Sukowiyono Legenda Persib Bandung

Category: Olahraga, Sejarah, Sosial 1,521 1


Sebelum melihat siapa Sukowiyono, sang legenda Persib Bandung, mari melihat sepakbola Kulon Progo yang lama tenggelam di bawah hagemoni klub perserikatan Kabupaten Sleman (PSS Sleman), Kabupaten Bantul (Persiba Bantul) dan Kota Yogyakarta (PSIM Yogyakarta). Klub perserikatan milik pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Persikup Kulon Progo melangkah gontai dan sepertinya nyaman berlaga divisi III Liga Sepakbola di Indonesia bersama Persig Gunung Kidul dan Sleman United. Bahkan bermunculan klub non perserikatan yang sudah ancang-ancang menyalip keberadaan Persikup Kulon Progo

sukowiyono legenda persib bandung

Nasib Persikup Kulon Progo yang tidak begitu baik dan perkembangannya lambat sejalan dengan cabang olahraga lain di Kulon Progo. Berbagai alasan menyelimuti lambatnya perkembangan olahraga di daerah ini. Padahal selain meningkatkan gengsi kedaerahan dan rasa memiliki terhadap daerah, olahraga juga efektif mempromosikan potensi daerah.

Inilah gambaranan geliat dunia olahraga di Kulon Progo. Bukan untuk menghakimi, namun seperti itu memang keadaan olahraga kita saat ini. Dibalut dengan kebanggaan yang sebenarnya tetap ada dalam diri masyarakat, tidak banyak prestasi setimpal yang dapat dipersembahkan bagi warganya.

Kembali ke sepakbola. Meskipun olahraga Kulon Progo lesu dan minim gairah. Tercatat pernah ada pemain sepakbola yang mencatatkan prestasi mentereng. Sebutlah Mohammad Eksan. Putra pemilik restoran ayam goreng ternama di Kulon Progo, Bu Hartin. Prestasi pemain asal HW Wates yang pernah berjaya bersama PSS Sleman tahun 2000 an memang cukup mentereng. Bukan dia yang kami maksud. Tangan ini menuliskan nama Bambang Sukowiyono. Pemain sepak bola di era Perserikatan tahun 1980 an.

Sukowiyono kecil

Bambang Sukowiyono, nama yang asing bagi masyarakat Kulonp Progo dan Yogyakarta. Siapa sangka beliau adalah pesepakbola legenda klub besar Jawa Barat, Persib Bandung. Tahun 1979 sepak terjangnya bersama Maung Bandung dimulai, kemudian berakhir 10 tahun setelahnya, yakni tahun 1989.

Cerita kehidupan Pak Suko sapaan akrabnya dimulai di Surakarta. Bapak dua anak ini lahir pada 7 Februari 1961 di sebuah dusun kecil bernama Bendo, Desa Naglik, Wonogiri. Ayahnya pernah menjabat sebagai lurah Desa Naglik. Singkat cerita sang ayah yang kala itu bekerja sebagai karyawan di PT KAI merasa Pak Suko terlalu nakal. Kabarnya kenakalan Sukowiyono disebabkan sang ayah jarang berada di rumah karena bekerja menghidupi keluarga di PT KAI.

Kebetulan saat itu sang ayah yang bekerja di PT KAI mempunyai teman akrab yang berasal dari Wates. Sukowiyono kemudian dititipkan kepada keluarga Mardiyono teman sepekerjaannya, di daerah Kopat, Karangsari, barat RSUD Wates. Di Wates beliau mengenyam pendidikan di SMP dan SMA BOPKRI dekat perlintasan kereta api sebelah timur. Pada tahun-tahun itu yayasan pendidikan BOPKRI memang sedang naik daun. Masih sangat laris diburu masyarakat karena belum banyak sekolah yang berdiri di kabupaten ini.

Mungkin minat dan bakatnya sejak kecil sudah sepakbola, maka setiap sore sepulang sekolah Sukowiyono kecil selalu bermain sepakbola. Kebetulan di sekitar tempat tinggal terdapat klub sepak bola. Gayung bersambut, beliau kemudian memohon izin untuk sekedar ikut berlatih dan ternyata diizinkan. PS Halilintar, sebuah klub sepak bola di Wates menjadi tempatnya mengasah kemampuan mengolah si kulit bundar.

Berlatih di PS Halilintar

Halilintar bukanlah klub profesional layaknya klub Galatama. Bukan pula seperti klub perserikatan dengan kucuran dana oleh pemerintah daerah sebelum regulasi diubah. PS Halilintar hanya klub kecil yang berkompetisi di bawah panji Persikup Kulon Progo. Lapangan legendaris milik klub ini bertempat di barat RSUD Wates. PS Halilintar bersama PSST Karangnongko dan HW Wates menjadi beberapa tim tertua di Kulon Progo yang saat ini masih eksis.

Soal prestasi regional Kulon Progo, prestasi PS Halilintar tak perlu diragukan. Untuk ukuran Kulon Progo, dua kali berturut-turut menjadi runner-up kompetisi tingkat propinsi sekitar tahun 1985 bukan prestasi biasa. PS Halilintar menjadi penghasil pemain-pemain langganan skuad Persikup Kulon Progo. Tahun 1980-an menjadi awal tonggak berdirinya Persatuan Sepak bola Kulon Progo. PS Halilintar menjadi salah satu tim pertama yang bergabung di era itu.

Salah satu bakat besar yang lahir dari PS Halilintar adalah Sukowiyono. Sejak usia muda talentanya bermain sepak bola sudah terlihat. Ia begitu menonjol jika dibandingkan dengan pemain lain. Suyono, pelatih PS Halilintar saat itu tahu betul kualitas pemain ini. Posturnya kecil namun memiliki kelincahan dan fighting spirit bertanding yang begitu besar. Bahkan selepas latihan Sukowiyono masih tinggal di lapangan untuk sekedar berlama-lama dengan bola kesayangannya.

Bermain sebagai gelandang serang, beliau lihai mengolah bola. Tugasnya sebagai gelandang dengan karakter menyerang mengharuskannya memiliki kecepatan dan kecerdikan. Itulah yang terlihat saat masih begitu hijau di PS Halilintar.

Banyak pemain seangkatannya tak mengira bahwa kepergian beliau ke Bandung untuk bekerja membuahkan hasil menjadi pemain legendaris Persib Bandung, klub kebanggaan Bobotoh dan Viking. Kini rumah di dusun Kopat, Karangsari, Pengasih, yang sempat menjadi tempatnya beristirahat setiap hari masih kokoh berdiri. Lokasinya tepat di barat SD Punukan kurang lebih 30 meter. Posisinya di selatan jalan arah menuju Waduk Sermo. Sebuah tempat dimana kenangan tentang Sukowiyono akan terus tertinggal.

Berjuang untuk Persib Bandung

Saat umurnya terbilang muda Sukowiyono merantau ke Bandung untuk bekerja. Alhasil pekerjaan di pabrik panci dan pabrik tekstil pernah beliau cicipi. Meskipun bekerja, hobi sepakbolanya tetap saja menyala. Sewaktu belum bergabung di tim amatir Bandung, temannya bermain bola hanyalah tembok kamar kontrakannya. Cerita ini disampaikannya kepada seorang kawan sekaligus pelatihnya saat di PS Halilintar, Suyono.

Lama di Bandung membuat dirinya memberanikan diri bergabung di tim amatir Kota Kembang seperti Unilon dan PS IPI. Aktif di liga amatir membuat permainannya meningkat. Tak lama setelah itu skuad Persib Bandung B mampu ditembus. Tak disangka dibawah arahan pelatih Persib asal Polandia, Marek Jonata, berbekal skill yang menawan akhirnya Sukowiyono sukses mencuri satu tempat di tim utama.

Pada awal 1980-an Sukowiyono sudah menjadi pemain andalan lini tengah Persib Bandung. Dua kali gagal merengkuh gelar juara final Kompetisi Perserikatan tahun 1983 dan 1985, akhirnya musim 1986 Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno berhasil memboyong thropy juara ke Bandung. Sukowiyono salah satu anggota generasi emas ini.

Pada final 1986, Nandar Iskandar, pelatih Persib Bandung menurunkan Sobur di posisi penjaga gawang; Suryamin, Ade Mulyono, Robby Darwis, Adeng Hudaya di posisi bek; Bambang Sukowiyono, Iwan Sunarya, Adjat Sudradjat sebagai gelandang; dan Djadjang Nurdjaman, Suhendar serta Dede Rosadi pada posisi juru gedor. Sukowiyono dalam romantisme skuad 1986 berposisi sebagai winger. Berubah dari posisi awalnya ketika kecil sebagai gelandang serang. Mereka adalah legenda Persib Bandung.

Selepas menjadi kampiun. Seluruh pemain Persib Bandung mendapat pekerjaan sebagai pegawai Bank BNI 46 dan mendapat rumah, tak terkecuali dirinya. Itulah yang beliau ceritakan kepada kerabat jauhnya di Wates. Prestasi besarnya semakin lengkap ketika dipanggil mengisi Skuad Garuda pada 1985 hingga 1988.

Selamat jalan Pak Suko

Malang melintang di kancah persepakbolaan Jawa Barat membuat dirinya dipercaya managemen Persib Bandung mengisi posisi asisten pelatih musim 2003/2004. Sepeninggal pelatih Marek Andrejz Sledzianowski, Sukowiyono naik pangkat menjadi pelatih kepala di musim yang sama. Pemain seangkatannya di Persib Bandung yang kini menjadi pelatih adalah Djajang. Djajang Nurdjaman yang dulu pernah mengangkat piala juara bersama Sukowiyono

Sayang cerita manis harus berakhir ketika penyakit kanker kelenjar getah bening tak mampu lagi ditahannya. Kamis, 1 Agustus 2013 beliau harus pergi meninggalkan keluarga dan dunia sepakbola nasional yang begitu ia cintai untuk selamanya. Beliau pergi ketika jabatan Ketua Pengprov Jawa Barat masih tersemat padanya.

Sepakbola Nasional, Jawa Barat dan kerabat di Wates terhenyak mendengar kabar duka dari Bandung. Sempat beberapa kali beliau menyempatkan diri menyambangi dusun Kopat. Mengenang memori masa silam. Bertemu dengan kawan dan kerabat semasa kecil. Mengunjungi tempat latihan PS Halilintar dengan membawa sumbangan bola. Tak lupa dirinya memberi motivasi kepada pengurus serta pemain agar serius mengolah dan mengurus sepakbola dengan senang hati.

Terkesan tegas, namun sosok Sukowiyono merupakan pribadi yang perhatian, hangat serta berdedikasi tinggi. Tidak banyak yang dapat beliau berikan kepada Persikup Kulon Progo. Tapi semangatnya mengejar karir sebagai pesepakbola profesional layak dijadikan tauladan. Tumbuh dan berkembang dari desa kecil dengan fasilitas yang minim, sama seperti anak Kulon Progo pada umumnya. Totalitas beliaulah yang berhasil menghantarkannya sukses merengkuh prestasi tertinggi di Persib Bandung. Tak peduli dari mana dirinya berasal.

Terimakasih Pak Suko. Selamat jalan. (foto: www.referensi-sepakbola.blogspot.com)

Related Articles

One thought on “Sukowiyono Legenda Persib Bandung

  1. ryan ukies

    Semoga semangat Alm Sukowiyono terus mengalir dlm diri gnerasi muda Kulonprogo…

    Reply

Tuliskan Komentarmu