Jejak RSUD Wates di Tanah Menoreh

Category: Sejarah, Sosial 1,100 0


Belum juga selesai pelajaran olahraga, beberapa siswa menenggak es teh di taman depan Kantor Dinas Kesehatan Kulon Progo. Generasi mereka mungkin tidak menyangka jika lahan bangunan di depannya merupakan lokasi awal Rumah Sakit Umum Daerah Wates. Sejarah mencatat, RSUD Wates dirintis seorang asing bernama dr. H. S. Pruys dengan nama awal Hulpzienkenhuis Wates pada tahun 1908.

dr. H. S. Pruys direktur medis Zending Ziekenhuis PetronellaPembangunan Hulpzienkenhuis Wates dilakukan saat Pruys menjabat direktur medis Rumah Sakit Misi Petronella atau Zending Ziekenhuis Petronella dalam Bahasa Belanda. RS Petronella kini berkembang menjadi Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta.

Berdasar buku bertajuk Sejarah Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta Periode Awal Abad Duapuluhan, RS Petronella Yogyakarta dirintis di Bintaran. Bermula dari rumah bambu sederhana yang dibangun dr. J. G. Scheurer di samping rumahnya. Rumah berbahan bambu ini digunakan sebagai poliklinik zending yang ia operasikan mulai 1 Juli 1897 tanpa peresmian apapun.

Zending sendiri mengacu pada istilah Belanda yang berarti pekabaran Injil sedangkan Injil adalah kitab suci agama Nasrani. Klinik di Bintaran menjadi wujud upaya Scheurer melayani masyarakat pada porsinya di bidang kesehatan, sesuai dengan apa yang diperintahkan di dalam Injil untuk membantu sesama manusia.

Seiring jumlah pasien di Bintaran yang semakin banyak diwacanakanlah penambahan ruang rawat. Keinginan dr. J. G. Scheurer mendapat perhatian dari berbagai instansi yang bersimpati kepada karyanya, termasuk Raja Kraton Yogyakarta saat itu, Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Sultan memberikan sebidang tanah seluas 30.000 meter persegi di Gondokusuman. Sebelumnya area ini digunakan sebagai perkebunan tebu.

Proyek dikerjakan hari demi hari sehingga pada 20 Mei 1899 Rumah Sakit Petronella bisa diresmikan. Sampai tahun ini tanggal peresmian RS Petronella masih dijadikan sebagai penanda kelahiran RS Bethesda atau dikenal dengan nama RS Tulung oleh masyarakat yang hidup pada masa itu.

Dengan semangat menggebu, pelayanan kepada masyarakat semakin baik. Masyarakat dapat menerima keberadaan RS Petronella karena melayani siapapun tanpa membedakan latar belakang.

Kerja keras Scheurer dalam pelayanan selama bertahun-tahun membuat tubuhnya melemah. Tahun 1906 kesehatan Scheurer memburuk. Ia lantas berkemas meninggalkan Indonesia untuk pulang ke Belanda karena terjangkit beri-beri. Pada akhirnya jabatan Scheurer sebagai direktur medis RS Petronella digantikan oleh dokter militer sekaligus pembantunya dalam mengelola rumah sakit yakni dr. H. S. Pruys.

Membidani kelahiran RSUD Wates

Pria dengan kepala botak ini merintis rumah sakit yang di kemudian hari berkembang menjadi RSUD Wates. Ia membuka Rumah Sakit Petronella Wates di pojok barat Alun-alun Wates sedikit ke selatan. Rumah sakit sengaja dibangun di Wates agar pelayanan RS Petronella juga dirasakan masyarakat Kulon Progo dan Adikarta.

Pada periode itu Kulon Progo masih dibagi menjadi dua wilayah. Wilayah pertama yakni Kulon Progo yang merupakan area kekuasaan Kraton Yogyakarta, wilayah kedua yakni Adikarta yang merupakan tanah milik Pura Paku Alam. RS Petronella Wates diresmikan tahun 1908. Ini berarti 43 tahun sebelum kedua wilayah ini digabung menjadi satu kabupaten yang utuh pertengahan tahun 1951.

Kisaran tahun itu RS Petronella Wates merupakan satu-satunya institusi di Kulon Progo yang fokus menangani kesehatan masyarakat. Kraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman berharap RS Petronella Wates mampu menunjang kesejahteraan masyarakat seperti yang diupayakan kerajaan. Hal ini dibuktikan dengan pembiayaan rumah sakit yang disubsidi oleh pihak kerajaan.

Rumah Sakit Petronella Wates cikal bakal RSUD WatesDari catatan Arsip GKJ Wates disebutkan bahwa RS Petronella Wates semakin berkembang setelah dr. D. Bakker memberi pelatihan kepada para mantri dan juru rawat. Pelatihan ini menjadikan mereka yang bekerja di rumah sakit jauh lebih kompeten dalam melayani pasien.

Pada tahun 1934 dikirimlah seorang warga yang bukan berasal dari luar negeri yakni dr. Soenoesmo Prawirohoesodho untuk bertugas di RS Petronella Wates. Ia juga salah satu pejabat di RS Petronella Yogyakarta. Dari foto yang terdapat di buku Het Zendingsziekenhuis, Soenoesmo terlihat berfoto bersama para pejabat rumah sakit yang semuanya keturunan asing.

Setelah Soenoesmo bergabung, bangunan RS Petronella Wates dirombak pada 1935. Beberapa ruang ditambahkan. Di antaranya seperti ruang belajar, ruang radiologi dan ruang operasi. Saat itu juga dipertimbangkan untuk menambahkan beberapa ruang kamar semacam vip, kamar untuk menampung pasien menular dan kamar untuk ibu hamil.

Petronella setelah Indonesia merdeka

Setelah kemerdakaan berhasil direngkuh, banyak aset milik Belanda, baik itu swasta ataupun negeri yang diakuisisi oleh masyarakat Indonesia. Tidak terkecuali RS Petronella Wates. Setelah kemerdakaan fungsi dan bangunan rumah sakit tetap dilestarikan oleh masyarakat Wates.

Proses pelestarian berlanjut hingga pada 1963 ditetapkan menjadi rumah sakit yang masih menjadi bagian dari Dinas Kesehatan. Menurut kesaksian Mbah Cip warga Wetan Pasar sebelum ia meninggal beberapa tahun lalu, sekitar tahun 1983 Rumah Sakit ini pindah ke Dusun Beji, Wates. Lokasinya sama seperti posisi RSUD Wates sekarang. Kepindahan ini untuk menjadikan pelayanan rumah sakit menjadi lebih baik. Peresmian bangunan baru dan status rumah sakit yang baru dihadiri oleh Menteri Kesehatan, dr. Suwardjono Suryaningrat.

Sekian lama berada di utara rel kereta api Beji, baru pada 1994 rumah sakit ini resmi berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Wates. Artinya, RSUD Wates kemudian menjadi rujukan seluruh puskesmas dan klinik yang ada di penjuru Kulon Progo hingga saat ini.

Rumah Sakit Petronella Sewu Galur

Pelayanan Rumah Sakit Petronella tidak berhenti di Wates saja. Sebagai kota dengan industri gula yang cukup besar, di Sewu Galur juga dibangun rumah sakit dengan level yang sama seperti Hulpzienkenhuis Wates yakni Hulpzienkenhuis Sewoe Galoor. Rumah Sakit Petronella Sewu Galur diresmikan tahun 1922. Pendiriannya tidak terlepas dari bantuan Kadipaten Pakualaman.

Di pesisir Adikarta pada masa itu terdapat rawa air payau meskipun upaya pengeringan selalu dilakukan. Hal ini mengakibatkan banjir jika turun hujan dengan intensitas tinggi. Keberadaan rawa menyebabkan malaria mewabah. Alasan inilah yang menjadi dasar dibukanya Rumah Sakit Petronella Sewu Galur di Tegal Buret. Sekarang posisinya persis di depan Puskesmas Galur II.

Jauh sebelum tahun 1922, pada peta berangka tahun 1870 oleh Universiteit Leiden, di area sekitar Pabrik Sewu Galur atau kini Galur, Sentolo, Panjatan dan Lendah terdapat beberapa yang rawa cukup besar. Antara lain Rawa Kadilompo, Rawa Blabak, Rawa Sepat, Rawa Djangkoeng, Rawa Sewot dan Rawa Djembangan. Di peta itu menunjukan bahwa Sungai Serang pada mulanya berbelok ke arah timur ke daerah Panjatan dan berakhir di salah satu rawa. 

Wabah malaria semakin cepat menyebar karena masyarakat Adikarta secara umum tidak menutup pintu dan jendela serta ketidakpahaman mereka akan bahaya genangan air yang menjadi sarang telur nyamuk. Oleh karena itu dibuatlah program pembersihan kolam renang dan kolam ikan yang diharapkan dapat mengurangi jentik nyamuk.

Saat masih berdiri di Tegal Buret, bangunan Rumah Sakit Petronella Sewu Galur berbentuk V jika dilihat dari atas. Pada titik sudut lancip terdapat pendopo. Berdasarkan literatur yang ditemukan telah ada apotek serta bangsal khusus pria dan wanita di rumah. Bahkan sudah ada sistem klinik rawat jalan karena jumlah pasien yang datang terlampau banyak. Lokasi rumah sakit ini di dekat Stasiun Pasar Kranggan yang dikelola oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij.

Rumah Sakit Petronella Sewu Galur selevel dengan cikal bakal RSUD WatesRumah sakit yang kini hanya tersisa bagian pondasinya kala itu mendapat subsidi dari pemerintah. Di sana ditempatkan dokter pribumi dari Rumah Sakit Petronella, kepala perawat dan perawat biasa.

Masalah terjadi. Korban wabah malaria pada 1932 hingga 1933 semakin banyak. Sehingga diputuskan membuka poliklinik di Temon, Butuh dan Sentolo untuk membantu kinerja rumah sakit di Wates dan Galur.

Poliklinik Temon.

Poliklinik ini terletak di wilayah Adikarta paling barat sekitar 8 kilometer dari RSUD Wates. Diinisiasi oleh Paku Alam VII didukung masyarakat yang mampu di daerah Adikarta. Klinik rawat jalan sangat ramai waktu itu. Bahkan Poliklinik Temon rata-rata menangani 200 pasien per hari.

Poliknik Butuh

Poliklinik Butuh berada di wilayah Kulon Progo tepatya di depan Kantor Kecamatan Lendah sekarang jika meruntut map era Belanda sehingga daerah ini menjadi wilayah milik Kraton Yogyakarta. Daerah Butuh sendiri berada di Kecamatan Lendah. Dibangun pada 1934, Poliklinik Butuh menjadi salah satu perpanjangan tangan Rumah Sakit Petronella Wates. Jumlah kunjungan rata-rata 140 pasien per hari. Tidak sebanyak di Temon karena memang daerah Butuh berada di dataran yang cukup tinggi.

Poliklinik Sentolo

Poliklinik rawat jalan Sentolo terletak di sebuah rumah yang disewakan kepada pemerintah. Dilihat dari foto yang terdapat di buku Het Zendingsziekenhuis Petronella, ada kemungkinan lokasi poliknik terdapat di area depan Pasar Sentolo lama. Kunjungan ke klinik ini cukup memuaskan. Rata-rata 80 pasien per hari. Pelayanan harian dipegang oleh seorang perawat.

Harus diakui perkembangan RSUD Wates tidak bisa lepas dari upaya Rumah Sakit Petronella Yogyakarta melayani masyarakat sampai pelosok jauh. Masyarakat Kulon Progo layak berterima kasih kepada pendahulu yang memberikan dasar kuat dalam membangun sarana kesehatan yang memadai. (sumber: Buku Het Zendingsziekenhuis Petronella, Buku Sejarah Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta Periode Awal Abad Duapuluhan, Arsip GKJ Wates, Dinas Kesehatan Kulon Progo, RSUD Kulon Progo, Universiteit Leiden. Sumber foto: Buku Het Zendingsziekenhuis Petronella)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu