Sewu Galur dan Pabrik Gula Yogyakarta

Category: Ekonomi, Sejarah, Sosial 2,672 0


Terbatasnya  referensi dan sedikitnya saksi sejarah yang masih sugeng menjadikan riset terhadap masa lalu Kulon Progo begitu sulit. Sesulit apapun, keadaan ini tak menghalangi semangat membawa kembali sejarah Kulon Progo ke tempat yang lebih layak. Dari selatan Kulon Progo. Inilah Sewu Galur, pabrik gula yang besar pada masanya.

sewu galurSedikit demi sedikit data dikumpulkan, dicocokan dari segi waktu dan kebenarannya, kemudian dituliskan ulang agar masyarakat mendapat informasi apa yang sebenarnya terjadi di atas tanah yang kini dipijak. Masih tentang daerah yang kala itu disebut Tegal Boeret, lebih dikenal dengan sebutan Sewoe Galoer atau Sewu Galur dalam ejaan baru.

Kini Sewu Galur menjadi nama desa di Kecamatan Galur, tidak seluas dahulu. Letaknya persis di daerah dimana pabrik pengolahan gula Sewu Galur pernah berdiri. Pabrik gula menjadikan Sewu Galur terdepan dalam hal ekonomi di Adikarta. Disanalah pusat kehidupan ekonomi modern masyarakat Kulon Progo. Kehidupan modern bukan berarti menggunakan alat atau teknologi modern, namun lebih kepada familiarnya masyarakat menggunakan alat tukar berupa uang dan sudah banyak pekerjaan di luar bertani misalnya pedagang keliling, kelontong, kuli panggul, dan buruh pabrik. Masyarakat Galur tidak lagi bergantung pada hasil pertanian dan perkebunan, namun sudah mengenal sektor lain yang bisa menjadi sumber penghidupan.

Nadi kehidupan masyarakat Kulon Progo terlihat lebih jelas di Sewu Galur. Keberadaan pabrik gula Sewu Galur dengan administrator pabrik bernama Cosmus von Bornemman, seorang Belanda kelahiran Semarang, 18 Desember 1863, membuat perputaran uang menjadi sangat cepat. Daerah-daerah lain yang kala itu sudah cukup ramai sehingga ditinggali oleh orang Eropa serta etnis Tionghoa adalah Temon, Bendungan, Wates  dan Sentolo. Namun konsentrasi warga etnis asing di Kulon Progo terbanyak masih di daerah Sewu Galur.

Sewu Galur dengan segala potensi dari perkebunan tebunya adalah sebagian kecil dari keseluruhan komoditi Indonesia yang dibawa jauh ke Eropa. Selain karet dan rempah tentunya, tebu menjadi salah satu dagangan pemerintah Belanda yang laris manis di pasar Eropa, karena itu harga gula menjadi sangat mahal. Untuk menggenjot produktivitas olahan tebu, program Tanam Paksa tahun 1830 hingga 1850 dijalankan. Rakyat sangat menderita karena dipaksa menanam tebu di kebun-kebunnya. Sejujurnya rakyat tidak banyak diuntungkan dari bisnis ini. Tetapi itulah keadaannya, dari titik ini bermulalah geliat industri gula besar-besaran.

Awalnya, sekitar abad 15 industri pengolahan tebu dirintis dan dikuasai oleh etnis Tionghoa di pesisir utara Jawa. Sebelum akhirnya diambil alih oleh Belanda, baik melalui VOC maupun swasta, dengan kekuatan politiknya. Oleh masyarakat Tinghoa pengolahan tebu menjadi gula belumlah menggunakan peralatan yang modern. Industri kecil lah kalau bahasa ekonomi sekarang.

Di Yogyakarta, pengusaha menyewa tanah dari bangsawan kerajaan. Mulanya masyarakat etnis Tionghoa yang menyewa. Seiring berjalannya waktu tanah-tanah sewaan kemudian disewa oleh Belanda. Baik resmi dari pemerintah Belanda maupun melalui perusahaan swasta Belanda. Hasil dari menyewakan tanah dipergunakan oleh pihak keraton untuk memberikan sedikit imbalan bagi para abdi dalem. Untuk tanah Sewu Galur, Belanda menyewanya dari Kadipaten Pakualaman.

Serius menggarap gula

Belanda tenanan dalam mensukseskan pabrik-pabrik gula miliknya. Mereka membangun pabrik dengan bangunan dan peralatan produksi yang sangat modern di jaman itu. Paling mencolok ya pas bangun sistem transportasi kereta api guna mempercepat pengangkutan gula olahan dari pabrik menuju kota. Bahkan Sungai Progo yang derese ra umum bisa ditaklukan dengan membuat jembatan kereta. Meskipun pernah suatu kali koran Belanda memberitakan jembatan yang melintang di Sungai Progo bagian selatan ini ambruk diterjang banjir besar. Tak jarang pula pekerja jatuh ke sungai dan terseret arus.

Kereta api menjadi alat transportasi utama. Tahap permulaan diawali dengan pembangunan rel. Kala itu diprakarsai perusahaan swasta bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij, perusahaan yang pernah berkantor di bangunan yang kini dikenal sebagai Lawang Sewu, Semarang. Pesaing terberat Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij adalah Staatsspoorwegen, perusahaan milik pemerintah Belanda. Setelah kemerdekaan perusahaan ini kemudian dinasonalisasi dan berkembang menjadi PT. Kereta Api Indonesia.

Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij mulai beroperasi sekitar tahun 1867. Kota Semarang menuju Yogyakarta via Solo menjadi jalur utama kala itu. Seiring berjalannya waktu rel semakin banyak dibangun. Tidak hanya di Jawa Tengah namun juga di Bogor, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Mengingat pentingnya Yogyakarta pada peta perekonomian saat itu, bengkel NIS kemudian dipindah di Yogyakarta. Hingga kini bangunan bengkel dan rumah peninggalan pejabat NIS masih tersisa di daerah Pengok, dikenal dengan nama Balai Yasa.

Jalur kereta api lintas selatan Yogyakarta yang sekarang ketutup aspal dan beberapa relnya dijebol Jepang diresmikan tahun 1895 untuk menghubungkan Yogyakarta kota menuju Srandakan, disambung lagi ke Sewu Galur. Khusus jalur Sewu Galur diresmikan sekitar tahun 1915 sepanjang 28 kilometer. Pada jaman itu Sewu Galur memiliki stasiun yang kini lokasinya menjad gedung SMP N 2 Galur.

Mallaissme

Sayangnya terjadi penurunan perekonomian global secara drastis. Kejadian luar biasa ini dikenal dengan Mallaissme. Dimulai dengan jatuhnya bursa saham New York pada 24 Oktober 1929 dan puncaknya pada 29 Oktober 1929. Akibatnya perekonomian negara-negara industri maupun negara berkembang, termasuk perekonomian di Pulau Jawa hancur lebur.

Denah Pabrik GulaSebelum krisis ekonomi melanda, gula adalah penggerak utama kapitalisme di Jawa. Perekonomian kolonial berpusat di pulau Jawa karena ekspor gulanya yang melimpah. Setelah bencana ekonomi global, Pulau Jawa khususnya Yogyakarta, bukan lagi penghasil keuntungan, mengingat industri gula mengalami kemunduran drastis. Hanya tersisa beberapa pabrik di Bantul dan Sleman yang masih bertahan. Meskipun masih masih mencatatkan laba mengagumkan pasca krisis ekonomi, namun tetap saja tidak sebaik dahulu. Pabrik gula lain gulung tikar, termasuk pabrik gula Sewu Galur.

Anjloknya harga gula dan jumlahnya yang terlalu  banyak di pasaran menyebabkan terjadinya kesepakatan tentang perdagangan gula, Charbourne Agreement. Salah satu isi perjanjan itu mengatakan bahwa Pemerintah Hindia Belanda diharuskan untuk menggurangi  pasokan produksi gula  di Jawa dari sekitar 3 juta ton menjadi 1,4 juta ton pertahun. Pabrik gula makin merana. Semakin hari semakin ambles.

Kebijakan ini mengakibatkan pabrik gula di Yogyakarta kehilangan pasar. Biaya produksi menjadi tidak sebanding dengan penerimaan yang didapat. Akhirnya dari belasan pabrik gula di Yogyakarta hanya tersisa 8 pabrik yang mampu bertahan, seperti Pabrik Gula Beran, Pabrik Gula Medari, Pabrik Gula Tanjungtirto, Pabrik Gula Gresikan, Pabrik Gula Kedaton Pleret, Pabrik Gula Gondanglipuro, Pabrik Gula Padokan dan Pabrik Gula Cebongan. Sisanya harus tutup karena dirasa tak lagi menguntungkan.

Mbayangke jika saja saat itu ekonomi dunia tidak runtuh mendadak, bisa jadi Belanda akan benar-benar membangun pelabuhan di pesisir selatan Yogyakarta seperti yang sudah diwacanakan. Rencana itu sirna seiring nasib gula di Yogyakarta yang tak semanis dulu.

Maka tidak heran jika banyak makanan khas Yogyakarta memiliki cita rasa manis. Keberadaan belasan pabrik gula pada jaman itu menjadikan kultur masyarakat Yogyakarta sangat familiar rasa khas dari gula tebu. Itulah sebabnya banyak makanan khas daerah istimewa ini terasa manis di mulut dengan beragam olahan gula. Baik gula kelapa maupun gula tebu.

Sayang, cerita kejayaan pabrik gula Sewu Galur tak bisa bertahan lama seperti kuliner khas yang eksis hingga kini. Seiring berlalunya jaman, bangunan pabrik hancur, cerobong asap runtuh, rel tertutup aspal. Kereta tak lagi menyusuri jalan-jalan protokol perkotaan. Meskipun tersisa beberapa bangunan pabrik dan stasiun yang beralih fungsi menjadi bangunan lain, masyarakat seakan lupa jika di tanah yang dipijak, bercucuran peluh ribuan buruh gula yang menggantungkan hidup pada olahan tebu. Tidak lain, simbah simbah kita. (foto: Roemah Toea; Hari Kurniawan Hao Hao)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu