Dalang Muda Kulon Progo, Ki Guntoro

Category: Budaya, Sosial 7,961 5


Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui UNESCO, 7 November 2003, menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia. Warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni tutur. Wayang berkembang luas di Jawa sehingga memunculkan dalang-dalang yang eksis di dunia pewayangan. Kulon Progo tak ketinggalan. Setelah maestro dalang almarhum Ki Hadi Sugito mengharumkan nama Kulon Progo, kini muncul dalang muda potensial, Ki Guntoro.

Ki GuntoroSelain Ki Guntoro, dalang muda asal Seworan, Triharjo, Kulon Progo memiliki sekitar 150 dalang yang tergabung dalam Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) baik dalang senior maupun dalang muda. Termasuk dalang cilik asal Lendah, Irfan Hasyim.

Dalang muda Kulon Progo selalu mendapat support dan tuntunan dari seniornya. Beberapa dalang senior Kulon Progo seperti Ki Suparman Cermo, Ki Sutono Hadi Sugito, Ki Totok Hadi Sugito, Ki Rusmadi, Ki Anom Sucondro, Ki Wisnu Hadi Sugito, Ki Sumana, Ki Suranto, Ki Hadi Sunyoto, Ki Joko Sumitro dan sang maestro dalang gagrak Yogyakarta yang terkenal itu, alm Ki Hadi Sugito tak sungkan memberi masukan bagi juniornya. Merekalah dalang senior Kulon Progo yang telah malang melintang di dunia pedalangan tanah air.

Khusus alm Ki Hadi Sugito, sebagai wujud penghargaan atas totalitasnya sebagai dalang dan keseriusan menjaga budaya bangsa, pemerintah Kulon Progo pada 2010 lalu menjadikan nama Ki Hadi Sugito sebagai nama ruas jalan dari Perempatan Nagung ke arah selatan menuju daerah Bugel, sepanjang kurang lebih 6 kilometer.

Meskipun beliau telah tiada, diharapkan dengan adanya nama di plakat ujung jalan dan karya-karya yang selalu dikenang. Nama Ki Hadi Sugito akan selalu diingat oleh masyarakat Kulon Progo dan bangsa Indonesia, karena bagi Ki Guntoro dan dalang lain, Ki Hadi Sugito adalah guru, pembimbing dan teladan yang sosoknya tak akan terganti oleh siapapun.

Dalang dan kecintaan pada wayang

Memiliki nama asli Guntoro Prajoko, pemuda 32 tahun ini serius menggeluti dunia pewayangan, kerawitan bahkan pembuatan wayang kulit. Statusnya memang single tapi pria single seperti Ki Guntoro melahiran karya pewayangan yang indah. Bandingkan dengan Admin Brewok yang tiap hari tura-turu.

Tumbuh di keluarga seniman membuat darah seni begitu kental dalam diri Ki Guntoro. Sang Ayah, Sugati, menjadi mentor sekaligus motivatornya dalam dunia pewayangan. Sang Ibu, Rubi, berprofesi sebagai sinden. Keluarga Ki Guntoro masih memiliki ikatan trah dengan alm Ki Hadi Sugito, sehingga saat beliau masih sugeng Ki Hadi Sugito sering memberikan saran dan masukan bagi Ki Guntoro. Oleh karena itu ia memilih mendalang sebagai panggilan hidup.

Ki Guntoro, pemuda yang menamatkan sekolah di jurusan otomotif SMK Ma’arif 1 Wates pernah menyabet Juara 1 Lomba Dalang tingkat SMP se DIY, juara 1 Lomba Dalang tingkat SMA se DIY, juara II Lomba Dalang Tingkat Nasional di Candi Borobudur dan penghargaan saat mengikuti Festival Dalang Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah. Saat merengkuh gelar juara 1 di Festival Dalang Remaja ia mendapat tawaran beasiswa melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia namun dengan berbagai pertimbangan Ki Guntoro tidak mengambil beasiswa tersebut.

Semua tahu, tidak banyak pemuda yang mau menekuni dunia pewayangan. Dalang dianggap profesi yang tidak elit dan tidak bonafit. Boleh saja orang lain berkata seperti itu tetapi tidak untuk Ki Guntoro. Idealisme dan kecintaan terhadap kebudayaan Indonesia khususnya wayang kulit membawanya masuk lebih dalam menekuni dunia pewayangan. Pilihan yang tidak populer, mengingat banyak pemuda seusianya lebih memilih bekerja di kantor atau berwirausaha di bidang yang lebih keren dan menghasilkan banyak uang.

Ki Guntoro termasuk dalang dengan gagrag gaya Yogyakarta, meskipun kerap kali menyelipkan gagrag Solo saat pementasan. Gagrag Yogyakarta sangat familiar bagi masyarakat Kulon Progo. Hampir semua dalang Kulonprogo menggunakan gagrag jenis ini.

Faktor lingkungan yang didominasi pecinta gagrag Yogyakarta membuat gaya mendalang Ki Guntoro lebih kental dengan aura Yogyakarta. Gaya mendalangnya cenderung serius, meskipun di banyak kesempatan ia menyelipkan guyonan-guyonan segar untuk mengundang gelak tawa penonton.

Wayang kulit gagrag Yogyakarta merupakan wayang kulit yang secara morfologi memiliki ciri bentuk, pola tatahan dan sunggingan atau pewarnaan yang khas. Selain itu pertunjukan wayang kulit Gagrag Yogyakarta juga memiliki unsur-unsur yang khas, seperti dalam hal lakon wayang mencakup penyajian alur cerita dan maknanya, dalam hal catur mencakup narasi dan percakapan dan juga dalam hal karawitan mencakup gendhing, sulukan dan properti panggung.

Menurut Ki Guntoro, gagrag atau gaya pementasan wayang kulit Yogyakarta bersanding dengan gagrag lain dalam dunia wayang kulit, seperti gagrak Solo, Surabaya, Banyumas, Sunda, Madiun, Tulungagung dan lain sebagainya. Bahkan di satu wilayah Yogyakarta saja ada beberapa gagrag yang begitu berbeda antara masing masing kabupaten dan kota, seperti gagrag lor negoro, kulon negoro, pasisiran dan njeron beteng.

Suatu ketika Ki Guntoro pernah diminta mementaskan wayang di Mrunggi, Pengasih. Uniknya ia diminta mementaskan gagrag Solo padahal umumnya masyarakat Kulon Progo lebih menyukai gagrag Yogyakarta. kala itu Ki Guntoro belum pernah mementaskan gagrag Solo. Selama satu minggu sebelum pementasan ia berlatih tekun. Di luar perkiraan, banyak komentar positif mengenai jalannya pementasan, penonton sangat antusias memenuhi pelataran di depan panggung wayang.

Pengalaman berkesan lain adalah saat diminta mementaskan wayang golek menggunakan tiga dalang di Alun-alun Wates, berkolaborasi dengan wayang kulit, kethoprak, wayang orang dan tari. Terlepas dari semua unsur entertain di dalam pementasan wayang kulit, sejujurnya tuntunanlah yang jadi inti dari wayang kulit.

Ki Manteb Sudarsono pernah berkata, wayang bukan tontonan orang bodoh. Penonton wayang harus peka karena wayang bukan sekadar hiburan dengan cara ditonton namun lebih kepada unsur tuntunan mengenai kehidupan.

Seniman sejati

Jeda tidak mendalang digunakan Ki Guntoro belajar teknik mendalang seperti sanggit, sastra, dramatik, gecul dan sabet. Untuk dalang kulonprogo  Ki Guntoro terinspirasi gecul milik alm Ki Hadi Sugito. Sedangkan untuk sastra pewayangan ia terkesan dengan pementasan Ki Purbo Asmoro dari Solo dan Ki Seno Nugroho asal Bantul. Sebagai dalang muda, belajar terus menerus dan memperluas wawasan adalah kegiatan wajib.


Ki Guntoro_kpKi Guntoro ingat betul perkataan Ki Enthus Susmana yang mengatakan kemampuan dalang saat berpentas maksimal hanya akan keluar 40% dari total kemampuan dalang. Oleh karena itu seorang dalang harus memiliki kemampuan pewayangan selengkap mungkin.

Selain belajar teknik mendalang, Ki Guntoro cukup cekatan dalam menatah atau mengukir wayang kulit, nglaras gamelan dan mengukir kayu rancakkan serta menjadi pengrawit. Lengkap. Heran jadinya, bakat sebesar ini kok masih jomblo. Jika yang jomblo Admin Brewok mah wajar. Lha tipe cewek idamane semacem Putri Titian, jelas kangelan.

Ki Guntoro yang hobi mayang dan kerawitan menuturkan bahwa menjadi dalang tidak selalu lekat dengan hal-hal mistis. Contohnya menjelang pentas Ki Guntoro tidak mengharuskan penanggap memakai sesaji. Hal mistis di setiap badan wayang sebenarnya kepercayaan masing-masing dalang. Menurutnya, arwah dari setiap badan wayang berasal dari kepintaran dalang yang memainkannya.

Dalam kehidupan sehari-hari memang ada pantangan. Karena salah satu aktifitas Ki Guntoro adalah membuat wayang kulit, seorang dalang tidak diperkenankan membuat wayang kayon, bethara guru, sang hyang wenang dan sebagainya. Hal ini berdasar ajaran Sunan Kalijaga yang telah ditaati turun temurun.

Haryo Lintang

Menurut Sugati, orangtua Ki Guntoro, jaman dahulu ada seorang bernama Haryo Lintang, kakak dari Brawijaya V. Beliau diusir dari keraton Majapahit dan dibekali wayang beserta Gamelan Thukbrul. Gamelan Thukbrul yakni gamelan yang hanya terdiri dari gender, suwukkan dan kempul, demung, kecer, bonang, dan wayang kulit. Haryo Lintang diusir karena menikahi wanita yang bukan dari trah bangsawan.

Diluar kerajaan Haryo Lintang menjadi dalang wayang rumput. Saat keraton hajatan, Brawijaya V mengundang dalang yang tidak lain itu adalah Haryo Lintang yang berganti nama menjadi Ki Krinan. Ketika pentas beliau mengeluarkan wayang bekal dari keraton yang seketika itu pihak keraton mengetahui bahwa wayang yang dibawa merupakan karya keraton.

Brawijaya V kaget mengetahui sang dalang adalah itu kakaknya. Berdasarkan kisah ini setelah ditelaah melalui buku yang terdapat di Keraton Yogyakarta, ternyata keluarga Ki Guntoro merupakan keturunan Haryo Lintang dan jika tidak keliru Ki Guntoro adalah keturunan ke 26 dari Ki Krinan atau Haryo Lintang.

Benar tidaknya cerita mengenai Haryo Lintang tidak beliau ambil pusing. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana caranya supaya ia selalu dapat nguri-uri kabudayan Jawi. Melestarikan kebudayaan Jawa. Selain itu, mimpinya mengenalkan masyarakat bahwa wayang kulit bukan pertunjukan rendahan, wayang kulit tidak hanya bermuatan hiburan, namun juga tuntunan untuk membawa masyarakat ke arah yang lebih baik.

Semoga pemuda Kulon Progo tidak malu lagi turun tangan melestarikan budaya lokal khususnya wayang kulit. Yah setidaknya mau nonton dulu lah kalau belum bisa belajar seluk beluk wayang kulit. Wayang kulit telah diakui dunia dan merupakan jati diri bangsa. Bangsa lain nyelo-nyelo datang ke Indonesia untuk belajar pewayangan. Lantas apakah kita terus berbangga dengan K-pop dan sebagainya. Opo kudu diclaim negara tetangga dulu bray? (foto: www.tembi.net)

Related Articles

5 thoughts on “Dalang Muda Kulon Progo, Ki Guntoro

  1. Sigit Surro

    Salut. Di zaman goyangan bola basket yang takpernah dioper menjadi tontonan, masih ada pemuda yang peduli akan tontonan berkualitas dan sarat pitutur semacam wayang. Njur pengen ndelok wayang ikih…

    Reply
  2. budi waluyo

    trima kasih mas brewok atas infonya kalau di kulon progo masih ada dalang muda berbakat, ki guntoro. mudah-mudahan kiprah beliau bisa kaya seniornya, almarhum ki hadi sugito, amin. kalau bicara wayang, saya jadi ingat masa kecil tahun 70 an dulu, waktu masih sering nonton pementasan ki hadi sugito. saya perantau asal kulon progo yang saat ini tinggal di kotabumi lampung. nuwun.

    Reply
    1. Admin

      Ada satu orang lagi sebenarnya mas yang masih sangat muda, SMP kalau nggak salah, tapi keberadaan Mas Gun jadi semangat baru mengingat banyak dalang yang sudah berumur lebih dari 50 tahun. Regenerasi.

      Reply

Tuliskan Komentarmu