Pak Bingin Maestro Bakmi Jawa

Category: Pariwisata, Sejarah, Sosial 2,713 6


Bagi warga Kulon Progo, khususnya Wates, nama tenar Pak Bingin sudah sangat lekat di ingatan. Ia bukan pejabat dengan jabatan mentereng, bukan pula pengusaha besar yang memiliki banyak perusahaan. Ia seorang juru masak bakmi Jawa. Pak Bingin mengisahkan kisahnya sebagai juru masak bakmi jawa kepada kami dengan gaya bicaranya yang khas. Tak berubah sejak belasan tahun lalu, kata tetangga yang kebetulan mendengarkan rekaman suara Pak Bingin.

 Bakmi Jawa Kulonprogo

Beberapa warung bakmi di Wates merupakan warung bakmi yang relatif baru, kecuali warung bakmi yang kini dikelola keturunan pertama dari penjual aslinya. Seperti warung bakmi yang dikelola anak Alm Pak Martonadi, warung bakmi Jawa yang dikelola anak Alm Pak Ahmad dan warung bakmi yang dikelola anak Pak Bingin. Termasuk juga warung bakmi yang kini dikelola anak Alm Pak Atmo Samidjan

Lahir sekitar tahun 1940 Pak Bingin muda pernah bersekolah di Sekolah Rakyat yang setara dengan Sekolah Dasar. Sekolahnya berada di dekat perempatan depan Kantor Kecamatan Pengasih. Kemudian berpindah di sekolah yang berada di dalam beteng sebelah barat Kantor Kecamatan Pengasih. Sekolah rakyat yang ditempati Pak Bingin ternyata tidak dapat menampung siswa terlalu banyak, oleh karena itu ketika menginjak kelas 3 Sekolah Rakyat ia kemudian pindah ke Sekolah Rakyat di Margosari dekat SMA 1 Pengasih sekarang.

Kisah legendaris bakmi Jawa Pak Bingin yang kini berusia 75 tahun dimulai sekitar tahun 1960 an ketika ia bersama kakaknya, Pak Martonadi, berjualan bakmi Jawa dengan cara dipanggul karena saat itu belum marak gerobak dorong. Mereka berpindah tempat menyesuaikan daerah yang menurutnya ramai. Ketika ada acara seperti wayang dan kesenian mereka berpindah ke sekitar tempat itu untuk mendapatkan pelanggan.

Mungkin belum banyak yang tau jika Alm Pak Martonadi, Alm Pak Ahmad yang dikenal dengan sebutan bakmi ngarep Telkom Wates dan Pak Bingin adalah kakak beradik yang sejak usia muda menggantungkan hidupnya pada kuliner bakmi Jawa. Mulai sejak dipanggul dari dusun ke dusun sampai kini menetap di warung-warungnya yang sederhana, namun selalu ramai tiap malam. Apalagi saat mudik lebaran, antrine endheng-endhengan.

Sebelumnya, Pak Marto sudah berjualan bakmi jawa sekitar tahun 1940 an sebelum kemerdekaan direbut bangsa ini. Dahulu hanya ada 4 warung bakmi di Wates, yakni bakmi Terbah depan TK Theresia milik Atmo Samidjan, bakmi pojok barat Pasar Wates milik Karso Semplong orangtua Adi Bambung yang kini berjualan jenang madu sirat di Gadingan dan bakmi jawa Pasar Wates pintu paling utara.

Pak Bingin kini bertempat tinggal di daerah Gunung Gondang, Pengasih, belakang SMK N 2 Pengasih. Ia tinggal bersama beberapa anak cucu. Sedangkan Pak Marto sudah meninggal sejak 1986. Sebelum pindah ke dusun Serut, Pengasih, keluarga Pak Marto bertempat tinggal di Jogoyudan, Wates. Sebuah dusun di selatan perlintasan kereta api sebelah timur. Istri Pak Marto berdagang makanan kecil dan jajanan di Pasar Wates.

Menu bakmi Jawa istimewa

Pada masa itu Wates belumlah seperti sekarang. Meskipun saat ini masih relatif sepi keadaan Wates pada masa dimana Pak Bingin menjadi juru masak pikulan bakmi jawa milik Pak Marto jauh lebih sepi. Cahaya lampu dapat dihitung dengan jari. Lampu hanya milik rumah gedongan yang jumlahnya pun sangat sedikit. Pencahayaan pada periode itu bergantung pada lampu teplok yang diletakan di meja. Saat berjalan ke luar rumah pada malam hari masyarakat masih menggunakan obor bambu ataupun obor blarak dari daun kelapa.

Sejak menekuni bisnis kuliner bakmi godog dan bakmi goreng pada 1969 bersama kakaknya, Pak Bingin sudah menggunakan daging ayam kampung. Menurutnya daging pitik jowo memiliki kenikmatan tersendiri. Selain gurih, dagingnya juga lebih kenyal dibanding ayam potong biasa. Menurutnya ayam potong justru membuat masakan menjadi neg atau lier, dalam bahasa Jawa.

Mie mentah yang ia pilih juga harus mie tanpa bahan pengawet, ia menyebutnya mie tanpa borek. Sering ketika dagangannya tidak habis ia segera memasaknya di rumah untuk disantap bersama keluarga pagi harinya. Mie mentah yang ia gunakan berasal dari seorang produsen mie di Terbah, Pak Tomo nama penjualnya. Dari pengalamannya, mie mentah buatan Pak Tomo selalu akan basi hanya dalam waktu satu hari. Saat ini Pak Tomo sudah meninggal, produsen mie mentah langganannya sekarang berasal dari Jogoyudan.

Saat menentukan bumbu, menakar porsi bumbu dan memasak bumbu, Pak Bingin memiliki kiat khusus yang hanya ia dan anaknya yang tau. Meskipun dalam pertemuan singkat dengannya kami mendapatkan resep rahasia itu, biarlah ini menjadi cita rasa khas milik warung Pak Bingin seorang.

Ia enggan memasak bakmi lebih dari dua porsi dalam satu masakan. Ketika ia memasak tiga porsi dalam satu masakan bias dipastikan hanya saat warungnya sedang sangat ramai dan antri. Di luar itu ia tetap mempertahankan cara masak seperti itu agar kualitas rasa benar-benar terjaga. Termasuk penggunaan arang dan kipas dari anyaman bambu.

Sejak Pak Marto pertama berjualan ia menuturkan semua minumannya menggunakan gula batu. Manis yang timbul dari gula batu dirasa berbeda bila menggunakan gula pasir. Sangat cocok dengan gurih nikmatnya bakmi godok ataupun goreng.

Berjualan mandiri

Selepas menjadi juru masak Pak Marto, Pak Bingin akhirnya membuka warung bakminya seorang diri pada tahun 1986. Ia memikul dagangannya dari rumah di daerah belakang SMK N 2 Pengasih menuju Wates. Meniti tapak demi tapak, Pak Bingin tiap malam berjalan kaki pulang pergi ke Wates.

Pada awal masa ini ia tak punya modal sama sekali. Modal yang ia dapat hanya berbekal meminjam pada tetangga. Itupun bukan berwujud uang melainkan mie, ayam kampung yang masih hidup, dll. Kisah yang masih sangat ia ingat adalah saat malam pertama ketika berjualan pertama kali, Pak Marto yang sekian lama berjualan dengannya justru meninggal dunia. Pukulan cukup telak bagi Pak Bingin mengingat ia baru akan merintis usahanya seorang diri.

Terekam jelas ucapan almarhum kakaknya. Pak Marto pernah berkata bahwa jangan sekali kali menolak atau berkata tidak pada perintah pembeli mengenai menu bakmi. Oleh karena itu, jika ada pesanan misalnya ingin cabe diperbanyak atau kuahnya diperbanyak ia selalu melayani dengan sepenuh hati, dan senyum ramah.

Harga yang ia tawarkan pada awal masa berjualan tahun 1986 yakni Rp 200,- sampai Rp 400,- tergantung spesial tidaknya menu bakmi yang pelanggan minta. Pada jaman itu mencari uang Rp 200,- sangatlah sulit. Jauh lebih sulit mencari uang Rp 200,- daripada Rp 10.000,- jika dibandingkan dengan harga bakminya saat ini yang mencapai Rp 10.000,- satu porsinya.

Lapak tempatnya berjualan pun berpindah-pindah. Pak Bingin pernah berjualan di utara Toko Adam, samping Disbudpora, sampai akhirnya menetap di lokasi sekarang selatan perlintasan kereta api Wates sebelah timur. Jangan tanyakan suka duka yang ia rasakan. Mulai dari mendapat usiran karena air jeruk yang ia gunakan berbau tidak sedap, sampai pernah juga diminta untuk berjualan di sebuah tempat atas permintaan sang pemilik tempat pun pernah ia rasakan. Pak Bingin mengisahkan cerita ini sambil menerawang jauh menatap tembok rumahnya yang sederhana.

Jaman berubah perlahan. Dahulu pelanggannya berjalan kaki. Muncul sepeda onthel kemudian sepeda motor, sampai akhirnya mobil. Dalam memorinya masih terngiang ketika suatu malam saat ia berjualan bersama kakaknya ada pelanggan yang naik sepeda dari Clereng, Temon dan Panjatan hanya sekedar untuk menyantap bakmi jawa buatannya. Tidak terbayang kondisi jalan dan lingkungan saat itu. Tentu tidak semudah sekarang, meski telah menggunakan sepeda sekalipun.

Kulon Progo khususnya Wates pada masa itu belum banyak jajanan seperti sekarang, jumlahnya dapat dihitung dengan satu tangan. Oleh karenanya menu bakmi betul-betul menjadi primadona. Bahkan penjual bakmi jawa yang kini berada di depan TELKOM sebenarnya masih kerabat dekat dan pernah bersama Pak Bingin berjualan bakmi.

Berhenti berjualan

Sudah sekitar 5 tahun Pak Bingin yang memiliki 8 anak ini memutuskan berhenti berdagang. Anaknya kemudian menggantikannya berjualan. Anak perempuan bersama sang suami, yakni Pak Pardjimin beserta Pak Gianto berdagang di utara Taman Serut, Pengasih. Sedangkan anaknya yang lain, Pak Tono dan Pak Sutris berjualan di tempat Pak Bingin biasa berjualan di selatan perlintasan kereta api Wates sebelah timur.

Ia berharap meskipun mungkin tidak menghasilkan terlalu banyak tapi setidaknya itulah tinggalan orangtua yang begitu mencintai anak-anaknya. Dalam pertemuan singkat dengannya, Pak Bingin menitipkan ucapan terimakasih kepada masyarakat yang sudah banyak meluangkan waktu datang ke warungnya yang sederhana sampai saat ini.

Kini selepas dirinya berhenti berjualan, Pak Bingin mencoba beraktivitas di rumah setidaknya agar tidak jenuh. Ia masih sehat walaupun sedikit kesulitan dalam berjalan. Dengan umur yang semakin sepuh ia ingin semua rejeki yang datang dari warung bakmi yang kini dipasrahkan kepada anaknya dapat menjadi sumber penghasilan yang cukup. Sebagai orangtua Pak Bingin selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Siang itu datang truk mengangkut matrial berupa besi. Pak Bingin beserta keluarga berencana merehap rumah. Rumah yang dibangun dari jerih payah sekian puluh tahun. Memang seperti itu, Pak Bingin mengajarkan keuletan, kegigihan dan kerja keras dalam berusaha. Tak ada kata lelah baginya. Setiap tawaran pekerjaan selain berdagang bakmi pada malam hari selalu ia ambil selama halal dan tidak merugikan oranglain. Tidak peduli bermandi peluh siang hari dan malamnya begadang. Semua demi keluarga yang begitu ia kasihi.

Jika sedang di warung bakmi Pak Bingin coba sapa Pak Tono atau Pak Pardjimin yang sedang sibuk memasak bakmi. Tanyakan bagaimana kabar Bapak di rumah? Samoga sehat selalu, Pak Bingin. 

Related Articles

6 thoughts on “Pak Bingin Maestro Bakmi Jawa

    1. Admin

      Admin

      maturnuwun mas. Njenengan juga nulis trus dikirim ke kami juga boleh 🙂

      Reply
  1. anang

    sangat menarik arikelnya. . . teringat 20 tahun yg lalu pak bingin masih setia mengipasi anglonya sampai sekaranggg jadi pengginnn bakmi siing nyemek kieee . . ditunggu artikel selanjutnyaa

    Reply
      1. Admin

        Admin

        Pak Bingin sudah sepuh kak, beliau sekarang hanya istirahat di rumah. Usaha warung bakminya diserahkan pengelolaannya pada anaknya. Ada 2 warung. Pertama di selatan teteg Wates sama di dekat Taman Serut, Pengasih

        Reply

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.