Geblek Renteng dari Canting Wantoro

Category: Budaya, Ekonomi 291 0


Tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menetapkan “Geblek Renteng” sebagai motif batik identitas daerah. Motif ini berkembang seiring munculnya banyak pengusaha batik yang mengkreasikan geblek renteng sebagai motif andalan. Sementara itu, semangat kedaerahan yang terkandung dalam guratan motif geblek renteng menjadikan keuntungan tersendiri bagi Wantoro Supriyanto. Pengrajin canting batik asal Kulon Progo.

UNESCO, lembaga di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa yang khusus menaungi pendidikan, sains dan kebudayaan telah memasukan batik tulis dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-Benda Warisan Manusia pada Oktober 2009. Keputusan besar dengan konsekuensi yang berat. Menjadi wajib bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Kulon Progo, untuk semakin bangga dengan batik tulis dan menjaganya agar tetap lestari di tengah gempuran produksi batik cap yang semakin militan.

rumah produksi canting batik wantoro kulon progo

Motif geblek renteng mulanya sulit diterima masyarakat. Masyarakat bingung dengan motif hasil sayembara ini. Kenapa? Karena memang jarang ada geblek, makanan khas Kulon Progo, yang berbentuk seperti angka 8. Geblek biasanya dibuat dengan jumlah rentengan 3 lingkaran. Pilihan 2 atau 3 lingkaran bukan perkara serius. Yang pasti, tidak ada geblek yang hanya 1 lingkaran. Mungkin filosofinya setiap orang telah diciptakan berpasang-pasangan. Duh jan.

Setelah geblek renteng ditetapkan sebagai motif batik khas Kulon Progo, industri batik di bumi Adikarta berkembang pesat. Permintaan pasar lokal akan kebutuhan batik mengalami peningkatan. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo mewajibkan batik geblek renteng menjadi seragam wajib di instansi pemerintah dan sekolah. Perkembangan industri batik yang demikian bagus mempengaruhi industri lain, seperti industri kerajinan yang digeluti oleh Wantoro, yakni canting. Sebuah alat yang digunakan untuk menghasilkan batik tulis.

Canting merupakan alat berukuran kecil yang dipakai untuk membubuhkan malam yang diencerkan dalam wajan. Kemudian perlahan digoreskan di atas kain mengikuti pola motif batik yang sudah digambar sebelumnya. Melalui canting inilah keindahan goresan motif batik terbentuk.

Wantoro seniman canting

Belakangan ini cuaca alam tidak jauh beda sama suasana hati. Sebentar panas, sebentar mendung lalu hujan deras. Kebetulan siang itu agak mendung. Saya berkesempatan menyambangi kediaman sekaligus rumah produksi canting batik milik Wantoro di pedukuhan Jetis Sogan, Kecamatan Wates, Kulon Progo. Rumah sederhana berukuran 5×10 meter dengan dinding bambu menjadi tempat memproduksi canting Mas Wawan, sapaan akrabnya.

Beliau sangat terbuka dengan kedatangan saya. Dengan senang hati ia bercerita tentang bisnis kerajinan yang digelutinya. Suguhan seduhan kopi menambah sempurnanya siang yang mendung itu.

Wawan mulai menggeluti kerajinan canting batik di Kulon Progo sejak tahun 2011. Sebelum tinggal di Wates bapak dua orang anak ini pernah membantu pamannya mengelola industri kerajinan canting sejak tahun 1997. Melalui pengalaman yang diperoleh saat bekerja bersama paman, ia semakin mahir dalam mengkreasi canting.

Mulanya ia tidak tertarik memulai binis canting batik karena pembuatannya rumit dan njelimet. Baru pada 2006 Wawan mulai berpikir bahwa nilai ekonomis yang cukup besar ada pada bisnis membuat canting. Dengan modal seadanya, bisnis kerajinan canting dijalankannya di Gunung Kidul. Baru di tahun 2011 produksi canting dilakukan di Kulon Progo.

Wawan melakukan inovasi dalam proses pembuatan canting batik. Selama ini ia menganggap teknik pembuatan canting yang dilakukan pamanya sangat menyita waktu. Inovasi yang dilakuakan membuatnya mampu memproduksi 500 canting dalam jangka waktu 4 hari. Sedangkan cara yang lama tidak akan mampu meproduksi canting sebanyak itu.

Sambil menghisap kretek kemudian menghembuskan asapnya perlahan, Wawan bercerita bagiamana perjuangannya merintis usaha. Awalnya ia menawarkan kepada pengrajin batik yang ada di Bantul untuk mencoba menggunakan canting hasil buatanya. Kemudian pengrajin itupun tertarik untuk membeli canting batik karya Wawan. Namun kebutuhan canting bagi pengrajin batik jumlahnya tidak banyak. Satu canting dapat digunkan berkali-kali. Hal ini membuat Wawan harus memutar otak, memikirkan cara lain untuk memasarkan cantingnya.

Ia kemudian mendatangi toko-toko kerajinan yang ada di Kulon Progo, Bantul dan Kota. Bahkan pernah pergi ke Solo untuk mencari relasi toko untuk memasarkan produk cantingnya. Ternyata cara ini membuahkan hasil. Beberapa toko kerajinan sampai saat ini menjadi pelanggan tetapnya.

Canting batik hasil produksi pria 36 tahun tersebut telah menjadi langganan tetap untuk toko kerajinan dari luar kota, seperti Jakarta, Solo dan Surabaya. Biasanya pelanggan dari luar kota melakukan pesenan dengan minimal order 1000 buah canting bahkan bisa mencapai 4000. Sedangkan untuk di kawasan Yogyakarta, Wawan bekerjasama dengan beberapa toko kerajinan dan pengrajin batik tulis. Omset penjualan cantinga kini mencapai Rp 2 juta per bulan.

Proses membuat canting

Nah bagi yang belum tahu apa itu canting atau bahkan mungkin seumur-umur belum pernah melihat benda ini, akan sedikit saya jelaskan.

Canting batik terdiri dari tiga bagian, yaitu gagang (pegangan), nyamplung (tempat malam) dan cucuk ujung seperti pena untuk melukis. Ada beberapa jenis canting sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Mulai dari cecek, isen, klowong hingga tembok. Terkadang jika pesanan dari pengrajin batik meminta canting yang bervariasi, jumlah cucuknya bisa 2, 4 atau bahkan 8. Hal ini memang menyesuaikan dengan motif yang ada.

canting batik wantoro kulon progo

Berdasarkan penjelasan dari Wawan saya simpulkan bahwa Proses pembuatan canting batik tergolong rumit, serumit hubunganmu ro deknen. Pokoknya setiap proses pembuatan canting memerlukan ketelitian dan kesabaran tingkat tinggi. Bagi anda yang tidak tekun dan tidak sabar jangan pernah berhubungan dengan canting, mungkin begitu kasarannya hehe.

Setiap satu buah canting batik kurang lebih akan melalui sepuluh kali tahap pemrosesan. Mulai dari pematrian, njeglog, ngikat, nggagangi, nyucuki, motong lalu nggatuke . sebagian besar proses itu ditangani Wawan sendiri karena memang diperlukan keahlian khusus.

Diantara sekian tahapan yang umit itu, menurut Wawan proses paling penting dan sulit adalah ketika nyucuki (memberikan cucuk tempat keluarnya malam). Pada proses ini sangat dibutuhkan ketelitian supaya cucuk yang terbuat dari tembaga memiliki lubang yang pas, jika lubang terkena patri sedikit saja canting tersebut tidak akan dapat digunakan. Pernah suatu kali ada pemesan yang meminta lubang cucuk lebih kecil dari ukuran rambut. Sangat sulit menurutnya tapi ini tantangan.

Peran istri dalam usaha

Dalam memproduksi canting batik, ia hanya dibantu oleh sang istri. Istrinya begitu mensuport usaha yang dirintisnya sejak lama. Ketika dirinya dan istri kualahan memenuhi pesanan ia biasanya meminta bantuan saudara dekat. Pesanan 1000 canting mampu diselesaikan dalam tempo waktu satu minggu saja. Cepat bukan. Meskipun relatif cepat, kualitas barang tetap utama menurut Wawan.

Sekian lama menekuni bisnis ini Wawan sudah cukup hapal dengan kendala yang ia hadapi. Kendala yang paling sering dialami adalah tentang ketersediaan bahan baku. Logam kuningan pada bulan-bulan tertentu sangat sulit didapatkan, jika memesan ditoko harus menunggu lama sampai bahannya tersedia. Hal ini membuat proses produksi canting batik menjadi terhambat. Bahan gagang yang berasal dari kayu terkadang juga terhambat pada proses pengeringan. Terlebih jika musim penghujan seperti saat ini.

Canting buatan tangan terampil Wawan berkisar antara Rp 3500 sampai Rp 4000. Harga ini menurutnya sesuai dengan kualitas yang diutamakan olehnya. Dengan penuh semangat ia mengatakan bahwa kualitas canting yang dibuatnya sangat ia jaga kualitasnya. Jangan sampai ada satu pun canting batik yang tidak dapat digunakan. Harapan besar Wawan melalui karya canting buatannya adalah semoga benda kecil ini bisa bermanfaat bagi banyak orang

Tidak selamanya permintaan canting batik ramai, kadang juga sepi, terutama pada bulan puasa dan waktu ujian anak sekolah. Permintaan canting bisa menurun sampai 60%. Pada masa paceklik seperti itu Wawan memanfaatkannya untuk mengumpulkan stok barang. Sehingga ketika nanti ada pesanan dirinya telah siap dengan persediaan yang ada.

Perhatian pemerintah

Semenjak tinggal di Kulon Progo, Wawan mengaku belum pernah mengakses bantuan dari pemerintah. Hal ini mungkin dikarenakan tidak mengetahui proses pengajuannya seperti apa. Padahal banyak yang menyarankan Wawan untuk mengajukan proposal karena usahanya merupakan pendukung industri batik yang ada di Kulon Progo.

Diakhir pembicaraan beliau menyampaikan harapanya untuk Pemerintah Kabupaten Kulon Progo,

“Saya berharap, Pemerintah Kulon Progo mengadopsi kebijakan Kabupaten Bantul, dimana setiap sekolah dasar mempunyai ekstra batik. sehingga industri batik dan cantingnya bisa ikut berkembang”

Harapan Wawan benar adanya. Melalui institusi pendidikan, budaya harus sejak dini ditanamkan. Di sisi lain dapat mendukung perkembangan industri kerajinan pendukung industri batik. Hal ini juga sebagai upaya kita mengenalkan dan pelestarian batik sejak sedini mungkin kepada anak-anak, khususnya batik geblek renteng.

Motif batik geblek renteng adalah perekat kita sebagai sesama masyarakat Kulon Progo. Melalui apresiasi terhadap batik motif ini, kebanggaan terhadap daerah akan semakin terpupuk. Hingga pada akhirnya kebanggaan ini menjadi pelumas pembangunan yang efektif bagi proses memajukan Kulon Progo.

Related Articles

Tuliskan Komentarmu