Dalih Jepang Mendikte Kulon Progo

Category: Politik, Sejarah, Sosial 1,150 0


Bicara mengenai sepak terjang tipu daya Jepang di Kulon Progo seperti tak ada habisnya. Negeri penghasil film animasi anak yang kini digemari di dunia ini pernah suatu kali merambah wilayah Kulon Progo. Melakukan propaganda Gerakan 3A, membentuk berbagai organisasi untuk menarik minat masyarakat Kulon Progo, padahal ini hanyalah taktik keji untuk merebut simpati rakyat 
yang akan diperbantukan dalam perang yang tengah diikuti Jepang melawan kekuatan besar di belahan dunia lain.

Salah satu cara Jepang untuk menarik minat masyarakat adalah membentuk Seinendan dan Keibodan. Tepat pada hari ulangtahun kaisar Jepang, tanggal 29 April 1943 kedua organisasi ini resmi dibentuk. Jepang berbohong kepada masyarakat Kulon Progo yang saat itu masih terpisah menjadi dua kabupaten, yakni Kabupaten Adikarta dibawah kekuasaan Pakualaman dan Kabupaten Kulon Progo dibawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta, bahwa Seinendan dan Keibodan akan melatih dan mendidik pemuda agar dapat mempertahankan tanah air dengan kekuatan sendiri.

Banyak dalih Jepang yang disampaikan kepada masyarakat Kulonprogo agar rakyat mau bergabung. Sesungguhnya tenaga pemuda Kulon Progo akan dipergunakan jika suatu saat Jepang terdesak dalam perang. Jepang sebagai kekuatan baru di dunia membutuhkan banyak tenaga untuk melawan sekutu Amerika dengan pasukannya yang terlatih dan persenjataan yang lengkap.

Seinendan diberi latihan militer, baik untuk mempertahankan diri dari serangan musuh ataupun melakukan serangan. Anggota Seinendan adalah pemuda yang berusia 15 sampai 25 tahun, namun pada prakteknya dirubah menjadi 14 sampai 22 tahun. Seinendan tidak hanya dibentuk di desa dan sekolah-sekolah, namun juga merambah pabrik dan perumahan perumahan.

Berbeda halnya dengan Keibodan. Keibodan sering juga disebut pembantu polisi. Tugasnya mirip kepolisian, seperti penjagaan lalu lintas, pengamanan desa dan lain-lain. Pemuda yang diwajibkan ikut dalam organisasi ini adalah mereka yang berumur 20 sampai 35 tahun, kemudian diubah menjadi 25 sampai 35 tahun.

Di Kulon Progo organisasi Seinendan dan Keibodan dibentuk mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa. Mereka melakukan latihan rutin. Lapangan bekas para anggota Seinendan dan Keibodan mungkin masih ada hingga sekarang. Dua organisasi bentukan Jepang ini kerap berlatih di lapangan-lapangan yang berada di kecamatan Panjatan.

Barisan Pelopor dan Peta

Setelah Seinendan dan Keibodan, di Kulon Progo pada tahun 1944 berdiri organisasi lain yakni Barisan Pelopor yang merupakan underbouw dari Jawa Hokokai. Bung Karno menegaskan bahwa Barisan Pelopor haruslah terdiri dari kader-kader yang tangguh, disiplin dan kuat lahir batin. Pimpinan Barisan Pelopor banyak diisi warga Indonesia, seperti Bung Karno sebagai pemimpin umum, dibawahnya Soediro menjabat pemimpin barisan atau kepala sekretariat, kemudian anggotanya antara lain Otto Iskandardinata, Agus Karma, Chaerul Saleh, Asmara Hadi dan Soekardjo Wirjopranoto. Jepang memilih orang-orang Indonesia yang menduduki jabatan disana guna semakin menarik minat bangsa Indonesia, selain posisinya yang semakin terdesak pada perang dunia.

Barisan Pelopor dengan cepat terbentuk dari kecamatan hingga desa-desa di Kabupaten Kulon Progo. Pada saat yang sama organisasi Peta juga mulai memasuki Kulonprogo. Banyak juga akhirnya masyarakat yang bergabung dengan organisasi militer ini. Saat itu organisasi Peta memiliki markas di Kongklangan, sebuah desa di timur kota Wates.

Di tempat lain, Glagah dan Galur juga memiliki asrama Peta namun tidak sebesar markas Peta yang berada di Kongklangan. Komandan Peta untuk daerah Adikarta dan Kulon Progo saat itu dijabat oleh Martodjumeno, bekas komandan HW daerah Yogyakarta.

Untuk menjadi anggota Peta tidak semudah ketika akan bergabung menjadi anggota organisasi lain. Menjadi tentara Peta harus lolos beberapa tahapan seleksi yang untuk ukuran saat itu termasuk ketat. Alurnya diawali dengan pengumuman, pendaftaran baru kemudian seleksi. Di sisi lain aspek pendidikan bagi calon anggota Peta tidak diutamakan.

Bendera Peta terlihat seperti bendera Jepang dengan variasi hijau disana sini sehingga membentuk corak bendera baru dengan latar belakang warna merah khas Jepang. Bendera ini dipegang teguh oleh Peta yang kelak menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. 

Anggota Peta di Kulon Progo berasal dari berbagai golongan masyarakat. Para perwiranya yang berpangkat Daidantyo dipilih dari kalangan tokoh masyarakat atau yang terkemuda di daerahnya, seperti pegawai pemerintah, pemimpin agama atau ulama, pamongpraja, politikus, penegak hukum dan sebagainya. Tyodantyo dipilih dari kalangan yang sudah bekerja namun belum memiliki kedudukan, seperti guru sekolah atau juru tulis. Shodantyo diambil dari kalangan pelajar sekolah lanjutan atas atau sekolah lanjutan pertama, sedangkan pangkat terendah yakni Bundantyo dan Giyuhei dipilih dari kalangan pemuda dari tingkatan sekolah dasar atapun yang tidak mengenyam pendidikan.

Perjuangan heroik masyarakat Kulon Progo turut menggelorakan semangat merebut kemerdakaan. Meskipun berjuang dengan berbagai keterbatasan, namun semangat untuk mengibarkan sangsaka merah putih di tiang tertinggi seperti tak habis tergerus waktu. Kulon Progo selalu menjadi saksi sejarah dari perjalanan daerah Yogyakarta, satu dari banyak daerah yang selalu berjuang bagi kemerdekaan bangsanya. (sumber: Bappeda Kulon Progo)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu