Menoreh Terlambat Mendengar Proklamasi

Category: Sejarah 663 0


Dibacakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia pada Jumat pagi di Pegangsaan Timur, Menteng, Jakarta, oleh Soekarno dan Hatta, tidak segera sampai di telinga masyarakat Kabupaten Kulon Progo dan Adikarta. Keterbatasan akses informasi dirasa menjadi penyebab utama sehingga masyarakat di dua daerah yang belum digabung ini tidak mendengar kabar bahagia dari Jakarta. Kabar sukacita baru diterima sekitar Rabu, 22 Agustus 1945. 

Masyarakat Kulon Progo dan Adikarta mendengar berita proklamasi dari tokoh-tokoh masyarakat yang kemudian tersebar dari mulut ke mulut. Ada pula yang dari kerabat serta keluarga di Jakarta, Semarang dan Yogyakarta. Hampir seminggu mengendap, kabar penting dari kawasan yang kini berkembang menjadi kawasan elit ini didengar oleh masyarakat Kulon Progo dan Adikarta melalui kabar tak resmi.

Perjuangan masyarakat Kulon Progo dan Adikarta tak bisa dianggap sepele. Banyak lokasi di Kulon Progo dan Adikarta yang menjadi saksi dimana pertempuran melawan Belanda dilakukan. Sebut saja Wates, Sentolo, Lendah, Kalibawang dan Samigaluh. Foto di bawah merupakan monumen di depan Kodim Kulon Progo yang dulu menjadi landasan tiang bendera Alun-alun Wates. Monumen ini menampilkan beberapa fragmen cerita perjuangan. Diresmikan tahun 1966 oleh Bupati saat itu KRT. Kertodiningrat sayangnya mungkin tidak banyak yang tahu apa maksud relief ini.

menoreh terlambat mendengar proklamasi

Mendengar lepasnya Garuda dari cengkeraman Belanda serta Jepang, golongan tua di Kulon Progo dan Adikarta umumnya gembira, namun tetap saja ada kekhawatiran dalam diri mereka. Tokoh masyarakat dan para pemimpin pemerintahan beranggapan bahwa yang tampak dari luar baik belum tentu benar-benar baik sehingga mereka memilih untuk lebih hati-hati. Ketakutan mereka beralasan. Mereka khawatir kemerdekaan ini tak berlangsung lama. Mereka menduga Belanda, Jepang atau pihak lain tak akan tinggal diam dan bersiap merebut kembali kemerdekaan Indonesia.

Berbeda halnya dengan golongan muda. Secara umum pemuda menanggapi kabar proklamasi dengan gegap gempita penuh optimisme. Rintangan seperti yang dikhawatirkan golongan tua tidak masuk dalam perhitungan mereka. Tidak hanya di Jakarta, ternyata di Kulon Progo dan Adikarta kekhawatiran yang sama juga dialami golongan tua.

Awal mula Badan Keamanan Rakyat

Tepat 22 Agustus 1945 dibentuklah Badan Keamanan Rakyat untuk menjamin keamanan dan ketenteraman masyarakat. Setelah dibentuk di Jakarta, BKR juga dibentuk di daerah, tidak terkecuali di Kulon Progo dan Adikarta. Berdirinya BKR menjadi wadah bagi masyarakat untuk turut berjuang bagi bangsa. Kebanyakan anggotanya bekas serdadu PETA dan Heiho. Selain BKR, sama seperti di daerah lain, di Kulon Progo juga berdiri laskar-laskar seperti Hisbullah, Fisabilillah, BPRI, Barisan Banteng dan sebagainya.

Dua bulan setelahnya banyak pemuda Kulon Progo dan Adikarta yang menjadi anggota Tentara Kemanan Rakyat. TKR dibentuk seiring datangnya tentara sekutu yang dikhawatirkan mengancam eksistensi negara yang baru saja lahir. Setalah didirikan pada 5 Oktober banyak anggota BKR Kulon Progo dan Adikarta yang berpindah menjadi anggota TKR.

Hampir bersamaan dengan didirikannya TKR, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Paku Alam VIII dan Komite Nasional Indonesia daerah Yogyakarta mengeluarkan Maklumat No.5/1945 tentang pembentukan Laskar Rakyat. Laskar Rakyat bertugas membantu mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta, mempertahankan kampung terhadap musuh, menjaga keamanan kampung dan membantu rakyat yang membutuhkan tenaga.

Pada dasarnya setiap masyarakat berhak menjadi anggota Laskar Rakyat namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yakni belum tergabung menjadi anggota TKR dan pria yang masih kuat secara fisik. Anggota yang berusia di bawah 15 tahun akan dipisahkan dengan anggota yang berusia di atas 15 tahun. Semua kepala barisan di tiap kepanewon merupakan dewan pimpinan Laskar Rakyat. Untuk pembiayaannya dicukupi oleh uang kas yang dikumpulkan masyarakat kampung.

Laskar Rakyat diharapkan dapat mencukupi kebutuhan senjatanya secara mandiri. Namun untuk metode latihan dan pergerakan selalu dikoordinasi oleh TKR di daerah masing-masing. Laskar Rakyat dianggap efektif untuk membantu kekuatan TKR yang saat itu juga masih menata diri.

Pimpinan kepala barisan harus senantiasa berkomunikasi secara intens dengan kepala kampung. Kepala Kampung bertanggungjawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan Laskar Rakyat. Semua pegawai Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta harus aktif di Laskar Rakyat di daerah masing-masing. Pekerjaan anggota Laskar Rakyat harus selalu diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu mata pencaharian setiap anggota khususnya yang telah berkeluarga.

Pada 7 Desember 1945 keluarlah Maklumat No.8/1945 yang ditandatangai Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Paku Alam VIII dan Moh. Saleh. Maklumat berisi instruksi bahwa yang harus menjadi Laskar Rakyat adalah semua penduduk pria Bangsa Indonesia yang masih sehat dan kuat badannya. Namun hal ini tidak berlaku bagi pria yang telah menjadi prajurit TKR, polisi dan Laskar Hisbullah, kepala kampung beserta tiga pegawainya, lurah dan sekretaris desa, lalu juga pegawai jawatan dan pegawai perusahaan penting yang ditunjuk dengan surat keterangan oleh kepala kantor.

Selain itu, pasca kemerdekaan, di Kulon Progo dan Adikarta juga dibentuk Komite Nasional pada September 1945. Perlu diketahui terbentuknya Komite Nasional pada 29 Agustus 1945 merupakan langkah yang dilakukan karena MPR, DPR dan DPA belum terbentuk. Oleh karena itu segala kekuasaan dijalankan oleh presiden dengan bantuan Komite Nasional. Komite Nasional Indonesia Pusat merupaka nama nasional, sedangkan Komite Nasional yang berada di daearah bernama Komite Nasional Indonesia Daerah.

KNIP pun langsung memegang peranan penting setelah terbentuk. Di mana keanggotaan KNIP diambil dari pemuka masyarakat dari berbagai golongan serta daerah di seluruh Indonesia, selain itu juga mantan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Partai muncul di Kulon Progo

Akhir tahun 1945 menjadi saat-saat dimana beberapa partai berdiri di Kulon Progo dan Adikarta. Menurut buku yang diterbitkan Bappeda Kulon Progo tahun 1997, hanya ada 3 partai yang saat itu ada di Kulon Progo dan Adikarta yakni Masyumi, PNI dan Partai Sosialis. Hal ini menjadi respon atas maklumat yang dikeluarkan pemerintah yang berisi anjuran kepada masyarakat untuk membentuk partai-partai. Oleh karena itu berdirilah Masyumi, PNI, Partai Sosialis, PSII dan lain-lain. Partai-partai yang berdiri di Kulon Progo dan Adikarta pada mulanya baik-baik saja tetapi lama kelamaan terlihat bertentangan satu sama lain.

Sebelum maklumat diterbitkan, di Indonesia hanya ada partai tunggal yakni Partai Nasional Indonesia. Sehingga belum dikenal sistem multi partai yang baru muncul 3 bulan setelah keputusan penggunaan partai tunggal.

Di Kulon Progo dan Adikarta, partai menjadi saluran dari berbagai ideologi yang berkembang di masyarakat setalah proklamasi dibacakan. Dengan medium partai diharapankan masyarakat dapat melanjutkan perjuangan membangun bangsa. Partai yang muncul di awal kemerdekaan antara lain Majelis Syuro Muslimin Indonesia, Partai Komunis Indonesia, Partai Buruh Indonesia , Partai Rakyat Jakarta, Partai Kristen Indonesia, Partai Sosialis Indonesia, Partai Rakyat Sosialis, Partai Katolik Indonesia, Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia dan Partai Nasional Indonesia

Di awal kemerdekaan bangsa Indonesia berusaha membangun landasan awal berdirinya sebuah negara. Jatuh, bangun, terpelanting merupakan pengalaman yang kerap dihadapi bangsa seiring bergulirnya hari. Dari tahun ke tahun Kulon Progo dan Adikarta tak luput dari hiruk pikuk sejarah. Kini tak banyak lagi yang secara langsung mengalami masa awal kemerdekaan di bumi Menoreh. Walaupun proklamasi terjadi puluhan tahun silam, semoga tahun ini rasa kebangsaan dan nasionalisme benar-benar kembali dibangun. Kita lupakan perbedaan, apapun kita, kita adalah bangsa Indonesia. (sumber: Buku Peranan Sejarah dan Budaya dalam Mendukung Pengembangan Objek Wisata Daerah Dati II Kulon Progo)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu