Situs Sejarah Kulon Progo Mangkrak

Category: Budaya, Sejarah, Sosial 4,069 0


Saat anak manusia kehilangan akar sejarah asal usul dirinya, ia kehilangan separuh dari dirinya. Meskipun ini statement pribadi penulis, agaknya masuk akal jika konteksnya saat seorang anak manusia tidak pernah mengetahui bagaimana kisah hidup orangtua, mungkin tante atau bahkan kakek neneknya.

Tidak perlu detail, tidak harus runtut layaknya catatan sejarah di buku. Sejarah asal usul cukup dengan tau beberapa bab perjalanan hidup pendahulu. Dari sini anak manusia berjalan ke depan, dengan tidak sama sekali meninggalkan kenangan bahkan pelajaran yang ada di belakang.

Kulon Progo sebagai daerah di sekitar peradaban besar Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman memiliki akar sejarah yang panjang. Mulai periode klasik dengan pengaruh agama Hindhu dan Budha yang begitu kuat, hingga periode Islam yang sedikit demi sedikit mengakar di Kulon Progo. Belum periode lain setelahnya.

Dua periode ini menyimpan cerita besar yang sayang jika ditinggal. Data yang terbatas dan seperti kurang pedulinya pihak berwenang untuk menginventarisasi, membukukan serta merawat peninggalan sejarah daerah menjadi hambatan tersendiri yang kerap menjadi tembok tebal bagi warga Kulon Progo untuk tau bagaimana asal usul dirinya.

Alhasil masyarakat harus menggali dengan cangkul milik sendiri karena sang berwenang enggan membukakan tanah yang harus digali untuk tau lebih banyak mengenai informasi-informasi penting kaitannya dengan sejarah. Tak apalah, mari gali sedikit informasi yang tersisa.

Kabupaten Kulonprogo yang membentang dari selatan berbatasan langsung dengan bibir Samudra Hindia hingga ujung utara yang dekat dengan Gunung Merapi dan Candi Borobudur menyimpan peradaban besar yang kurang tergali. Meski demikian beberapa peninggalan bukti pernah bersemayamnya peradaban kuno di Kulon Progo telah ditemukan.

Satu diantaranya benda menhir seperti lumping batu, gendik dan pipisan yang terdapat di sebuah bukit daerah Ngaseman, Hargorejo, Kokap. Status bukit ini masih milik warga. Peninggalan pada periode klasik kebanyakan berupa lingga, stupa, arca, yoni dan sebagainya.

Di tempat lain tepatnya dusun Kalisoko, Hargosari, Pengasih beberapa tahun yang lalu ditemukan benda peninggalan periode klasik seperti guci, bola emas dan perak, dua bola besi dan sebuah tutup guji berbentuk segi empat. Selain itu juga ditemukan sebuah arca Ganeca di Mrunggi, Sendangsari, Pengasih, dalam keadaan terlilit akar pohon beringin. Sayangnya saat ini keadaan arca Ganeca yang belum sempat diteliti lebih lanjut semakin suram dengan lilitan akar pohon beringan yang semakin lebat.

Beberapa situs lain yang terdapat di Kulonprogo seperti Situs Stupa Sidorejo di Glagah, Temon; Situs Giriyini berupa lingga di Girinyono, Sendangsari, Pengasih; Situs Kamal berupa yoni di daerah Kamal, Karangsari, Pengasih; Situs Gonotirto berupa lingga dan arca di Tirto, Hargotirto, Kokap; Situs Tangkisan berupa lingga di Tangkisan, Hargomulyo, Kokap; Candi Jatiwangi yang kini sudah dipendam kembali ditemukan di Grubug, Jatisarono, Nanggulan.

Ada juga Candi Sambiroto yang terbuat dari batu bata di Sambiroto, Banyuroto, Nanggulan; Situs kenteng berupa lesung batu di Kenteng, Kembang, Nanggulan; Situs Arca Nandi di kantor Kecamatan Kalibawang; Candi Pringtali berupa yoni yang dijadikan sebuah tugu di Pringtali, Kebonharjo, Samigaluh; Situs Arca Ganesa Ngalian di Ngalian, Ngargosari, Samigaluh; kemudian Pesanggrahan Paku Alam VII berupa arca dan lingga yang kini telah dicuri di Tambak, Triharjo, Wates.

Masih menjadi pertanyaan sebenarnya mengapa di Kulonprogo tidak ditemukan candi. Bahkan Candi Pringtali yang disebut candi pun bentuknya sama sekali tidak menyerupai candi. Dalam banyak studi disimpulkan bahwa memilih lokasi pembangunan candi ternyata tidak sembarangan. Ada pertimbangan khusus seperti harus dekat dengan sumber mata air, dekat tepian sungai, berada di sekitar lereng gunung yang bermata air dan lokasi terbaiknya adalah yang dekat dengan pertemuan dua sungai.

Selain itu lokasi seperti lahan bekas tempat pembakaran mayat, lahan rawa dan lahan berbatuan sangat dihindari oleh masyarakat periode klasik ketika akan membangun candi. Selain itu, pengetesan terhadap kepadatan tanah, kesuburan tanah dan pengujian uap tanah dari zat berbahaya selalu dilakukan sebelum candi sebagai tempat suci benar-benar hendak dibangun.

Sekian banyak lokasi, peninggalan sejarah dan benda purbakala yang terdapat di Kulon Progo hampir semuanya dirawat secara swadaya oleh warga sekitar. Belum ada peran serta utuh dari Pemkab untuk benar-benar merawat warisan peradaban masa lalu yang akbar ini. Besar kemungkinan ketika tidak ada perawatan, penjagaan dan penelitian lanjutan, benda yang syarat akan nilai sejarah ini terlanjur rusak bahkan hilang.

Cukuplah mengharap peran Pemkab untuk memberikan perhatian kepada benda-benda tersebut. Pertanyaannya apakah kita juga akan peduli terhadapnya? Minimal akankah kita akan bersedia mendatangi tempat-tempat dimana situs tersebut berada untuk sekedar napak tilas misalnya? Bersediakah kita? Tanyakan pada diri kita masing-masing apa peran yang sudah kita perbuat.

Related Articles

Tuliskan Komentarmu