Gebrakan Cerdas Ala Pustaka Pelangi

Category: Pendidikan, Sosial 253 0


Jika ada anggapan bahwa setiap sudut Jogja adalah guratan romantis maka anggapan seperti apa yang menggambarkan Kulon Progo? Cukup dijawab di dalam hati karena setiap memiliki persepsi beragam. Terlepas dari perbedaan itu yakinlah bahwa salah satu sudut Kulon Progo yang memiliki kesan terbesar bagi masyarakatnya adalah Alun-Alun Wates. Di tempat ini “Pustaka On The Street” kemudian dibangun oleh Komunitas Pustaka Pelangi.

Komunitas Pustaka PelangiDari aspek tata kota alun-alun sebenarnya halaman luas dari kediaman seorang penguasa, baik itu raja, bupati atau wedana. Seiring berjalannya waktu Alun-alun berubah berfungsi menjadi ruang publik. Tempat masyarakat melakukan berbagai aktivitas mulai dari berdagang, bermain, berkesenian dan sebagainya. Alun-alun juga menjadi ciri khas banyak kota khususnya kota-kota di Pulau Jawa.

Begitu pula dengan Alun-alun Wates. Lokasi ini menjadi pusat kegiatan masyarakat. Mulai dari berolahraga, menggelar panggung hiburan, wisata kuliner sampai tempat bagi para pasangan muda memadu kasih. Alun-alun mulai ramai sejak pagi dan puncaknya tengoklah ketika sore jelang malam. Masyarakat dapat menikmati berbagai sajian kuliner dan pilihan wahana permainan di lokasi yang telah disebutkan pada tahun 1908 dalam literatur berjudul Het Zendingsziekenhuis Petronella. Buku ini menceritakan saat Rumah Sakit Petronella Wates, Kulon Progo, mulai dibuka.

Alun-alun Wates semakin lengkap dan menarik seiring hadirnya lapak peminjaman buku atau disebut “Pustaka on the Street”. Lapak Pustaka On The Street di samping bangunan SMP N 1 Wates ini dipelopori Komunitas Pustaka Pelangi. Sebuah komunitas yang fokus pada pengembangan aktivitas literasi di Kulon Progo. Literasi menjadi permasalahan pelik bagi Indonesia. Dimana salah satu permasalahannya adalah rendahnya minat baca masyakat.

Rendahnya minat baca

Survey yang dilakukan beberapa lembaga dunia selalu menempatkan Indonesia di posisi bawah dalam hal minat baca. Taufik Ismail manyebutkan telah terjadi tragedi nol baca pada masyarakat Indonesia. Tragedi ini terungkap berdasarkan penelitian yang ia lakukan. Ia menemukan bahwa sejumlah sekolah setara SMA di beberapa negara memberlakukan program wajib membaca.

Dari penelitian Taufik Ismail pada 1976-1980 Malaysia mewajibkan siswa membaca 6 buku. Singapura pada tahun 1982-1983 mengharuskan membaca 6 buku. Tahun 1966-1969 Brunei Darussalam mewajibkan siswanya membaca 7 buku. Setelah itu Rusia tahun 1980-an mewajibkan 12 buku. Kanada dari periode tahun 1992-1994 mengharuskan siswa sekolah membaca 13 buku. Jepang pada tahun 1969-1972 mewajibkan 15 buku.

Selain itu Swiss pada periode 1991-1994 mewajibkan 15 buku. Perancis mewajibkan 30 buku dari tahun 1967-1970. Kemudian Belanda 30 buku dari tahun 1970-1973. Amerika Serikat pada tahun 1987-1989 mewajibkan 32 buku. Bahkan Hindia Belanda yang merupakan cikal bakal bangsa Indonesia pada tahun 1939-1942 sudah mengarahkan siswanya untuk membaca minimal 25 buku. Ironisnya, Indonesia dari tahun 1945-2005 tidak mewajibkan sama sekali.

Kunci dalam memperoleh ilmu pengetahuan adalah membaca. Dari tinjauan agama Islam misalnya, ayat Al-quran pertama yang turun bagi umat manusia adalah “iqro” yang bermakna “bacalah”. Itu artinya aktivitas membaca adalah keutamaan yang harus dilakukaan oleh umat Muslim dan manusia pada umumnya. Dengan membaca, seorang manusia dapat mengetahui mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak.

Kondisi ini akhirnya mendorong Komunitas Pustaka Pelangi turut serta dalam upaya membangun budaya literasi di lingkup Kabupaten Kulon Progo.

Komunitas Pustaka Pelangi

Aktivitas komunitas yang pernah menerma penghargaan Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan tingkat D.I.Yogyakarta Tahun 2016 dan penghargaan sebagai Pengelola TBM berprestasi tingkat D.I Yogyakarta tahun 2017 ini sebenarnya tidak rumit. Komunitas menggelar tikar kemudian buku-buku ditata rapi di atasnya. Walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak buku-buku ini boleh dipinjam siapa pun yang berminat.

Pustaka On The StreetSejak 2016 kegiatan ini telah berjalan hampir satu tahun. Setiap Minggu pagi di Alun-alun Wates sisi barat anggota Komunitas Pustaka Pelangi membuka lapak peminjaman buku. Pustaka on the street mulai buka pukul 06.00 dan ditutup menjelang pukul 08.30.

Buku yang bisa dipinjam jenisnya beragam. Mulai buku anak-anak, novel, buku pemikiran, sejarah, komik, keagamaan sampai dengan buku-buku kiat praktis. Bahkan pengunjung bisa mengusulkan buku. Bisa berdasarkan judul ataupun jenisnya. Semua diupayakan selama koleksi tersedia.

Peminjaman buku diperuntukan bagi siapapun tanpa dipungut biaya alias gratis. Jika berminat meminjam, peminjam cukup menuliskan nama dan nomor telepon. Seluruh koleksi buku di Pustaka On The Street dapat dipinjam untuk dibaca di tempat atau dibawa pulang. Tidak perlu meninggalkan identitas atau surat berharga lainnya. Cukup kenangan saja yang ditinggal cantelne uwit.

Seminggu sekali berkumpul menyambangi Alun-alun Wates merupakan panggilan untuk membangkitkan kecintaan masyarakat Kulon Progo terhadap buku. Tujuannya sederhana yakni memudahkan masyarakat mengakses buku. Membuka lapak peminjaman buku di ruang publik merupakan upaya mendekatkan buku kepada masyarakat.

Mungkin selama ini masyarakat memiliki minat membaca namun karena akses terhadap bahan bacaan sulit maka minat membaca tersebut sedikit demi sedikit memudar. Hal ini harus dihindari.

Untuk itu Komunitas Pustaka Pelangi yang didirikan tahun 2014 ingin ambil bagian turun tangan dalam upaya membangun budaya membaca di Kulon Progo. Alun-alun Wates dipilih sebagai lokasi karena strategis terutama saat banyak agenda masyarakat di Minggu pagi. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang gemar membaca harapannya semangat mencintai literasi akan semakin mudah menyebar di tengah masyarakat.

Buku tidak hilang?

Komunitas Pustaka Pelangi melalui Pustaka On The Street meyakini bahwa orang-orang yang mencintai buku adalah orang-orang baik. Sehingga komunitas yang sebagian besar diisi anak muda ini percaya bahwa setiap buku pasti akan kembali. Jika memang buku tersebut tidak kembali, komunitas menganggap buku tersebut sedang berpindah asuhan ke orang lain yang lebih memerlukan. Lewat komunitas ini seluruh anggota dan peminjam buku sama-sama belajar membangun sikap saling percaya.

Walaupun peminjam tidak perlu meninggalkan identitas, selama ini buku-buku yang dipinjam selalu kembali. Peminjampun selalu kembali untuk meminjam buku. Tanpa disadari terjalinlah persaudaraan yang erat antara komunitas dan masyarakat yang datang.

Komunitas Pustaka PelangiKegiatan Pustaka On The Street hanya salah satu dari beberapa kegiatan yang dilakukan Komunitas Pustaka Pelangi. Komunitas yang beralamatkan di Blumbang, Karangsari, Pengasih, ini memiliki berbagai kegiatan. Di antaranya bermacam-macam perlombaan, kelas menulis, kelas menanam, kelas IT juga hadiah bagi peminjam terajin. Pustaka Pelangi juga melayani peminjaman buku di sekretariat. Tentunya dengan jumlah koleksi buku lebih lengkap.

Keberadaan Pustaka On The Street menjadikan Alun-alun Wates bukan lagi sekadar tempat untuk bermain, berekreasi dan berolahraga, namun juga sebagai tempat untuk belajar. Kini setiap Minggu pagi pengunjung Alun-alun Wates memiliki alternatif kegiatan positif yang dapat dilakukan yakni meminjam atau membaca buku.

Upaya literasi seperti melalui jalan panjang yang sunyi. Ikhtiar kecil yang Komunitas Pustaka Pelangi lakukan merupakan bentuk kepedulian atas kondisi masyarakat Kulon Progo. Komunitas ini percaya bahwa percikan kecil yang dilakukan merupakan langkah awal menuju cita-cita yang lebih besar.

Related Articles

Tuliskan Komentarmu