GKJ Wates, Setia Dalam Pelayanan

Category: Sejarah, Sosial 1,958


Gereja Kristen Jawa Wates (GKJ Wates) menjadi bagian dari jatuh bangun masyarakat Kulon Progo. Posisinya sama seperti umat agama lain yang setara di mata negara. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dalam memeluk dan melaksanakan ibadah. Yang terjadi belakangan, banyak umat justru ubruk satu sama lain. Tidak produktif membangun, justru seperti kursi beroda yang berjalan mundur. Saat bangsa lain berhasil membangun fasilitas umum yang layak bagi warganya, bahkan bisa piknik sampai bulan, kita masih ngributin yang gitu-gitu aja.

Membangun daerah erat kaitannya dengan penghargaan atas perbedaan. Program bedah rumah yang digadang-gadang menjadi terobosan unggul dalam mengentaskan kemiskinan apakah dibangun dengan material gendeng saja, paku usuk saja atau kayu saja? Jawabnya pasti tidak. Hateneh mleyok kalau rumah dibangun dari kayu tok tanpa paku. Nah, sama, perbedaan di Kulon Progo harus saling mengisi dan menguatkan satu dengan yang lain.

Cikal Bakal Rumah Sakit Wates

GKJ Wates sebagai bagian dari masyarakat Kulon Progo melewati sejarah panjang. Bahkan narasumber terakhir, warga Kalinongko, Ardjo Waluyo, yang mengalami bagaimana GKJ Wates sejak awal berdiri telah berpulang Oktober lalu.

Benih jemaat GKJ Wates

Umat Kristen di Wates tumbuh sejak berdirinya Rumah Sakit Wates. Foto di samping merupakan Rumah Sakit Wates sewaktu masih berada di kulon Alun alun Wates. Pada masa awal berdiri Rumah Sakit Wates disebut Hulpziekenhuis Wates. Dalam perkembangannya berubah menjadi RSUD Wates. Didirikan tahun 1908 pada masa dr. H. S. Pruys, Rumah Sakit Wates mendapat gelontoran dana dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Perlu diketahui bahwa Rumah Sakit Wates saat itu berafiliasi dengan Rumah Sakit Petronella, dalam bahasa Belanda, Zending Hospitaal Petronella, yang sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. 

Rumah Sakit Wates semakin berkembang setelah dr. D. Bakker memberikan pelatihan kepada para mantri dan juru rawat. Saat dr. Soenoesmo Prawirohoesodho bertugas di Rumah Sakit Petronella Wates dibuatlah poliklinik baru di Sentolo, Butuh dan Temon. Rumah sakit sekelas Rumah Sakit Petronella Wates juga ada di Sewu Galur untuk mengatasi wabah malaria yang muncul karena lingkungan selatan Kulon Progo berawa. Di foto yang bisa dilihat di bagian bawah, dr. Seoenosmo, berdiri paling kanan. Tidak kenal lelah rumah sakit terus melayani tanpa melihat latar belakang pasiennya.

Selain Rumah Sakit, didirikan juga sekolah-sekolah Kristen agar masyarakat Kulon Progo terdidik. Tahun 1921 berdirilah HJS, dalam bahasa Belanda sebut saja Hollandsche-Javaansche School met den Bijbel. Sekolah dengan nama yang sama juga ada di Bintaran, Yogyakarta, kini menjadi SD Bopkri Bintaran. Hollandsche-Javaansche School met den Bijbel di Wates berkembang menjadi sekolah milik Yayasan Bopkri yang bertempat di timur Stasiun Wates. 

Yayasan Badan Oesaha Pendidikan Kristen Republik Indonesia (Bopkri) berdiri 1 September 1949. Sedikit cerita, keadaan jemaat GKJ Wates sangat memprihatinkan waktu itu karena didera penderitaan selama dijajah bangsa asing serta mengalami masa transisi yang sulit pasca lahirnya negara Indonesia. Walaupun demikian, jemaat tetap ikhlas menyumbang sedikit yang mereka punya untuk kemajuan sekolah. Sumbangan dana jemaat bervariasi mulai dari 25 sen sampai 250 sen yang dikumpulkan oleh A. Siswosoemarto. Sehingga melalui sumbangan tersebut Bopkri dapat memberi honor dua guru yakni Supartinah dan Suparti.

rumah sakit petronella atau kini Bethesda

Tahun 1980 an Bopkri menjadi sekolah primadona bersama SD Pancasila (kini SD Percobaan 4), SD Kanisius, SMP 1 Wates, SMP 2 Wates (kini SMP 1 Pengasih), SMEP (kini SMP 4 Wates) dan SMA N Wates (kini SMA 1 Wates). Pamornya turun sekitar tahun 1990 an.

Setelah HJS berdiri, bermunculan juga sekolah Zeending di Giripeni, Ngulakan dan Kalipenten. Sekolah Zending adalah sekolah yang diselenggarakan oleh gereja Belanda di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, 4 September 1927, pelayanan di rumah sakit dan sekolah semakin mantap. Jemaat Kristen di Wates kemudian diteguhkan menjadi gereja dewasa oleh Gereja Kristen Jawa Tengah Selatan. Meskipun demikian, GKJ Wates belum memiliki gedung sehingga menumpang di Rumah Sakit Wates selama tiga tahun. 

Pembangunan gedung GKJ Wates

Jemaat Kristen tidak memiliki gedung untuk beribadah. Akhirnya dibangunlah sebuah gedung yang kini menjadi gedung GKJ Wates. Proses pembangunan bersamaan dengan pembangunan gedung gereja Kristen di Patalan, Bantul dan Wonosari, Gunung Kidul. Sebelum gedung GKJ Wates dibangun, Zending sudah terlebih dahulu membangun perumahan guru HJS di timur Alun-alun Wates dan di depan gedung GKJ Wates.

Untuk membangun gedung gereja, Ds. Pos, fotonya di bawah bersama istri, sang pendeta konsulen di GKJ Wates memohon bantuan kepada jemaat Kristen Belanda langsung di Belanda. Bantuan yang kemudian didapat Ds. Pos sebanyak F 3.000,- (tiga ribu Gulden Belanda) dan sebanyak F 5.000,- (lima ribu Gulden Belanda) yang disepakati sebagi pinjaman. Gedung pastori dibangun dengan dana F 11.500,- (sebelas ribu lima ratus Gulden Belanda) yang juga berupa pinjaman.

GKJ Wates tempo dulu

Gedung GKJ Wates akhirnya diresmikan 7 November 1930 atau tahun 1861 pada penanggalan Jawa dengan candra sangkala “Tunggal Rasa Ngesthi Semedi”. Sedangkan gedung Gereja Patalan diresmikan 22 Oktober 1929. Gedung Gereja Wonosari pada 9 September 1932.

Kini gedung sudah ada. Masalah yang kemudian muncul adalah tidak adanya pendeta yang menggembalakan jemaat. Sebenarnya tahun 1927, Rebin Hardjosiswoyo, sudah diangkat menjadi Guru Injil bagi jemaat di Wates, Ngulakan dan Kalipenten tapi belum menjadi pendeta secara resmi.

Rebin Hardjosiswoyo diharuskan belajar theologi lagi. Setelah nggulo wenthah theologi Kristen selama beberapa lama, akhirnya 26 Oktober 1938, Rebin Hardjosiswoyo ditahbiskan oleh 12 pendeta Jawa dan Belanda menjadi pendeta pertama GKJ Wates. Melayani di GKJ Wates selama 26 tahun, Pdt. Rebin Hardjosiswoyo pensiun tahun 1964. Beliau kemudian pindah dari rumah pendeta GKJ Wates. Lalu menempati rumah pribadi di Kampung Tungkak, Yogyakarta, 12 April 1964.

Jepang datang di Kulon Progo

Pada awal kedatangan tentara Jepang mereka disambut bak pahlawan, tidak terkecuali di Kulon Progo. Lama berselang keadaan ini berubah drastis. Rakyat Indonesia ditindas dengan kejam, termasuk kehidupan warga GKJ Wates. Gedung GKJ Wates, sekolah Kristen dan Rumah Sakit Wates ditutup karena dianggap pro Belanda.

GKJ Wates

Para pendeta utusan Belanda ditangkap kemudian dipulangkan ke Belanda. Beberapa diantaranya ditahan atau dikenal dengan istilah diinternir. Salah satu camp internir ada di Galur yang saat itu sering didera wabah malaria.

Perpisahan antara GKJ Wates dan para misionaris Belanda terjadi tahun 1943. Seluruh harta milik gereja diserahkan kepada GKJ Wates sebelum para misionaris dipulangkan ke Belanda atau masuk tahanan Jepang. Gereja, rumah sakit dan sekolah Kristen lumpuh. Guru, mantri dan perawat tidak digaji. Beberapa diantaranya memutuskan mengundurkan diri. Bahkan perjamuan kudus yang semula menggunakan roti dan anggur harus disiasati memakai air teh dan apem. Mirip menu patehan.

HJS ikut dibubarkan karena menggunakan pengantar bahasa Belanda saat belajar. Waktu itu semua yang berbau Belanda dihapus. Diganti dengan kewajiban tiap rakyat menyanyikan lagu kebangsaan Jepang yakni Kimigayo, belajar bahasa Jepang dan menghormati bendera kebangsaan Jepang. Setelah HJS bubar lahirlah sekolah Kristen baru yakni Sekolah Rakyat Sempurna yang setara dengan Sekolah Rakyat Negeri. Bahasa pengantar yang digunakan bahasa Indonesia.

Kebangkitan GKJ Wates

Setelah masa kemerdekaan, pecah kembali peperangan yang disebut Agresi Militer Belanda II. Keadaan ini membuat gereja berserakan. Wates mencekam seiring pembakaran yang dilakukan pejuang terhadap bangunan-bangunan karena dikhawatirkan akan dimanfaatkan Belanda. Entahlah gedung GKJ Wates ikut dibakar atau tidak. Tidak ada data pasti yang menceritakan hal ini.

Peperangan berhenti sekitar tahun 1951. Keadaan perlahan membaik. GKJ Wates bersama gereja yang lain bersepakat untuk mendukung pemerintah Republik Indonesia. Jemaat bertambah banyak seiring sikap pemerintah yang positif terhadap seluruh umat beragama.

Jemaat berjubel semakin banyak. Gedung GKJ Wates tidak lagi mampu menampung jemaat, karena itu gedung GKJ Wates dipugar, menambah bagian sayap kanan dan kiri. Bagian tengah masih asli seperti awal dibangun tahun 1930. Pemugaran dimulai tahun 1990 lalu selesai tahun 1991. Saat itu Sri Sultan Hamengkubuwono X hadir menandatangani peresmian gedung. 

GKJ Wates

Tercatat beberapa pendeta pernah dan masih melayani di GKJ Wates. Mulai dari Ds. Pos yang merintis keberadaan gereja, Pdt. Rebin Hardjosiswoyo pendeta pertama, Pdt. Edi Trimodoroempoko, S. Th., kemudian Pdt. Ds. Isman, Pdt. R. Sri Hascaryo, S. Th., lalu Pdt. Santosa Budi Harjono, M. Th., saat ini Pdt. Martinus Dwi Anggara, S.Th., dan Pdt. Adhika Tri Subowo, S.Si.

Yah, sejak dulu hingga kini, umat Kristen membaur dengan umat agama lain. Bersama bahu-membahu membangun Kulon Progo. Seperti kata Gus Dur dan Gus Mus, tokoh NU yang memperjuangkan toleransi antar umat beragama, tidak tepat jika kita memperlakukan orang lain semena-mena hanya karena apa yang ia imani. Jangankan seseorang memiliki agama, ada yang menganggap gedang goreng bisa memunculkan mujizat sekalipun kita tak berhak mengucilkan mereka. Oleh karena itu mari hidup berdampingan. (sumber: Arsip GKJ Wates; foto: Arsip GKJ Wates dan Het zendingsziekenhuis Petronella)

Related Articles