Hayom Rumbaka Inspirasi Kulon Progo

Category: Olahraga, Pendidikan 3,102 2


Memperingati kemerdekaan banyak kampung menggelar lomba dengan kreatifitas masing-masing. Tak terkecuali di Kulon Progo. Badminton kerap muncul menjadi salah satu olahraga yang dilombakan. Nah kalau bicara soal badminton, siapa sangka jika Kulon Progo pernah melahirkan dan memiliki atlet badminton handal yang menembus level internasional? Dialah Dionysius Hayom Rumbaka, atlet badminton nasional yang menduduki peringkat 21 Badminton World Federation pertengahan Juni 2015. 

hayom rumbakaSiang itu cuaca Pengasih cukup terik. Bapak Tukiman, ayah Hayom pulang dari gereja lantas menemui kami di ruang tamu rumahnya yang sejuk. Suara dan sosoknya tidak berubah, masih sama seperti dulu saat beliau bekerja di Kantor Kecamatan Kokap. Sembari ngobrol panjang lebar, sekelebat terlintas ingatan saat masih bocah dan sering main ke Kantor Kecamatan Kokap. Tak titeni lho, beliau hampir tiap hari pulang pergi dari Serut ke Kokap dengan vespanya.

Hayom Rumbaka jelas berbeda dengan admin gondrong yang sekali badminton malam harinya gak kuat ngangkat ciduk. Hayom dengan prestasi nasional dan internasional, smash tajam serta kemampuannya membaca permainan merupakan atlet terbaik Kulonprogo hingga saat ini. Setidaknya bagi kawan-kawan yang mengikuti perkembangan olahraga Kulon Progo dari waktu ke waktu.

Pencapaian Hayom sesungguhnya dapat menjadi inspirasi bagi atlet Kulon Progo lain. Sadar akan hal ini, Maret lalu Bupati Kulonprogo, Dr. Hasto Wardoyo, SP. OG.(K) bertemu dengan Hayom. Dalam pertemuan itu Bupati bersama Hayom memberi semangat kepada atlet KONI Daerah Istimewa Yogyakarta yang akan bertanding pada helatan Porda Kulon Progo, Oktober nanti. Harapannya seluruh atlet Yogyakarta dapat berprestasi lebih baik. Khususnya atlet dari kampung halamannya, Kulon Progo.

Hayom kecil

Hayom Rumbaka lahir di Kulon Progo, 22 Oktober 1988, putra ragil Bapak Ig Tukiman dan Ibu Maria Margareta Avianti yang saat ini bertempat tinggal di Serut, Pengasih. Hayom menghabiskan masa kanak-kanak dengan bersekolah layaknya anak biasa di TK Santa Theresia, Terbah. Lokasinya di depan bakmi Mbah Atmo yang kondang itu. Lulus dari sana kemudian melanjutkan belajar di SD Kanisius, Driyan, sampai kelas 5 sebelum akhirnya pindah ke SD Dadaha. Sebuah SD di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Daerah yang terkenal sering melahirkan atlet badminton terbaik Indonesia.

Jauh dari orangtua tidak menggoyahkan kebulatan tekat Hayom menjadi atlet berprestasi. Untuk ukuran anak kelas 5 SD kepindahan ke kota asing dengan jarak begitu jauh dari orangtua bukanlah perkara mudah namun ia telah melampaui ini. Bersekolah sampai pertengahan kelas 2 di SMP N 4 Tasikmalaya, ia diminta pulang oleh orangtuanya.

Rupanya, kedua orangtua sangat rindu pada Hayom mengingat sekian lama telah tinggal berjauhan. Kembali ke Pengasih pertengahan kelas 2 SMP tahun 2003, ia melanjutkan studi di SMP N 1 Wates sampai lulus. Sebuah piala kemenangan pernah ia persembahkan bagi SMP N 1 Wates saat memenangkan kejuaraan badminton SMP se Jateng-DIY.

Selesai belajar di SMP N 1 Wates Hayom Rumbaka kemudian melanjutkan study di SMA N 1 Pengasih. Ia hanya belajar selama 3 bulan di SMA N 1 Pengasih sebelum akhirnya diundang dan diberikan kontrak oleh PB. Djarum, Kudus, Jawa Tengah. Hijrah ke Kudus tahun 2005, Hayom melanjutkan sekolah dan lulus di SMA N 1 Kudus. Mimpinya menjadi pemain badminton kaliber dunia diretas di Kudus.

Awal 2010 perjalanan karier Hayom meningkat. Bersama Maria Febe ia dipanggil Pelatnas untuk memperkuat tim nasional badminton. Inilah kali pertama Hayom dipanggil ke Pelatnas Cipayung selama karier profesionalnya. PBSI melakukan evaluasi besar pada Juni 2014, sayang, prestasi Hayom dianggap menurun sehingga sementara waktu ia dikeluarkan dari pelatnas dan  kembali ke PB. Djarum. Hayom diberi waktu untuk mengembalikan penampilan terbaiknya yang dirasa kurang maksimal. Sehingga nanti dapat dipanggil kembali jika permainannya membaik.

Berlatih dengan disiplin

Hayom Rumbaka mulai bermain badminton tahun 1997. Tahun itu pula admin gondrong lagi heboh-hebohnya dolanan long bumbung. Hayom mengenal badminton bermula dari arahan orangtuanya yang khawatir dengan hobi bermain sepakbola anaknya. Bapak Tukiman sangat menyukai sepakbola, ternyata ini menurun ke anaknya. Di sisi lain ia merasa atlet sepakbola terlalu rentan cidera. Hal ini didasari pengalaman saat masih aktif bermain sepakbola, ayah Hayom kerap kali dilanda cidera engkel bahkan tumit. Oleh karena itu beliau menawarkan Hayom olahraga lain yang relatif tidak berbahaya, yakni badminton. Ternyata Hayom suka, setelah itu ia dibelikan raket sederhana.

hayom rumbakaHayom kemudian rutin bermain badminton di lapangan samping rumah bersama tetangga dan sang ayah. Bakat Hayom mulai terlihat. Menurut tetangga dan keluarga, tamplekan, gerak tubuh serta penempatan diri Hayom sangat bagus untuk seorang anak SD yang sedang keranjingan bermain badminton. Melihat potensi ini akhirnya sang ayah memasukan Hayom ke PB. Pancing Sembada, Beran, Sleman, agar dapat berlatih lebih maksimal.

Berlatih empat hari seminggu membuat bakatnya kian terasah. Antara pukul 14.00 sampai 21.00 menjadi waktu wajib bagi Hayom untuk berlatih. Cukup larut untuk anak yang masih sangat belia. Kerja keras ini dijalani terus menerus, disiplin, tanpa lelah sampai kelas 5 SD. Bersama sang ayah, Hayom menempuh perjalanan dari Pengasih menuju Beran menggunakan vespa yang saat ini masih terawat dengan baik. Sekitar 70 km per hari pulang pergi ditempuh empat kali seminggu. Selama itu pula harapan menjadi atlet berprestasi terus dirajut.

Menjelang latihan, kebiasaan unik Hayom adalah turun dari vespa ayahnya, kemudian berlari kurang lebih sejauh 4 kilometer sampai GOR Pangukan, Sleman, tempatnya berlatih. Ia berlari menyusuri jalan aspal dengan maksud pemanasan sebelum akhirnya latihan di GOR. Dengan penuh semangat ia berlari, disusul ayahnya yang setia mengawasi dari belakang. Tidak hanya sampai disitu, kerja keras Hayom nampak saat dirinya rutin mengasah ketahanan fisik dengan berlari dari Serut menuju kantor kecamatan Pengasih, kemudian Watulunyu dan kembali ke rumah.

Saking sukanya berlari saat sang ayah selo tidak ada pekerjaan kantor atau rumah, ia kerap berlari menuju Waduk Sermo, Goa Kiskendo dan terkadang Pantai Glagah. Semua sepakat kalau dari Serut menuju ke tiga tempat tadi jaraknya sangat jauh, apalagi jika ditempuh dengan berlari. Bagi Hayom, berlari tidak hanya melatih fisik, tetapi juga refreshing melihat pemandangan hijau alam Kulon Progo setelah terlalu sering berlatih di dalam ruangan. Admin gondrong paling muntah mlayu semene adohe.

Melihat kemampuan dan tekat besar Hayom, pelatih saat di PB. Pancing Sembada, Bapak Gatot Sugiarto, melihat bakat Hayom sangat potensial jika terus dikembangkan. Kala itu beliau melihat permainan Hayom begitu menjanjikan. Jika konsisten berlatih, beliau yakin Hayom akan berkembang menjadi pemain hebat. Beranjak dari pengamatan ini beliau kemudian memberi porsi latihan khusus kepada Hayom untuk menggembleng kemampuannya mengolah raket.

Luar biasanya, Hayom Rumbaka ingin mencari pengalaman lebih. Ia kemudian meninggalkan PB. Pancing Sembada lalu melenggang mantap meninggalkan Yogyakarta. Selepas dari PB. Pancing Sembada, Hayom kecil pindah ke Tasikmalaya. Ia bertekat melanjutkan impian menjadi atlet profesional.

Saat itu Hayom duduk di bangku kelas 5 SD. Masih sangat kecil. Ia bergabung dengan PB. Pikiran Rakyat, Tasikmalaya, Jawa Barat, sebuah klub badminton yang sering menelurkan atlet badminton berprestasi. Masuknya Hayom ke PB Pikiran Rakyat hampir bersamaan dengan masuknya Rici Puspita Dili, atlit badminton ganda campuran nasional asal Sleman yang juga pernah berlatih di PB Pancing Sembada. Lulus SD Dadaha, Hayom lantas melanjutkan sekolah di SMP N 4 Tasikmalaya.

Keputusan tinggal di Tasikmalaya merupakan pilihan yang begitu sulit. Hayom harus tinggal jauh dari keluarga dan beradaptasi dengan lingkungan baru di usia belia. Umumnya, anak kecil seumur itu sangat membutuhkan kasih sayang orangtua secara langsung, yah mbok mboken lah Bahasa Jawanya, lha wong sepantaran kuliah aja banyak yang mbok mboken.

Jika kembali ke masa itu, usia SD bagi kebanyakan anak adalah masa bermain. Anak-anak di Wates tahun 1998 sedang gandrung-gandrungnya bermain game komputer Mortal Kombat atau paling petak umpet tiap sore. Pas saat itu juga Hayom sudah jauh menuju Tasikmalaya menggapai mimpinya menjadi atlet.

Keluarga dan badminton

Saat ini Hayom yang juga bercita-cita menjadi personil Angkatan Udara adalah pemain aktif yang terdaftar di PB. Djarum Kudus. Menjalani kontrak dengan PB Djarum sejak awal SMA menjadikan Hayom harus tinggal dan berlatih di Kudus. Sejak itu ia tidak lagi bisa berlama-lama dengan keluarga. Waktunya tinggal di rumah menjadi semakin tipis. Apalagi seiring waktu berjalan makin banyak turnamen yang harus ia hadapi guna mengasah kemampuan.

Bagi atlet badminton, turnamen di luar negeri dan jadwal berlatih yang padat menjadi harga yang harus diberikan untuk meraih prestasi terbaik. Turnamen di banyak negara harus rutin diikuti dan berprestasi maksimal agar ranking dunia selalu terjaga. Semakin apik ranking dunia semakin terbuka lebar pula kesempatan seorang atlet untuk berlaga di turnamen besar seperti Olimpiade, Piala Thomas, Piala Uber, All England dan sebagainya.

Keluarga sangat mengerti dengan kondisi Hayom dan apa yang menjadi cita-citanya, sehingga tetap mendukung Hayom apapun yang menjadi konsekuensi. Pentingnya keluarga bagi Hayom seperti tiap tarikan nafas dari dalam tubuhnya, sedangkan badminton baginya adalah segalanya. Hampir seluruh hidupnya ia habiskan untuk menapaki karier sebagai pemain profesional.

hayom rumbakaOleh karena itu, saat mendapat kesempatan pulang ke Pengasih ia manfaatkan betul waktu-waktu di rumah guna berkumpul bersama keluarga dan bertemu kawan-kawan. Futsal, makan mie ayam, beli bakmi Jawa khas Kulon Progo, jajan pecel lele yang jadi makanan favorit atau sekadar nongkrong bersama kawan menjadi pelepas rindu pada Kulon Progo. Sembari melempar jauh-jauh kejenuhan karena berlatih setiap hari.

Hayom Rumbaka memang belum melampaui prestasi mentereng Alan Budikusuma atau Taufik Hidayat. Doakan saja yang terbaik. Tetapi kedisiplinan, ketegaran dan keseriusannya dalam meraih mimpi layak menjadi teladan bagi atlet muda Kulonprogo. Apapun yang menjadi minat kita, cobalah untuk menekuni itu dengan serius dan disiplin. Jalan terjal pasti selalu ada. Namun jika mau fokus menggapai mimpi, maka tidak mustahil akan muncul bakat-bakat besar lain yang akan mengharumkan nama Kulon Progo di kancah nasional bahkan internasional.

Dalam pertemuan singkat dengan Bapak Tukiman beberapa bulan lalu, memory ini terbang jauh teringat ketika tahun 2000 bertemu beliau saat masih bekerja di Kantor Kecamatan Kokap. Beliau mengendarai vespanya yang sampai sekarang masih dirawat dan Hayom berlari di belakang. Saya bersama Ibu hendak menuju Kokap.

Ibu kebetulan kenal dekat dengan Bapak Tukiman. Kami berhenti dan menyapa Pak Tukiman yang saat itu sedang menemani Hayom berlari. Inilah perjumpaan pertama dengan Hayom Rumbaka. Seorang atlet dari kampung yang kini menjadi salah satu harapan tunggal putra Indonesia sepeninggal Alan Budikusuma dan Taufik Hidayat.

Masyarakat Kulon Progo menanti kiprah anak muda berbakat lain dari Bumi Menoreh. Ketika Hayom Rumbaka memulai dengan badminton yang ia sukai sejak kecil. Kita dapat menyukai hal lain, menjadikan itu sebagai prestasi dan juga kebanggaan Kulon Progo. Berjuang terus Mas Hayom Rumbaka. Harapan akan prestasi badminton Indonesia kami gantungkan ditiap sabetan raketmu.

Terakhir, Kapan ke Serut lagi?
(sumber foto: http://www.pbdjarum.org/ dan dokumen pribadi)

Daftar Beberapa Prestasi Dionysius Hayom Rumbaka. Klik Disini

Related Articles

2 thoughts on “Hayom Rumbaka Inspirasi Kulon Progo

  1. Eka Setyaningsih

    Kapan porda Kulonprogo digelar? Beneran bakal ada mas Hayom?

    Reply

Tuliskan Komentarmu