Terpisah Jauh, Kulon Progo di Suriname

Category: Sejarah, Sosial 3,310 4


Waktu itu seorang kawan nemu video unik yang membuat seantero kontrakan kemekelen. Maklum ada dua sosok bertubuh tinggi besar sekilas seperti orang Afrika berkulit hitam bernyanyi menggunakan bahasa Jawa. Liriknya menceritakan proses orangtua mereka mencangkul lahan untuk ditanami kimpul. Dengan segala hormat, inilah video dari Suriname. Sebuah negera di Amerika Selatan yang merdeka tahun 1975. Soal Suriname, sedikitnya 316 warga Kulon Progo tercatat pernah berlayar ke Suriname menjadi buruh kontrak perkebunan, pertanian dan tambang.

downloadKeberangkatan puluhan ribu warga Jawa, termasuk Kulon Progo, selama kurun waktu empat puluh sembilan tahun dari 1890 sampai 1939 ke Suriname dilatarbelakangi pelarangan perbudakan di Belanda. Sistem yang berubah memaksa pengelola perkebunan, pertanian dan pertambangan Belanda memutar otak untuk mendapatkan pekerja. Ide merekrut pekerja dengan upah murah menyeruak. Hasilnya, impor pekerja dari negeri jajahan dicoba. Ternyata berhasil.

Kisah tentang banyaknya keturunan Jawa di Suriname bukan barang baru. Ribuan warga keturunan Jawa yang merupakan anak cucu pekerja kontrak kini menetap di Suriname. Orangtua mereka ada yang memilih tinggal ada pula yang terpaksa tinggal di Suriname sampai akhir hidupnya. Di Suriname sendiri ada 5 lima kelompok masyarakat besar, antara lain Boeroes yakni keturunan petani Belanda, Jawa, Suriname, Negro, Tionghoa dan Hindustan. Selebihnya keturunan hasil perkawinan silang di antara kelompok besar tersebut.

Sejarah mencatat sedikitnya 316 warga Kulon Progo pernah hijrah kesana sejak tahun 1905 sebagai pekerja kontrak. Berangkat sebagai pekerja kontrak di pertambangan, pertanian dan perkebunan dengan upah murah. Banyak dari mereka kemudian pulang selepas kontrak habis, ada pula yang bertahan. Menetap sebagai warga negara Suriname dan Belanda. Dua pilihan kewarganegaraan yang secara umum dipilih oleh pekerja yang tidak pulang kampung atau terpaksa tidak pulang kampung.

Dalam sebuah kesaksian, ada seorang gadis 13 tahun berasal dari keluarga miskin yang menceritakan kehidupannya. Saat gadis ia berangkat ke Suriname diam-diam. Dialah Mbok Pantono, aslinya warga Sabontoro, Tulungagung, Jawa Timur. Berangkat ke Suriname dari Jakarta ia kemudian menjadi sangat kesepian di Suriname. Ia terperdaya rayuan perekrut yang menjanjikannya kehidupan yang lebih layak di Belanda. Saat usianya masih sangat muda beliau Mbok Pantono harus bekerja membanting tulang layaknya orang dewasa.

Seluruh pekerja rata-rata memiliki tantangan yang sama, antara lain usia muda yang harus dipekerjakan di sektor yang menuntut aktivitas fisik berlebih, penculikan, cemoohan dari atasan, diskriminasi, kerja keras dengan jam kerja yang tidak menentu lengkap dengan sedikitnya upah dan fasilitas serta keadaan alam yang sangat berbeda dengan Indonesia. Inilah yang di kemudian hari menguatkan mereka menjadi komunitas yang tangguh.

Datang ke negeri jauh

Pelayaran perdana warga Jawa berangkat dari pelabuhan di Batavia pada 21 Mei 1890. Pada keberangkatan yang lain ada pula pekerja diberangkat dari Pelabuhan Semarang. Menggunakan kapal besar, rombongan pertama menempuh jarak ribuan kilometer selama 70 hari. Kemudian menginjakan kaki pertama kalinya di Paramaribo, ibukota Suriname pada 9 Agustus 1890.

kapal menuju surinameTidak ada warga Kulon Progo yang ikut pada pelayaran pertama saat itu. Kebanyakan didominasi warga asli Surakarta. Baru tahun 1905 ada 3 warga Kulonprogo yang datang kesana. Disusul 1 orang di tahun 1909 kemudian berlanjut 7 orang di tahun 1912. Setelah itu bertahap menjadi 316 orang sampai tahun 1939.

Rombongan pertama yang merasakan pasir Suriname tahun 1890 sebanyak 94 orang. Terdiri dari 62 pria dan 32 perempuan. Mereka ditempatkan di barak-barak perusahaan gula Marienburg. Beberapa diantaranya bahkan berstatus suami istri dan anak-anak. Tentu yang sudah bersama suami atau istri membuat pekerja yang lain meri.

Dari keseluruhan imigran yang datanya berhasil diarsipkan, secara urut daerah yang mengirimkan pekerja terbanyak adalah Kedu, kemudian Yogyakarta, Surakarta dan daerah Banyumas. Total keseluruhan dari 4 daerah ini menyumbang hampir 50% pekerja dari seluruh pulau Jawa.

Tepat 9 Agustus 1890 imigran Jawa menatap langit Suriname untuk pertama kalinya. Mungkin karena itu setiap tanggal 9 Agustus diperingati keturunan Jawa di Suriname sebagai The Day of Wong Jowo. Mengenang nenek moyang. Mengenang simbah buyut yang bersusah payah menjaga kehidupan bagi generasi selanjutnya. Nggo pengeling-eling nek awakdewe isih wong Jowo.

Dari data yang diperoleh tidak ada warga Kulon Progo yang ikut pada pelayaran pertama tahun 1890. Hal ini bisa diperdebatkan karena sejarah tidak menutup kemungkinan berubah seiring ditemukannya data dan fakta baru.

Sayangnya setelah beberapa minggu riset kecil-kecilan dilakukan, kami tidak menemukan keluarga keturunan Kulon Progo yang kini menetap di Suriname. Pun demikian dengan warga Kulon Progo yang telah pulang dari Suriname seusai kontrak habis. Mungkin suatu saat cerita ini akan terungkap.

Tahun 1912 tercatat 7 warga Kulonprogo datang ke Suriname. Sebenarnya ada 3 warga Kulonprogo yang sudah sampai di Suriname tahun 1905 namun data diri mereka tidak lengkap. Sejumlah warga Kulon Progo yang pernah menantang hidup di negeri asing diperkirakan tidak hanya yang tercatat di database pemerintah Suriname. Mungkin masih banyak warga Kulonprogo dan Jawa pada umumnya berangkat ke Suriname namun belum terungkap profilnya.

Dari total pekerja Kulon Progo yang datanya berhasil diunggah, 160 orang diantaranya merupakan pekerja pria dan 156 orang pekerja perempuan. Kebanyakan warga Kulonprogo dan pekerja dari daerah lain memutuskan pergi ke Suriname saat masih muda.

Inilah yang jadi pertanyaan. Mengapa mereka berangkat ke negeri yang sangat jauh dengan usia semuda itu? Pekerja Jawa yang memutuskan berangkat konon terperdaya dengan janji-janji manis sang perekrut. Ada juga pekerja yang ingin mengadu nasib di negeri asing karena tuntutan ekonomi. Bahkan muncul pula alasan hendak melarikan diri dari tuntutan hukum karena telah melakukan tindakan kriminal dan sebagainya.

Banyak alasan yang mendasari kepergian simbah-simbah kita ini. Mereka menggunakan jasa kantor perekrut pekerja kontrak. Kantor ini ada di Jakarta, yakni Nederland Trading Company. Selain di Jakarta ada juga kantor perekrut yang berada di Semarang, beserta banyak marketing sekaligus perekrut yang berkeliling dari desa ke desa mencari pekerja.

download (1)Perusahaan melalui agen yang ditugaskan merekrut pekerja mendapatkan upah cukup banyak. Karena itu perekrut tidak ragu memberi informasi palsu kepada pekerja dan dengan metode yang tidak baik untuk dapat meyakinkan calon pekerja.

Dari tahun 1890 saat rombongan pertama sampai di Suriname, sampai tahun 1939 dimana rekrutmen dihentikan, terdapat sekitar 32956 orang yang telah berangkat ke Suriname. Dari data itu 30884 orang diantaranya berhasil disimpan datanya di arsip pemerintah Suriname. Data tersebut berasal dari puluhan daerah yang berbeda. Setidaknya ini yang tercatat. Kemungkinan masih banyak pekerja yang berangkat namun tidak tercatat sensus. Melihat jumlah pekerja yang sangat besar, betapa luar biasanya keuntungan yang didapat perusahaan di Suriname dan agen pencari kerja.

Pekerja Kulon Progo

Pekerja Kulon Progo memang hanya sebagian kecil dari keseluruhan pekerja yang bekerja membanting tulang disana. Mereka tersebar di puluhan lokasi berbeda. Yang pasti setiap orang yang berangkat kesana adalah individu yang bertaruh hidup. Meninggalkan tanah air. Meninggalkan keluarga yang dikasihi. Menuju daerah yang terang menurut orang-orang agen. Kenyataannya, mereka mendapat tekanan, sebagian bahkan tidak mendapat hasil sesuai janji agen.

Pekerja kontrak dari Jawa menandatangani kontrak kerja selama lima tahun. Diberi upah sebesar 60 sen untuk pekerja pria dan 40 sen untuk pekerja perempuan. Setelah kontrak lima tahun dinyatakan selesai para pekerja diizinkan pulang ke Jawa. Jika ingin menetap mereka diberi uang 100 gulden dan sepetak tanah sebagai modal.

Kenyataan yang begitu sulit memunculkan konflik di antara pekerja. Satu hal yang pernah terekam adalah konflik yang mulanya diakibatkan perebutan pasangan karena jumlah pekerja perempuan dan pria timpang. Yang jomblo pasti paling paham.

Seiring perkembangan jaman. Perpindahan penduduk yang sangat banyak dalam kurun waktu singkat memunculkan istilah diaspora Jawa. Yakni perpindahan sekelompok penduduk dengan latar belakang wilayah dan budaya yang sama ke lokasi lain dalam waktu yang relatif singkat, kemudian membangun hidup disana. Kebersamaan sejak ratusan tahun ini memunculkan komunitas Jawa di Suriname yang masih lestari hingga sekarang.

Perbedaan mulai muncul saat Johannes Coenraad Kielstra, mantan wakil jaksa di Hindia Belanda menjabat gubernur Suriname tahun 1933 sampai 1944. Ia menetapkan kebijakan baru bagi pekerja kontrak. Imigran yang datang dari Indonesia dan negara lain tidak ditempatkan langsung di perkebunan, melainkan disiapkan wilayah khusus untuk menampung mereka. Di wilayah ini pekerja kontrak berhak membuat aturan sipil sendiri dan mengembangkan budaya asli mereka, termasuk budaya Jawa.

Hingga hari ini kebudayaan khas Jawa masih sering dipentaskan. Bahasa Jawa masih dipakai turun temurun. Cara hidup layaknya masyarakat Jawa juga diterapkan disana. Inilah Pulau Jawa di negara orang. Untuk mengingat nenek moyang warga Kulon Progo disana inilah 7 orang Kulon Progo yang menginjakan kaki di Suriname tahun 1912.

Wongsowirio (Kakung) kulon progo di surinameYang pertama adalah pria di foto ini, bernama Wongsowirio bin Koso. Pria usia 24 tahun dari Brenjak, Pandowan, Galur. Tinggi badan 165 cm. Bekerja di Johannesburg. Berangkat ke Suriname tanggal 17 April 1912 menggunakan kapal Medan dan Prins Willem V dari Pelabuhan Semarang. Sampai di Paramaribo tanggal 25 Juni 1912. Kontrak sampai 25 Juni 1917 namun diperkirkan tidak pulang ke Indonesia.

Orang kedua yang mencapai Suriname di tahun yang sama adalah Paidi. Pria usia 18 tahun berasal dari Sogan, Wates. Tinggi badan 150 cm. Bekerja di Vorburg. Berangkat ke Suriname tanggal 17 April 1912 menggunakan kapal Medan dan Prins Willem I dari Pelabuhan Semarang. Sampai di Paramaribo tanggal 25 Juni 1912. Kontrak sampai 25 Juni 1917. Kembali pulang ke Indonesia tahun 1920.

Selanjutnya Mbok Darmowijsastro bin Sairah. Wanita usia 18 tahun dari Sentolo, Sentolo. Tinggi badan 140 cm. Bekerja di Marienburg dan Zoelen. Berangkat ke Suriname tanggal 19 April 1912 menggunakan kapal Medan dan Prins Willem V dari Pelabuhan Semarang. Sampai di Paramaribo tanggal 25 Juni 1912. Kontrak sampai 25 Juni 1917. Beliau menikah di Suriname dengan pasangannya, Ngadimin. Kembali pulang ke Indonesia tahun 1920.

Kemudian Toekiman. Pria usia 25 tahun dari Kaloran, Sogan, Wates. Tinggi badan 150 cm. Bekerja di Marienburg dan Zoelen. Berlayar ke Suriname tanggal 19 April 1912 menggunakan kapal Medan dan Prins Willem V dari Pelabuhan Semarang. Sampai di Paramaribo tanggal 25 Juni 1912. Kontrak sampai 25 Juni 1917. Meninggal di Suriname tahun 1937.

Setelah Toekiman ada pula Mbok Hardjodikromo. Wanita usia 25 tahun dari Wonogaten, Pengasih. Bekerja di Marienburg dan Zoelen. Berangkat ke Suriname tanggal 19 April 1912 menggunakan kapal Medan dan Prins Willem V dari Pelabuhan Semarang. Sampai di Paramaribo tanggal 25 Juni 1912. Kontrak sampai 25 Juni 1917. Kontrak sampai 25 Juni 1917 namun diperkirkan tidak pulang ke Indonesia.

Mbok Kasankario bin Senen. Seorang wanita usia 25 tahun dari Kulon Progo. Tinggi badan 149 cm. Bekerja di Marienburg dan Zoelen. Berangkat ke Suriname tanggal 19 April 1912 menggunakan kapal Medan dan Prins Willem V dari Pelabuhan Semarang. Sampai Paramaribo tanggal 25 Juni 1912. Kontrak sampai 25 Juni 1917. Beliau menikah di Suriname dengan pasangannya, Kromowirjo. Kembali pulang ke Indonesia tahun 1930.

Rakijo (Kakung) kulon progoPria di foto terakhir adalah Rakijo. Seorang pemuda dari Kedungpring, Sogan, Wates. Tinggi badan 150 cm. Bekerja di Constantia. Berangkat ke Suriname tanggal 9 Mei 1912 menggunakan kapal Oranje Nassau dari Pelabuhan Semarang. Sampai di Paramaribo tanggal 9 Juli 1912. Kontrak sampai 9 Juli 1917. Meninggal di Suriname tahun 1917.

Itulah beberapa warga Kulonprogo yang mengadu nasib di Suriname. Bersusah payah bertahan hidup bersama ribuan pekerja lain dengan keadaan serba terbatas. Tinggal di barak yang sesak, persis di sekitar area kerja. Beberapa diantaranya beruntung dapat pulang ke Indonesia. Yang lain menderita tak dapat pulang. Bahkan ada yang justru berkalang tanah di Suriname.

Budaya Jawa bertahan

Sama seperti di Indonesia, industri perkebunan dan pertambangan di Suriname akhirnya luluh lantak karena dashyatnya krisis ekonomi dunia sekitar tahun 1930. Banyak pabrik tutup. Banyak pekerja pulang sekalipun dengan ongkos yang cukup mahal. Banyak dari mereka bertahan untuk mengolah sektor lain, yakni peternakan, pertanian dan perkebunan kecil-kecilan. Yang tersisa dari pertambangan adalah tambang bouksit yang diperlukan untuk perang pada masa-masa itu. Beberapa bekas bangunan pabrik dan mesin-mesin besar masih tersisa hingga kini. Salah satunya di Marienburg, sebuah distrik besar di Suriname.

Warga keturunan Jawa di Suriname masih bertahan hingga kini. Mempertahankan cara hidup mbah buyut pendahulu. Yang hidup sekarang kebanyakan keturunan kedua dan ketiga. Ditambah keturunan warga Jawa yang menikah dengan warga asli atau pendatang dari negara lain.

Sekalipun terpaut ribuan kilometer dari Indonesia, khususnya Kulon Progo, budaya Jawa masih lekat disana. Bahasa, pakaian, cara bercocok tanam, makanan, cara memasak dan alat masak, kerajian, kesenian tradisional, falsafah hidup dan sebagainya masih dipertahankan hingga kalimat ini ditulis. Sungguh romansa perjuangan yang tak mudah.

Semoga catatan ini membuka wawasan sehingga warga Kulonprogo lebih menghargai masa lalu dan mengambil manfaat dari kejadian itu. Untuk warga keturunan Kulon Progo yang masih di Suriname, kapan waktu sempatkan pulang ya, karena kita masih saudara. Karena leluhur kita berasal dari daerah yang sama.

Berikut daftar 316 warga Kulon Progo yang berangkat ke Suriname dari tahun 1905 sampai 1939. Termasuk persebaran para pekerja di Suriname berdasarkan tempat mereka bekerja. Harapannya mempertemukan kembali pada yang telah lama pergi. (sumber: www.gahetna.nl; www.suriname.nu foto: www.4muda.com; www.gahetna.nl; www.tempo.co; www.naratasgaroet.files.wordpress.com)

Daftar pekerja kontrak Kulonprogo disini. Daftar lokasi bekerja para pekerja Jawa klik disini.

Related Articles

4 thoughts on “Terpisah Jauh, Kulon Progo di Suriname

    1. Admin

      Admin

      Makasih ya lik. Semoga banyak yang kemudian ketemu mbah buyut mbah buyutnya.

      Reply

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.