Ubah Paradigma Wisata Kulon Progo

Category: Ekonomi, Pariwisata, Sosial 1,077 0


Suatu pagi, juru kunci Goa Kiskendo berjalan pelan menyusuri anak tangga. Ia hendak membersihkan pendopo atas yang tertutup debu vulkanik Gunung Kelud. Langkahnya pelan menyapu petak demi petak anak tangga yang licin setelah turun hujan. Goa Kiskendo salah satu destinasi wisata Kulon Progo yang hasil retribusi tiketnya masuk ke kas kabupaten hanya diserahkan pengelolaannya ke seorang juru kunci dan beberapa warga yang dengan sukarela merumput di sekitar taman goa untuk pakan ternak.

wisata kulon progo relief goa kiskendoCerita di atas fiksi memang, namun keberadaan Goa Kiskendo dengan fasilitas yang minim dan pengelolaan setengah hati bukan isapan jempol belaka. Goa dengan cerita epic Ramayana, kisah perjuangan Pangeran Diponegoro dan hamparan taman luas nan potensial kini semakin redup.

Apabila ingin serius menelisik, ada undang undang yang khusus membahas perihal pengelolaan pariwisata. Agar lebih mendalam mari kita baca paragraf undang undang ini dengan cermat karena cukup panjang memang.

UU No. 10 Tahun 2009 mengatakan pariwisata sebagai kumpulan usaha yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata, dan usaha pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggara pariwisata.

Di dalam UU tersebut ada penekanan mengenai pemenuhan kebutuhan wisatawan, baik itu berupa jasa ataupun barang yang kita jabarkan lebih lanjut menjadi fasilitas pendukung dalam sebuah industry wisata. Fasilitas tersebut tergantung dari wisata apa yang hendak disajikan. Pertanyaannya adalah bagaimana jika kebutuhan wisatawan tersebut tidak dapat dicapai dengan optimal? Apakah dengan begitu potensi ekonomis wisata akan tertutup rapat? Jawabannya tidak.

Kami sering berkunjung ke lokasi wisata di Kulon Progo yang yah mungkin banyak kawan sudah tau jika potensinya luar biasa besar namun tidak digarap dengan optimal. Jika frasa tidak digarap dirasa terlalu meniadakan perjuangan kawan kawan pengelola objek wisata, maka kami akan menyebutnya dengan kurang digarap dengan optimal. Sangat sayang melihat bagaimana potensi wisata daerah ini membentang dari pantai hingga hamparan pegunungan di sisi utara. Mungkin masalah keuangan dan promosi masih menjadi hambatan utama dalam usaha mengembangkan potensi wisata. Terlepas dari itu apresiasi besar perlu diberikan kepada beberapa pengelola objek wisata. Terutama kepada pengelola yang mengelola potensi wisata daerahnya dengan swadaya masyarakat. Sedikit demi sedikit wisata yang mereka kelola dengan sungguh sungguh kami yakin akan mendatangkan nilai ekonomis bagi warga sekitar.

Hanya ada beberapa objek wisata milik pemkab Kulon Progo yang benar benar seturut dengan definisi UU di atas. Itupun dengan keadaan yang apa adanya. Kurang maksimal karena hambatan klasik seperti dana. Sampai di titik itu klise pula jika kita sebagai masyarakat Kulonprogo hanya menyalahkan pemkab sebagai pengelola yang tidak becus mengelola potensi daerahnya, sehingga daerah kehilangan lembaran uang dari pos wisata.

Coba kita balik pemikiran di dalam UU tadi. Munculkan pertanyaan dalam diri kita. Apa yang sudah kita perbuat bagi objek wisata Kulon Progo? Apa sumbangsih kita sebagai warga Kulonprogo bagi objek wisata lokal? Jika pemerintah daerah enggan atau mungkin tidak memiliki dana yang cukup untuk mengembangkan objek wisata, sudah saatnya paradigma kita sebagai wisatawan yang perlu dirubah.

Mari rubah teori pariwisata sebagai gabungan kegiatan, pelayanan dan industri yang memberikan pengalaman perjalanan, seperti transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, pertokoan, fasilitas kegiatan hiburan, dan pelayanan lainnya menjadi satu kalimat sederhana. Bukan pariwisata yang mengerti kita bagaimana kita mengerti wisata Kulon Progo.

Sering kali kita berpikir menjadi raja ketika berkunjung ke tempat wisata. Mengkritik kondisi jalan yang hancur, kran kamar mandi tidak menyala ataupun berbagai keluhan lain. Tidak salah memang karena kita berhak berkata seperti itu. Sayangnya kalimat seperti itu tidak menyelesaikan masalah.

Jika yang dibutuhkan pemkab untuk menggenjot minat pariwisata adalah soal dana marilah kita berbondong bonding mengunjungi tempat wisata lokal, prihatin terlebih dahulu tanpa memperhatikan fasilitas apa yang akan kita peroleh. Tempat dengan fasilitas terbatas tidak menjadi halangan bagi kita untuk merasa refresh. Wisata yang erat kaitannya dengan kegiatan refreshing sebenarnya tergantung dari bagaimana tubuh dan pikiran kita merumuskan bagaimanakah refreshing itu. Yang lebih penting, ketika datang kesana yang harus dilakukan adalah membeli retribusi tiket, membeli barang dagangan yang dijajakan di sekitar tempat wisata dan terakhir membantu dalam hal promo. Tiga hal yang kami rasa sangat efektif untuk membangkitkan gairah wisata lokal.

Luasnya potensi wisata Kulon Progo memunculkan tempat tempat yang terkadang belum memiliki retribusi tiket. Apa yang harus kita lakukan? Destinasi wisata alam baru seperti Grojokan Sewu Girimulyo, Kebun Teh Samigaluh dan Air Terjun Sidoharjo Samigaluh belum memiliki retribusi tiket, namun ada cara lain untuk membangkitkan kesadaran masyarakat sekitar akan besarnya nilai ekonomis dari tempat wisata tersebut. Belilah makanan di warung warung sekitar tempat tersebut atau bahkan bensin, cara lain yakni memberikan uang lebih ketika menitipkan kendaraan di rumah warga sekitar dan masih banyak cara lain. Pelan namun pasti kesadaran nilai ekonomis wisata mereka pasti tumbuh, Jangka panjangnya warga sekitar membahu mengelola potensi wisata di daerahnya dengan lebih baik. Contoh gamblangnya adalah Kalibiru di Kokap.

Kesadaran dan pengorbanan sebagai warga lokal dalam hal seperti ini memang harus ditingkatkan. Prioritaskan berkunjung ke wisata lokal terlebih dahulu sebelum beranjak ke luar daerah. Tanamkan pengertian ini sejak dini. Sejak masih kanak kanak ajarkan mereka kebanggaan menjadi konsumen di tanah sendiri. Tidak semudah membalikan telapak tangan, namun jika ada kesungguhan dan rasa bakti kepada daerah asal, kami yakin sedikit demi sedikit wisata Kulon Progo akan terangkat. Tentu dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan pundi-pundi bagi pemkab untuk mengembangkan kabupaten ini menjadi lebih baik.

Semangat untuk membela dan membeli kekayaan potensi lokal menjadi semboyan yang akan terus hidup. Bapak juru kunci dengan senang hati merawat Gua Kiskendo dengan tenaga yang terbatas. Beliau sudah melakukannya dengan totalitas dan jiwa besar.

Kami rindu melakukan yang terbaik untuk daerah ini. Kami rindu peran serta segenap kawan untuk daerah ini. Tidak rindukah kita melihat Wisata Kulon Progo menjadi lebih baik? Oleh karenanya lakukan yang dapat kita perbuat. Semaksimal mungkin. Sepositif mungkin.

Related Articles

Tuliskan Komentarmu