Semar Mendem, Sebuah Ritual

Category: Budaya, Politik, Sosial 1,472 0


Dentum langgam Jogja Hip Hop Foundation menggelegar membuka malam. Malam itu, 7 November 2014 di Taman Ismail Marzuki, Ki Catur Benyek Kuncoro muncul sebagai dalang. Celotehan lawak kritis tentang politik dari Ki Benyek berhamburan dari mulut dalang kelahiran Yogyakarta ini. Joned, Wisben, dan Gareng Rekasiwi muncul kemudian. Dagelan khas Yogyakarta sukses mengocok perut para pengunjung pada pentas bertajuk Semar Mendem.

semar mendemButet Kertaredjasa, Marzuki Muhamad, Den Baguse Ngarso, Bonita, Dibyo Primus, Tiara Yanthika dan Amie Ardhini memerankan peran dengan apik. 

Kerinduan akan suasana Kulon Progo sirna malam itu. Guyonan, logat dan celotehan khas menjadi pelepas dahaga akan romansa Jogja. Gelak tawa penonton terdengar memenuhi ruang pementasan. Sontak malam itu terasa bukan di Jakarta tetapi di sebuah panggung hiburan khas Jogja yang sebelum pementasan pedagang ronde dan kacang rebus sudah cepak-cepak nggelar kloso di pelataran luar.

Indonesia Kita menyuguhkan kesenian berbalut kebudayaan lengkap dengan kritik sosialnya. Menyentil pemerintahan dan kehidupan berbangsa. Memilih judul Semar Mendem, sang creator Butet Kertaredjasa, Agus Noor, Kill The DJ dan Bre Redana menyodorkan bagaimana rasionalitas dan logika dianggap tak mampu lagi memberi jawaban terhadap persoalan hidup manusia Indonesia. Mengisahkan perjalanan politik Indonesia pra pilpres 2014 hingga kejadian menggelitik pasca pilpres. Dikemas dengan renyah dibumbui banyolan segar nan menggelitik. Tidak ketinggalan aksen pewayangan yang nampak jelas dalam pementasan itu. Pas tenan.

Ritual dan moral

Tak ada jalan lain selain kembali kepada moral dan ritual untuk mengurai silang sengkarut permasalahan bangsa. Ritual menjadi aspek kebudayaan yang diakrabi sebagian besar masyarakat Indonesia. Didasarkan pada tradisi lokal yang  berdekatan dengan alam. Berbeda dengan rasionalitas dan logika yang selalu melihat segalanya dengan otak layaknya yang dipahami masyarakat modern.

Aristoteles misalnya, ia menerapkan pemahaman rasionalitas dan logika sejak jaman embuh. Jaman dimana kita masih berdialog dengan alam melalui ritual dan pendekatan moral. Ilmuwan-ilmuwan besar muncul dari negara yang menerapkan pemikiran rasional dan logika sebagai nadi kehidupan. Rasionalitas dan logika pada akhirnya berkembang menjadi kajian keilmuan dan hukum formal.

Rasionalitas dan logika juga menjadi senjata para elit di parlemen dan pemerintahan untuk berusaha tampil sedominan mungkin. Mengesampingkan sisi ritual dan moral masyarakat. Rasionalitas dan logika dianggap sebagai level tertentu dalam edukasi formal yang dikuasai oleh seseorang melalui selembar kertas bernama ijazah. Masyarakat kemudian ditasbihkan tidak lebih intelektuil dibanding mereka yang memiliki pangkat, jabatan dan strata pendidikan tinggi.

Pemahaman itu konyol mengingat manusia adalah jagat hidup yang kompleks. Tidak melulu mengenai kognitif yang dinilai dari skor seperti pelajaran di sekolah tetapi juga psikomotorik seperti kemampuan bergaul  dan menempatkan diri dalam masyarakat lintas budaya serta afektif seperti kemampuan mengorganisir perpaduan tentang Ketuhanan, sikap dan sifat. Tidak cukup dengan itu, manusia dilengkapi pemahaman mengenai moral dan ritual kaitannya dengan keselarasan dan kedekatannya dengan alam.

Belakangan ini rasionalitas dan logika diterapkan serampangan. Sebagai contoh anggota DPR yang baru saja mengesahkan teknis pemilihan Kepala Daerah. Pemilihan kepada daerah tak lagi dipilih oleh rakyat, melainkan dipilih oleh mereka sendiri yang kemudian akan disahkan oleh Presiden. Sebuah kemunduran luar biasa dalam perjalanan demokrasi bangsa. Mereka menganggap masyarakat belum siap untuk berdemokrasi. Alasan ini tipu muslihat. Tipu  muslihat agar kekuasaan mereka tak berpori sedikitpun sehingga masyarakat akan kesulitan menembus hagemoni politik multi partai.

Sesungguhnya jaman edan makin terbukti. Masyarakat katut edan. Manusia saling bunuh. Agama jadi barang jualan, kepercayaan jadi alat menentukan baik buruknya seseorang, ras jadi bahan pertimbangan yang begitu penting dan dipermasalahkan oleh kalangan tertentu. Bukankah ini edan? Edan isih nggo tenan tak kandani. Apa sulitnya hidup berdampingan dan menyelesaikan sesuatu dengan diskusi yang ber-tepo sliro?

Gambaran ini yang diangkat Butet Kertaradjasa, Agus Noor, Bre Redana dan Kill The DJ dalam pementasan Semar Mendem. Semar konon menggambarkan kearifan rakyat jelata tapi apa jadinya jika Semar juga ikut mendem, mabuk, edan? Semar Mendem adalah pengejawantahan kondisi masyarakat kita yang semakin tak karuan.  Masyarakat yang saling mencaci, saling hujat dan membenci orang lain, merendahkan orang lain juga menganggap diri sendiri paling benar. Jaman dimana semangat bebrayatan, sesrawungan, temu sapa diganti hubungan semu melalui gadget. Internet yang menjadi ruh di dalam gadget menghilangkan unsur manusia yang berdarah daging.

Semar Mendem_Indonesia Kita_2

Akibatnya manusia menganggap manusia lain seperti benda mati yang bisa seenak hati diperlakukan. Manusia hanyalah kumpulan kata-kata dalam teks yang dapat manusia lain perlakukan layaknya rol tissue yang bisa seenak jidat disobek-sobek. Manusia jadi sosok ilusi yang dibentuk oleh dunia internet. Manusia menjadi maya.

Dimana etika dan moral? Hilang kemana sopan dan santun? Dimana saling menghargai dan tepo sliro itu? Manusia kehilangan kepekaan untuk memanusiakan manusia. Proses ini berlangsung cepat secepat kecepatan internet yang makin hari semakin menggila. Sadisnya, candu internet ini tak hanya menyentuh manusia dewasa tapi juga anak kecil.

Dalam banyak tradisi Indonesia, ketika bumi gonjang-ganjing dan langit kelap-kelip, kebudayaan memunculkan ritual yang pelaksanaannya bersinergi dengan alam. Pada prosesnya manusia saling koreksi dan menahan diri sehingga tidak ada yang merasa dirugikan sehingga permasalahan selesai dengan baik. Ritual berusaha mengembalikan alam dan manusia sebagai sebuah keselarasan hidup.

Semar Mendem pentas kesenian yang tak hanya menghibur tapi juga ritual ruwatan untuk menyembuhkan manusia yang  sakit moral. Sudah saatnya ritual dan moral menjadi jalan keluar atas segala permasalahan bangsa yang pelik. Semar Mendem mengingatkan siapapun agar saling menghargai dan menghormati. Termasuk dengan alam. Keselarasan hiduplah yang kemudian diharapkan muncul. Kesenian akan menjembatani antara logika yang kaku dengan ritual yang intim. Sehingga Semar Mendem tampil sebagai upaya ritual menjadikan Indonesia lebih baik. Terus kapan Indonesia Kita main lagi? Mungkin ambil tempat di Kulon Progo gitu? (sumber: Bre Redana)

Related Articles

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.