Merelakan Diri di Wildlife Resque Centre

Category: Budaya, Pendidikan 1,121 2
Sabtu, 4 April 2021 | Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kabupaten Kulon Progo temukan ikan berformalin di Pasar Bendungan dan Pasar Glaeng.
Sabtu, 15 Mei 2021 | Kasus penularan covid-19 di klaster Sangon Kecamatan Kokap, Kulon Progo, mencapai lebih dari 107 orang
Sabtu, 15 Mei 2021 | Kunjungan wisatawan di Pantai Glagah, Temon, melonjak hingga 1000 lebih pada Sabtu akhir pekan ini.
Sabtu, 15 Mei 2021 | Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melakukan uji coba pembelajaran tatap muka setelah Lebaran 2021
Sabtu, 15 Mei 2021 | Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Wates mengadakan kunjungan virtual Lebaran bagi warga binaan pemasyarakatan menggunakan 6 komputer.
Sabtu, 15 Mei 2021 | Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Badan Otorita Borobudur (BOB) sebagai wujud sinergi pengembangan wisata.
Sabtu, 15 Mei 2021 | Program vaksinasi Covid-19 di Kabupaten Kulon Progo mencapai 26,9% atau sebanyak 28.333 warga dari total 105.298 sasaran pada gelombang pertama.


Secara umum masyarakat Kulon Progo lebih familiar dengan Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta atau PPSJ daripada Wildlife Rescue Centre karena PPSJ muncul lebih awal. Kiprah PPSJ kemudian terhenti sekitar 2007. Area di Paingan, Sendangsari, Pengasih, kemudian dikelola Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta. Sebuah lokasi yang bukan tempat wisata tapi cukup sering didatangi warga negara asing.

Yayasan ini pula yang menginisiasi berdirinya Jogja Orangutan Centre di lokasi yang sama. Setelah era Jogja Orangutan Center didirikanlah Wildlife Resque Center sebagai jawaban atas mendesaknya kebutuhan penyelamatan satwa. Program ini membuat banyak warga negara asing datang ke Paingan menjadi relawan.

G. K. R. Mangkubumi hadir sebagai pembina Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, yayasan konservasi yang kemudian membidani WRC. Tempat ini merupakan pusat rehabilitasi dan konservasi bagi satwa hasil sitaan, hibah, sakit dan memerlukan perawatan. Berbagai jenis satwa direhabilitasi untuk dikembalikan lagi ke habitat aslinya.

Banyak relawan yang kemudian bergabung. Sebagian dari mereka warga negara asing. Jumlahnya tidak kalah banyak dari warga lokal yang mengabdikan diri untuk mengurus satwa yang ada di Paingan. Mereka bersama petugas menjadi ujung tombak kelestarian hayati Indonesia. Bekerja dari sebuah desa yang konon di dekatnya akan dilewati jalan bebas hambatan menuju airport baru.

Di lokasi Wildlife Rescue Centre satwa seperti beruang madu, siamang, orang utan, landak, buaya, burung nuri dan sebagainya yang dalam keadaan tidak baik dirawat hingga kondisinya pulih kemudian dilepas ke habitatnya. Ini dilakukan jika diyakini setiap satwa telah mendapatkan kembali insting liarnya.

Tidak sedikit warga negara asing terlibat dalam aktifitas konservasi di Wildlife Resque Centre. Berada disana mereka menyerahkan tenaga, pikiran dan waktu bagi satwa yang sedang direhabilitasi. Hingga saat ini ratusan volunteer asing tercatat pernah menjadi relawan di wilayah Kecamatan Pengasih ini.

Para relawan asing berasal dari Inggris, Scotlandia, Prancis, Denmark, Belanda, Argentia, Australia, Amerika, Hongkong, dan banyak negara lain. Tanpa paksaan, menurutnya menjadi volunteer merupakan panggilan. Mereka datang ke WRC atas keinginan pribadi lepas pribadi.

Tidak hanya menjadi relawan untuk satwa, mereka juga giat dalam aksi donasi tunai. Wildlife Resque Centre bekerjasama dengan NGO konservasi Internasional. Banyak volunteer mendengar informasi tentang area konservasi di kota geblek dari NGO di negera asalnya. Ada yang kemudian berdonasi tunai. Banyak pula yang menyediakan waktunya terbang ke Indonesia.

Agenda para relawan

Walaupun jauh dari hingar bingar kehidupan kota, beberapa relawan terutama asing mengaku menikmati interaksi dengan satwa dan penduduk lokal di sekitar area konservasi. Mereka melayani di Wildlife Resque Centre pada pagi hingga siang hari. Sore harinya belajar budaya khususnya budaya Kulon Progo sekaligus mengajar bahasa Inggris.

Biasanya relawan asing yang datang telah memiliki jadwal kegiatan selain berbagi di area konservasi. Pada Senin dan Selasa sore mereka belajar budaya lokal. Rabu untuk aktivitas English Kids Club yaitu mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak. Hari Kamis digunakan untuk Javanese Dinner yaitu makan malam dengan masyarakat sekitar. Pada Jumat mereka mengadakan English Community bagi kalangan remaja.

wildlife resque centreEnglish Community mereka adakan agar masyarakat lokal terbiasa dengan warga negera asing, berbagi wawasan dan saling belajar budaya. Aktivitas ini kembali menyadarkan mereka dan masyarakat bahwa semua orang adalah sama. Tidak ada yang superior meskipun secara sosial dan budaya mereka berbeda.

Para volunteer asing mengajar dengan konsep bermain sambil belajar agar peserta mudah memahami materi yang disampaikan. Biasanya sebelum memasuki materi dilakukan ice breaking terlebih dahulu agar masyarakat tidak canggung belajar dengan orang baru, apalagi warga negara asing.

Jumlah pengajar yang turut serta dalam English Community tidak menentu. Terkadang hanya dua atau lima pengajar. Bahkan pernah hingga sembilan pengajar. Banyaknya pengajar tergantung jumlah volunteer yang saat itu sedang membantu di Wildlife Resque Centre.

Hadirnya para pengajar dari negara asing khususnya berbekal materi English Community disambut baik oleh masyarakat sekitar. Terbukti dengan antusiasnya peserta dari berbagai tingkatan umur. Peserta yang hadir biasanya belasan orang. Ada yang masih SMP ada pula yang telah belajar di perguruan tinggi.

Perbedaan bukanlah penghalang untuk saling berinteraksi dan berbagi. Justru dengan perbedaan masyarakat akan semakin bertambah wawasan dan saling memahami, meskipun berbeda latar belakang. Mari melayani di Wildlife Resque Centre. Menjadi berkat bagi satwa dan masyarakat. Sumber foto: www.tanyawisata.com

Related Articles

2 thoughts on “Merelakan Diri di Wildlife Resque Centre

  1. Rudi

    Kalau mau donasi atau daftar jadi relawan caranya gimana ya? Sepertinya gak banyak informasi tentang lembaga ini di internet.

    Reply
    1. Admin

      Betul tidak banyak. Monggo untuk lebih jelasnya bisa datang langsung ke lokasi.

      Reply

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Halo, Kulon Progo!

Masyarakat Kulon Progo, penyakit virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan di China. Orang yang tertular COVID-19 yang mengalami gejala ringan akan pulih tanpa penanganan khusus. Namun diperlukan penanganan medis yang lebih serius untuk gejala sedang dan berat.

Virus yang menyebabkan COVID-19 terutama ditransmisikan melalui droplet (percikan air liur) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya.

Anda dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika Anda berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi COVID-19. Anda juga dapat tertular jika menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut Anda.

Sampai saat ini, belum ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati penyakit yang disebabkan virus corona baru (COVID-19). Mereka yang terinfeksi virus harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala, dan mereka yang sakit serius harus dibawa ke rumah sakit.

Seperti penyakit pernapasan lainnya, COVID-19 dapat menyebabkan gejala ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Sekitar 80% kasus dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus. Tapi bagi sebagian orang yang berisiko tinggi (kelompok lanjut usia dan orang dengan masalah kesehatan menahun, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau diabetes), virus corona dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, bahkan menyebabkan kematian. Kebanyakan korban berasal dari kelompok berisiko itu.

Jika memiliki gejala seperti pilek, sakit tenggorokan, batuk, badan lelah, demam dan kehilangan indera penciuman atau pengecap, dihimbau untuk isolasi mandiri di rumah, RS Darurat, RS, maupun RS rujukan untuk pasien COVID-19. Isolasi diri (baik secara mandiri di rumah atau di klinik, puskesmas, dan rumah sakit) minimal 10 hari sejak munculnya gejala ditambah 3 hari. Ditambah dengan kepastian bahwa gejala yang semula muncul sudah benar-benar hilang.

Masyarakat Kulon Progo, Anda dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan berkumpul dengan banyak orang. Diwajibkan untuk mengenakan masker, menghindari tempat-tempat dengan risiko penularan tinggi, istirahat yang cukup, rutin berolahraga, dan mengonsumsi makanan serta minuman yang sehat.

Jika sangat mendesak atau diperlukan menggelar acara dengan jumlah orang yang banyak, pastikan protokol kesehatan dilaksanakan dengan disiplin, dan laporkan penyelenggaraan kegiatan tersebut kepada satgas COVID-19 setempat.

Update Perkembangan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di Kulon Progo: Klik Di Sini.