Belajar Bareng Bule Mengajar

Category: Pendidikan, Sosial 1,554 0


Jika berbuat sesuatu bagi Kulon Progo selalu diidentikan dengan nggamel, njoget atau menjadi kader partai politik, lantas untuk apa orang semacam kami? Pertanyaan sederhana dengan jawaban sederhana pula sakjane, mengingat tak semua orang mampu melakukan yang orang lain fasih lakukan. Jadi sudahlah, bergerak di bidang positif masing-masing dengan tujuan yang sama. Gayeng kan? Seperti Komunitas Bule Mengajar, mencoba mengolah aktifitas kreatif sesuai kompetensi yang dikuasainya.

bule mengajarSebelum soyo jero ngomongke Bule Mengajar, ingatkah dengan peristiwa Sumpah Pemuda yang diprakarsasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia tahun 1928? Waktu itu kongres diadakan tiga kali di tiga tempat yang berbeda. Pertama 27 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Kedua 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop. Ketiga 28 Oktober 1928 di Gedung Indonesisch Huis Kramat, Jakarta.

Yang menarik, tokoh-tokoh penting Sumpah Pemuda 1928 saat itu berusia sangat muda. Sugondodo Djojopuspito yang saat itu membuka rapat pertama berumur 23 tahun. Mohammad Yamin masih berusia 25 tahun. Amir Sjarifoeddin saat itu berusia 21 tahun. W. R. Soepratman berusia 25 tahun. Johannes Leimena berumur 23 tahun. Soenario Sastro Wardoyo berumur 26 tahun. Sarmidi Mangunsarkoro masih berusia 24 tahun.

Bandingkan dengan usiamu? Bukankah saat itu mereka juga sepantaran kita? Mereka menjadi tokoh penting Sumpah Pemuda sebagai tonggak yang menandai peran strategis pemuda dalam persatuan bangsa dan perjuangan melawan kolonialisme. Mereka berjuang dengan apa yang mereka bisa semuda itu. Saat menua, mereka mengisi posisi penting dalam struktur pemerintahan di awal kemerdekaan. Pemuda jaman ini memiliki segalanya untuk optimis.

Bule Mengajar

Menggunakan caranya sendiri, Bule Mengajar berupaya mengenalkan Kulon Progo, khususnya pada warga negara asing melalui jalur pendidikan yang dipadukan aspek wisata, kesenian serta budaya. Komunitas ini terinspirasi dari gerakan Indonesia Mengajar yang digagas Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Gagasan melahirkan Bule Mengajar dibidani Lia Andarina Grasia, warga Bendungan, Wates, pada tahun 2014. Berbekal latar belakang pendidikan dan pengalaman tinggal di Bali selama lima tahun, ia melihat potensi wisata, budaya dan kesenian Kulon Progo tidak dikembangkan dengan maksimal. Tidak dipromosikan dengan baik. Tidak didokumentasikan dengan apik. Alhasil sedikit masyarakat saja yang tau dan mendapat kesempatan untuk belajar.

Ide mengajak warga negara asing mengajar di Kulon Progo digulirkan Februari tahun 2014. Tanggal 28 Oktober 2014, tepat di hari Sumpah Pemuda, komunitas ini akhirnya didirikan. Sebagai langkah awal, Bule Mengajar mengajak warga negara Madagaskar menjadi partisipan. Saat itu belum mengunjungi lembaga pendidikan formal. Melainkan bertemu dengan masyarakat di Bendungan Kidul, Wates. Berbagi pengetahuan dan bertukar informasi mengenai Madagaskar. Di sisi lain warga juga mencoba mengenalkan seluk-beluk Kulon Progo.

Agustus 2014, Bule Mengajar mengajak warga negara Jepang mengunjungi Kulonprogo. Kali ini partisipan mendapat kesempatan mengajar, berbagi pengetahuan dan budaya di SMA N 2 Wates. Siswa nampak antusias mendengar tuturan partisipan asal jepang. Sebuah pengalaman berharga yang belum pernah mereka dapatkan.

Beberapa sekolah yang pernah menjadi lokasi mengajar antara lain SMA N 1 Wates, SMA N 2 Wates, SMA N 1 Pengasih, SMK Kesehatan CSI Wates, SMP N 1 Wates, SMP N 2 Wates, dan SMP N 4 Wates. Ke depan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak sekolah di seluruh Kulonprogo. Sentolo kok belum, jare admin Gondrong yang ngefans sama Sentolo.

Potensi yang terintegrasi

Kulon Progo memiliki potensi wisata yang terintegrasi dengan kebudayaan dan kesenian. Hal ini sangat mungkin dikembangkan dengan tetap mempertahankan kearifan lokal. Sayangnya, potensi yang begitu besar terkendala promosi dan kesiapan sumber daya manusia. Jangan lupa, aset bangsa ini bukan emas, minyak, hutan atau apapun yang berasal dari alam. Sesungguhnya, aset kita adalah manusia-manusia yang memiliki kemauan untuk belajar dan saling berbagi.

Bule MengajarDisadari memang, kemampuan Bahasa Inggris anak muda Kulon Progo masih minim. Oleh karena itu Bule Mengajar mengajak warga negara asing berkunjung ke sudut-sudut Kulon Progo. Mengajak warga Kulonprogo untuk tidak perlu merasa asing dengan Bahasa Inggris. Di saat yang sama memperkenalkan pada partisipan potensi Kulonprogo yang begitu besar ini.

Saat warga negara asing mengunjungi sekolah dan berinteraksi dengan siswa, para siswa terlihat menikmati dan berani berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Kedatangan warga negara asing dirasa efektif untuk menambah wawasan siswa. Diharapkan juga memunculkan kebanggaan terhadap bangsa dan negara. Lha wong bule gelem nyinau Indonesia, mosok awakdewe emoh.

Partisipan mengenalkan negara mereka kepada siswa melalui presentasi di dalam kelas. Menunjukan kesenian tradisional daerah mereka dan mengajari siswa percakapan sederhana dalam bahasa negara asal partisipan. Semua kegiatan disampaikan dengan menggunakan Bahasa Inggris. Tidak untuk merasa rendah diri di hadapan warga asing. Namun memunculkan semangat dan optimisme dalam diri siswa untuk melakukan perubahan positif.

Partisipan bertindak sebagai pengajar dan anggota Komunitas Bule Mengajar bertindak sebagai moderator jalannya interaksi serta komunikasi antara partisipan dengan siswa. Aktivitas ini berlangsung selama 3 jam, yakni pada Sabtu pukul 09.00 hingga 12.00 di ruang kelas atau perpustakaan.

Materi yang disampaikan cenderung masuk ke dalam pelajaran Bahasa Inggris, Geografi, dan budaya. Partisipan juga sering mencontohkan bagaimana negara mereka dapat tertib dan bersih, sekaligus memotivasi siswa untuk menyadari potensi besar mereka, lebih semangat belajar, himbauan untuk tidak merokok dan hidup saling menghargai satu sama lain.

Melalui interaksi diupayakan muncul suasana dialogis dua arah. Tidak seperti berceramah atau khotbah yang bikin ngantuk itu. Di dalam kelas dibangun suasana yang bersahabat dan komunikatif. Maka, kelebihan atau kekurangan negara masing-masing dipaparkan dengan jujur dan lapang dada. Sehingga bukan minder dan congkak yang kemudian muncul tapi gelak tawa yang membahagiakan.

Komunitas berdampak

Tercatat puluhan warga negara asing sudah bergabung bersama komunitas Bule Mengajar. Sampai Juni 2015 tercatat 59 warga negara asing dari 18 negara sudah ambil bagian memberi dampak baik bagi warga sekitar. Dengan cara ini Bule Mengajar mencoba memberi dampak positif bagi Kulonprogo dengan potensi yang dimilikinya.

Sejumlah warga negara asing yang pernah ambil bagian antara lain 21 orang partisipan dari Thailand, 11 partisipan berasal dari Jepang, kemudian 4 partisipan dari Korea Selatan, 3 partisipan dari Tiongkok, 3 partisipan dari Jerman, 2 partisipan dari Perancis, 2 partisipan dari Belanda.

Kemudian 2 partisipan dari Swedia, 2 partisipan dari Slovenia, 1 partisipan dari Amerika Serikat, 1 partisipan dari Hungaria, lalu 1 partisipan dari Portugal, 1 partisipan dari Uganda, 1 partisipan dari Kepulauan Fiji, 1 partisipan dari Yaman, 1 partisipan dari Lesotho, 1 partisipan dari Madagaskar dan 1 partisipan dari Maroko.

Dari sekian banyak partisipan yang sudah bergabung semuanya hanya mengajar di Kulon Progo. Dilaksanakan 2 kali dalam sebulan pada akhir pekan dan bergantung pada aktif tidaknya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Apabila sekolah sedang dalam masa ujian atau libur maka program ini sementara waktu ditiadakan. Saat berada di Kulon Progo, partisipan tinggal di rumah-rumah warga di daerah Ngestiharjo dan Bendungan.

Meskipun hanya komunitas kecil yang lahir di sebuah desa Kulon Progo, Bule Mengajar ingin lebih memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat Kulonprogo. Beberapa agenda yang sudah rapih tersusun seperti membantu pengembangan konservasi penyu di Pantai Trisik, membantu pelepasan anak penyu di Pantai Trisik, turun tangan membersihkan area Pantai Trisik saat musim penyu bertelur pada Juni hingga Agustus dan gerakan penanaman bakau di sebelah barat Pantai Congot.

Tanggapan positif masyarakat

Sukacita dan keharuan bersama warga bukan tanpa kendala. Kendala materi dan sarana mengharuskan anggota Komunitas Bule Mengajar bekerja lebih keras agar terus dapat melayani dan memberikan yang terbaik. Kendala tak menghalangi secuil pun tekad komunitas ini untuk memberi dari apa yang mereka mampu.

Pihak sekolah sangat mendukung aktifitas Bule Mengajar. Sekolah merasa kunjungan seperti ini dapat memperkaya pengalaman dan pengetahuan anak didik. Bahkan saat sekolah mengadakan aktivitas seperti ulang tahun sekolah atau kesenian, Bule Mengajar kerap kali diundang.

bule mengajarPemilik rumah dan warga yang dijadikan lokasi partisipan menginap menyambut baik kedatangan Komunitas Bule Mengajar. Mereka terbuka dan dengan senang hati berinteraksi langsung dengan warga negara asing. Beberapa warga bahkan mengundang partisipan untuk makan malam atau sekedar mampir ke rumah warga yang lain.

Partisipan tidak tahu sama sekali mengenai detail aktivitas yang akan dialami di Kulon Progo. Yang mereka tahu, mereka hanya akan mengajar di sekolah dan tinggal di rumah penduduk. Bagi partisipan, mengunjungi tempat wisata, berinteraksi dengan warga, mencoba pekerjaan masyarakat lokal serta menyaksikan pertunjukkan kesenian adalah pengalaman luar biasa yang tentu tak dapat dirasakan di negara mereka.

Seluruh aktifitas diharapkan membuat partisipan lebih mengenal Kulon Progo. Partisipan lah yang akan menjadi duta Kulon Progo setelah mereka pulang. Lebih dari itu, Bule Mengajar ingin membangun kedekatan emosional dalam diri partisipan. Sehingga bukan hanya merasa senang kemudian mengenang pengalaman ini, namun juga mengajak para partisipan untuk menaruh hati, mencintai Kulon Progo.

Kulon Progo memiliki semua alasan untuk optimis. Jangan khawatir kawan, karena yang engkau bisa lakukan adalah salah satu alasan itu. (foto: Bule Mengajar)

Related Articles

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.