Watson, Pabrik Kapal Selam Sentolo

Category: Politik, Sejarah, Sosial 8,438 4


Mendengar nama Pabrik Watson di Sentolo mungkin cuma segelintir masyarakat Kulon Progo yang tau. Sebelum membahas itu, beberapa hari yang lalu karena judeg beraktifitas di pekerjaan, kami menyambangi Stasiun Sentolo untuk refreshing dan napak tilas. Satu setengah tahun ke belakang, Stasiun Sentolo masih digunakan untuk menaikan dan menurunkan penumpang. Sebelum akhirnya ditutup untuk aktivitas transportasi.

kapal selam sentoloOkupansi penumpang yang sedikit dan kepentingan memangkas waktu tempuh menjadikan banyak stasiun kecil kemudian tidak digunakan, termasuk Stasiun Sentolo. Tetapi bukan Stasiun Sentolo yang akan dibahas, melainkan Sentolo sebagai daerah penghasil mantan. Halah.

Oke sudah ya. Sekarang kondisikan pikiran kembali ke masa dimana masyarakat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan sekitar tahun 1946 sampai 1949. Pabrik bernama Watson yang dahulu terletak di Sentolo sebenarnya adalah pabrik besi dan pengolahan besi bekas. Sama seperti pabrik senjata di Demak Ijo, Sleman, yang aslinya merupakan pabrik gula. Oleh pejuang masa itu dialih fungsikan menjadi pabrik senjata darurat. Kala itu Sentolo masih jadi ibukota Kabupaten Kulon Progo. Bersanding dengan Kabupaten Adikarta yang beribukota di Wates.

Saat itu Sentolo menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian Kulon Progo. Kulon Progo sendiri merupakan tanah yang sebenarnya berada di bawah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta, sehingga semua aktivitas yang terjadi di tanah Kulon Progo sepenuhnya mendapat pengawasan dari Kesultanan Yogyakarta. Sebagai ibukota kabupaten, Sentolo tak ayal menjadi kota yang ramai, baik oleh masyarakat Kulon Progo sendiri maupun masyarakat di luar Kulon Progo.

Dahulu kantor-kantor pemerintahan Kabupaten Kulon Progo sebelum digabung dengan Kabupaten Adikarta terletak di sekitar Pasar Sentolo lama. Konon, menurut cerita orangtua yang sejak dulu tinggal di Sentolo, Sentolo pernah memiliki Alun alun, gedung kabupaten, rumah kerajinan, gedung pegadaian, kantor pos, pasar, stasiun, rumah orang keturunan Tionghoa dengan bentuk yang khas dan rumah wedana. Saat ini tinggal beberapa saja yang tersisa.

Kembali ke pabrik penghasil alutsista. Setidaknya sebelum tahun 1950 Yogyakarta memiliki dua pabrik alutsista darurat yang sedikit banyak menopang perjuangan rakyat dan tentara melawan Belanda. Penyebutan pabrik tidak lantas mengacu pada pabrik dengan para pekerja dan peralatan modern tetapi seperti lokasi yang dikhususkan untuk mempersiapkan persenjataan dengan teknik yang masih sederhana.

Pasca kemerdekaan Belanda ingin menguasai Indonesia kembali. Pertama pabrik senjata di Demak Ijo yang memproduksi senjata dengan meniru produk senjata terkenal pada masa itu, kemudian Pabrik Watson di Sentolo, pabrik yang digunakan untuk mengembangkan prototype kapal selam. Bukan pabrik seperti layaknya pabrik seperti saat ini, tetapi lebih semacam gudang yang digunakan sebagai tempat merangkai persenjataan.

kapal selam sentoloIde untuk membuat kapal selam sebagai kekuatan baru persenjataan tentara Indonesia digulirkan oleh seorang bernama D. Ginagan, pemuda kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, 23 April 1918. Pengetahuannya dalam bidang maritim mulai diasah tahun 1937 ketika mengikuti pendidikan kepelautan di Gemeentelijke Zeevaartschool, Den Helder, Belanda, selama 3 tahun. Setelah lulus kemudian melanjutkan belajar di jurusan mesin di Groningen, Belanda, selama 2 tahun. Setelah selesai bersekolah D. Ginagan bekerja di perusahaan perkapalan milik Belanda sebagai Stuurman.

Aktif mendukung perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah membuatnya harus hengkang dari Belanda pada Desember 1946. Rapopo. Sekembalinya dari Belanda, D. Ginagan bekerja untuk Kementerian Pertahanan Bagian Angkatan Laut sebagai pegawai sipil, sesuai dengan kapasitasnya sebagai pelaut dan teknisi lulusan Belanda.

Kapal selam produksi Watson

Inspirasi membuat kapal selam berawak tunggal dengan satu torpedo sebagai senjata muncul setelah D. Ginagan melihat pameran kapal selam yang dikendalikan oleh satu orang di Groningen. Untuk mewujudkan ide tersebut, D. Ginagan segera mengajukan permohonan kepada Kementerian Pertahanan, eh ndilalah gagasannya disetujui. Segera setelah itu beliau menghubungi Penataran Angkatan Laut yang sekarang menjadi PT PAL dan pabrik besi Perbi di Yogyakarta. D. Ginagan tidak sendirian waktu itu. Ia banyak dibantu oleh M. Susilo, pegawai Perencana Perkapalan. M. Susilo membantu pembuatan design kapal selam. Pembuatan kapal sendiri dimulai sekitar Juli 1947 di Perbi, Yogyakarta, dengan anggaran ± 35.000 ORI (Oeang Republik Indonesia) mata uang pertama Indonesia setelah merdeka, sebelum dilanjutkan di Watson, Sentolo.

kapal selam sentolo

Kapal selam mini yang tidak dilengkapi periskop ini berukuran 7 meter, lebar 1 meter dan bobot 5 ton. Sudah dilengkapi sebuah torpedo kapal terbang yang banyak terdapat di lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta, Jepang dengan panjang 5 meter. Motor penggerak turbin kapal selam diambil dari mesin mobil Fiat berkekuatan 4 PK, sedangkan bahan bakarnya menggunakan bensin.

Di dalam kabin diyakini belum banyak teknologi yang dapat disematkan, namun kapal selam yang dikembangkan di pabrik Watson menjadi loncatan besar dalam sejarah alutsista pada awal berdirinya bangsa Indonesia. Prototype kapal selam buatan anak bangsa kemudian diuji coba di Sungai Progo dan Kalibayem, bahkan menurut sumber lain pernah diujicobakan di Pantai Samas dan alur Sungai Winongo.

Pada saat uji coba di Kalibayem, Yogyakarta, masyarakat Yogyakarta dan pejabat penting pemerintah seperti Menteri Pertahanan dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX turut hadir untuk melihat sejauh mana alutsista terbaru buatan anak negeri dapat difungsikan. Kalibayem kini terletak di cekungan antara daerah Pelem Gurih dan Wirobrajan, yang sering nglajo pasti tau tempat ini. Ujicoba prototype kapal selam berjalan cukup baik meskipun banyak perbaikan disana sini, antara lain seperti torpedo yang tak mau lepas dari handel pengikatnya sehingga kapal turut melaju bersama torpedo. D. Ginagan sendiri yang kala itu mengujicoba kapal selam sederhana buatannya.

Terhenti oleh Belanda

Pada era perang dunia, persenjataan sangatlah berharga layaknya emas. Semua negara berlomba menciptakan persenjataan yang ampuh dan efisien. Melengkapi diri untuk bersiap menghadapi perang melawan bangsa lain. Di sisi lain, Indonesia masih sangat terbatas dalam hal kelengkapan persenjataan. Hanya mengandalkan senjata rampasan dari tentara sekutu, Jepang dan Belanda, senjata tiruan, ditambah senjata tradisional yang dirakit apa adanya. Oleh karena itu keberadaan kapal selam menerbitkan harapan bagi para patriot yang berjuang mempertahankan kemerdekaan

Perbaikan terus dilakukan. Kapal selam diperlukan untuk menembus barikade pertahanan maritim Belanda. Kapal selam buatan D. Ginagan diharapkan menjadi alutsista unggulan untuk merusak kapal-kapal perang Belanda yang banyak terdapat di sekitar Pulau Jawa.

kapal selam sentoloMunculnya kapal selam yang dibuat di Sentolo membuat tentara Belanda khawatir. Dampaknya bahkan mampu menggelorakan semangat juang para pejuang di seluruh penjuru Indonesia. Sayangnya, sebelum kapal selam disempurnakan, Belanda lebih dulu menemukan Pabrik Watson di Sentolo.

Pada saat agresi militer II tentara Belanda berhasil menguasi ibukota Yogyakarta, bahkan mampu merangsek sampai ke daerah-daerah di penjuru Yogyakarta, termasuk Sentolo. Betapa terkejutnya Belanda ketika mendapati kapal selam buatan Indonesia yang beberapa waktu silam sempat membuat mereka ketar-ketir. Kapal selam yang masih dalam tahap pengembangan ini kemudian dibawa dari Pabrik Watson di Sentolo ke Semarang menggunakan truk besar. Para tentara sekutu sempat berfoto di sekitar kapal selam itu. Foto ada di kolom heritage Watespahpoh. Setelah dibawa ke Semarang, kabar kapal selam prototype ini tak terdengar lagi. Lenyap.

Pabrik Watson kini hilang tak berbekas. Dimana letaknya? Siapakah Watson dan pertanyaan lain yang saat ini muncul sepertinya akan sulit terjawab. Sama seperti sejarah pembuatan kapal selam pertama Indonesia yang juga hanya diketahui oleh segelintir orang. Kabar baiknya mengapa Sentolo? Mengapa sebuah pabrik yang jauh dari hiruk perkotaan menjadi pilihan tempat dimana peneletian dan pengembangan alutsista besar dilakukan? Pasti banyak yang bisa menjawab.

Lantas apakah mantanmu orang Sentolo? (sumber:  www.europeana.eu; www.gahetna.nl, foto: www.kaskus.co.id)

Related Articles

4 thoughts on “Watson, Pabrik Kapal Selam Sentolo

  1. suparmin

    bagus lanjutkan jangan ketinggalan dg kabpt lain…… informasi via media maya …lebih cepat di ketahui khalayak rame

    Reply

Tuliskan Komentarmu