos militer Demak Ijo.

Gerakan Pemuda Sentolo dan Pasukan Suro Panggah beserta kelompok-kelompok lain sangat kompak menggalang kekuatan untuk melemahkan bahkan menghancurkan Belanda. Mereka tidak terima jika ada bangsa asing yang kembali ingin menjajah Indonesia setelah Indonesia dinyatakan merdeka. Mereka ingin melindungi kedaulatan Indonesia. Berbagi tugas dengan tujuan yang sama yakni membantu militer mempertahankan kedaulatan Indonesia yang baru saja diproklamirkan.

Selain Gerakan Pemuda Sentolo dan Pasukan Suro Panggah, pamong praja juga bahu-membahu menghambat gerak Belanda menuju Wates. Caranya dengan menjebol jembatan Kali Popoh yang terletak di sebelah barat Sentolo menuju Wates.

Deru peluru yang beterbangan, tetes peluh dan darah yang mengalir menjadi pertanda bahwa kemerdekaan tidak dengan mudah diraih. Jutaan nyawa harus melayang untuk mendapat predikat sebagai negara merdeka yang berdaulat. Sudah selayaknya masyarakat pada saat itu mempertahankannya. Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah melakukan hal yang sama? (Sumber: Bappeda Kulon Progo)

Related Articles

5 thoughts on “Lautan Api di Wates dan Sentolo

  1. Admin

    Terimakasih. Kalau boleh tau dimana alamat tetua dukuh yang Mas Farhat maksud? Jika berkenan kami berkeinginan untuk mencari informasi lebih lanjut dari beliau 🙂

    Reply
  2. farhat

    ceritanya sama persis dengan apa yang sering disampaikan tetua di dukuhku. Menurut cerita yang beliau sampaikan, beliau termasuk salah satu anggota suro panggah, dan sekarang masih hidup.

    Reply

Tuliskan Komentarmu