Kisah Muram Bioskop Mandala Theatre

Category: Ekonomi, Sejarah 2,955 0


Banyaknya bioskop yang gulung tikar sekitar tahun 2000 tidak lepas dari dampak munculnya teknologi cakram optik padat, semakin menariknya tayangan televisi dan persaingan antar bioskop yang semakin sengit. Bioskop satu-satunya di Kulon Progo, Mandala Theatre, menjadi satu dari banyak bioskop di Yogyakarta yang napasnya terhenti di awal milenium baru.

Saur Sepuh, Warkop, Lupus, Ratapan Anak Tiri, Jaka Sembung, Janur Kuning merupakan beberapa film terkenal yang rilis sekitar tahun 1990. Selain film lokal banyak juga film asing yang beredar seperti Lion King, Titanic, The Lost World, Predator dan sebagainya. Saat itu masyarakat Kulon Progo dapat menikmati tayangan film berkualitas tanpa perlu memacu kendaraan hingga ke Bioskop Mataram, Indra atau Permata di kota.

bioskop mandala theatreBioskop yang belum diketahui pemiliknya ini mulanya bernama Menoreh Theatre, sebelum berubah nama menjadi Mandala Theatre sekitar tahun 1980. Lokasinya berada persis di jantung kota Wates. Di sebelah timur stasiun. Tepat di pertigaan yang kini menjadi area futsal. Menurut masyarkat sekitar sebelum menjadi bioskop gedung ini dinamakan gedung pertemuan. Warga Mutihan dan Jogoyudan menyebutnya dengan istilah nggedung.

Walaupun telah gugur, gambaran umum bangunan Bioskop Mandala Theatre masih terlihat hingga kini. Beberapa tembok di sisi utara, timur dan barat telah dimodifikasi namun bentuk asli bangunan masih seperti dulu. Bagian selatan masih sama persis berupa area terbuka yang dulu digunakan untuk tempat parkir.

Spanduk film gagah berdiri

Pada masa jayanya di atap Bioskop Mandala Theatre terpasang spanduk film berukuran besar lengkap dengan jam tayang. Spanduk besar ini dilukis manual dengan cat tembok di atas kain belacu oleh para seniman spesialis pembuat spanduk film. Digital printing belum sebanyak saat ini dan harganya jauh lebih mahal. Spanduk berdiri tegap. Memaksa siapapun yang lewat menengadah beberapa detik.

Spanduk ini menandakan film yang tengah diputar. Di akhir perjalanan Bioskop Mandala Theatre spanduk yang dipasang lebih sering memperlihatkan sosok wanita dan pria dengan pose erotis. Jika spanduk itu dipasang hari ini mungkin sudah diprotes masa ormas.

Setiap hari para penikmat film mengantri di loket berbentuk setengah lingkaran seukuran tangan. Hampir seperti lubang rumah Jerry tikus kecil di kartun Tom and Jerry. Bagian depan bioskop sisi utara terdapat satu ruangan yang digunakan untuk meletakan beberapa mesin video game yang dapat dimainkan dengan mahar sebuah uang logam.

Memutar ulang kisah bioskop Mandala Theatre menyeret ingatan pada pagar luar bioskop berwarna hijau berujung runcing. Bioskop Mandala Theatre sukses menyajikan hiburan modern terbaik di Kulon Progo hingga awal tahun 2000 an sebelum akhirnya runtuh karena jumlah penonton semakin sedikit.

Diungkapkan Garin Nugroho dan Dyna Herlina S. dalam buku Krisis dan Paradoks Film Indonesia, pada tahun-tahun itu industri perfilman lokal tengah dilanda krisis. Krisis ini memaksa sineas memutar otak agar penonton tetap datang ke bioskop. Alhasil film bernuansa erotis muncul karena dianggap efektif menghasilkan keuntungan.

Beberapa film erotis yang sempat menghiasai layar bioskop seperti Gadis Metropolis, Gairah Malam, Dosa Terlarang, Puncak Kenikmatan dan Gairah yang Panas. Film jenis ini bertahan di bioskop hingga tahun 2000-an seiring munculnya film era baru karya sineas muda seperti Garin Nugroho, Riri Riza, Angga Sasongko, Hanung Bramantyo, Rudy Soedjarwo, Joko Anwar, Nia Dinata, dan Upi Avianto.

Mandala Theatre benar-benar berada di persimpangan jalan. Sebutan nggedung film akhirnya terkubur selamanya. Mandala Theatre menjadi kisah yang terpenggal karena tidak banyak yang sudi mengisahkannya.

Yang terkenang dari Mandala Theatre

Bioskop Mandala Theatre menjadi salah satu kenangan terbaik bagi masyarakat Kulon Progo. Ratusan film pernah diputar di bioskop yang berada di depan Pegadaian Wates. Berbagai cerita menarik terekam dari gedung layar lebar yang beroperasi hingga larut malam ini.

Pada 1992 harga tiket Bioskop Mandala Theatre sebesar Rp 400,-. Sebagai perbandingan harga satu liter bensin waktu itu masih Rp 500,-. Harga tiket pernah menyentuh angka Rp 1000,- setelah krisis moneter tahun 1998.

Pernah suatu ketika tiket Bioskop Mandala Theatre bisa didapatkan dengan menukar beberapa bungkus rokok. Produsen rokok secara berkala memang memasang iklan disana. Iklan rokok muncul di layar sebelum film diputar.

Produk teh Moelia dan Toko Maya turut memanfaatkan jasa iklan ini. Radio Rosala juga tercatat pernah memberikan hadiah dalam quiznya berupa tiket nonton film gratis di Bioskop Mandala Theatre.

Iklan seperti ini akan muncul di awal. Bergantian dengan munculnya tokoh petruk memegang rokok dengan tanda silang yang berarti penonton tidak diperkenankan merokok di dalam ruangan. Faktanya tetap saja penonton merokok. Asapnya pekat terlihat dari lampu sorot yang menembakan sinar proyektor dari belakang.

Dalam sehari terdapat 4 kali jadwal pemutaran film. Mulai pukul 13.00, 15.00, 19.00 dan yang paling malam 22.00. Film baru biasanya akan diputar di jam paling awal.

Jelang ambruknya hagemoni Mandala Theatre di Wates ada regulasi yang berlaku bahwa setiap pemutaran film jumlah penonton harus mencapai batas minimal. Ini menjadi syarat tidak tertulis yang dipahami sebagian besar calon penonton. Jika kuota minimal tidak terpenuhi film tersebut akan dibatalkan dan uang tiket dikembalikan.

Ruang gelap dan layar yang menyala

Mengeja cerita Bioskop Mandala Theatre pasti dimulai dari aroma pesing di belakang bangku terakhir. Toilet bioskop dirasa jauh sehingga penonton nekat buang air kecil di pojok sisi belakang sehingga terkadang tercium bau pesing. Suasana yang gelap memungkinkan penonton mengendap-endap ke belakang mencari tempat buang air kecil.

Kursi bioskop menggunakan bahan kayu tanpa busa. Antara kursi satu dengan kursi yang lain disatukan dengan plat besi sehingga jika ada penonton yang bergeser muncul dercitan besi yang bergesekan dengan lantai.

bioskop mandala theatreSecara umum pengaturan kursi di dalam Bioskop Mandala Theatre dibagi tiga bagian. Barisan depan di undakan terbawah. Barisan tengah di undakan tengah. Barisan paling belakang di undakan teratas. Mungkin karena tidak dirawat dengan baik banyak penonton mengeluh gatal karena kutu bersarang di kursi.

Dalam hal ukuran layar Bioskop Mandala Theatre memang jauh lebih kecil dari ukuran layar bioskop milik jaringan Cineplex 21 Group. Besaran layar Mandala Theatre berukuran 12 x 6 meter sedangkan rata-rata layar jaringan Cineplex 21 Group berukuran 22 x 16 meter. Meskipun berukuran kecil setidaknya masih lebih nyaman dibanding layar tancap yang saat itu juga rutin berkeliling dari kampung ke kampung.

Sebenarnya Cineplex 21 Group terdiri dari 4 brand berbeda yakni Cinema 21, Cinema XXI, The Premiere dan IMAX. Jaringan bioskop raksasa ini berdiri sejak 1986. Pendirinya Soedwikatmono, asal Solo, yang juga sepupu mantan Presiden Soeharto.

Jaringan Cineplex 21 Group pertama di Yogyakarta hadir di Jalan Solo. Di lokasi yang sama dengan bioskop Empire XXI saat ini. Diakui atau tidak pengaruh Cineplex 21 Group berimbas pada jumlah penonton bioskop di luar jaringan mereka, termasuk Bioskop Mandala Theatre.

Mobil biru langit

Selain menggunakan papan besar di atas bioskop, upaya publikasi yang dilakukan pengelola Mandala Theatre adalah dengan menyebar selebaran. Menggunakan mobil Daihatsu Hijet 55 Wide berwarna biru langit selebaran ini disebar sehingga menjadi rebutan anak-anak kecil. Mobil ini juga yang terkadang digunakan orangtua pada masa itu untuk menakut-nakuti anaknya agar tidak bermain keluar rumah.

Seandainya masih ada, Bioskop Mandala Theatre menjadi alternatif hiburan positif bagi masyarakat Kulon Progo, seiring perkembangan industri film Indonesia yang semakin baik. Sayang, hidup Mandala Theatre tak sepanjang memori penonton yang ingat betul saat mengantri hingga saling sikut.

Rintik hujan menyambut di luar. Penonton berjalan menghampiri deretan sepeda di sisi selatan bioskop. Mereka pulang untuk tak lagi bertemu dengan bioskop yang kini telah tiada. (Sumber Foto: Kings Futsal)

Related Articles

Add Comment

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.