GKJ Wates, Setia Dalam Pelayanan

Category: Sejarah, Sosial 1,600 0


Gereja Kristen Jawa Wates (GKJ Wates) menjadi bagian dari jatuh bangun masyarakat Kulon Progo. Posisinya sama seperti umat agama lain yang setara di mata negara. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dalam memeluk dan melaksanakan ibadah. Yang terjadi belakangan, banyak umat justru ubruk satu sama lain. Tidak produktif membangun, justru seperti kursi beroda yang berjalan mundur. Saat bangsa lain berhasil membangun fasilitas umum yang layak bagi warganya, bahkan bisa piknik sampai bulan, kita masih ngributin yang gitu-gitu aja.

Membangun daerah erat kaitannya dengan penghargaan atas perbedaan. Program bedah rumah Pak Bupati Hasto yang digadang-gadang menjadi terobosan unggul guna mengentaskan kemiskinan, apakah dibangun dengan material gendeng saja, paku usuk saja atau kayu saja? Jawabnya pasti tidak. Hateneh mleyok kalau rumah dibangun dari kayu tok tanpa paku. Nah, sama, perbedaan di Kulon Progo harus saling mengisi. Saling menguatkan satu dengan yang lain.

Cikal Bakal Rumah Sakit WatesGKJ Wates sebagai bagian dari masyarakat Kulon Progo melewati sejarah panjang. Bahkan narasumber terakhir, warga Kalinongko, yang tau bagaimana GKJ Wates sejak awal berdiri telah meninggal Oktober lalu. Sugeng tindak Pak Ardjo Waluyo.

benih jemaat GKJ Wates

Umat Kristen di Wates tumbuh sejak berdirinya Rumah Sakit Wates. Foto di samping merupakan Rumah Sakit Wates sewaktu masih berada di kulon Alun alun Wates. Jaman mbien pas urung usum sabun Rumah Sakit Wates disebut Husphospitaal. Dalam perkembangannya berubah menjadi RSUD Wates. Didirikan tahun 1908 pada masa dr. H. S. Pruys, Rumah Sakit Wates mendapat gelontoran dana dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Perlu diketahui bahwa Rumah Sakit Wates saat itu berafiliasi dengan Rumah Sakit Petronella, dalam bahasa Belanda, Zending Hospitaal Petronella. Kini dikenal sebagai Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Waktu itu Kulon Progo belum bergabung dengan Adikarta.

Rumah Sakit Wates semakin berkembang setelah dr. D. Bakker memberi pelatihan para mantri dan juru rawat yang memimpin beberapa poli. Saat Rumah Sakit Wates dikepalai dr. Soenoesmo Prawirohoesodho, pribumi yang juga merupakan salah satu pejabat di RS Petronella, dibuatlah poliklinik baru di Sentolo, Butuh dan Temon. Rumah sakit hampir sekelas Rumah Sakit Wates juga terdapat di Sewu Galur yang saat itu sering terkena wabah malaria, karena lingkungan yang berawa. Foto Rumah Sakit Sewu Galur, Poliklinik Sentolo, Butuh dan Temon bisa lihat galeri heritage Watespahpoh. Oiya, beliau dr. Seoenosmo, berdiri paling ujung kanan pada foto di bawah ini. Tak kenal lelah rumah sakit terus melayani tanpa melihat latar belakang pasiennya.

Selain Rumah Sakit, didirikan juga sekolah-sekolah Kristen agar masyarakat Kulon Progo menjadi terdidik. Tahun 1921 berdirilah HJS, dalam bahasa Belanda sebut saja Hollandsche-Javaansche School met den Bijbel. Sekolah dengan nama yang sama juga berada di Bintaran, Yogyakarta, kini menjadi SD Bopkri Bintaran. Hollandsche-Javaansche School met den Bijbel di Wates berkembang menjadi sekolah milik Yayasan Bopkri yang bertempat di timur Stasiun Wates. Persis di belakang tempat biasa admin brewok ngadang bis, bareng kamu, duhjan.

Yayasan Badan Oesaha Pendidikan Kristen Republik Indonesia (Bopkri) berdiri 1 September 1949. Sedikit cerita, keadaan jemaat GKJ Wates sangat memprihatinkan karena didera penderitaan karena penjajahan bangsa asing dan transisi lahirnya negara baru, Indonesia. Namun demikian, jemaat tetap saja ikhlas menyumbang sedikit yang ia punyai untuk kemajuan Bopkri. Sumbangan jemaat bervariasi, mulai dari 25 sen sampai 250 sen klalu dikumpulkan oleh A. Siswosoemarto. Melalui sumbangan tersebut Bopkri dapat memberi honorarium pada dua orang guru Sekolah Rakyat yakni Supartinah dan Suparti.

rumah sakit petronella atau kini BethesdaTahun 1980 an Bopkri menjadi sekolah primadona bersama SD Pancasila (SD Percobaan 4), SD Kanisius, SMP 1 Wates. SMP 2 Wates (kini SMP 1 Pengasih), SMEP (kini SMP 4 Wates). SMA N Wates (kini SMA 1 Wates). Pamornya turun sekitar tahun 1990 an.

Setelah HJS berdiri, bermunculan juga sekolah Zeending di Giripeni, Ngulakan dan Kalipenten. Sekolah Zending adalah sekolah yang diselenggarakan oleh gereja Belanda di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, 4 September 1927, pelayanan di rumah sakit dan sekolah terus berjalan mantap, jemaat Kristen di Wates kemudian diteguhkan menjadi gereja dewasa oleh Gereja Kristen Jawa Tengah Selatan. Mesipun demikian, GKJ Wates belum memiliki gedung sehingga menumpang Rumah Sakit Wates selama tiga tahun.

Pembangunan gedung GKJ Wates

Jemaat Kristen tidak memiliki gedung untuk melaksanakan ibadah. Akhirnya dibangunlah sebuah gedung yang kini menjadi gedung GKJ Wates. Proses pembangunan gedung gereja bersamaan  dengan pembangunan gedung gereja Kristen di Patalan, Bantul dan Wonosari, Gunung Kidul.

Sebelum gedung GKJ Wates dibangun, Zending terlebih dahulu membangun perumahan guru HJS di timur Alun-alun Wates dan di depan gedung GKJ Wates.

Ds. Pos, fotonya di bawah bersama istri, sang pendeta konsulen di GKJ Wates memohon bantuan kepada jemaat Kristen Belanda langsung di Belanda untuk membangun gedung gereja. Bantuan yang kemudian didapat Ds. Pos sebanyak F 3.000,- (tiga ribu Gulden Belanda) dan sebanyak F 5.000,- (lima ribu Gulden Belanda) yang disepakati sebagi pinjaman. Gedung pastori dibangun dengan dana F 11.500,- (sebelas ribu lima ratus Gulden Belanda) yang juga berupa pinjaman.

GKJ Wates tempo duluGedung GKJ Wates akhirnya diresmikan 7 November 1930 atau tahun 1861 pada penanggalan Jawa dengan candra sangkala “Tunggal Rasa Ngesthi Semedi. Sedangkan gedung Gereja Patalan diresmikan 22 Oktober 1929. Gedung Gereja Wonosari pada 9 September 1932.

Kini gedung sudah ada. Jemaat sudah leluasa melakukan ibadah. Masalah yang kemudian muncul adalah tidak adanya pendeta yang menggembalakan jemaat GKJ Wates. Sebenarnya tahun 1927, Rebin Hardjosiswoyo, sudah diangkat menjadi Guru Injil bagi jemaat di Wates, Ngulakan dan Kalipenten tapi belum menjadi pendeta secara resmi.

Rebin Hardjosiswoyo diharuskan belajar theologi lagi. Setelah nggulo wenthah theologi Kristiani selama beberapa lama, akhirnya 26 Oktober 1938, Rebin Hardjosiswoyo ditahbiskan oleh 12 pendeta Jawa dan Belanda menjadi pendeta pertama GKJ Wates.

Melayani di GKJ Wates selama 26 tahun, Pdt. Rebin Hardjosiswoyo pensiun tahun 1964. Beliau kemudian pindah dari rumah pendeta GKJ Wates, kemudian menempati rumah pribadi di Kampung Tungkak, Yogyakarta, 12 April 1964.

GKJ Wates pada masa Jepang

Pada awal kedatangan Jepang, mereka disambut bak pahlawan, tak terkecuali di Kulon Progo. Lama kelamaan keadaan ini berubah drastis. Rakyat Indonesia ditindas dengan kejam, termasuk kehidupan GKJ Wates. Gedung GKJ Wates, sekolah Kristen dan Rumah Sakit Wates ditutup karena dianggap pro Belanda.

GKJ WatesPara pendeta utusan Belanda ditangkap kemudian dipulangkan ke Belanda. Beberapa diantaranya ditahan atau dikenal dengan istilah diinternir. Salah satu camp internir ada di Galur yang saat itu sering didera wabah malaria.

Perpisahan antara GKJ Wates dan para misionaris Belanda terjadi tahun 1943. Seluruh harta milik gereja diserahkan kepada GKJ Wates sebelum para misionaris dipulangkan ke Belanda atau masuk tahanan Jepang. Gereja, rumah sakit dan sekolah Kristen lumpuh. Tenaga guru, mantri dan perawat tidak digaji. Beberapa diantaranya memutuskan resign. Bahkan, perjamuan kudus yang semula menggunakan roti dan anggur harus disiasati menggunakan air teh dan apem. Mirip menu patehan.

HJS tunggal dene dibubarkan karena sekolah menggunakan pengantar bahasa Belanda. Waktu itu semua yang berbau Belanda dihapus. Diganti dengan kewajiban tiap rakyat menyanyikan lagu kebangsaan Jepang yakni Kimigayo, belajar bahasa Jepang dan menghormati bendera kebangsaan Jepang. Setelah HJS bubar lahirlah sekolah Kristen baru yakni Sekolah Rakyat Sempurna yang setara dengan Sekolah Rakyat Negeri. Bahasa sekolah yang digunakan bahasa Indonesia.

Kebangkitan GKJ Wates

Setelah masa kemerdekaan terjadi lagi peperangan yang kerap disebut Agresi Militer Belanda II. Keadaan ini membuat gereja berserakan. Wates mencekam seiring pembakaran yang dilakukan pejuang terhadap bangunan-bangunan karena dikawatirkan akan dimanfaatkan Belanda. Entahlah gedung GKJ Wates ikut dibakar atau tidak. Tidak ada data pasti yang menceritakan hal ini.

Peperangan berhenti sekitar tahun 1951. Keadaan perlahan membaik. GKJ Wates bersama gereja yang lain bersepakat untuk mendukung pemerintah Republik Indonesia. Jemaat bertambah banyak seiring sikap pemerintah yang positif terhadap seluruh umat beragama di Indonesia. 

Jemaat berjubel makin banyak. Gedung GKJ Wates tak mampu lagi menampung jemaat, karena itu gedung GKJ Wates dipugar, menambah bagian sayap kanan dan kiri. Bagian tengah masih asli seperti awal dibangun tahun 1930. Pemugaran dimulai tahun 1990 lalu selesai tahun 1991 yang diresmikan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

GKJ WatesTercatat beberapa pendeta pernah dan masih melayani di GKJ Wates. Mulai dari Ds. Pos yang merintis keberadaan gereja, Pdt. Rebin Hardjosiswoyo pendeta pertama, Pdt. Edi Trimodoroempoko, S. Th., Pdt. Ds. Isman, Pdt. R. Sri Hascaryo, S. Th., Pdt. Santosa Budi Harjono, M. Th., saat ini Pdt. Martinus Dwi Anggara, S.Th., dan Pdt. Adhika Tri Subowo, S.Si.

Yah, sejak dulu hingga kini, umat Kristiani membaur dengan umat agama lain di Kulon Progo. Bersama warga bahu-membahu membangun Kulon Progo. Seperti kata Gus Dur dan Gus Mus, tokoh NU yang memperjuangkan kebersamaan dan saling menghormati antar umat beragama, tak tepat jika kita kulino memperlakukan semena-mena orang lain hanya karena apa yang ia imani. Jangankan seseorang memiliki agama, ada yang menganggap gedang goreng bisa memunculkan mujizat sekalipun kita tak berhak mengucilkan mereka. Mari berdampingan. Mari ngeling-eling mantan. (sumber: Arsip GKJ Wates; foto: Arsip GKJ Wates dan Het zendingsziekenhuis Petronella)

Related Articles

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.