Nyala Lilin Rumah Sakit Santo Yusup

Category: Sejarah, Sosial 2,138 1


Aku menapaki jalan desa yang pekat berkabut. Suara mesin diesel sayup terdengar di kejauhan. Inilah Boro, Banjarasri, Kalibawang. Desa kecil dengan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kisah misionaris Katolik di Kulon Progo. Di desa ini berdiri Rumah Sakit Santo Yusup, yang senantiasa menjadi nyala lilin dalam sejarah kemerdekaan dan pelayanan terhadap masyarakat.

rumah sakit santo yusup kalibawangNamaku Thomas Karsten Salim. Ayahku seorang Belanda yang lama berdiam di Semarang. Ibuku perempuan Jawa berdarah Tionghoa, dahulu bekerja di rumah sakit sebagai perawat. Suatu hari Ibu menunjukan foto seseorang bernama Romo J. B. Prennthaler SJ, misionaris Katolik kelahiran 18 April 1885 di Tirol, Austria.

Romo Prennthaler lama melayani di Boro. Dalam pelayanannya, beliau membuat sekolah bagi anak-anak kurang mampu, panti asuhan, melatih keterampilan wirausaha warga dan menginisiasi berdirinya rumah sakit. Rumah sakit yang menjadi saksi pelayanan orang-orang baik dalam membaktikan hidupnya bagi kepentingan masyarakat. Rumah sakit inilah yang perjalanannya dari masa ke masa coba aku ceritakan.

Kini Ayah Ibu telah tiada. Tidak ada lagi yang bercerita mengenai Romo Prennthaler dan Rumah Sakit Santo Yusup, tetapi kisah pelayanan beliau masih terngiang di telingaku. Sambil bercerita, Ibu biasanya menyulam benang untuk dijadikan kain penutup jendela. Posisi saat Ibu duduk bercerita dengan kepalanya yang sesekali mengangguk masih aku ingat sampai sekarang.

Ayah biasanya lalu lalang membawa buku catatan berisi pengeluaran selama satu bulan saat aku dan ibu duduk di ruang tengah. Ayah suka membaca dan menulis. Apapun yang beliau anggap penting pasti ditulisnya. Termasuk tanggal dimana kakak perempuanku pertama kali didatangi pria yang kini jadi suaminya.

Mengenang Romo Prennthaler

Rumah Sakit Santo Yusup berada 35 kilometer dari kota Yogyakarta. Dari kota butuh waktu satu jam untuk menuju Boro. Dari Wates, ibukota Kulon Progo, hanya sekitar setengah jam menggunakan kendaraan bermotor.

Lokasi rumah sakit juga cukup dekat dengan Sendangsono. Sebuah mata air beserta komplek taman tempat ziarah umat Katolik. Sendangsono yang terbuka bagi siapapun dirintis oleh Romo Prennthaler dan Romo Van Lith. Romo Van Lith dikenal sebagai rohaniawan asal Belanda. Belakangan beliau juga mendirikan sekolah di Muntilan dan Klaten.

Rumah Sakit Santo Yusup dan sebuah bangunan biara disana didoakan oleh A. Van Kalken pada 3 Januari 1931. Pembangunan dilakukan atas izin seorang Lurah bernama Brajapawira. Setelah didirikan kabar mengenai adanya fasilitas kesehatan anyar diketahui warga sekitar. Kala itu tidak banyak fasilitas kesehatan sehingga kondisi kesehatan masyarakat cukup memprihatinkan. Terlebih banyak warga yang menjadi korban perang melawan Belanda.

Awalnya tidak banyak warga yang datang. Namun setelah rumah sakit dikenal melalui kabar dari mulut ke mulut akhirnya banyak warga yang memberanikan diri minta obat, memohon untuk diperiksa dan jika sakit cukup parah minta opname.

Semua pasien tidak dipungut biaya sepeserpun. Bahkan kerap kali datang orangtua merasa tidak sanggup mengobati anaknya yang sakit parah. Apalagi jarak rumah sakit dan rumah cukup jauh, sehingga mereka memohon untuk menitipkan anaknya agar dapat dirawat dengan lebih layak.

Mendem tempe

Melihat banyaknya anak yang dititipkan di rumah sakit, Romo Prennthaler dan Sr. Aufrida mendiskusikan bagaimana cara memberikan pelayanan lebih baik pada anak yang dititipkan. Akhirnya, untuk menampung anak-anak yang membutuhkan perawatan dan pendidikan dipakailah rumah Bapak Carik Partodikromo sebagai tempat tinggal. Rumah ini bersifat sementara. Anak-anak kemudian diasuh oleh Ibu Hendrika. Besar harapan di kemudian hari anak-anak ini bisa tumbuh mandiri dan berkarya di tengah masyarakat.

Pada tahun 1932 seluruh kamar di Rumah Sakit Santo Yusup penuh. Tercatat 120 pasien berada di bangunan rumah sakit yang saat itu belum memiliki gedung seluas sekarang. Melihat kamar terlalu penuh maka diputuskan menem beberapa pasien di susteran. Ledakan jumlah pasien disebabkan penyakit bernama mabuk tempe. Lebih tepatnya keracunan tempe bongkrek.

Apa itu tempe bongkrek? Dalam novel legendaris Ronggeng Dukung Paruk karya Ahmad Tohari terbitan tahun 1982 diceritakan bahwa orangtua Srintil, yakni Santayib dan istrinya, yang bekerja sebagai pembuat tempe meninggal dunia bersama banyak warga kampung karena keracunan tempe bongkrek.

Inilah penyakit mabuk tempe yang saat itu juga menggejala di Kalibawang. Gejala keracunan tempe bongkrek muncul 12 sampai 48 jam setelah dikonsumsi. Penderitanya akan merasa sangat lemas, pusing, mual, sesak napas, sulit menelan, sulit bicara hingga akhirnya meninggal. Tempe jenis ini akhirnya dilarang diproduksi oleh pemerintah.

Membangun panti asuhan

Panti asuhan sederhana mulai dibangun di dekat Rumah Sakit Santo Yusup. Bulan Desember 1934 mulai ditinggali anak-anak. Untuk meningkatkan pelayanan, pihak yayasan kemudian menambah pengasuh yakni Sr. Dominika.

Tahun 1935 rumah sakit mendapat subsidi dari Pemerintah Yogyakarta sebesar f 50 (Gulden Belanda) per bulan. Mata uang Gulden Belanda sudah dipakai sejak abad 17. Terakhir digunakan tahun 2002 sebelum digantikan Euro. Oiya nama lain mata uang Gulden dalam pecahan kecil yang dipakai di Indonesia saat itu seperti Peser, Benggol, Ketip dan Talen.

Memasuki akhir tahun 1938, tepatnya November 1938, dr. Pujosuwarno menggantikan dr. Sahir menjadi dokter disana, menolong kelangsungan Rumah Sakit Santo Yusup. Saat itu masih berdiri dua bangsal. Sampai sekarang bangsal yang dimaksud masih bisa dilihat. Kemudian menyusul ruang anak dan ruang bersalin. Mulai bulan ini rumah sakit mendapat subsidi sebesar f 1000 setahun.

Teringat malam itu Ibu kembali bercerita tentang Rumah Sakit Santo Yusup. Suara radio kresek-kresek dari ruang tengah terdengar suara seseorang dalam Bahasa Belanda. Aku di teras bareng Ibu. Halaman rumah waktu cukup terang karena padang mbulan. Ibu memang cukup tau tentang Santo Yusup karena salah satu sepupunya tinggal di Boro Gunung. Terlebih ibu juga bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Yogyakarta.

Medio Maret 1942 saat tentara Jepang datang ke Indonesia keadaaan panti asuhan dan rumah sakit semakin miskin. Kondisi rumah sakit carut marut. Akibatnya banyak anak panti yang diambil keluarganya. Orangtua merasa kehidupan di rumah justru lebih terjamin. Saat pertama datang, Jepang terlihat simpati dengan berjanji memberikan bantuan obat-obatan bagi rumah sakit, tetapi bantuan itu tak kunjung datang. Alih alih membantu, tentara Jepang justru membawa mobil rumah sakit dengan janji akan menggantinya dalam bentuk uang.

rumah sakit santo yusupSejak saat itu pasien yang datang berobat tidak lagi gratis namun diminta sedikit bantuan untuk membantu operasional rumah sakit. Warga sekitar akhirnya membayar biaya berobat dengan memberi hasil bumi seperti kelapa, beras, pisang, gori dan sebagainya. Sebagian besar warga berasal dari kalangan tidak mampu, sehingga mereka tidak dapat membayar dalam bentuk uang.

Masa pendudukan Jepang menyebabkan pasien yang datang ke rumah sakit menurun drastis karena takut bepergian. Saat itu memang tersiar kabar burung dari mulut ke mulut bahwa masyarakat dilarang keluar rumah. Terlebih jika ada pesawat yang lewat di langit Kulon Progo dan mendengar sirine berdengung keras. Sontak masyarakat berdiam di dalam rumah.

Sekolah yang didirikan Romo Prennthaler juga mengalami kemunduran drastis. Bahkan hampir dibubarkan karena tidak dapat menggaji guru. Sampai saat Jepang pergi dari Indonesia karena kalah perang melawan Amerika dan sekutu tahun 1946 belum ada perbaikan signifikan dari rumah sakit dan sekolah.

Perang berkecamuk

Saat itu 19 Desember 1948 pagi, Lapangan Terbang Maguwo dibom pesawat-pesawat Belanda sejak fajar menyingsing. Suara dang dung menghentak di kejauhan. Yogyakarta dan Muntilan genting. Serangan berlanjut ke pusat kota sehingga banyak masyarakat yang mengungsi ke luar kota Yogyakarta. Melewati Godean, akhirnya gelombang pengungsi sampai ke Kalibawang. Daerah yang dirasa cukup aman karena berada di perbukitan.

Aku ingat betul waktu itu masih kecil. Ayah mengajak kakak pergi dari rumah untuk mengungsi ke luar Yogyakata kota. Ibu menggendongku berjalan setengah berlari menuju tempat mengungsi yang sampai sekarang aku tak tau dimana lokasinya. Warga panik mendengar desing peluru baku tembak tentara Indonesia dengan tentara sekutu. Kebanyakan pengungsi tergopoh-gopoh berjalan kaki.

Petinggi kepolisian, Kejaksaan dan TNI juga mengungsi ke Banjarasri, Kalibawang. Keberadaan Rumah Sakit Santo Yusup dan para misionaris yang terbiasa menangani masalah sosial dan kesehatan menjadikan Banjarasri dirasa cocok sebagai lokasi pengungsian.

Belanda berusaha menyergap tentara dan pimpinan republik. Banyak warga terluka dibawa ke Rumah Sakit Santo Yusup hingga rumah sakit penuh. Untungnya saat itu ada beberapa dokter yang ikut mengungsi, yakni dr. Kusen dan dr. Hoetagaloeng, sehingga mereka bisa membantu menangani pasien.

Darah berceceran di rumah sakit. Banyak korban perang harus diamputasi. Operasi dilakukan dokter rumah sakit dan dokter yang diperbantukan, walaupun operasi jenis ini bukan bidangnya. Agak nggigirisi juga sih. Operasi pertama dilakukan pada seorang anak laki-laki berumur 14 tahun. Cukup lama lengannya tidak sembuh. Sr. Coleta menyarankan menutup luka tersebut dengan kulit paha si anak. Sungguh luka itu akhirnya tertutup oleh kulit yang tumbuh dengan baik. Lalu si anak diberi nama baru yakni Mujirat.

Kisah lain. Suatu malam ada tiga kaki dan lengan yang diamputasi kemudian dikubur dalam satu liang. Setelah beberapa hari, salah seorang korban yang dipotong kakinya meninggal. Orangtua beliau datang dan meminta potongan kaki anaknya karena akan dijadikan satu dengan bagian badan yang lain. Meskipun telah membusuk dan berbau, petugas Rumah Sakit Santo Yusup tetap membongkar makam demi ketentraman keluarga.

Pada masa geger perang mempertahankan kemerdekaan, Biara Boro yang lokasinya di samping rumah sakit dijadikan tempat pendidikan calon suster untuk daerah pedalaman, dengan Sr. Magdala Ngatidjah sebagai pemimpin. Saat itu tidak mudah mengirim para calon Suster ke Semarang karena hubungan antara Yogyakarta menuju Semarang terputus total.

Ketika terlihat kemungkinan hubungan Yogyakarta menuju Semarang terbuka lagi, para calon suster dikirim ke Novisiat Gedangan, Semarang. Mereka berjalan kaki dari Boro ke Yogyakarta yang ditempuh satu hari. Kemudian dari Yogyakarta menggunakan pesawat melalui Jakarta menuju Semarang.

Dokter sebagai pelayan

Dokter sejatinya memamg melayani masyarakat. Sama seperti Sr. Coleta Rubijah yang pernah melayani di Rumah Sakit Santo Yusup, beliau terkenal sebagai ahli bedah dan bidan. Suatu ketika beliau membuka membuka pelatihan EHBO (Eerste Hulp Bij On-gelukken) sekarang sering disebut Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan. Pesertanya pemuda-pemudi yang tinggal di sekitar susteran maupun yang berasal dari daerah lain. Kursus ini kemudian berkembang menjadi Sekolah Pembantu Perawat (SPK) dan Pembantu Bidan. Terciptanya tenaga terdidik dan terampil untuk melayani masyarakat dalam hal kesehatan adalah tujuan utama dari sekolah ini.

Dokter yang mengabdi di Rumah Sakit Santo Yusup tau betul bahwa mereka adalah pelayan masyarakat. Beberapa dokter yang pernah melayani di rumah sakit hingga tahun 1972 yakni dr. Sr. M. Celine tahun 1965, dr. Antano tahun 1967 hingga 1970, dr. RA. Krisman dan dr Sutaryo tahun 1970 hingga 1972. Pada tahun 1972 dr. Leni Kushadi mulai berkarya di rumah sakit sebagai dokter penuh waktu dan Direktur Utama.

Rumah sakit makin berkembang. Pasien dengan berbagai keluhan hilir mudik. Panti asuhan yang sejak awal berada di lingkungan rumah sakit dianggap tidak menguntungkan bagi kesehatan anak-anak panti. Maka diputuskan untuk membeli sebidang tanah di dekat Susteran untuk dibangun menjadi panti. Pada 1988 gedung baru mulai dibangun.

Tahun 1990 akhirnya Rumah Sakit Santo Yusup memiliki Unit Fisiotherapi dan Unit Gawat Darurat. Satu tahun kemudian didirikan Unit Radiologi atau Rontgen. Pada 1992 sepuluh daerah binaan dipercayakan pemerintah kepada Rumah Sakit Santo Yusup untuk memberikan pendampingam dan pengarahan tentang kesehatan. Setelah itu para petugas dengan telaten mengadakan penyuluhan dan pengobatan dari wilayah ke wilayah.

rumah sakit santo yusupSiap siaganya lima dokter paruh waktu dan satu dokter purna waktu memungkinkan lancarnya aktifitas pengobatan. Pada 5 November 1992 Rumah Sakit Santo Yusup menjadi juara pertama Lomba Rumah Sakit se Yogyakarta. Cukup menarik karena saat itu masih banyak rumah sakit di kota yang dari segi fasilitas jauh lebih baik.

Di penghujung tahun tepatnya 31 Desember 1994 gedung baru Panti Asuhan Brayat Pinuji diresmikan Rm. Wedyowiratno, disaksikan wakil Instansi Sosial se Yogyakarta, pejabat kabupaten, para suster dan perwakilan masyarakat setempat. Gedung baru bisa menampung 200 anak. Penghuni panti waktu 212 anak, 116 tinggal di panti, elebihnya melanjutkan sekolah di luar.

Tanggal 6 Agustus 1995 Unit Kamar Operasi kembali difungsikan. Pembukaannya ditandai dengan sunatan masal. Tahun yang sama juga dibuka Poli Spesialis. Bulan Desember 1998, bulan dimana Akreditasi Pertama Rumah Sakit Santo Yusup keluar. Hasilnya lulus bersyarat satu tahun. Akhir tahun 2000 akreditasi kedua rumah sakit keluar.

Hari ini rakyat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan sebagai anugerah luar biasa dari pendahulu yang berjuang dengan peluh, pikiran, darah dan nyawa. Hari ini juga Rumah Sakit Santo Yusup masih berdiri. Tetap kokoh seperti pertama Romo Prennthaler menginjakan kaki di lantainya. Masih melayani saudara sebangsa seperti pesan beliau untuk saling mengasihi tanpa memandang latar belakang. Seperti garam dan terang, Rumah Sakit Santo Yusup bertekat terus bertahan.

Thomas Karsten Salim tersenyum di masa tuanya. Sosoknya hanya fiksi semata. Jika ia benar-benar ada, mungkin ia akan bahagia meyakini bahwa apa yang Ibunya ceritakan tetap bertahan bahkan terus berkembang hingga menit ini. Akhirnya tulisan ini aku persembahkan untuk Ayah dan Ibu. Terimakasih untuk tiap hal yang engkau beri dan ajarkan hari demi hari.

Indonesia tanah air beta. Pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala. Selalu dipuja puja bangsa. Dirgahayu Bangsaku. Kami bangga padamu.

Related Articles

One thought on “Nyala Lilin Rumah Sakit Santo Yusup

  1. Retno Rahayuningsih

    Waktu SMP aku pernah di rawat di sini.
    Rumah sakit ini, menempati sebagian ruang di ingatanku.
    Duh, kok mbrambangi yak?
    Jadi baper, pengen bali kampung.

    Reply

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.