Lingga dan Yoni Saksi Peradaban

Category: Budaya, Sejarah, Sosial 1,862 5


Menyimak cerita dan benda peninggalan sejarah bagi banyak orang mungkin menjemukan, tetapi tidak bagi yang memiliki ketertarikan terhadap studi masa lalu. Masa lalu kaitannya dengan sejarah selalu menyimpan ranting-ranting berbuah yang siap untuk dipetik manfaatnya. Layaknya seorang ibu yang mengajarkan keteladanan sang ayah kepada anaknya. Sayang sang ayah telah meninggal sebelum anaknya dilahirkan. Sayang perhatian Kulon Progo terhadap riset sejarah kurang.

11166097_10204434515407010_904969298_n (1)Bicara mengenai benda peninggalan sejarah mari kerucutkan lingkupnya melalui sebuah pertanyaan. Mengapa tidak ada satupun candi atau minimal reruntuhan candi yang ditemukan di Kulon Progo? Pernah memang suatu kali ditemukan benda mirip reruntuhan candi di Grubug, Jatisarono, Nanggulan. Benda yang katanya seperti bagian candi ini bernama Candi Jatiwangi. Kini sudah dipendam kembali karena alasan yang tidak banyak orang tahu.

Sulit untuk menjawab pertanyaan di atas kecuali bagi yang memang paham dan berkecimpung di bidang sejarah. Secara awam pertanyaan mendasar seperti di awal tadi kerap muncul di lingkungan masyarakat Kulon Progo. Mengapa ketika di Sleman sering ditemukan bangunan yang menyerupai candi tetapi di Kulon Progo tidak? Justru yang paling banyak ditemukan adalah lingga dan yoni.

Seperti dalam tulisan sebelumnya, banyak studi menyimpulkan bahwa memilih lokasi pembangunan candi atau tempat beribadah ternyata tidak asal bangun. Banyak pertimbangan dan syarat khusus yang harus diperhatikan oleh masyarakat saat itu. Beberapa diantaranya adalah harus dekat dengan sumber mata air, dekat tepian sungai, berada di sekitar lereng gunung yang bermata air dan lokasi terbaiknya adalah yang dekat dengan pertemuan dua sungai.

Lokasi seperti lahan bekas tempat pembakaran mayat, lahan rawa dan lahan berbatuan sangat dihindari oleh masyarakat periode klasik ketika akan membangun candi atau bangunan suci. Selain itu, pengetesan terhadap kepadatan tanah, kesuburan tanah dan pengujian uap tanah dari zat berbahaya selalu dilakukan sebelum candi sebagai tempat suci benar-benar hendak dibangun.

Entah seperti apa vegetasi tumbuhan, keadaan tanah, kondisi masyarakat Kulon Progo pada jaman itu sehingga tidak banyak benda peninggalan sejarah yang berhasil diangkat dan diungkap asal usulnya. Dari sekian banyak yang dapat diangkat lingga dan yoni masih menjadi primadona karena relatif sering ditemukan.

Lingga dan yoni

Khusus untuk yoni banyak yoni yang akhirnya ditemukan di beberapa daerah di Kulon Progo, misalnya di Banjaroyo, Kalibawang; kemudian Jatisarono, Nanggulan; Tuksono dan Banguncipto, Sentolo; lalu di daerah Pandowan dan Karangsewu, Galur; terakhir pernah juga ditemukan sebuah yoni di Giripurwo, Girimulyo. Beberapa tempat di atas pernah ditemukan satu buah yoni.

Berbeda halnya di Kecamatan Pengasih. Di daerah ini pernah diketemukan enam buah yoni. Masing-masing di Karangsari terdapat dua buah, di Sendangsari tiga buah sedangkan di desa Pengasih sendiri terdapat satu buah yoni. Entah alasan apa yang mendasari daerah ini lebih banyak diketemukan yoni dibandingkan dengan daerah lain.

sendiri melambangkan kelamin wanita, yoni menjadi landasan lingga yang digambarkan menjadi lambang kelamin pria. Di permukaan atas yoni terdapat sebuah lubang berbentuk segi empat tepat di bagian tengah. Fungsinya untuk meletakkan lingga. Keberadaan lingga dan yoni kerap dihubungkan dengan keberadaan candi tempat pemujaan.

Yoni merupakan interior bangunan pada masa lalu. Diposisikan di bagian tengah ruang bangunan dan digunakan sebagai dasar meletakan arca dan lingga. Berdasarkan konsep yang sudah lama berkembang yoni menjadi indikator arah letak candi yang menjadi tempat ibadah bagi umat Hindhu dan Budha pada jaman itu.

Lingga pada umumnya diletakkan dalam sebuah lubang yang terdapat di bagian atas yoni. Variasi bentuk lingga dapat berbentuk segi empat panjang, segi empat, lonjong dan ada juga yang bulat. Pada sisi atas yoni terdapat sebuah saluran menyerupai pancuran sebagai tempat mengalirkan air suci. Pancuran ini selalu menghadap utara, sehingga yoni sering dijadikan petunjuk arah saat proses eksvakasi benda peninggalan sejarah yang lama terkubur.

11263785_10204434512206930_1660634835_nSelain di dalam ruangan, yoni juga kerap diletakkan di tengah tempat lapang pada saat upacara. Berdasarkan penelitian, yoni sering digunakan saat upacara tertentu. Ketika prosesi upacara yoni selalu dikelilingi pejabat dan masyarakat jelata. Berdasarkan kenyataan ini muncul dugaan dari pada ahli bahwa yoni selalu berhubungan dengan pemukiman pada masa itu. Kesimpulan sementaranya dimana ada yoni disitulah terdapat pemukiman. Pada akhirnya yoni selalu dikaitkan dengan persebaran pemukiman pada periode klasik.

Situs Tirto terbengkalai

Lingga dan yoni yang banyak ditemukan di Kulon Progo melambangkan penciptaan, kesuburan, kemakmuran dan penyucian diri sehingga tercapai ketenangan dan kedamaian jiwa. Van Hove mendefinisikan lingga seperti dalam mitologi Hindu, sebagai alat kelamin pria, lambang Siwa sebagai dewa alam semesta. Kebalikan dari lingga, yoni merupakan alat kelamin perempuan.

Pada umumnya lingga dibentuk dari batuan andesit, uniknya ada sebuah lingga di Kulonprogo yang terbuat dari batu putih. Hargotirto, sebuah desa di kecamatan Kokap mempunyai lingga dengan jenis ini. Warga menyebutnya Lingga Semen. Lingga unik ini terletak di belakang Masjid  Suropati, Hargotirto, Kokap. Selain itu di hargotirto juga terdapat situs bernama Tirto. Disana ditemukan lingga dengan bahan baku dari batuan andesit.

Masih di desa Hargotirto. Di tempat yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan terdapat sebuah situs yang dinamai Situs Tirto. Situs Tirto merupakan tempat penampungan benda temuan yang mengandung unsur sejarah dan purbakala yang terdapat di Kulonprogo. Tidak banyak diketahui masyarakat, situs inipun pelan-pelan tenggelam di tengah arus modernisasi.

Letaknya yang terpencil, masuk ke perkebunan penduduk melalui jalan setapak, pun kondisi jalan yang hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 500 meter dari jalan kecamatan dirasa cukup menyulitkan pengunjung. Seolah Situs Tirto memang ingin disembunyikan.

Sulit bagi masyarakat yang ingin mempelajari sejarah atau sekedar berwisata kesana. Potensinya yang cukup besar menjadi tertutup seiring cukup sulitnya medan yang harus ditempuh. Padahal banyak benda peninggalan sejarah dan purbakala di Kecamatan Kokap dan Kulonprogo pada umumnya yang masih tersebar di sudut-sudut desa sehingga memerlukan pengawasan khusus.

Kulon Progo yang terkenal sepi dan tenang ini ternyata benar-benar angler ketika dihadapkan pada keseriusan pengelolaan benda peninggalan sejarah dan purbakala. Bagaimana kita dapat mengetahui akar sejarah ketika tak ada arsip, data atau bahkan peninggalan yang diteliti untuk mengetahui peradaban masa lalu Kulon Progo?

Jaman berlalu cepat. Suatu sore seorang ibu muda menemani anaknya bermain di muka Stasiun Wates. Jauh sebelum itu, di belakang stasiun terdapat wahana bermain dengan pohon kamboja, gedung tua dan gerbong-gerbong yang bersandar. Kini hilang dan ketahuilah, yang hilang tak akan berganti dengan wujud yang sama.

Related Articles

5 thoughts on “Lingga dan Yoni Saksi Peradaban

  1. cahyo sasongko

    Nambah pengetahuan tentang cerita sejarah kulon progo masa lalu min,,
    mosok wong kulon progo malah pdho ra ngerti yo?

    Reply
    1. idkulonprogo

      Waduh kok iso ngiro kayak gitu ngahaha, gak apa dab yang penting sekarang tau 🙂

      Reply

Tuliskan Komentarmu