Lorong Gelap Tambang Mangaan Kliripan

Category: Ekonomi, Sejarah, Sosial 5,354 0


Tambang Mangaan Kliripan, Kokap, Kulon Progo, terlupakan jaman. Tambang mangan yang kisahnya ditelan pembangunan. Dari tanah di dusun ini pernah bergantung ratusan masyarakat yang kemudian berhasil menjaga keturunannya hingga kini. Merekalah orang tua kita yang berjuang keras di panasnya tambang, sampai akhirnya tambang ditutup. Mereka masih ingat lokasi setiap lubang galian. Tapi tidak dengan kita yang justru sengaja lupa.

Kereta Lori Pengangkut Mangaan Kliripan, Kokap, ke Stasiun Pakualaman Tahun 1910. Kini Lubang Lori Sudah Tertutup TanahMasa kecil, masa dimana banyak permainan di luar ruangan yang memerlukan ketangkasan dan kreatifitas. Sangat jarang anak pada masa itu berdiam diri di dalam rumah sambil memegang stick game atau bahkan komputer. Bermain ya di luar rumah, bergulat dengan alam, berpanas matahari bahkan berseteru dengan derasnya air sungai. Pemandangan yang umum pada suatu masa saat gadget belum sepopuler ini.

Sekian banyak aktivitas seru yang mungkin sering kawan-kawan lakukan jaman dulu. Saat tubuh masih kecil dan tidak banyak pikiran yang hinggap di kepala. Hanya memikirkan permainan apa yang sekiranya dapat membuat gembira. Salah satu dari sekian banyak permainan itu adalah berburu harta karun.

Berburu harta karun sebenarnya hanya mencari benda-benda unik di kebun milik tetangga. Salah satu benda yang dianggap unik saat itu ya batu baterai. Setelah berhasil mengumpulkan beberapa baterai kemudian kulit baterai dikupas dan arang hitam yang berada di dalamnya dikeluarkan. Sampai tahap ini arang hitam hanya dideplok tanpa kejelasan akan diapakan. Saat itu banyak anak tidak tau bahwa benda hitam yang mirip bubuk arang ini adalah mangaan (Mn).

Mangaan (Mn) salah satu unsur kimia yang memiliki nomor atom 25. Mangaan mudah dijumpai pada bagian dalam batu baterai kering. Fungsi lain yang lebih rumit termasuk dalam 12 mineral di kulit bumi yang menjadi bahan baku tidak tergantikan di industri baja. Pegunungan menoreh memiliki kandungan mangaan yang cukup banyak. Salah satunya di wilayah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Kulon Progo. Bekas tambang mangaan di Kulon Progo yang pernah sangat masyur ada di Dusun Kliripan, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap.

Kliripan sebuah dusun yang terjal pernah memiliki industri tambang mangaan yang cukup besar. Menurut cerita salah seorang warga saat itu tahun 1953 ketika tambang mangaan Kliripan dibuka kembali. Penguasaha Belanda kala itu tau betul jika Kliripan menyimpan harta karun yang sangat berguna bagi negaranya. Ketika bangsa Indonesia belum dapat memanfaatkan potensi sumber daya alamnya, Belanda sudah membawa mangaan Kliripan keluar.

Menurut literatur dari koran yang terbit di Hindia Belanda, tepatnya di Semarang, yakni De locomotief: Samarangsch handels en advertentie Blad, pada 25 Juni 1896, berita mengenai eksploitasi Kliripan dan Kriyan sebagai lokasi tambang sudah ada pada tahun itu. Masih dari koran yang sama, tambang mangaan Kliripan diresmikan pertama kali pada Juni tahun 1894 oleh pengusaha bernama H. W. van Dhfsen. Seiring jaman berganti, kepemilikan lokasi tambang selalu berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Proses ini terjadi sampai sekitar tahun 1970.

Penambangan di Kliripan pada awal republik berdiri dilakukan dengan alat yang sangat sederhana. Bongkahan mangaan dibawa menggunakan gerobak yang ditarik sapi. Kliripan tidak memiliki akses jalan yang memadai, sehingga gerobak sapi berisi mangaan hanya berjalan menyusuri sungai kecil yang sebenarnya mirip selokan. Dari dalam terowongan keranjang-keranjang mangaan dibawa oleh para pekerja untuk dikumpulkan ke dalam gerobak sapi lalu dibawa ke Stasiun Bakungan. Bakungan pada masa itu terkenal sebagai penghasil kelapa berkualitas.

Bakungan juga merupakan nama halte kereta atau stasiun kecil. Nama Stasiun Bakungan lebih familiar disebut. Sebelum nama ini terkenal sebenarnya Stasiun Bakungan dinamakan Halte Pakualaman, sebuah pemberhentian kereta yang bentuknya sangat sederhana, beberapa bagian bangunannya terbuat dari gedek. Letaknya sekitar 100 meter ke arah timur, sebelah utara rel kereta api, dari perlintasan kereta api Pasar Cikli. Halte Pakualaman terletak di antara Stasiun Wates dan Stasiun Kedundang. Menurut kesaksian warga, Halte Pakualaman luasnya kurang lebih hanya separuh dari Stasiun Kedundang. Bangunannya dibongkar seiring proyek rel ganda beberapa tahun yang lalu.

Berbicara mengenai Stasiun Kedundang, pada masa jayanya Stasiun Kedundang jauh lebih besar dan ramai ketimbang Stasiun Wates. Stasiun Kedundang saat itu satu level dengan Stasiun Kalimenur besarnya. Sedangkan Stasiun Sentolo dan Stasiun Wates masih kecil waktu itu. Jumlah kereta yang berhenti di Stasiun Sentolo dan Stasiun Wates beserta penumpangnya tidak sebanyak di Stasiun Kedundang dan Stasiun Kalimenur. Keterpurukan Stasiun Kedundang dan Stasiun Kalimenur terjadi sekitar tahun 1975 saat KAI terlihat lebih mengembangkan Stasiun Wates dan Stasiun Sentolo. Mungkin karena posisi kedua stasiun ini lebih strategis. Cerita soal Stasiun Kalimenur nyusul kapan-kapan ya.

Bakungan sebenarnya nama dusun yang digunakan untuk menumpuk mangaan sebelum dibawa ke luar Yogyakarta. Saat ini Dusun Bakungan digunakan sebagai pasar yang berada di selatan palang pintu perlintasan kereta api atau lebih dikenal sebagai Pasar Cikli. Pasar Cikli pada jaman dahulu disebut Pasar Bakungan. Letaknya dapat ditempuh 10 menit dari pusat kota Wates ke arah Barat melalui halaman Gedung Kesenian.

Tuan Holian

tambang mangaan kliripanJaman semakin maju. Dari tahun ke tahun teknologi yang dipergunakan semakin efisien. Waktu itu Kliripan sudah diambil alih hak pengolahan bahan tambangnya oleh seorang warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang tinggal di Jakarta bernama Holian. Menggunakan peralatan yang lebih canggih harta karun Kliripan di kirim ke Jakarta dan Surabaya. Masyarakat Kliripan memanggil Holian dengan nama Tuan Holi.

Pengusaha asal Jakarta ini mengontrak tanah berbukit di Kliripan selama 20 tahun. Tercatat mulai tahun 1970 hingga tahun 1990 jika mengacu pada perjanjian kontrak, namun pada tahun 1983 aktivitas tambang dihentikan karena terdapat banyak kerusakan. Rel dan sisa-sisa peralatan tambang dimanfaatkan warga menjadi tiang sumur, banyak besi lain dijual kiloan. Setelah itu banyak pekerja tidak lagi memiliki pekerjaan, sehinga banyak warga Kliripan yang pergi keluar daerah namun masih di lingkup Kulon Progo menjadi buruh tani.

Pada masa Holian proses penambangan dilakukan dengan lebih modern. Ketika Belanda masih bercokol di Kliripan tenaga gerobak sapi dan manusia masih sangat dominan, namun tidak pada masa Holian. Pada jaman Holian akhirnya dipasang rel-rel yang dipergunakan untuk berjalan kereta lori.

Kereta lori berjalan menggunakan tenaga listrik saat di dalam lubang galian. Setelah sampai di ruang terbuka maka tenaga manusia kembali digunakan untuk menggerakan lori. Meskipun masih menggunakan tenaga manusia, lori dirasa lebih efisian daripada menggunakan gerobak. Sayangnya banyak warga yang sudah tidak mengetahui apa itu lori.

Lori adalah kereta kecil yang digunakan untuk mengangkut mangaan dari Kliripan menuju Halte Pakualaman. Seperti di atas tadi, Halte Pakualaman merupakan stasiun kereta api kecil yang berada di timur palang pintu perlintasan kereta api di Pasar Bakungan atau Pasar Cikli. Bangunannya sederhana, tidak sebesar Stasiun Kedundang di sebelah barat.

Mangaan dibawa kesana untuk ditumpuk dahulu selama sekitar satu minggu sebelum kemudian dibawa menggunakan kereta uap berbahan bakar kayu ke Jakarta atau Surabaya. Satu kali kereta berangkat kuranglebih mampu membawa sekitar 10 sampai 15 gerbong. Satu gerbong jika diisi dengan muatan truk kecil jaman sekarang kurang lebih dapat diisi 2 muatan truk.

Seluk beluk tambang

Para pekerja di tambang kebanyakan warga sekitar yang secara turun temurun bekerja sejak jaman Belanda. Para mandor yang diberi kuasa mengatur pekerja lapangan juga direkrut dari warga sekitar untuk memudahkan proses komunikasi di lokasi tambang. Dapat dibayangkan ratusan warga Kliripan dan sekitarnya hampir semua menjadi pekerja di pertambangan mangaan.

Pria maupun wanita semua bahu membahu mengolah tanah desanya demi mendapat rupiah yang jumlahnya tidak banyak. Para pria bekerja mengangkut sedangkan wanita melakukan pengolahan mangaan tahap awal, seperti memisahkan berdasarkan bentuk dan mengayak. Kehidupan pekerja saat itu cukup sulit jika dilihat dari penghasilan yang diterima.

Pekerja yang bekerja di luar tambang atau tukang angkut pada tahun 1971 misalnya, rata-rata mendapat upah Rp 60/hari yang dibayarkan setiap dua minggu sekali. Upah yang mepet ini hanya dapat digunakan untuk membeli susu dan gula batu jika mereka mempunyai anak berusia balita. Setelah itu masih menyisihkan sedikit untuk keperluan sehari-hari. Berbeda dengan pekerja di dalam lubang galian mangaan. Dengan resiko dan pekerjaan yang jauh lebih berat mereka mendapat upah Rp 120/hari dibayarkan setiap hari.

Tambang mangaan Kliripan menjadi nostalgia yang sulit dilupakan bagi warga sekitar. Aktivitas yang meninggalkan kesan mendalam bagi pelaku sejarahnya masih menyisakan lubang-lubang bekas galian di bawah tanah. Meskipun di permukaan nampak seperti tak ada sesuatu dan sudah tertutup vegetasi tumbuhan yang cukup lebat, namun jauh di dalam tanah masih terdapat banyak terowongan yang tembus dari satu terowongan ke terowongan lain.

Kliripan pada saat tanahnya ditambang terlihat seperti hamparan luas bukit dengan tumbuhan seperti pohon kelapa sawit dengan jumlah yang tidak banyak. Hanya lubang, rumah untuk menumpuk mangaan sementara, kantor dan jalur lori yang berkelok. Terowongan penambang di dalam tanah berukuran tinggi 2,5 meter dan lebar 2 meter. Tepat di sisi kanan, kiri dan atas terowongan terdapat semacam penyangga tanah.

Ada terowongan vertikal yang sampai saat ini masih tersisa yakni milik PTPM. Terowongan PTPM memiliki kedalaman 100 meter dengan blower di sampingnya. Blower digunakan untuk mengirim oksigen ke dalam terowongan menggunakan mesin caterpilar dan menghilangkan gas asam arang yang secara visual terlihat pekat seperti asap. Masih banyak rel yang tersisa di dalam. Hanya saja oksigen yang saat itu dialirkan menggunakan blower dipastikan telah tertutup gas asam arang yang begitu mematikan.

Menurut cerita warga, tambang mangaan Kliripan menyimpan banyak keunikan. Beberapa diantaranya pernah ditemukan lele dan udang di dalam terowongan yang jika tidak disedot airnya dipastikan akan ngemplung, karena itu selalu ada petugas jaga yang menjadi petugas sedot air. Para pekerja dibagian ini bekerja tiga shift; pagi, malam dan sore. Pernah juga ditemukan mata air dengan kondisi air begitu jernih.

Layaknya aktivitas tambang yang berbahaya, di tambang mangaan Kliripan pernah beberapa kali terjadi kejadian mengenaskan. Sekitar tahun 1952 ada seorang penambang yang meninggal karena menghirup gas asam arang. Tahun 1972 seorang pekerja meninggal karena badannya tertusuk besi dari atas. Masih di tahun yang sama pernah terjadi longsoran batu di dalam lubang yang menimpa seorang pekerja hingga tewas.

Terowongan mangaan

Menurut catatan ada setidaknya 3 terowongan atau lubang yang kini tertutup lumpur dan longsoran tanah. Hanya tersisa 1 yang masih relatif utuh. Keempatnya yakni lubang Holian, PTPM, ITB dan Sunoto. Penamaan lubang didasarkan pada siapa empunya tanah. Walaupun demikian sebenarnya tanah di Kliripan adalah mutlak milik warga. Perusahaan hanya menyewa selama sekian tahun.

tambang mangaan kliripan

Lubang Holian misalnya, pada saat itu salah satu petak tanah di area tambang mangaan Kliripan disewa seharga Rp 20.000,- dengan durasi sewa selama 20 tahun. Selain itu satu pohon di sekitar lubang galian yang harus ditebang dihargai Rp 100. Padahal lingkungan sekitar lubang harus steril dari tumbuhan. Hanya terdapat beberapa rumah saja yang menjadi tempat menumpuk mangaan yang baru saja diambil dari dalam dan bangunan yang dipergunakan sebagai kantor.

Terowongan tambang mangaan Kliripan yang termasyur itu kini pelan-pelan tertutup tanah. Cerita mengenai tambang mangaan yang berjaya selama 30 tahun di salah satu sudut Kecamatan Kokap kini semakin kabur. Hanya sisa-sisa cerita yang masih disimpan rapi dalam memori para mantan pekerja. Dengan obor yang terbuat dari blarak dan kaki yang kurus, mereka menuruni bukit-bukit terjal nan gelap karena listrik hanya dipakai untuk keperluan tambang. Pun demikian dengan sejarah tambang mangaan yang semakin gelap, tanpa generasi muda tau bahwa tanah yang kini dipijaknya adalah tanah yang menjadi saksi bisu jerih payah pekerja tambang. Tambang mangaan Kliripan. (sumber foto: www.kitlv.nI)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu