Hidup Mati Prennthaler Bagi Kalibawang

Category: Sejarah, Sosial 863 0


Membayangkan beratnya medan dan tebalnya vegetasi di sekitar Boro, Kalibawang, Kulon Progo, tahun 1920 an. Sangat sulit bagi siapapun untuk menembusnya, apalagi orang asing dari daratan Eropa. Sulit bagi mereka untuk berjalan mantap menyusuri lembah curam nan tandus. Belum lagi beradaptasi dengan kehidupan sosial budaya masyarakat Kalibawang. Kesulitan ini tidak lagi dirasakan Johannes Baptist Prennthaler. Seorang misionaris Katolik dari keluarga petani pegunungan, berkewarganegaraan Jerman namun berasal dari Tirol, Austria.

Menjadi orang asing dengan wajah Eropa yang tinggal di Hindia Belanda tahun-tahun itu tidaklah mudah. Tatapan curiga masyarakat lokal serta anggapan bahwa semua orang Eropa berwatak arogan layaknya penjajah kerap dialamatkan pada Prennthaler. Masih tak bergeming, ia tetap pada pendirian melayani masyarakat Kalibawang dengan kesungguhan hati.

Awal mula

Perjalanan hidup Romo Prenn di Kulon Progo, panggilan akrab yang warga Kalibawang sematkan padanya, bermula di Belanda. Pada 25 September 1920 berangkatlah kapal menuju daerah yang asing baginya, Pulau Jawa. Saat itu Prennthaler berusia 35 tahun. Sesampainya di Jawa, ia mulai berkarya sebagai misionaris di Mendut, sebuah kelurahan di Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Posisinya di utara wilayah Kulon Progo.

prennthaler kulon progoSesampainya di Mendut Prennthaler seakan memasuki dunia lain. Apa yang dilihatnya di Austria sama sekali tidak ditemukan di Mendut. Masyarakatnya, budayanya, makanannya, alamnya, gedungnya serba asing. Segala perbedaan yang ia lihat tidak menjadi beban. Justru menjadi hidangan menarik yang dinikmatinya satu sendok demi satu sendok.

Besar di Tirol yang berada di kaki Pegunungan Alpen membuat Prenntheler terbiasa menghadapi alam Kulon Progo yang ekstrem. Tak terhitung berapa kali ia mendaki Alpen. Di petualangannya yang baru di Pegunungan Menoreh, terangah-engah mendaki medan terjal bukanlah hal yang baru.

Bertahun-tahun menyambangi desa di seputar Mendut, Kalibawang dan Samigaluh, akhirnya perjuangan Prennthaler membuahkan hasil. Tahun 1923, tiga tahun sejak pertama dirinya berangkat ke Pulau Jawa, perjuangannya menghasilkan madu manis.

Kurang lebih 5 kali dalam satu bulan Prennthaler menyampaikan kotbah. Biasanya 4 khotbah dalam Bahasa Jawa dan 1 khotbah dalam Bahasa Belanda. Selama seminggu ia menyediakan waktu 16 jam untuk mengajar katekismus. Melayani sekitar 170 orang yang berniat melayangkan pengakuan dosa per minggu. Selain itu masih juga menyempatkan diri menjadi perawat mengingat saat itu sarana kesehatan sangat tidak memadai.

Prennthaler menjelajah desa demi desa. Bercengkerama dengan penduduk setempat untuk mengetahui keluh kesah setiap warga yang mayoritas berasal dari kalangan petani. Mengesampingkan lelah menjadi rasa akrab, Prennthaler melangkah menemui satu per satu warga di seputar Kalibawang.

Walaupun berdomisili di Mendut, Prennthaer telaten mengunjungi warga Kalibawang. Tahun 1927 menjadi buah awal dalam upaya pelayanannya di Kalibawang. Berhasil diadakan perayaan Ekaristi di Desa Jurang, Banjarasri, meskipun hanya diikuti 5 orang. Diantaranya Sokrama, Ronontani, Wongsoredjo, Jojoduryo dan Cokroredjo. Lima orang menjadi pioner misionaris awam di Boro.

Terbelit keadaan

Sekian lama bergaul dengan masyarakat Kalibawang, Prennthaler merasakan sesungguhnya warga begitu jujur dan baik. Kemiskinanlah yang menjadi penghalang kesejahteraan mereka. Sarana pendidikan dan kesehatan sangat minim. Ditambah kondisi lahan pertanian gersang sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk bertani atau berladang dengan maksimal. Bahkan lebih hasil panen mereka gagal.

Buku Pedibus Apostolorum, menunjukan data pada Juni 1924 sampai Agustus 1927 pernah terjadi kelaparan di Kalibawang. Untuk memperpanjang nafas keluarga, banyak warga terpaksa berhutang pada singkek dengan bunga 50% sampai 200%.

Singkek sendiri merupakan sebutan orang awam bagi seseorang yang meminjamkan uang dengan bunga sangat besar, tidak selalu etnis Tionghoa yang meminjamkan, bisa juga etnis Arab bahkan Jawa. Dalam memoar Prof. Dr. Han Hwie-Song: Dari Pecinan Surabaya Sampai Menerima Bintang Ridder In Orde van Oranje Nassau, sebutan singkek bermakna positif pada awal kemunculannya. Singkek menjadi sebutan bagi orang Tiongkok asli yang baru saja datang ke wilayah Hindia Belanda.

Selain meminjam ke singkek, warga Kalibawang juga meminjam ke bank desa dengan agunan yang tidak main-main. Pohon, ternak, rumah bahkan tanah dijadikan mahar agar bank bersedia menggelontorkan dananya. Tidak membaik, masyarakat Kalibawang malah berkubang dalam jerat hutang.

Kemiskinan semakin menjadi. Dampaknya semakin serius. Awal Februari 1927 terjadi kejadian luar biasa. Di kelurahan Tanjung, 30 orang meninggal akibat disentri yang mewabah. Prennthaler dengan pengalamannya menjadi perawat di Libanon membagikan obat disentri. Obat kimia masih menjadi benda asing bagi warga Kalibawang saat itu.

Pelan namun pasti beliau berkeliling membagikan obat-obatan. Pada fase ini beliau semakin mengerti bahwa upaya pewartaannya akan semakin sulit jika tidak ditopang keuangan yang cukup untuk mendukung masyarakat.

Pembangunan Sendangsono

Suatu ketika muncul gagasan membangun gua Maria yang berlokasi di Semagung, mengingat daerah ini 25 tahun sebelumnya menjadi titik dimana Franciscus Georgius Josephus van Lith melakukan baptisan Katolik pertama di Kalibawang. Lama dibangun akhirnya 8 Desember 1929 diresmikan dengan pemberkatan oleh Mgr. A. van Velsen SJ.

Perjuangan panjang menandai noktah pembangunan Sendangsono. Rintangan demi rintangan dilewati dengan kayakinan penuh akan kebermanfaatannya bagi warga Katolik Kalibawang. Cerita yang begitu fenomenal adalah ketika patung Bunda Perawan Maria yang baru sampai di Sentolo 16 September 1929, diangkat menuju Semagung. Prennthaler bersama rombongan pergi ke Sentolo untuk menjemputnya.

Menggunakan gerobak peti berisi patung dibawa dari Sentolo menuju Slanden. Slanden merupakan sebuah dusun di Banjaroya. Saat ini Slanden lebih dikenal sebagai dusun dimana kuliner iwak kali Mbah Juri yang kondang itu berada. Sesampainya di Slanden peti berisi patung dipikul 8 orang dewasa menuju Semagung selama 5,5 jam. Ikhtiar yang luar biasa mengingat medan begitu sulit. Akses jalan dari Sentolo menuju Kalibawang tak semudah sekarang. Jembatan Gantung Duwet kemungkinan besar belum difungsikan. Jalanan berkelok, curam, terjal bahkan tak ada kendaraan yang dapat membantu mereka.

Menetap di Boro

rumah sakit santo yusup kalibawangTepat 24 April 1930, Prennthaler mulai tinggal menetap di Pastoran Boro. Hidup bersama Romo F.X. Satiman, imam Jesuit pertama dari orang asli Indonesia. Beberapa bulan setelahnya yakni pada November 1930 mulai dibangun Gereja Boro yang bangunannya tetap menjulang hingga kini. Tak lama berselang, gereja dan pastoran Boro diberkati oleh Romo Jos van Baal pada 31 Agustus 1931. Wilayah pelayanan Gereja Boro saat itu mencakup Kalibawang, Samigaluh, Plasa dan Nanggulan.

Untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat, ide-ide cemerlang terus digulirkan. Muncul ide untuk membangun biara dan rumah sakit. Sebenarnya sejak September 1929 ide ini mulai diajukan ke Gubernur di Yogyakarta. Rakyat sekitar tidak keberatan terhadap inisiasi untuk membangun biara dan rumah sakit sehingga proses pembangunannya berjalan lancar. Peletakan batu pertama pembangunan tertanggal 14 Mei 1930 dan sedianya akan dioperasikan pada Desember. Baru pada 3 Januari 1931 Rumah Sakit Santo Yusup Boro diberkati Romo A. Van Kalken.

Ada cerita unik setelah pembangunan Rumah Sakit Santo Yusup. Satu minggu setelah dibuka rumah sakit langsung penuh pasien. Dari 30 tempat tidur yang disediakan, 25 diantaranya sudah menampung pasien rawat inap. Pasien hilir mudik setiap hari. Untuk itu seminggu sekali seorang dokter datang dari pusat kota Yogyakarta. Dua kali seminggu mobil berangkat ke Yogyakarta untuk mengambil perlengkapan mulai dari pakaian, makanan, obat dan alat rumah sakit.

Selain rumah sakit dan biara, diwacanakan pula oleh Prennthaler membangun sekolah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Boro dan sekitarnya, seperti yang dilakukan Van Lith di Muntilan, Magelang. Akhirnya beberapa sekolah berhasil didirikan, antara lain di Suwelo, Kerug, Hargogondo, Promasan, Sumoroto, Klangon dan Balong. Tidak berhenti disitu, para suster terlibat dalam pembangunan panti asuhan.

Tantangan dan rintangan

Tidak mudah menapaki hari demi hari menjadi pelayan. Selalu ada saja tantangan yang dihadapi. Tantangan yang mungkin paling gila bahkan hampir saja merenggut nyawanya adalah ketika Prennthaler diserang seseorang menggunakan kapak. Kejadian ini terekam pada surat kabar berjudul Het Nieuws Van Den Dag Vor Nederlandsch-Indie terbitan 27 September 1934.

Pada salah satu lembar Koran diberitakan bahwa terjadi upaya pembunuhan menggunakan kapak kecil. Bagian hidung, bawah telinga, bagian bawah hidung dan bagian klavikula terluka. Darah mengucur dari tubuh Prennthaller namun segera dibawa ke rumah sakit Santo Yusup dengan mendatangkan dokter dari Wates.

Masih dari Koran yang sama, pelaku penyerangan diidentifikasi bernama Djodirio, seorang katolik. Ia kemudian ditahan lalu dipindahkan ke barak polisi di lapangan Wates.

Sepeninggal Romo Prennthaler

Melayani setiap hari tanpa lelah, Prennthaler sempat berpindah ke Rawaseneng, Temanggung, pada 1 Agustus 1936. Disana ia bertugas sebagai pembimbing rohani. Medan Rawaseneng nampaknya lebih berat dibanding Kalibawang. Sayangnya Perang Dunia II meletus. Jepang kemudian berkuasa atas Indonesia. Status kewarganegaraannya yang berkebangsaan Jerman menyelamatkan dirinya dari upaya penahanan oleh Jepang. Lokasi pelayanannya di Rawaseneng ditutup. Ia kemudian pulang ke Kalibawang.

prennthallerKembali menghirup udara Kulon Progo yang sekian lama ditinggalkan memunculkan kembali semangat berlipat-lipat dalam benak Prennthaler. Saat ia sedang kembali menggeliatkan pelayanan di Kalibawang, pada 13 Oktober 1945, tiba-tiba muncul pengumuman bahwa setiap orang Eropa harus kembali ditahan atas perintah Pemerintah Republik Indonesia. Orang-orang Eropa akan ditahan di kamp interniran. Beruntung bagi Prennthaler, ia luput dari penangkapan dan tetap bisa beraktifitas.

Walaupun semangatnya tak terbantahkan, tidak bisa dibohongi bahwa raganya semakin menua dan lemah. Di akhir masa tuanya ia masih menyempatkan diri untuk memimpin ibadah. Seminggu sebelum meninggal aktifitasnya masih begitu padat. Sempat terjatuh dalam perjalanan menuju gereja, semangatnya tak luluh. Pada akhir pekan dirinya dirawat di Rumah Sakit Santo Yusup.

Keesokan harinya, hari Minggu ia tetap bersikeras untuk memimpin ibadah. Ia rindu untuk selalu tampil di depan ratusan umat yang telah berjalan begitu jauh untuk sampai Gereja Boro, Kalibawang. Saat itu malam menginjak 28 April 1946. Tubuhnya melemah dan Prennthaler dinyatakan meninggal. Dimakamkan lima hari setelahnya yakni pada 2 Mei 1946 di samping gereja yang begitu ia cintai.

Bagi masyarakat katolik seputar Kalibawang, Prennthaler adalah pahlawan. Pahlawan yang merintis kehidupan tak layak menjadi lebih baik dengan cara-cara kemanusiaan. Hingga saat ini masyarakat Katolik masih ramai berkunjung ke nisan Prennthaler. Mengingat dan menghayati kembali betapa besar pengorbanan Prenn bagi masyarakat Katolik Kulon Progo, khususnya warga Boro, Kalibawang. Selamat jalan Romo. Selamat hari pahlawan. (sumber: Buku Pedibus Apostolorum)

 

Related Articles

Tuliskan Komentarmu