Riwayat Masa Jaya Stasiun Kalimenur

Category: Sejarah 1,066 0


Sebelum ngomongin Stasiun Kalimenur, kami mengucapkan selamat Idul Fitri, mohon dimaafkan kalau ada salah kata atau perbuatan yang pernah kami lakukan. Memanfaatkan suasana Lebaran biasanya diadakan banyak reuni. Reuni kali ini agak lain, mengenang digdayanya Stasiun Kalimenur, Sentolo. Stasiun tahu yang sekarang merana tetapi sibuk pada masanya.

stasiun kalimenurStasiun Kalimenur terletak kurang lebih 250 meter dari tepi jalan propinsi daerah Sukoreno, Sentolo. Menuju Stasiun Kalimenur pengunjung harus masuk melalui mulut gapura kecil. Dari kejauhan berdiri bangunan yang terlihat rapuh tidak terawat. Genteng berlubang, tembok keropos dan penuh coretan vandal pilok.

Setidaknya ada enam stasiun di Kulon Progo yang pernah tercatat dokumen sejarah. Antara lain Stasiun Wates, Stasiun Sentolo, Stasiun Kedundang, Stasiun Kalimenur, Stasiun Sewu Galur dan Halte Pakualaman. Khusus Stasiun Sewu Galur dan Halte Pakualaman bangunannya sudah tidak berbekas. Lenyap ditelan masa lalu.

Awal dan akhir stasiun

Segala kenampakan di Stasiun Kalimenur sekarang, berbanding terbalik dengan kondisi lima puluh tahunan lalu. Saat itu Stasiun Kalimenur dan Stasiun Kedundang masih menjadi dua stasiun terbesar di Kulonprogo. Stasiun Wates, Stasiun Sentolo, apalagi Halte Pakualaman, masih kalah besar dan kalah riuh dibanding kedua stasiun ini.

Pernah jadi sasaran bom oleh Belanda, stasiun Kalimenur tetap kuat, bertahan sampai akhirnya tidak lagi difungsikan sekitar tahun 1974. Hampir bersamaan dengan dilengserkannya peran Halte Pakualaman, Kokap, yang letak persisnya di utara rel kereta api wetan Pasar Cikli, Temon.

Menurut beberapa sumber, Stasiun Kalimenur dirintis sekitar tahun 1876 sampai 1888 waktu pembangunan jalur rel dari Surabaya menuju Cilacap berlangsung. Belum diketahui pasti perusahaan mana yang membangun Stasiun Kalimenur.

Bisa jadi Nederlands-Indiesche Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api pertama di Hindia Belanda. Gedung Lawang Sewu, Semarang, pernah jadi kantor perusahaan milik swasta ini. Perusahaan lain yang kemungkinan menjadi pemilik sah Stasiun Kalimenur adalah Staatsspoorwegen. Perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda. Berdiri belakangan, perusahaan ini dinasionalisasi, jadilah cikal bakal PT. Kereta Api Indonesia saat ini.

Halte Pakualaman

Hukumnya tanggung kalau ngomongin Stasiun Kalimenur tanpa ngutik-utik Halte Pakualaman. Buat warga Kokap dan Temon, Halte Pakualaman menyimpan kenangan tersendiri. Bukan karena bangunannya tak lagi bersisa, tetapi karena Halte Pakualaman menjadi satu-satunya tempat menumpuk batuan mangaan dari lokasi tambang Kliripan, Kokap, menggunakan lori.

Halte Pakualaman disebut halte, bukan stasiun, mungkin karena bangunannya tidak terlalu besar. Tidak sebesar Stasiun Kedundang dan Stasiun Kalimenur. Anggapan ini bisa jadi salah karena tidak ada data konkret, termasuk dari para saksi yang pernah menggunakan Halte Pakualaman .

Bangunan Halte Pakualaman berbentuk balok dengan ukuran kira-kira 6 x 4 meter seperti stasiun lawas pada umumnya. Bangunan utama dibagi menjadi dua ruangan. Ruangan pertama semacam kantor sekaligus tempat pembelian tiket dengan jendela tiket di bagian dalam.

Ruangan kedua di Halte Pakualaman digunakan menjadi ruang tunggu dengan tiga kursi panjang mepet di ketiga sisi dinding yang terbuat dari kayu. Disanalah para penumpang yang sebagian besar pedagang dan pelajar menanti kereta bumel. Satu hari penuh ada empat kali jadwal keberangkatan kereta dari Halte Pakualaman. Dua kali kereta penumpang. Dua kali pula sepur grenjeng berhenti. Semuanya pagi dan sore.

Ada bangunan lain di timur Halte Pakualaman. Ukurannya lebih kecil, dipakai sebagai ruang signal kedatangan dan keberangkatan kereta. Dua bangunan lain terdiri dari gudang sebagai tempat menyimpan mangaan sebelum dibawa keluar kota dan rumah dinas pimpinan halte. Di depan stasiun ada satu penjual makanan di bangunan yang disebut emplek-emplek kayu. Waktu itu tidak banyak penjual makanan. Masyarakat lebih memilih makan di rumah daripada beli makanan di luar.

stasiun kalimenurLalu apa spesialnya Halte Pakualaman diabanding stasiun lain di Kulonprogo? Halte Pakualaman memiliki rel kereta lori yang nyambung di sisi timur halte. Rel ini menembus hutan desa menuju Kliripan, Kokap. Pekerja tambang naik lori saat membawa mangaan turun. Setelahnya lori didorong kembali menuju Kliripan.

Rel lori sebenarnya banyak menjalar di Galur dan Lendah. Sayangnya bekas Stasiun Sewu Galur dan kemana saja relnya tidak banyak yang tau selain sebuah peta yang kini disimpan di Kantor Desa Sewu Galur.

Stasiun Kalimenur sibuk pada masanya 

Kalimenur beruntung memiliki stasiun. Beruntung karena saat itu kereta api masih menjadi moda transportasi yang dapat menjangkau daerah lain dengan cepat dan harganya terjangkau.

Jalan menuju Stasiun Kalimenur tahun 1970 an masih aspal rusak dengan batuan yang tengpendusul. Musim panas jalanan seperti sungai kering. Saat hujan turun jalanan berubah jadi kubangan lumpur. Meskipun sekarang masih nggronjal, kondisi ini jauh lebih baik dibanding puluhan tahun lalu.

Terkenal dengan julukan stasiun tahu, Stasiun Kalimenur sebenarnya bukan tempat dimana tahu itu diolah. Lokasi pengolahan tahu yang dijajakan puluhan warga dengan naik kereta dari Stasiun Kalimenur ada di Tuksono, Sentolo. Mereka naik kereta menjajakan tahu bersama pedagang dari daerah lain yang menjual nasi bungkus, beras, buah-buahan dan makanan kecil.

Tahun lalu masih ada beberapa orangtua yang pernah menggunakan Stasiun Kalimenur di masa mudanya. Beliau datang ke Kalimenur bermaksud membeli tahu yang dulu pernah ia beli. Ya begitulah, saking terkenalnya, banyak orang mengira Kalimenur sebagai tempat dimana tahu itu dibuat.

Di depan Stasiun Kalimenur ada rumah pimpinan stasiun yang sampai sekarang masih terawat. Posisi tepatnya agak nyamping ke barat. Selain itu, sama seperti kebanyakan stasiun lain, di timur Stasiun Kalimenur juga ada ruang signal dan toilet yang sekarang sudah ambruk. Spotnya tertutup vegetasi nggrumbul.

Bagian lain yang ada jendelanya dipakai untuk melayani pembelian tiket kereta bumel dan kereta kuda putih. Salah satu penjual tiket terakhir yang pernah bekerja di Stasiun Kalimenur masih ada. Ketika artikel ini ditulis beberapa minggu lalu beliau sedang sakit. Beliau adalah Pak Soeharto warga Kalimenur.

Pak Soeharto tahun 1970 an menjual tiket kereta Bumel berbahan bakar kayu atau areng setengkul dan kereta kuda putih yang bentuknya mirip Prameks tetapi hanya terdiri dari dari satu gerbong. Menggunakan kereta bumel berarti harus siap mambu sangit karena asap hasil pembakaran tertiup ke belakang. Kalau sekarang mungkin bisa diakali pakai parfum, kalau dulu ya pasrah-pasrah aja.

Jenis tiket yang dijual ada yang berjenis abonemen atau satu tiket untuk beberapa kali keberangkatan. Jadi satu tiket itu dipakai untuk satu minggu atau sebulan karena banyak penumpang yang memang rutin pulang pergi ke Kutoarjo atau Yogyakarta. Ada juga yang satu tiket untuk satu keberangkatan saja.

stasiun tahuMenurut cerita dari beberapa sumber yang pernah menggunakan Stasiun Kalimenur, di bagian dalam Stasiun Kalimenur waktu itu terdapat bipet kecil milik penjual minum teh dan camilan seperti peyek, tahu dan tempe. Persis di bagian depan stasiun ada bangunan kecil seperti teras yang menjorok keluar sekitar 2 meter ke depan. Apes bagi generasi pokemon yang tidak bisa melihat, bangunan ini rusak lebih dulu.

Bangunan utama Stasiun Kalimenur menggunakan struktur hasil rancangan arsitektur Belanda dengan besi dan paku yang begitu kuat. Pernah suatu kali saat merenovasi stasiun, ada pekerja menculat jatuh terjerembab ke tanah karena tidak kuat mencabut paku yang menancap di atap stasiun.

Cerita mistis

Biasanya, bangunan tua yang tidak terpakai diidentikan dengan cerita horor. Kesan angker tak bisa disangkal dari bangunan Stasiun Kalimenur. Cerita yang berkembang di sekitar stasiun pernah ada penampakan noni dengan setelan baju keturunan Belanda. Setelah didekati sosok perempuan itu menghilang. Saat Suro kadang terdengar suara orang menangis dari dalam stasiun. Menurut beberapa warga fenomena ini tidak sampai mengganggu warga sekitar.

Pernah jaya di masa lalu, Stasiun Kalimenur dan banyak stasiun lain di Kulon Progo menanti untuk diungkap. Sehingga generasi mendatang semakin mengenal dan semakin bangga menjadi bagian dari sebuah daerah yang kita sepakati bernama Kulon Progo.

Related Articles

Tuliskan Komentarmu