Memulangkan Adipura ke Bumi Menoreh

Category: Geografis, Pendidikan, Sejarah 1,460 0


Terkejut ketika menyempatkan diri melihat lebih dekat sebuah taman di kawasan Milir, Pengasih, Kulon Progo, dimana Monument Penghargaan Adipura Kota Wates dipajang. Pada sebuah tugu yang cukup besar menghadap ke timur plakat penghargaan Adipura tertempel kuat. Monument yang tidak banyak orang tau. Monument dalam bentuk tugu yang seakan memberi ucapan selamat datang bagi pengendara ketika memasuki Kota Wates dari arah timur.

wates adipuraKembali ke keterkejutan saat mendapati tanggal yang tertera pada plakat bertuliskan Adipura. Awalnya muncul anggapan bahwa penghargaan Adipura yang pernah diraih Kota Wates pasti belum terlalu lama. Ternyata tugu Adipura yang dipajang bertuliskan tanggal 5 Juni 1993. “Sudah selama itukah?”, reaksi pertama setelah membaca tanggal pemberian penghargaan. Tugu inilah kenang-kenangan bagi Wates yang pernah sukses mandapat penghargaan Adipura kategori kota kecil terbersih, setidaknya hampir 22 tahun silam.

Apa sebenarnya Adipura sehingga banyak kota yang mendambakan plakat berwarna keemasan itu? Adipura ialah penghargaan yang diberikan oleh pemerintah bagi kota-kota di Indonesia yang berhasil mengelola kebersihan dan tata kelola lingkungan dengan baik. Penghargaan yang telah dimulai sejak tahun 1986 ini dibagi menjadi empat kategori; kota metropolitan, kota besar, kota sedang, dan kota kecil.

Dalam penilaian Adipura, Kota Wates dengan jumlah penduduk 49.972 masuk dalam kategori kota kecil. Ada dua indikator penilaian dalam Adipura, yakni indikator fisik meliputi kebersihan dan keteduhan kota serta indikator non fisik meliputi manajemen lingkungan. Dengan adanya penilaian Adipura, diharapkan setiap daerah terdorong untuk menciptakan suatu kota yang baik secara ekologis, sosial dan ekonomis melalui tata pemerintahan yang baik.

Sejarah mencatat Kota Wates pernah dianugerahi penghargaan prestisius ini, sebagai Kota Kecil Terbersih pada 1993 lalu. Hingga kini, Adipura belum juga kembali pulang ke bumi Menoreh. Sampai sekarang rekam jejaknya hanya sebatas menghiasi taman sebelum memasuki Kota Wates.

Bupati baru, harapan baru

Sebuah harapan baru untuk Kulon Progo yang lebih bersih dan nyaman datang. Bergantinya bupati memunculkan program kebijakan baru, khususnya dalam bidang kebersihan dan tata lingkungan.

Bupati Kulon Progo, dr. Hasto Wardoyo, SP.OG(K) yang mendapat mandat sejak 24 Agustus 2011 membawa harapan baru dengan program tentang kebersihan dan tata lingkungan. Sejak awal menjabat program Kota Wates yang bersih, hijau, dan sehat serta mencita-citakan Adipura menjadi komitmen di awal pemerintahannya sebagai orang nomor satu di Kulon Progo.

Walaupun hingga tahun ini belum berhasil mendapatkan adipura, jajaran pemerintah daerah yang ia pimpin terus berupaya meningkatkan kualitas kebersihan dan kenyamanan. Program-program seperti pengelolaan sampah dengan menghilangan bak-bak sampah, penataan PKL, revitalisasi Alun-alun Wates, hingga penataan puluhan taman telah dilakukan sejak akhir 2014 bertahap hingga kini. Sebuah upaya yang patut diapresiasi dan didukung penuh.

Pemerintah tidak dapat bekerja sendirian, partisipasi masyarakat jelas sangat dibutuhkan. Masyarakat memiliki peran sangat penting untuk terus menjaga kenyamanan dan kebersihan. Berkaca dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kurangnya keteduhan di jalan-jalan protokol seperti Brigjen Katamso dan Diponegoro serta banyaknya vandalisme menjadi salah satu faktor penyebab turunnya penilaian terhadap Kota Wates. Kembali, peran masyarakat menjadi vital dan sangat dibutuhkan.

Bukan Adipura semata

Salah satu poin penting yang ingin disampaikan pada tulisan ini adalah segala usaha dan upaya kita bersama pemerintah mewujudkan lingkungan yang bersih dan nyaman bukan semata-mata untuk mencapai Adipura, namun lebih dari itu. Tantangan Kulon Progo ke depan akan semakin kompleks. Mega proyek bandara internasional di Temon hampir sangat mungkin akan menarik banyak investasi masuk ke Kulonprogo. Tata kelola lingkungan akan menjadi taruhan, apakah gempuran investasi yang masuk Kulon Progo dapat kita kelola dengan baik sehingga kebersihan dan kenyamanan Kulonprogo terjaga atau sebaliknya, Kulon Progo akan menjelma sebagai kota yang semrawut, tidak nyaman, dan banyak permasalahan khususnya dalam hal lingkungan,

Tentu hal seperti itu tidak kita harapkan? Bukan berarti kita menjadi anti pembangunan tetapi justru mendukung penuh rencana pembangunan. Tentunya dengan catatan pembangunan tersebut harus berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat.

Di kota-kota besar, isu mengenai lingkungan telah menjadi pembahasan yang penting. Kota Jogja misalnya, kenyamanan kota budaya ini mulai terganggu dengan banyaknya serbuan investasi yang berorientasi pada profit. Hutan iklan luar ruangan yang memenuhi kota, menjamurnya hutan beton, sampai merebaknya kawasan kumuh menjadi permasalahan-permasalahan laten nan serius bagi kota besar.

Kulon Progo belum terlambat, menghadapi tantangan ke depan tentunya masyarakat harus bersiap dari sekarang. Kolaborasi pemerintah dan masyarakat yang pro aktif terhadap isu kebersihan sangat dibutuhkan sejak saat ini.

Kalimat sederhanya, Adipura hanyalah lambang. Berkomitmen menjaga kebersihan dan kenyaman rumah sendiri adalah tujuan utamanya. Maka, jika kita bersedia terus menumbuhkan dan menjaga komitmen itu, maka bukan tidak mungkin, Adipura akan pulang ke Kulon Progo.

Menutup tulisan ini, ijinkan mengutip kata-kata Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo. “Kota Wates ini tidak terlalu besar, tidak terlalu kompleks dan rumit, karena itu sanggupkah Anda menjaga kebersihan dan kerapian ini?”.

Related Articles

Tuliskan Komentarmu