Menghapus Stigma Negatif Kulon Progo

Category: Ekonomi, Pendidikan, Sosial 3,520 0


Anggapan pelosok sering muncul dalam benak masyarakat awam saat mendengar kata Kulon Progo. Terkadang hal negatif yang berkembang dari kata pelosok tidak sepenuhnya sama dengan realita. Bahkan terkadang berlebihan. Berlebihan artinya banyak dugaan yang terlalu buruk. Lebih parah, tak jarang masyarakat di luar Yogyakarta tidak mengetahui bahwa Kulon Progo adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Inilah stigma negatif itu.

Suasana Kota Wates Kulon ProgoStigma ini mendesak diubah. Salah satu formulanya dengan mengenalkan segala bentuk potensi dan kekayaan Kulonprogo sedetail mungkin. Iyasih, mengenalkan potensi dan kekayaan seperti mengurai tali sendaren bekas kena semen yang kebacut diukel. Harus bersusah payah dan sabar, namun dari sini akan terlihat beberapa hal yang menyebabkan Kulon Progo mendapat stigma negatif dan mengubahnya harus dimulai dari titik itu.

Stigma negatif

Dari hasil pengamatan dengan seksama, sistematis dan terstruktur, halah, ada penilaian yang tidak objektif. Bayangkan, Kulon Progo dianggap sebagai wilayah yang sulit dijangkau. Anggapan sulit dijangkau menjadikan Kulonprogo seperti daerah yang terjal dan minim transportasi.

Anggapan di luar, Kulon Progo merupakan tempat yang terletak begitu jauh dari Yogyakarta kota. Anggapan ini keliru. Yang terjadi sebenarnya wilayah Kulon Progo sangat mudah dijangkau. Admin brewok yang naik motor sarungan dari Condong Catur sampai Pengasih saat diputus pacare tidak sampai 50 menit naik motor sampai rumahnya.

Semua alat transportasi kecuali kapal dan pesawat sudah mbleder di Kulon Progo, sehingga tidak ada alasan untuk melontarkan kalimat bahwa Kulon Progo berada di kawasan yang terpencil. Moda transportasi seperti kereta api, bus dan angkutan pedesaan sudah sangat eksis. Bahkan kini taksi banyak lalu lalang, meskipun memang baru belakangan ini armada taksi terlihat hilir mudik di Wates

Kami tak menampik beberapa kawasan memang belum dijangkau jalur transportasi umum, tetapi ketika memiliki sepeda motor daerah paling terpencilpun di Kulon Progo sudah tlisir dilalui kendaraan pribadi. Walaupun tak jarang lebar jalan hanya dapat dilalui satu mobil. Demikian jawaban atas stigma terpencil itu. Selayaknya daerah dengan kearifan lokal dan kesederhanaan hidup yang terus terjaga, kami tidak mengelak jika ada daerah di Kulon Progo yang belum tersentuh moda transportasi umum.

Beralih ke dunia olahraga. Kontingen Kulon Progo acap kali menjadi bulan-bulanan kontingen daerah lain pada event Porda atau pertandingan persahabatan. Kulon Progo sering menjadi bahan olok-olok. Keadaan ini membuat mentalitas olahragawan terganggu. Perasaan minder membuat mereka kalah sebelum bertanding. Mental terlanjur down ketika berhadapan dengan stigma ini.

Apakah semua cabang olahraga menjadi olok-olok? Jawabnya tidak. Cabang olahraga seperti dayung, tinju dan renang menjadi langganan medali. Cabang olahraga lain sedang bersaing untuk ambil bagian menjadi salah satu kekuatan yang harus diperhitungkan. Kita tidak kalah, mental yang terbangun dari stigma negatif-lah yang membuat kalah sebelum bertanding.

Bagaimana dengan jalan yang rusak? Tak dipungkiri masih ada ruas jalan yang kondisinya belum bagus, tetapi tidak seluruhnya demikian. Secara umum kondisi jalan di Kulon Progo sudah sangat baik. Wates berbenah menjadi kota yang nyaman meskipun secara luas pusat kota Wates tidak lebih besar dari luas Kecamatan Condong Catur, Sleman. Salah satu yang ditingkatkan kualitasnya adalah kondisi jalan.

Pada sebuah kesempatan yang ciamik, kami kesasar di daerah Pringtali, Samigaluh. Jalan dusun disana telah dibalut adonan semen yang halus. Ini keren. Padahal dusun ini termasuk dusun paling jauh dari ibukota Kulon Progo. Jalan yang menghubungkan kecamatan dengan kecamatan sudah memakai aspal halus. Jalan yang menghubungkan tempat wisata pun dirapikan untuk memberikan akses yang nyaman.

Yogyakarta terkenal memiliki kelayakan akses jalan yang prima, begitu pula di Kulon Progo. Di samping gudeg yang kondang kaloka itu, tak kalah kondangnya akses jalan di Yogyakarta yang mulus. Sehingga jeleknya membuat penglajo yang budiman sering ketiduran di jalan saking halusnya aspal, bahaya.

Belum berhenti sampai disini. Pernah suatu kali kawan dari luar kota melihat berita mengenai beberapa dusun di Kulon Progo yang baru akan dipasang togor listrik. Sontak dia kirim sms berisi pertanyaan apakah berita itu sungguhan. Pembicaraan kami yang semula ngomongin cerainya Musdalifa berubah menjadi penjelasan tentang bagaimana bisa beberapa daerah di Kulon Progo belum teraliri listrik. Sejak itu dia sering tanya apakah minyak lampu teplokku habis? Sungguh ngejleb.

Lereng Menoreh kini tidak seperti beberapa tahun lalu yang cenderung gelap karena lampu jalanan banyak yang tidak berfungsi. Saat ini Kulon Progo banyak bersolek, termasuk dari sisi penerangan, meskipun di lereng Bukit Menoreh ada beberapa dusun yang belum teraliri listrik. Kami tak menyangkal. Pemerintah Kabupaten harus lebih serius mengatasi ini.

Setali tiga uang dengan masalah signal. Wilayah Pegunungan Menoreh memang kadang sulit signal. Tetapi dari pengalaman selama jalan-jalan di pelosok Kulon Progo persoalan signal tak terlalu meresahkan warga karena beberapa provider masih mampu menembus kaki Menoreh yang eksotis itu. Sejujurnya soal signal justru lebih banyak dikeluhkan oleh pelancong yang datang ke Lereng Menoreh, bukan warga yang tinggal disana.

Kulon Progo bagi warganya

Kenampakan alam Kulon Progo tak hanya pegunungan. Mulai dari pantai, dataran landai hingga pegunungan terajut dengan rapi. Jika yang kebanyakan warga luar Kulon Progo lihat adalah lokasi wisata, maka memang benar mayoritas tempat wisata di Kulon Progo berada di dataran tinggi seperti kebun teh, air terjun, waduk mini dan sebagainya.

Perpustakaan Kulon ProgoJauh di Kulon Progo sisi selatan ada potensi besar lain yang jika sungguh-sungguh mengelola akan menghasilkan nilai tambah yang signifikan bagi warga dan pemerintah. Pantai Congot, Pantai Glagah, Pantai Brosot, Pantai Bugel dan Pantai Trisik menyimpan keelokan masing-masing. Meskipun tidak berpasir putih, berombak besar dan cenderung kotor oleh sampah yang terbawa arus laut, pantai di sisi selatan Kulon Progo sebenarnya sudah menjadi daya tarik turun temurun.

Tepat di antara pesisir dan pegunungan gagah di sisi barat daya, terdapatlah Wates sebagai ibukota sekaligus pusat kota. Wates tumbuh perlahan sebagai kota yang tenang dan bersahaja. Seorang teman menyebut Wates dan Kulon Progo secara umum sebagai kota pensiunan, kota yang menjadi tempat beristirahat pensiunan. Tak gentar dengan hiruk perkotaan yang menggeliat di Yogyakarta kota, Wates berkembang menjadi kota yang nyaman dan ngangenin.

Nyaman karena sama sekali tidak ada macet dan ngangenin karena kesederhanaan kehidupan warganya. Dari sekian banyak alasan mengapa banyak orang senang mengunjungi Wates salah satunya karena tiada kemacetan seperti tempat lain.

Lalu lintas di daerah ini memang selalu lancar. Macet pernah terjadi memang, tapi hanya saat menjelang Idhul Fitri seiring pulangnya banyak warga ke Kulon Progo dan membludaknya pasar dan toko oleh pengunjung guna mempersiapkan hari raya. Selebihnya? Lancar jaya.

Jika macet bukan menjadi persoalan, sektor ekonomi dan pariwisata semoga terus digenjot produktifitasnya. Industri kreatif harus jeli menangkap peluang. Wisata alam menjadi primadona. Wajah lereng menoreh kini berada di pundak pengelola tempat wisata. Jika tidak ada kerabat atau kawan di sini, mayoritas masyarakat yang berkunjung ke Kulon Progo dipastikan dalam rangka mencicipi objek wisata.

Wisata alam erat kaitannya dengan kenampakan alam yang didominasi oleh tumbuhan. Maka kami sebagai warga berani bertaruh bahwa dari segi kualitas udara tlatah Adikarta sangat baik. Tumbuhan perindang dan sawah membentang sepanjang alur jalan aspal.

Kulon Progo tidak ada mall. Tidak ada pula gedung gedung tinggi layaknya kota besar. Tidak ada asap atau limbah industri. Melalui tulisan ini kami berharap juga percaya bahwa Pemerintah Kulon Progo akan senantiasa menjaga kearifan lokal masyarakat dan keasrian lingkungan seiring wacana Sentolo sebagai sentra industri dan keberadaan bandara yang konon akan segera dibangun.

Bandara diharapkan menjadi stimulus bagi masyarakat untuk bekerja lebih keras dan kreatif. Tentu dengan konsistensi menjaga kesederhanaan dan kearifan lokal yang sudah terjaga selama ratusan tahun. Biarkan masyarakat mencoba. Apabila di daerah lain ada kesalahan tata kelola kota, jangan limpahkan dampaknya pada Kulon Progo yang sedang bergeliat berbenah.

Menggugah kesadaran kolektif

Secara umum Kulon Progo sedang mengejar ketertinggalan dalam banyak hal. Stigma negatif yang terlanjur mengakar di masyarakat sudah selayaknya dihapus. Menjadi tugas tiap warga Kulon Progo untuk menceritakan apa yang terjadi dengan detail dan penuh kebanggaan.

Sebelum mengubah stigma negatif masyarakat harus lebih dulu bangga. Sampai kemudian bergerak menceritakan pada dunia luar bahwa Kulon Progo adalah aset yang menyimpan banyak potensi. Masyarakat harus mengarahkan informasi ke arah yang benar. Katakan benar jika benar salah jika salah, jujur dan berani mengakui bahwa Kulonprogo memang harus mengejar ketertinggalan.

Lantas apa yang dapat kita perbuat bagi daerah ini? Coba refleksikan kemampuan apa yang sedang kita tekuni. Coba pahami di bidang apa minatmu selama ini. Diskusikan bagaimana mengelola objek wisata agar tetap ramah lingkungan dan pengunjung. Dari sini kita akan bergerak menggunakan potensi masing-masing menuju goal yang sama, yakni membawa Kulonprogo ke arah yang jauh lebih baik.

Bukan perkara luas atau tidak, bukan soal lengkap atau tidaknya fasilitas hiburan. Kulon Progo berkembang seiring infrastruktur yang dibenahi menjadi kota yang ramah dan berbasis kearifan lokal. Meskipun mungkin di kemudian hari banyak pembangunan disana sini, kearifan lokal dapat terus terjaga sampai kapanpun.

 

Related Articles

Tuliskan Komentarmu