Lantunan Pemahat Biola Kulon Progo

Category: Budaya, Pendidikan 2,587 4


Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, nampak kering semester ini. Pohon dan daun yang menghijau saat musim penghujan berubah kering nan tandus. Beberapa wilayah hutan bahkan terbakar beberapa hari lalu. Kabar baiknya, siapa sangka di balik punggung bukit Samigaluh yang kini banyak dikunjungi pasangan anyar dengan tongsis menjulang bak tongkat kera sakti, terdapat seorang pria yang mahir membuat biola? Dialah pengrajin biola Kulon Progo.

pengrajin biola kulonprogoNamanya Joko Kuncoro. Seorang Bapak dengan satu istri dan dua orang anak yang sehari-hari bekerja sebagai pengrajin biola, gitar dan sebagainya. Ia tinggal di rumah sekaligus bengkel alat musik  di Dusun Jetis, Desa Gerbosari, Samigaluh, kawasan perbukitan Menoreh yang jauh dari keramaian pusat kota Kabupaten Kulon Progo. Pak Joko sosoknya sederhana. Tetangga desa mengenalnya dengan sapaan akrab Pak Japrak.

Japrak mulai menekuni seni ukir kayu semenjak tahun 2000. Ia kemudian memfokuskan diri pada pembuatan biola dan gitar. Keterampilan mengolah bilah kayu menjadi biola dan gitar yang aduhai dipelajari Pak Japrak secara otodidak atau belajar secara mandiri. Jika bertanya apa latar belakang pendidikannya, ia akan menjawab lulusan Sekolah Teknik. Setaraf SMP jika dikonversikan ke sistem pendidikan saat ini.

Bagi Japrak membuat biola dan gitar dimulai dari saat memilih kayu sampai nyetem gitar. Di dalamnya terdapat proses pembuatan nan panjang yang melibatkan hati serta perasaan. Sebuah alat musik yang dibuatnya merupakan karya seni, bukan sekadar benda yang diperjual belikan untuk hitung-hitungan untung rugi.

Hal itulah yang membuat Japrak tidak dapat mentarget kapan sebuah pesanan biola akan selesai dikerjakan. Bahkan ada pemesan yang rela menanti selama satu tahun untuk mendapatlan biola karya beliau. Yang jomblo mungkin terbiasa menanti selama ini hehe. Alat musik buatan Pak Japrak merupakan karya seni karena setiap proses pembuatannya dikerjakan secara manual menggunakan tangannya sendiri, dengan segenap hati serta perasaan sehingga prosesnya memakan banyak waktu.

Bagi yang tidak sabar menunggu bisa rabi duluan. Maksudnya, bagi yang tidak sabar menunggu Pak Japrak mengolah biola atau gitar bisa membeli karya biola ataupun gitar yang sudah siap beli. Terdapat berbagai pilihan alat musik yang bisa dibeli dengan harga bervariasi. Seperti biola dengan harga Rp 800.000,- lalu ukulele Rp 250.000,- dan gitar yang dapat dibawa pulang dengan mahar Rp 500.000,- saja. Tentunya harga sebanding dengan kualitas. Kalau Bahasa Jawanya, rego nggowo rupo.

Desa Gerbosari dapat ditempuh kurang lebih 30 menit perjalanan dari Wates, Ibukota Kabupaten Kulon Progo. Tinggal di desa yang jauh dari keramaian tak lantas membuat pesanan gitar Pak Japrak menjadi sepi. Selalu saja ada yang memesan alat musik baikbBiola, gitar, ukulele dan kencrung. Bahkan banyak pesanan berasal dari luar negri seperti Jerman, Perancis dan Rusia.

Tawaran menjadi warga negara lain

Japrak sering mendapat tawaran pindah keluar negeri untuk fokus menjadi pengrajin biola dan gitar. Pernah juga mendapat tawaran dari warga negara asing untuk berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Jerman dengan jaminan hidup yang lebih baik. Hal ini disebabkan langkanya pengrajin biola handmade di Jerman. Pembuatan biola umumnya telah beralih menggunakan mesin. Pengerjaan yang murni handmade mendapatkan apresiasi luar biasa di Jerman. Bagaimana apresiasi kita terhadap seniman Indonesia, khususnya pengrajin biola?

Tidak hanya satu dua kali warga Kulon Progo ini ditawari pindah keluar negeri tetapi sampai saat ini tidak ada satu tawaran pun yang ia terima. Ketika ditanya mengapa tidak bersedia pindah dan tinggal di luar negeri, bukannya lebih enak? Dengan sedikit senyum yang mengembang ia menjawab tegas, “Ya karena I Love Indonesia.”

Jawaban beliau yang tegas memiliki makna perjuangan yang tak terbatas. Bagaimana tidak, saat ini banyak anak muda yang bercita-cita bekerja bahkan tinggal di luar negeri untuk kenyamanan dan gaya hidup yang mereka impikan. Namun Pak Japrak yang mendapatkan tawaran untuk pindah ke luar negeri bahkan menjadi warga negara Jerman memilih tegas dengan sikapnya. Tinggal di sebuah desa yang tenang dengan kesederhanaan dan kearifan lokal warganya. Menjadi pengrajin biola di Kulon Progo adalah passion-nya.

pengrajin biola kulon progoPak Japrak menuturkan, hidup tidaklah harus bergelimang harta, yang utama adalah bagaimana menyelaraskan hidup dengan diri kita sendiri. Beliau lebih bangga dan mencintai dirinya sebagai seorang Jawa dengan budaya Jawa dan ajaran Jawa.

Pria berusia 45 tahun ini bukan hanya piawai membuat biola namun juga ahli dalam memainkannya. Diujung obrolan santai kami di halaman depan rumah, beliau melantunkan lagu Bengawan Solo menggunakan biola karyanya. Alunan merdu biola yang mendayu menyempurnakan susana siang di desa yang teduh dengan sejuk semilir angin.

Seniman seperti Pak Japrak mungkin tidak mendapat kucuran dana dari Danais. Okelah tidak apa-apa yang penting laporan pertanggungjawaban penggunaan Danais di Kulon Progo segera dirilis supaya tidak menimbulkan kegalauan di tengah masyarakat. Dokumentasikan juga setiap jenis pementasan, karya seni atau apapun yang sudah dilakukan lalu bagikan copy dokumentasi tersebut ke sekolah di lingkup Kulon Progo. Yah, agar generasi muda dapat mempelajari di sekolah dan dana besar yang dikeluarkan tidak berhenti saat tabuh kendang berhenti di akhir pentas.

Kami yakin masih banyak orang seperti Pak Japrak dengan karya, idealisme dan kebanggaan menjadi bagian Indonesia. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengapresisasi budaya, karya dan produk dalam negeri. Jika itu terasa terlalu jauh, mari apresiasi setiap hal yang berasal dari Kulon Progo. Setiap kepedulianmu bagi daerah ini adalah setiap nafas hidup yang menjadi semangat bagi seluruh masyarakat Kulon Progo.

 

Related Articles

4 thoughts on “Lantunan Pemahat Biola Kulon Progo

  1. Awan

    bleh saya tau bgaimna cara memesan alat musiknya? apakah bsa online. krna sya tnggal dipalembang..

    Reply

Tuliskan Komentarmu