Wisata Kalibiru dan Kerja Keras Warganya

Category: Ekonomi, Pariwisata, Sosial 2,470 0


Pertama mendengar nama Kalibiru, hal pertama yang kami pikirkan adalah tempat yang basah layaknya kali atau sungai. Namun, bayangan itu hilang setelah jumpa langsung dengan lokasi Desa Wisata Kalibiru, Kokap, Kulon Progo. Jauh dari bayangan sebelumnya. Memang, Kalibayem tak lantas ditumbuhi rimbunan pohon bayam. Kaliurang juga tidak dipenuhi udang sebagaimana namanya. Wisata Alam Kalibiru salah satu yang terbaik di lereng Menoreh.

wisata kalibiru kokapTepat pukul 14.00 perjalanan menuju lokasi Kalibiru dimulai. Menggunakan mobil kami berangkat berselimut rasa penasaran. Bermodal google maps, petualangan dimulai  menuju Wates terlebih dahulu, ibukota Kabupaten Kulon Progo. Akses jalan menuju Wates terbilang cukup mudah, petunjuk arah sangat jelas dan kondisi jalan juga baik. Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit kami sampai di kota Wates, kota yang tenang dan ayem.

Dari sini kami berjalan ke barat melintasi RSUD Wates, yakni menuju arah Waduk Sermo, Kokap. Perjalanan menuju Waduk Sermo kurang lebih memerlukan waktu 30 menit. Sebagai salah satu andalan pariwisata Kulonprogo, akses jalan menuju Waduk Sermo sudah begitu baik.

Sampai di Waduk Sermo kami mengurangi kecepatan guna menikmati keindahan waduk. Waduk Sermo merupakan waduk terbesar di Yogyakarta yang dibangun pada masa Presiden Soeharto. Menurut cerita, di dasar waduk saat itu terdapat beberapa desa. Warga akhirnya dipindah ke tempat lain guna kepentingan masyarakat banyak. Jika kondisi air sedang surut sering kali terlihat sisa bangunan peninggalan warga di dasar waduk. Selain itu, hutan Sermo merupakan suaka margasatwa seluas 181 hektar yang selalu dijaga kelestariannya.

Keindahan Waduk Sermo seolah hanya pembuka dari keindahan yang sesungguhnya. Waduk Sermo makin meyakinkan kami akan bayangan mengenai Wisata Alam Kalibiru yang eksotis itu.

Saat menemukan pertigaan tepat di samping bibir waduk kami melihat petunjuk arah menuju Kalibiru mengarah ke atas bukit. Sempat bingung beberapa saat, kami tetap mengikuti petunjuk tersebut. Perjalanan semakin menantang karena akses jalan menuju Wisata Kalibiru bisa dibilang memacu adrenaline. Jika dibawa oleh pengendara mobil yang belum lihay bisa mbebayani karena ada tanjakan yang curamnya hampir 60 derajat. Hanya cukup dilalui satu mobil dengan berjalan perlahan. Harus perlahan, pertama karena medan yang memang menanjak dan kedua tentu menghormati warga sekitar sebagai wujud respek sebagai pendatang.

cottage wisata alam KalibiruSetelah melewati rintangan di awal sampailah di gerbang Wisata Alam Kalibiru. Dengan membayar biaya parkir mobil Rp 5000,- dan retribusi masuk Rp 3000,- kami siap menjajal pesona Kalibiru. Benar saja, sesaat setelah menghirup udara sejuk khas pedesaan, bayangan kali atau sungai hilang sirna. Kalibiru bukanlah kali dalam arti sebenarnya. Bukanlah sungai seperti yang beberapa saat lalu hinggap ngendon di pikiran kami. Ternyata lokasi ini jauh lebih menarik. 

Untuk menuju puncaknya pengunjung harus berjalan menanjak. Hawa dingin yang menyegarkan seakan menghapus kekecewaan terhadap penuh penat perkotaan. Hutan yang hijau menyegarkan mata, jalanan yang sepi memanjakan kami, rumah penduduk nampak asri dan juga ketenangan yang terjaga dengan baik. Tidak salah memang jika pengunjung kemudian berfikir untuk tinggal berlama-lama di sudut desa ini.

Secara geografis Kalibiru terletak di perbukitan Menoreh dengan ketinggian 450 mdpl. Lokasinya berada sekitar 40 km dari kota Yogyakarta dan 10 km dari Kota Wates. Berada di sisi barat Yogyakarta, Wisata Kalibiru dan jajaran pegunungan Menoreh memanjang sampai Kecamatan Kalibawang. Perbukitan Menoreh merupakan daerah gerilya Pangeran Diponegoro bersama pasukannya ketika melawan Belanda, sebelum akhirnya ditipu dan dibuang ke Sulawesi hingga meninggal disana. Seperti yang tertulis dalam buku berjudul Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, karya Peter Carey.

Wisata Alam Kalibiru, awalnya hanya tanah yang tandus karena menjadi korban penebangan liar. Memerlukan waktu puluhan tahun untuk mengembalikan Kalibiru menjadi asri, hijau dan sejuk seperti saat ini. Kerja keras dilakukan warga Kalibiru yang bersemangat mengembalikan desanya menjadi hijau dan asri seperti semula. Mereka kemudian mengecam penggundulan hutan.

Pembangunan Kalibiru dilakukan sebagai pemanfaatan jasa lingkungan atas dasar Izin Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan selama 35 tahun, terhitung sejak 14 Pebruari 2008. Dikembangkan bertahap dengan cara gotong royong, akhirnya Kalibiru berkembang menjadi salah satu primadona pariwisata Kulon Progo sehingga mendatangkan nilai tambah bagi warganya.

Batu Chris Bennet

Pernah suatu saat seorang peneliti sekaligus aktivis lingkungan berkebangsaan Kanada datang dan tinggal di Kalibiru selama beberapa bulan jauh sebelum Wisata Alam Kalibiru menjadi seperti ini. Dialah Chris Bennet, sosok yang dicintai dan tak terlupakan oleh warga Kalibiru. Saking ngecapnya Chris Bennet di hati warga, batu besar di puncak Kalibiru sepakat diberi nama dengan nama beliau oleh warga sekitar.

“Ketika alam dan manusia berkerja sama maka keduanya akan saling melengkapi bahkan menghidupi.” kata penjaga homestay yang juga warga asli Kali Biru. Memang, seperti ini seharusnya. Alam dan manusia harus saling menjaga.

wisata alam Kalibiru Kulon ProgoPuas berbincang dengan salah satu warga lokal, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Kalibiru. Puncak Kalibiru tidak terlalu tinggi namun sangat curam. Warga mempersiapkan desanya sebagai tempat wisata dengan matang, terlihat dari lengkapnya fasilitas seperti outbound, lokasi trekking, penginapan, cottage, warung makan, toilet, tempat parkir, akses jalan yang baik hingga wisata kuliner, kesenian serta budaya yang dapat dinikmati oleh pengunjung di satu lokasi yang sama.

Hampir sampai diatas puncak, suara teriakan histeris terdengar dari atas, membuat kami semakin penasaran. Sembari berjalan melewati pohon-pohon pinus yang tinggi kami melihat pemandangan alam yang sangat menyegarkan mata.

Sesampainya di puncak, kami melihat seseorang berjalan diatas kami, ternyata adalah terdapat banyak pengunjung sedang menikmati fasilitas outbound yang dipersiapkan oleh pemuda warga desa Kalibiru. Fasilitas Outbound ini terdiri dari berbagai macam rintangan, mulai dari trekking dengan fariasi jarak, jaring laba-laba, jembatan gantung, berjalan diatas tali dan yang membuat banyak pengunjung berteriak histeris adalah flying fox. Sangat memacu adrenalin karena terbang di atas ketinggian 450 mdpl, bayangke cobo, gimana gak asik.

Rasa penasaran membawa kami menuju ke lokasi outbound. Kami memulai rintangan pertama, berjalan di atas jaring laba-laba yang di bawahnya terbentang jurang. Selesai rintangan pertama kami mencoba berjalan di jembatan gantung kemudian berjalan di atas tali dari ketinggian.

Rintangan terakhir yakni rintangan yang paling mengagumkan, flying fox. Setelah diberi aba-aba oleh petugas, meskipun ndredeg dan agak kemropok, kami terbang di ketinggian 450 mdpl. Dua puluh detik yang terasa sangat lama. Melihat laut, langit, alam Kulon Progo dari ketinggian. Sensasinya luar biasa.

Sangat menegangkan namun tetap menyenangkan. Pengunjung tak perlu khawatir akan keamanannya. Semua peralatan yang digunakan telah disiapkan dengan baik dan sesuai standart yang ditetapkan secara umum.

Puas menikmati outbound kami menuju puncak. Duduk menikmati pemandangan sore dari atas Kalibiru. Datang saat matahari tenggelam atau terbit adalah waktu yang paling tepat untuk menikmati keindahan alam di Kalibiru bersama orang terdekat. Dari puncak, pengunjung dapat menikmati pemandangan perbukitan Menoreh. Birunya Waduk Sermo terlihat jelas dari atas. Waduk kebanggaan masyarakat Kulon Progo terlihat kecil.

Jika kondisi cuaca sedang bersahabat pengunjung dapat menikmati pemandangan deburan ombak laut selatan. Namun sayang, kondisi saat itu mendung dan kabut mulai turun. Sedikit menoleh kearah timur, pengunjung bisa melihat gemerlapnya lampu-lampu kota Yogyakarta pada malam hari dan padatnya bangunan perkotaan di siang hari.

spot foto wisata alam kalibiru sebelum booming
Di sisi barat puncak terdapat pohon pinus tinggi yang dijadikan gardu pandang. Pohon pinus terletak di pinggir jurang, dari pohon ini kita bisa merasakan hembusan angin kebebasan sembari menikmati pemandangan dengan lebih luas. Pohon ini menjadi ikon kawasan Wisata Alam Kalibiru. Maka jangan takut untuk naik keatas pohon dan menikmati hembusan angin dari papan kayu. Jangan khawatir, keamanan di spot ini juga telah sesuai standar.

Dari atas papan kayu kami menikmati ritual matahari yang hendak berganti dengan bulan. Di Puncak Kalibiru, tempat yang sesuai untuk menikmati kebersamaan bersama orang tersayang. Duduk bercengkerama, sambil meneguk segelas kopi panas melihat sorot matahari dengan cahaya emasnya yang mulai meredup. Jika tak kuat iman, kenangan masa lalu akan keputer secara otomatis. Kudu kuat iman.

Rasa penasaran terbayar tuntas. Bayangan akan Wisata Kali Biru yang basah hilang ketika sampai di gerbangnya. Puas menikmati Kalibiru kami bertolak menuju kota Yogyakarta, kami beranjak pulang. Harmoni alam dengan kearifan masyarakat terbukti menghasilkan kenikmatan bentang alam yang mempesona. Alam dan manusia dapat berdiri seiring sejalan, dapat berdiri saling menghidupi. Wisata Alam Kalibiru contohnya.

 

Related Articles

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.