Bangkitkan Gagah Persikup Kulon Progo

Category: Ekonomi, Olahraga, Sosial 2,885 4


Susahnya mengejar gebetan sepertinya jauh lebih gampang dibanding menggambarkan potret sepakbola Kulon Progo. Bukan, bukan karena tidak ada yang bisa diceritakan, tapi gini lho, sebagai anak daerah yang lahir dan tumbuh di Kulon Progo rasanya berat membagi kisah tentang sepakbola kami. Berat namun yah harus diakui sepak bola Kulon Progo memang tertidur sangat lama. Persikup Kulon Progo tertidur terlalu lama.

stadion cangkring persikup kulon progoSetelah konflik antara Kementerian Pemuda dan Olahraga dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia pecah beberapa waktu lalu, hingga kompetisi akhirnya dihentikan, nampaknya tidak berpengaruh terhadap sepak bola Kulon Progo. Tidak ada komentar apapun dari Pengurus PSSI Kulonprogo melalui media. Mungkin karena Persikup Kulon Progo hanya berlaga di Liga Nusantara regional Yogyakarta sehingga tidak mengharuskan pengurus turut berkomentar.

Benar bahwa Kulon Progo pernah melahirkan striker yang kini jadi legenda di PSS Sleman dalam diri Mohammad Eksan. Putra pemilik restoran ayam goreng Bu Hartin yang lama jadi langganan saya pun tak lantas secara bulat menjadi kebangaan Kulonprogo. Kebanggaan sesungguhnya ya saat melihat Persikup Kulon Progo berprestasi baik. Ini yang sekian puluh tahun tidak nampak. Entah ndelik dimana.

Sejak pertama menyukai sepak bola dan bermimpi menjadi pemain profesional, sepak bola Kulon Progo jalan di tempat seperti pleton sekolah yang ramai waktu tujuh belasan itu. Sampai detik ini saat pantaranku sudah banyak yang rabi, sepakbola Kulon Progo masih jalan di tempat. Tak beranjak dari tempat semula. Di lain daerah, tim perserikatan seperti Persiba Bantul, PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta sudah melancong jauh. Bahkan pernah menjajal kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia.

Lima belas tahun lalu Francesco Totti, Vincenzo Montella dan Gabriel Batistuta, membawa AS Roma juara Liga Italia. Jika dihitung ke depan dari tahun itu, setidaknya lima belas tahun pula sepakbola Kulonprogo diam termenung. Ini yang saya saksikan. Minim perubahan dan gejala membaik.

Renovasi sebagian Stadion Cangkring selesai beberapa bulan lalu. Bagi sebagian warga, pencapaian ini dianggap sebagai peningkatan. Masyarakat kemudiaan memuji kondisi Stadion Cangkring yang dipersiapkan untuk gelaran Porda 2015. Kulon Progo akan menjadi tuan rumah. Stadion Cangkring tidak lagi dipakai untuk ngingu kambing. Tidak juga untuk pipis di tembok ruangan yang lebih mirip gudang di samping lapangan. Ingat?

Kini tersedia banyak ruang di bawah tribun. Tribun stadion mampu menampung 7000 penonton. Rumput lapangan datar menghijau. Drainase dan lintasan lari diperbaiki. Tembok dicat ulang. Keadaan yang mungkin mengharukan jika ingat beberapa tahun lalu para pemain termasuk saya, berlatih bersama kambing di tengah lapangan.

Dengan tidak mengecilkan arti stadion, saya merasa betapa bahagianya masyarakat Kulon Progo hanya dengan selesainya sebagian pembangunan Stadion Cangkring. Baru sebagian lho, tetapi masyarakat sedemikian senangnya. Memang, bahagia itu sederhana. Ini baru stadion. Prestasi yang sebenarnya belum nampak barang secuil.

Persatuan Sepakbola Sekitar Tugu

Dahulu sebuah tim yang bermarkas di Alun alun Wates menjadi arena berlatih sepakbola setiap Senin dan Kamis sore. Letak sekretariatnya yang berada di sekitar Monument Nyi Ageng Serang, Wates, menjadikan tim tua ini dinamai sebagaimana namanya sekarang, Persatuan Sepakbola Sekitar Tugu atau PSST.

Dari sejarah dan lambang klub, tugu yang dimaksud bukanlah Monument Nyi Ageng Serang seperti yang bisa dilihat saat ini. Melainkan sebuah tugu yang kini telah hancur. Berbentuk balok berdiri dengan atas mengerucut dan di ujungnya terdapat bentuk bola. Sebelum tahun 1990 tugu ini masih berdiri. Namun karena seringnya tertabrak kendaraan maka keberadaannya digantikan oleh Monument Nyi Ageng Serang.

PSST adalah tim tertua di Kulon Progo yang berdiri tahun 1956. Tim ini bercokol di Divisi Utama Pengcab PSSI Kulonprogo. Minimnya catatan menjadikan masyarakat alpa melihat fakta sejarah sepakbola Kulonprogo. Lebih parah lagi tidak ditemukan rilis dokumen yang menyebutkan kapan Persikup Kulon Progo didirikan. Dari kabar yang beredar, sekali lagi cuma kabar yang belum bisa dipastikan kebenarannya, tahun dimana Persikup Kulon Progo didirikan sama dengan tahun dimana PSS Sleman resmi berdiri, pada 1976.

Tahun 1992 PSST menjadi kampiun Divisi Utama Persikup Kulon Progo, tahun 2008 bercokol di peringkat III. Menjadi tim tertua di Kulon Progo menjadikannya salah satu tim legendaris di tanah Menoreh. Setelah PSST berdiri berdirilah Asri Bendungan dan HW. Halilintar muncul kemudian bersama banyak tim lain. Halilintar lahir tahun 80 an. Pelatih sekaligus pendiri tim ini adalah Suyono. Mantan pemain PSST Wates.

Sekian lama bersama PSST saya mencicipi njungkir njempaliknya kompetisi divisi II Persikup Kulon Progo. Mungkin banyak yang belum tahu bahwa kompetisi internal Persikup dibagi menjadi 3 divisi. Divisi Utama sebagai kompetisi teratas, Divisi I dan Divisi II. Sedikitnya 51 tim berlaga di kompetisi yang digulirkan Pengcab PSSI Kulon Progo musim lalu. Sebuah kompetisi yang susah payah digulirkan pengurus guna merawat bakat-bakat sepakbola Kulon Progo. Kompetisi setingkat sekolah sepakbola? Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang itu.

Bermain di daerah Tawangsari, Pengasih, PSST memiliki tim muda dengan sebutan Tugu Muda. Waktu itu Tugu Muda lebih sering kalah karena memang bermain tanpa beban. Tim ini menjadi tempat belajar bagi para pemain SSB Tugu Muda. Tempat menimba pengalaman sebelum nanti berlaga di tim senior. Ban kapten yang beberapa kali mampir di lengan waktu itu belum dapat saya pertanggungjawabkan. Tugu Muda saat saya bermain lebih sering kalah dibanding menang. 

Selain Tugu Muda saya pernah membela Persikup Kulon Progo kategori umur di bawah 15 tahun. Saat itu mengikuti kompetisi PSSI DIY. Dengan dana dan persiapan yang minim pemain diberangkatkan menuju Wonosari dengan bus berwarna putih milik kantor Pemkab Kulonprogo. Bermain tidak buruk, Persikup  Kulon Progo muda berhasil menahan imbang Persig Gunung Kidul.

stadion cangkring persikup Kulon ProgoMeskipun jarang bermain karena selalu ndlongop mengisi skuad cadangan, pengalaman bermain di kompetisi internal dan menjajal seragam Persikup Kulon Progo menjadikan saya tahu bahwa sepak bola Kulon Progo memang belum digarap serius. Alasan dana selalu jadi masalah dan alasan klasik. Saat itu keadaan memaksa kami untuk memahami, mengingat Pendapatan Asli Daerah Kulon Progo jauh lebih kecil dibanding Bantul, Sleman dan Kota. Sehingga mungkin pemerintah enggan memberi porsi dana terlalu banyak untuk sektor olahraga.

Potensi olahraga sepertinya belum dilirik legislatif dan ekskutif di Kulon Progo. Belum disadari bahwa olahraga dapat menyatukan masyarakat ke dalam sebuah rasa, yakni rasa memiliki terhadap aspek-aspek kedaerahan. Modal penting guna nggenjot gerak pembangunan di berbagai sektor. Okelah memang dampak negatif akan selalu ada, namun apakah kita akan menistakan dampak baik dengan mendahulukan ketakutan mengambil resiko?

Sebagai tim amatir, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo wajib memberi suntikan dana bagi tim sepakbolanya. Beda cerita jika Persikup Kulon Progo bercokol di Divisi Utama nasional yang mengharamkan dana APBD bagi pengelolaan tim mantan perserikatan. Tim Divisi Utama dan Liga Super Indonesia harus memiliki badan hukum, managemen yang profesional, stadion yang mumpuni dan berbagai syarat lain yang tak mudah didapat. Walaupun tak mudah, hal itulah yang telah sedikit demi sedikit dilengkapi oleh PSS Sleman, PSIM Yogyakarta dan Persiba Bantul.

Sepak bola, politik dan peran masyarakat

Keberadaan politik dalam sepak bola mustahil dipisahkan, seperti aku sama kamu dik. Melihat fenomena ini bukan juga berarti kepentingan politik boleh bercokol terlalu dominan. Jika politik lebih dominan maka banyak kepentingan yang saling sundul. Sehingga prestasi sepak bola justru berada di urutan nomor embuh. Tidak menjadi prioritas lagi.

Sayangnya, saat ini politik lebih dominan menguasai persepakbolaan nasional. Sambil wedangan barsama beberapa kawan, kami berdiskusi apakah Persikup Kulon Progo memerlukan tokoh yang kuat secara finansial, politik dan pengaruh di masyarakat? Dugaan ini muncul mengingat beberapa daerah memang didukung oleh tokoh politik yang kuat finansial dan disegani di kancah lokal maupun nasional.

Terlepas dari dugaan di atas. Keseriusan memoles sekolah sepakbola, rutin menggulirkan kompetisi dan turnamen, penambahan fasilitas seperti bola kepada setiap tim, serta memberikan beasiswa sekolah bagi pemain berprestasi masih menjadi cara paling rasional guna mendongkrak prestasi sepakbola. Apakah ini sudah dicoba?

Pengcab PSSI Kulon Progo, cobalah untuk lebih terbuka mengajak semua stakeholder untuk urun rembuk membahas sepakbola kita yang acakadut ini. Barangkali, sekali lagi ini barangkali, ada putra-putra daerah yang tergerak membantu, sehingga pengurus juga tidak terlalu ngos-ngosan.

Faktanya, banyak anak muda Kulon Progo yang justru menjadi supporter bagi tim di luar daerah. Tidak salah memang karena mencintai tim sepak bola adalah perkara hati, tetapi tidak kah ada kerinduan mendukung tim dari daerah sendiri. Saya yakin ketika Persikup Kulon Progo lebih serius mengembangkan kepak sayapnya, di saat itu pula banyak masyarakat Kulon Progo yang akan mendukung.

Cukup lama ingin mengajukan pertanyaan ini. Seperti apa kebanggaan yang dirasakan ketika mendukung tim dari daerah kita sendiri? Pertanyaan sederhana yang sulit dijawab ketika kami bukan dari daerah dimana tim itu berasal. Tidak ingin kah merasakan kebanggaan seperti yang mereka rasakan?

“Kegagalan terjadi setiap kali. Kegalalan bisa terjadi setiap hari. Yang membuat Anda menjadi lebih baik adalah bagaimana Anda bereaksi terhadap kegagalan itu” – Mia Hamm.

Related Articles

4 thoughts on “Bangkitkan Gagah Persikup Kulon Progo

  1. ryan ukies

    Nggerus kdang nek weruh cah nom2 mbuh ijo mbuh abang mbuh biru dho konvoi ngetan, aku dewe penikmat sepakbola tapi udu suporter,kadang yo mikir kapan yo sepakbola Kulonprogo bangkit, wes mesti aku dadi suportere

    Reply
  2. Admin

    Amin yah begitulah sepakbola kita. Semoga upaya dari pengurus yang sekarang membuahkan hasil. Kita suport saja yak

    Reply
  3. Swastanto (Gasela 99/01)

    Setuju… Dari jaman saya masih ikut kompetisi divisi utama Persikup bermain utk Gasela sampai sekarang (entah di divisi mana Gasela terjun bebas), belum saya lihat perkembangan yg bisa dibanggakan… Namun, tetap masih ada asa di dada ini utk melihat Persikup berlaga melawan Persib, Persipura atau Sriwijaya FC misalnya di kancah tertinggi sepakbola tanah air, walaupun entah kapan akan terwujud… Tetap semangat dan BRAVO PERSIKUP Kulon Progo….!!!

    Reply
    1. Admin

      Amin yah begitulah sepakbola kita. Semoga upaya dari pengurus yang sekarang membuahkan hasil. Kita suport saja yak

      Reply

Tuliskan Komentarmu