Menjaga Pasar Tradisional Kulon Progo

Category: Ekonomi, Hukum, Sosial 3,259 0


Di era yang semakin bebas, terlebih besar kemungkinan bandara akan dibangun, pasar tradisional Kulon Progo bisa jadi tak berdaya, terpojok ekspansi pasar modern. Jika Kulon Progo meninggalkan pasar tradisional kemudian lebih suka glenak-glenik bertransaksi di pasar modern, ini menggambarkan menurunnya penghargaan terhadap sesuatu yang bernafaskan tradisional. Belakangan, aspek tradisional hanya dinikmati sebagai tontonan, bukan pola hidup yang terajut dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat. 

Pasar tradisional Kulon progoBicara soal pasar, rasanya Pasar Sentolo selalu jadi pasar termasyur, terindah dan teristimewa bagi admin brewok. Bukan karena pasarnya tapi karena Sentolonya. Pasar kenangan.

Saat ini pasar tradisional Kulon Progo bertahan diterpa goyangan pasar modern yang bermunculan. Beruntung pasar modern seperti minimarket di Kulon Progo tidak menjual bumbu dapur, sayuran, lauk mentah, pakan hewan, luweng dan pakaian yang bisa dicicil. Jika sampai menjualnya, mungkin pasar tradisional yang semua jenis komoditinya bisa ditawar akan ambles gulung tikar.

Kita tau pasar tradisional Kulon Progo merupakan pasar yang dibangun dan dikelola baik secara mandiri oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, pihak swasta maupun Badan Usaha Milik Daerah atau Perusahaan Daerah atau dalam bentuk kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan pihak swasta.

Secara fisik, pasar tradisional berupa tempat usaha dalam bentuk toko, kios, los dan tenda yang bisa dimiliki atau disewa oleh pedagang kecil atau menengah, kelompok masyarakat atau koperasi yang kegiatannya berada pada satu luasan lokasi yang sama.

Sedangkan toko modern yang mendapat cibiran sinis tapi tetep saja laris ditukoni berbentuk minimarket, supermarket, departement store, hypermarket ataupun tempat grosir. Toko modern menggunakan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran dan menawarkan kenyamanan berbelanja yang tidak terdapat di pasar tradisional.

Kabar gembiranya, secara umum warga Kulon Progo semakin berani mencoba peruntungan melalui aktivitas jual beli berskala kecil menengah. Semakin banyak warga yang membuka usaha. Berbanding terbalik dengan beberapa tahun lalu. Warung dan pedagang kaki lima khususnya di Wates dapat dihitung dengan jari sambil minum es doger.

Semakin banyak warga tidak malu berbisnis. Kulon Progo bergeliat menatap sektor yang dulu tidak begitu diperhitungkan. Meskipun tak jarang masih banyak yang malu karena anggapan pekerjaan yang mbejaji itu ya di kantor. 

Eksodus pasar modern

Setelah Mantan Presiden Soeharto turun tahta tahun 1998, bangsa Indonesia bertekat membangun negeri dengan sistem yang lebih demokratis. Tahun itu menjadi saat dimana pemerintah membuka lebar kesempatan bagi pihak yang ingin berinvestasi. Sekian banyak investor yang masuk. Beberapa diantaranya investor yang bergerak di bidang pasar modern.

Sejak itu Indonesia dibanjiri doktrin cara berbelanja yang mudah, aman, bersih, nyaman dan bergengsi, meskipun terkadang dari sisi harga relatif lebih mahal. Khusus pada spot gengsi ketika berbelanja, investor tau betul bahwa salah satu kebutuhan masyarakat modern adalah prestige. Menjawab kebutuhan ini, pengelola pasar modern berlomba menghadirkan cara berbelanja yang mudah, aman, bersih, nyaman sekaligus menghadirkan prestige bagi sang pembeli.

Pelan namun pasti pasar modern tumbuh pesat. Disadari atau tidak pasar tradisional Kulon Progo dan di banyak tempat lain terpinggirkan. Warung dan toko kecil kehilangan konsumen. Kulon Progo khususnya, tidak tinggal diam menanggapi keadaan ini.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Perda No 11 tahun 2011 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional serta Penataan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern berusaha melindungi pasar tradisional. Sebelumnya, pemerintah pusat tidak tinggal diam. Presiden menerbitkan Perpres No 122 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan toko modern.

Terlepas dari itu, pelanggaran-pelanggaran atas Perda Pemerintah Kabupaten Kulon Progo No 11 tahun 2011 masih sering terjadi. Masih banyak rincian Perda yang dilanggar oleh toko modern waralaba terkait penempatan posisi bangunan, jarak toko modern dengan pasar tradisional, jam operasional, perijinan bangunan dan sebagainya.

Berdasarkan pelanggaran-pelanggaran ini dilakukan kajian mendalam. Salah satu cara Kulonprogo adalah mendirikan Tomira, akronim dari Toko Milik Rakyat. Tomira bekerjasama dengan salah satu toko modern waralaba besar, Alfamart, menampung berbagai komoditi hasil olahan masyarakat untuk dijual melalui toko modern.

Singkatnya, menurut beberapa sumber, Kulon Progo akan mengakuisisi Alfamart di daerah ini kemudian mengubah namanya menjadi Tomira. Sayangnya tidak ada informasi yang betul-betul sahih sehingga masyarakat belum sepenuhnya tau apa itu Tomira dan letak gerai Tomira yang digadang-gadang Pak Bupati ini. Oiya adakah yang bisa menjelaskan detail Tomira dan bagaimana regulasi pengadaan barangnya?

Mengkaji ulang

Perbedaan mencolok pasar tradisional dan pasar modern menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Pasar modern menyebar sampai ke desa. Lambat laun, konsumen akan memilih membeli kebutuhan pokok di toko modern mengingat berbagai kemudahan yang ditawarkan toko modern jika pasar tradisional Kulon Progo lamban berbenah.

Bermula dari keadaan ini Pemerintah Kabupaten Kulon Progo mengkaji kebijakan mengenai pasar tradisional dan pasar modern. Kajian ini dilakukan agar tercipta harmoni aturan main. Perda Pemerintah Kabupaten Kulon Progo No 11 tahun 2011 sebagai regulasi sejauh ini sudah baik, namun yang jauh lebih penting adalah mengawalnya supaya ditindaklanjuti di masyarakat. Selan itu juga menjaga agar tidak terjadi monopoli perdagangan. Hal ini penting guna merawat harapan pengusaha kecil untuk dapat menatap peruntungan di sektor yang sama.

Kenyataannya, pasar tradisional lambat melakukan perbaikan. Kondisi pasar tidak banyak berubah, tidak terlalu tertib dan bahkan terkesan jorok. Meskipun di satu sisi hal-hal seperti ini merupakan kearifan lokal, namun di sisi lain secara tidak sadar pembeli akan menilai dimana tempat yang lebih nyaman dan lebih baik.

Sistem jual beli dengan cara tawar sangat ideal karena tidak ada yang dominan dalam menentukan harga pasar, namun hiruk pikuk di pasar tradisional seharusnya bisa dieleminir guna menciptakan keadaan yang rapi, aman, bersih dan nyaman bagi pembeli maupun penjual. Tidak perlu yang mewah-mewah seperti harus berpendingin udara atau tempatnya berlantai tegel. Ora perlu segitune kok. Setidaknya pasar tradisional harus sampai pada tiga titik; teratur, aman dan bersih.

Menangkap keadaan ini, pasar modern menawarkan antitesis, bahwa dengan berbelanja di pasar moden pembeli mendapat kenyamanan dan keamanan, tempat lebih bersih, ruangan berpendingin udara, one stop shoping, sehingga menjamin kenyamanan berbelanja, meskipun tidak ada proses tawar menawar yang sebetulnya justru menjadi cara yang paling ideal.

Kekuatiran pasar tradisional

Berdasarkan catatan kami setidaknya ada 23 pasar tradisional yang dikelola Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, alhasil statusnya menjadi pasar negeri. Antara lain Pasar Glaeng di Jangkaran, Temon; Pasar Pripih di Hargomulyo, Kokap; Pasar Temon di Temon Kulon, Temon; Pasar Dondongsari di Kaligintung, Temon; Pasar Bendungan di Bendungan, Wates; Pasar Gejlik di Bojong, Panjatan; Pasar Ngaglik di Pleret, Panjatan; Pasar Ngebung di Bugel, Panjatan; Pasar Panjatan di Gotakan, Panjatan; Pasar Menguri di Hargotirto, Kokap; Sewugalur di Karangsewu, Galur; Pasar Kranggan di Kranggan, Galur; Pasar Brosot di Brosot, Galur; Pasar Kasihan; Ngentakrejo, Lendah.

Selain itu masih ada Pasar Bangeran di Bumirejo, Lendah; Pasar Potrogaten di Bumirejo, Lendah; Pasar Wates di Wates, Wates; Pasar Burung di Wates, Wates; Pasar Kelapa di Wates, Wates; Pasar Pengasih di Pengasih, Pengasih; Pasar Jombokan di Tawangsari, Pengasih; Pasar Clereng di Sendangsari, Pengasih; Pasar Nganggrung di Srikayangan, Sentolo; Pasar Sentolo di Sentolo, Sentolo; Pasar Niten di Giripurwo, Girimulyo; Pasar Nanggulan di Jatisarono, Nanggulan; dan Pasar Kenteng di Kembang, Nanggulan. Seluruh pasar di atas belum termasuk pasar yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat.

Masuknya pasar modern hingga pelosok desa menimbulkan keresahan mengingat terbatasnya fasilitas dan modal yang pasar tradisional miliki. Jika diselidiki lebih jauh, komoditas barang yang dijual di pasar modern sangat lengkap. Bahkan, beberapa barang yang ada di pasar tradisonal seperti telur dan beras sudah njedul di pasar modern dengan kemasan apik.

pasar tradisional kulon progoSegala fasilitas yang ditawarkan pasar modern membuat daya tarik konsumen meningkat. Konsumen tentu membandingkan bagaimana pasar tradisional dan bagaimana pasar modern. Jikapun kenyataan dari segi fasilitas tak bisa dihindarkan, nampaknya pengaturan komoditas barang apa yang dijual di pasar tradisional dan pasar modern bisa sedikit menjadi pencerah. Apakah sudah dimaksimalkan?

Dalam upaya meningkatkan kemampuan pasar tradisional Kulon Progo pemerintah sebenarnya cukup gencar mempromosikan bantuan kredit lunak bagi pelaku Usaha Kecil Menengah. Salah satunya Kredit Usaha Rakyat, yaitu fasilitas pembiayaan dengan suku bunga rendah tanpa agunan.

Gini lho, jangan takut apalagi malu meminjam modal Dari sini pengusaha lakal Kulon Progo bisa membangun usahanya lebih solid, tentu dengan tetep nyaur perbulan lho ya.

Persoalan pasar, persoalan Kulon Progo

Sebagai warga Kulon Progo tentu kita gak pingin pengusaha lokal yang tidak memiliki modal melimpah terpuruk karena tak mampu bersaing. Barangkali Pemerintah Kabupaten Kulon Progo bisa mengupayakan sumber dana alternatif untuk memberdayakan pasar tradisional.

Dana sangat penting bagi pembangunan pasar. Jika tidak ada kucuran dana yang cukup bagi pasar tradisional kami kok gak yakin pasar tradisional dapat bersaing dengan modal yang akan berinvestasi dari luar. Ingat, ada bandara.

Selain itu, coba bayangkan jika ada sebuah program yang masif dan konsisten bisa diprakarsai dan digerakan oleh pemerintah atau swasta dengan upaya meningkatkan potensi perdagangan dan pengelolaan pasar tradisional Kulon Progo. Bahasa keren anak kuliah mungkin training atau seminar.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, sumber daya pasar tradisional Kulon Progo sangat mendesak diberikan pelatihan. Contohnya pelatihan bagaimana mengelola komoditi pasar dan bagaimana mengelola pasar agar dapat bersaing. Minimnya pengetahuan yang dikuasai pedagang membuat mereka susah berinovasi sehingga pedagang mentok pada satu titik. Akhirnya tidak ada yang dapat diperbuat bagi dirinya dan pasar. Bisa ditebak apa jadinya jika dibiarkan terus menerus.

Kondisi beberapa pasar tradisional di Kulon Progo bisa dikatakan memprihatinkan. Bangunan tidak terawat, parkir sembarangan, toilet tidak memadai, kotor, pedagang sulit ditertibkan dan masih banyak lagi. Kondisi ini menuntut perlunya relokasi jika memang diperlukan, selain kesadaran pelaku pasar untuk menjaga pasar menjadi tempat yang layak.

Setidaknya pembenahan dari segi managemen dan fasilitas lah, agar pasar tradisional berangsur menjadi tempat yang nyaman untuk berinteraksi. Setelah diperbaiki perlu adanya pemantauan sebagai upaya minimal menjaga standar pasar tradisional Kulon Progo tetap pada taraf yang baik.

Terakhir, kehadiran Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sebagai pembuat regulasi haruslah tegas dalam menindak para pelanggar. Lakukan pendataan dan pengecekan berkala. Harapannya pasar tradisional Kulon Progo dan pasar modern dapat berjalan beriringan tanpa nggrundel satu sama lain. Peran masyarakat tidak kalah penting. Agar pasar tradisional tetap eksis alangkah baiknya jika remaja dan pemuda belajar mengenal lingkungan pasar, supaya tidak lagi canggung seperti mbak dan mas jaman sekarang yang katanya siap nikah tapi ke pasar saja setahun sekali.

Semoga pasar tradisional selalu menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat dan ruang interaksi sosial yang menguntungkan semua pihak. Aturan yang jelas dan tegas, serta kemantapan dalam menindak segala jenis pelanggaran menjadi benteng guna menciptakan suasana yang harmonis. (foto: www.lintas.me; www.sinarharapan.co)

Related Articles

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.