Kereta Decauville di Jantung Kulon Progo

Category: Sejarah, Sosial 1,777 0


Kabar adanya rel kereta lori di Kliripan, Kokap, dan Sewu Galur, Galur, bukan lagi barang baru di Kulon Progo. Sebaliknya, sebuah kejutan besar jika di luar wilayah itu ternyata ada rel dan kereta berjenis lori atau biasa disebut kereta decauville. Keadaan ini terekam pada sebuah peta berangka tahun 1934. Menggambarkan keadaan topografi Kulon Progo lengkap dengan letak sekolah, rumah jagal, kantor, pompa air, pasar, rumah candu dan jalur rel kereta api.

kereta decauville kulon progoKereta lori atau yang biasanya disebut decauville ternyata pernah lalu lalang di pusat kota Wates. Masih misterius apakah digunakan hanya untuk mengangkut hasil bumi dan tambang atau juga digunakan sebagai alat transportasi. 

Jenis gerbongnya berbeda. Gerbong untuk mengangkut hasil bumi yang umumnya tebu akan berbeda dengan gerbong yang digunakan untuk mengangkut hasil tambang. Apalagi gerbong pengangkut manusia. Lebih mencolok lagi perbedaannya.

Jalur kereta decauville di Wates waktu itu bermula dari Stasiun Wates kemudian terhubung ke Stasiun Sewu Galur dan Stasiun Pasar Kranggan. Saat itu jalan propinsi simpang lima Karangnongko belum ada. Tahun 1934 jalur utama yang digunakan masih jalan yang sekarang memanjang ke arah depan stasiun itu.

Pusat kota Wates masih seperti sekarang yakni berpusat di daerah Kelurahan, Driyan, Pasar Wates serta Alun-alun Wates. Jalanan di seputar Rumah Dinas Bupati Kulon Progo masih seperti saat ini. Sedikit ke arah timur menuju lokasi yang kini menjadi Kantor Kecamatan Pengasih, di sebelah timurnya ada jalan yang tembus di Derwolo. Jalan ini kemudian dikembangkan menjadi seperti sekarang sekitar 8 tahun lalu bersamaan dengan dibangunnya jembatan baru.

Rumah madat

Di sisi selatan Pasar Wates, selatan Pasar Bendungan, selatan Pasar Pripih, dekat Kantor Kecamatan Panjatan dan Wonopeti selatan Pabrik Gula Sewu Galur ada juga opiumverkoopplaats atau rumah penjualan candu. Rumah madat biasanya terdiri dari bilik-bilik yang digunakan penikmatnya untuk mengisap candu. Ya sekilas mirip warnet.

Cara menghirupnya menggunakan alat sejenis pipa yang dinamakan bedutan diteman lampu minyak. Keduanya menjadi satu set. Bedutan dibuat dari bambu yang di atasnya terdapat wadah meletakan candu berbentuk bola. Candu bersama tembakau dan sirih diletakan pada tempat itu. Kemudian dibakar di atas lampu minyak. Asap yang ditimbulkan dari hasil pembakaran kemudian dihirup.

Candu seperti cimeng atau bahkan narkoba yang efeknya bisa membuat pemakainya seperti melayang dan berhalusinasi. Nglindur kesana kesini. Yang tadinya punya setumpuk masalah konon jadi lupa sejenak. Perdagangan candu dimonopoli oleh Pemerintah Hindia Belanda. Candu menjadi salah satu komoditi unggulan untuk mengeruk keuntungan. Aktivitas monopoli dipercayakan kepada pedagang Tionghoa, dengan syarat harus membayar pajak sebagai konsesinya. Rumah madat biasanya ditemukan dikawasan dekat Pecinan dan dekat pasar.

Menghirup asap candu pada jaman itu lazim seperti halnya rokok saat ini. Masyarakat dianjurkan tidak menghisap candu karena menyebabkan kesehatan menurun dan boros secara finansial, namun anehnya tetap saja laris didatangi. Sama seperti fenomena rokok di era modern. Bahkan di beberapa arsip, tubuh para penghisap candu atau dalam bahasa Belanda disebut opiumschuiver biasanya kurus kering sampai terlihat tulang dadanya.

Pompa air

Di wilayah selatan Kulon Progo tahun itu masih banyak terdapat waterpompstation atau pompa air. Yang terdekat dengan Wates kini ada di barat Koramil Panjatan di sisi selatan jalan. Tidak diketahui pasti untuk apa pompa air ini. Apakah untuk pengairan atau justru dipasang untuk mengeringakan lahan?

kereta decauville watesDaerah selatan Kulon Progo saat itu memang banyak terdapat rawa, sehingga Rumah Sakit Petronella Sewoe Galoer didirikan untuk mengatasi wabah malaria karena perkembangan nyamuk begitu pesat. Dalam sebuah surat kabar terbitan Hindia Belanda tahun 1900 an sempat diberitakan bahwa pemangku jabatan di Adikarta saat itu mengimpor kincir angin dari Belanda. Pertanyaannya, apakah kincir angin yang dimaksud adalah waterpompstation? Perlu penelitian lebih lanjut.

Jalur kereta

Berdasarkan peta tahun 1934 yang menggambarkan topografi Wates, Pengasih, Galur dan sebagian Sentolo memperlihatkan jalur kereta decauville bermula dari Stasiun Wates kemudian memanjang di sebelah timur jalan arah ke selatan. Melewati perempatan Pasar Wates ke arah Giripeni.

Di daerah yang kini disebut Karangnongko rel kereta menyeberangi jalan dan berpindah ke sisi barat, sebelum akhirnya menyeberang ke sisi timur lagi. Selanjutnya jalur decauville menyeberangi Jembatan Putih. Di daerah Sideman ini berdiri Zendingsshool, sebuah sekolah milik misionaris Kristen. Lokasinya di daerah yang kini berdiri toko mebel. Sedikit ke selatan di sebelah barat berdiri abattoir. Abattoir dikenal sebagai rumah jagal, yakni lokasi penyembelihan sapi, kerbau, ayam dan sebagainya untuk diolah menjadi daging. Jalur kereta decauville ada di timur jalan. Mlipir melewati Cangkring menuju perempatan Nagung lalu berbelok ke timur.

Dari Perempatan Nagung jalur kereta decauville mengarah ke timur dan berbelok ke selatan di daerah yang kini ada bekas pom bensinnya, tau kan? Setelah itu menuju keselatan. Nah sesampainya di daerah yang kini berdiri GKJ Wates Selatan jalur kereta menyabang.

Percabangannya satu ke arah timur, satu lagi ke arah selatan. Jalur decauville yang ke arah timur melewati daerah Kemendung. Jalur yang ke arah selatan lurus menuju daerah Kanoman Kulon lalu nanti berbelok ke timur menuju arah Sewu Galur. Akhirnya kedua jalur akan bertemu di daerah Gelaran. Gelaran saat itu sudah termasuk wilayah Sewu Galur tapi sekarang masuk wilayah Bugel.

Masih di peta yang sama, setidaknya ada tiga pemberhentian kereta decauville di daerah Sewu Galur. Dua di komplek pabrik gula legendaris Sewoe Galoer yakni Halte Sewoe Galoer dan Stasiun Sewoe Galor. Satu lagi di daerah Kranggan yang pada peta disebut Stasiun Pasar Kranggan.

Kereta Decauville

Decauville sebenarnya nama seseorang yakni Paul Decauvile. Seorang Prancis yang mengembangkan industri perkeretaapian pertama di negaranya. Tahun 1875 pabriknya mulai memproduksi rel kereta api. Sehingga pada akhirnya nama decauville digunakan seperti nama semua pasta gigi yang kita panggil Pepsodent atau nama semua air minum yang disebut Aqua.

Pada peta yang baru saja ditemukan ini terungkap pula jalur kereta decauville dari Halte Pakualaman menuju Kliripan, melewati daerah Nganjir dan berakhir di daerah Kembang. Sebelah daerah di utara agak ke barat dari Kopat atau RSUD Wates. Sungguh fakta yang mencengangkan mengingat daerah itu berbukit-bukit. Memang ada sih kereta decauville yang dioperasikan dengan cara didorong, mungkin menyesuaikan medan. Kemudian bongkar muatan dengan menuangkannya disuntak ke samping, jadi bagian bak gerbong akan miring. Hal ini menguatkan dugaan bahwa goa yang ditemukan awal September 2016 di Ngruno, Karangsari, Pengasih, ini memang bekas aktivitas tambang mangan.

Bagi yang hobi menelisik sejarah kereta api, kereta decauville sebenarnya tidak asing. Istilah yang umum digunakan bukan decauville, melainkan kereta lori. Kereta lori biasa dipakai mengangkut hasil perkebunan, pertanian dan tambang. Di sekitar Kliripan ke barat dan utara, kereta lori digunakan untuk ngusungi mangaan naik turun bukit menuju halte Pakualaman. Bentuknya seperti bak mandi besar dengan ukuran bervariasi. Menyesuaikan kondisi alam di tempat tersebut.

Gerbong decauville berbeda dengan gerbong kereta pada umumnya. Ukurannya lebih kecil dan tidak terlalu berat. Beberapa tidak memiliki rem atau hanya mengandalkan rem dari lokomotif. Beberapa diantaranya dilengkapi rem yang tidak terkoneksi langsung dengan lokomotif. Cara menggunakannya seperti memutar setir mobil.

kereta lori kulon progoKereta decauville yang digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan dan tambang erat kaitannya dengan masyarakat kelas bawah. Di lapisan besi kereta ini tetesan peluh pekerja menandai zaman sewa tanah oleh para pengusaha bermodal besar.

Berat kereta decauville bermacam-macam tergantung model dan jenisnya. Umumnya sekitar 700 kg sampai 850 kg. Gerbong seberat itu dapat mengangkat tonase mencapai sekitar 7 ton. Apabila ditarik lokomotif kecepatannya dapat menyentuh angkat 40km/jam. Agak sedikit lambat jika dibandingkan kecepatan maksimal motor pitung dengan mesin asli yang masih terjaga.

Saat ini rel kereta decauville di Kulon Progo hampir tak berbekas. Di Wates sudah bersih, tidak seperti di Bantul yang masih ada beberapa. Di Sewu Galur sepertinya lenyap. Hanya tersisa di Kliripan dan Kriyan. Bahkan ada rel lori yang kini digunakan sebagai tiang sumur oleh warga Kliripan. Gakpapa sih asal gak buat nyegat mantan pacar yang liwat tanpo nglakson. (sumber: www.jalanbaja.wordpress.com; foto: www.farm6.static.flickr.com, www.universiteitleiden.nl)

Related Articles

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.