Aroma Menggoda Kopi Sulingan Girimulyo

Category: Ekonomi, Sosial 699 0


Alam Girimulyo, Kulon Progo, jauh dari polusi dan bisingnya aktifitas perkotaan. Udara dingin nan sejuk menyapa kami setibanya di daerah dengan tanaman rindang. Terletak di dataran tinggi perbukitan Menoreh, suasana hening menghiasi perjalanan di Girimulyo. Kami menyambangi produsen kopi yang dikenal dengan nama Kopi Sulingan.

kopi sulingan girimulyoKopi Sulingan dihasilkan di Desa Jatimulyo. Desa yang sengaja kami datangi untuk mengesampingkan dulu aktifitas rutin yah supaya penatnya hilang. Lagipula bisa untuk mencari inspirasi lain, khususnya membuktikan cerita tentang nikmatnya Kopi Sulingan, kopi khas Menoreh.

Jatimulyo terletak di dataran tinggi perbukitan Menoreh. Masyarakat Kulon Progo konon menganggap Girimulyo sebagai surganya wisata Kota Geblek. Punggung Menoreh sendiri membentang di 3 kabupaten yakni wilayah Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Magelang. Uniknya, tiga kabupaten ini memiliki kesenian yang hampir identik yakni tarian Angguk.

Mungkin anggapan bahwa Girimulyo adalah surga wisata Kulon Progo ada benarnya. Berbagai obyek wisata alam di Kulon Progo memang banyak terdapat di kawasan Girimulyo. Yang menjadi primadona sebut saja Gua Kiskendo, Taman Sungai Mudal, dan Kedung Pedut. Sebenarnya Jatimulyo hanya salah satu dari 4 desa yang ada di Girimulyo. Diantaranya Giripurwo, Pendoworejo, Purwosari dan Jatimulyo tadi. Kalau mau dihitung jumlah RT disana sekitar 348 RT.

Perjalanan kali ini bukan untuk menikmati eksotisnya alam Girimulyo tetapi ingin mencicipi salah satu kopi varian lokal bernama Kopi Sulingan. Kopi industri rumahan yang dikelola langsung oleh warga Jatimulyo. Untuk warga Girimulyo sepertinya tidak asing dengan Kopi Sulingan, tetapi merk kopi yang masih dijual terbatas ini jarang terdengar bagi masyarakat Kulon Progo yang lain. Kopi memang tidak terlalu terdengar gaungnya. Belum semencuat geblek, durian atau manggis yang lebih dulu populer.

Saat tiba, kami disambut dengan hangat oleh Mas Kelik. Kelik merupakan salah satu pemilik tempat pengolahan Kopi Sulingan. Di rumahnya yang sederhana, biji kopi diolah menjadi Kopi Sulingan yang siap di minum. Maka tak heran banyak dijumpai biji kopi yang sedang dijemur bersebelahan dengan penjemuran cengkeh didepan halaman rumahnya.

Buah kopi berkualitas yang diolah menjadi Kopi Sulingan diperoleh dari sejumlah petani kopi di perbukitan Menoreh, Kulon Progo. Buah kopi yang dihasilkan tanah subur Menoreh dibeli saat masa panen tiba. Kelik bersama satu orang pegawai mengolah buah kopi menjadi bubuk kopi. Proses pengolahannya masih dengan cara tradisional di rumahnya.

kopi sulingan kulon progoSetelah bahan baku didapat, buah kopi disortir berdasarkan kualitas. Cara membandingkannya dengan memilih buah kopi yang sudah berwarna merah. Warna merah pada buah kopi menandakan buah ini bagus untuk diolah. Buah kopi kemudian digiling dan dipisahkan dari kulitny. Sebelum digiling buah kopi melewati proses fermentasi dengan direndam air bersih selama 8 jam. Setelah biji kopi terpisah dari kulit dicuci kembali hingga bersih kemudian dijemur di bawah terik matahari selama beberapa hari.

Biji kopi baru bisa dimasak atau masuk proses roasting ketika benar-benar kering. Terbatasnya alat yang ada di Girimulyo menjadikan proses roasting tidak dapat disaksikan. Proses roasting harus dilakukan di Kota Yogyakarta karena para pengusahan rumahan belum memiliki alat ini.

Perbincangan di rumah sang pembuat kopi semakin menarik. Kelik menuangkan wadah berisi biji Kopi Sulingan jenis robusta. Kopi diseduh dengan air panas yang kemebul, menambah sensasi nyaman tinggal berlama-lama di Jatimulyo. Sebuah desa asri yang dikepalai seorang dalang. Ki Anom Sucondro namanya. Yang sering nonton wayang pasti tau.

Dapat dikatakan Jatimulyo merupakan desa dengan tempat wisata paling banyak di Kulon Progo. Udara Jatimulyo berhembus menyebarkan harumnya aroma Kopi Sulingan. Rasa kopi yang nikmat dengan kekentalan yang pas. Ditambah sajian Geblek, makanan khas Kulonprogo, menjadikan paduan hidangan ini begitu istimewa. Seistimewa kamu pokoknya.

Burung Sulingan

Sulingan yang dijadikan merk kopi di Jatimulyo sebenarnya salah satu jenis burung yang banyak hidup di daerah Jatimulyo, Girimulyo. Burung Sulingan atau yang di tempat lain disebut Tledekan sering hinggap di pohon-pohon kopi. Inilah yang menjadi alasan mengapa kopi ini dinamakan Kopi Sulingan.

Sejauh ini Kopi Sulingan baru melayani konsumen dengan produk hasil grinder atau bubuk kasar. Semuanya dikemas dalam kemasan yang cukup praktis. Satu kemasan berisi 100 gram bubuk kopi dibagi berdasarkan jenis kopinya. Kopi Sulingan jenis Arabika dijual seharga Rp 30.000 dan Robusta dijual seharga Rp 15.000. Relatif terjangkau.

kopi sulingan

Kopi Sulingan belum memiliki kedai. Impian Kelik untuk memiliki kedai akan terus diupayakan olehnya. Dengan Kopi Sulingan ia berharap variasi kuliner di Kulon Progo menjadi lebih beragam dan suatu saat menjadi salah satu komoditi andalan guna menunjang banyak objek wisata di Girimulyo dan khususnya Kulon Progo.

Selama ini pengunjung yang ingin mencicipi Kopi Sulingan harus menghubungi dirinya terlebih dahulu, mengingat jalur yang ditempuh lumayan jauh dan ketersediaan kopi juga terbatas.

Bagi penikmat kopi produksi lokal, sangat disarankan mengunjungi tempat pengolahan Kopi Sulingan di Girimulyo, mencicipi kopinya dan jangan lupa membawanya pulang untuk dinikmati di rumah. Selain menikmati hangatnya seduhan kopi, pengunjung dapat berwisata di beberapa obyek wisata Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Kurang seru gimana Girimulyo. Ya kan? Ajak pacarmu kesini yah. Jangan pacarnya temen.

(Garis besar tulisan ini pernah dipublikasikan di CNN Student dan Detik Travel oleh penulis)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu