Merelakan Diri di Wildlife Resque Centre

Category: Budaya, Pendidikan 369 2


Secara umum masyarakat Kulon Progo lebih familiar dengan Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta atau PPSJ daripada Wildlife Rescue Centre karena PPSJ muncul lebih awal. Kiprah PPSJ kemudian terhenti sekitar 2007. Area di Paingan, Sendangsari, Pengasih, kemudian dikelola Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta. Sebuah lokasi yang bukan tempat wisata tapi cukup sering didatangi warga negara asing.

Yayasan ini pula yang menginisiasi berdirinya Jogja Orangutan Centre di lokasi yang sama. Setelah era Jogja Orangutan Center didirikanlah Wildlife Resque Center sebagai jawaban atas mendesaknya kebutuhan penyelamatan satwa. Program ini membuat banyak warga negara asing datang ke Paingan menjadi relawan.

G. K. R. Mangkubumi hadir sebagai pembina Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, yayasan konservasi yang kemudian membidani WRC. Tempat ini merupakan pusat rehabilitasi dan konservasi bagi satwa hasil sitaan, hibah, sakit dan memerlukan perawatan. Berbagai jenis satwa direhabilitasi untuk dikembalikan lagi ke habitat aslinya.

Banyak relawan yang kemudian bergabung. Sebagian dari mereka warga negara asing. Jumlahnya tidak kalah banyak dari warga lokal yang mengabdikan diri untuk mengurus satwa yang ada di Paingan. Mereka bersama petugas menjadi ujung tombak kelestarian hayati Indonesia. Bekerja dari sebuah desa yang konon di dekatnya akan dilewati jalan bebas hambatan menuju airport baru.

Di lokasi Wildlife Rescue Centre satwa seperti beruang madu, siamang, orang utan, landak, buaya, burung nuri dan sebagainya yang dalam keadaan tidak baik dirawat hingga kondisinya pulih kemudian dilepas ke habitatnya. Ini dilakukan jika diyakini setiap satwa telah mendapatkan kembali insting liarnya.

Tidak sedikit warga negara asing terlibat dalam aktifitas konservasi di Wildlife Resque Centre. Berada disana mereka menyerahkan tenaga, pikiran dan waktu bagi satwa yang sedang direhabilitasi. Hingga saat ini ratusan volunteer asing tercatat pernah menjadi relawan di wilayah Kecamatan Pengasih ini.

Para relawan asing berasal dari Inggris, Scotlandia, Prancis, Denmark, Belanda, Argentia, Australia, Amerika, Hongkong, dan banyak negara lain. Tanpa paksaan, menurutnya menjadi volunteer merupakan panggilan. Mereka datang ke WRC atas keinginan pribadi lepas pribadi.

Tidak hanya menjadi relawan untuk satwa, mereka juga giat dalam aksi donasi tunai. Wildlife Resque Centre bekerjasama dengan NGO konservasi Internasional. Banyak volunteer mendengar informasi tentang area konservasi di kota geblek dari NGO di negera asalnya. Ada yang kemudian berdonasi tunai. Banyak pula yang menyediakan waktunya terbang ke Indonesia.

Agenda para relawan

Walaupun jauh dari hingar bingar kehidupan kota, beberapa relawan terutama asing mengaku menikmati interaksi dengan satwa dan penduduk lokal di sekitar area konservasi. Mereka melayani di Wildlife Resque Centre pada pagi hingga siang hari. Sore harinya belajar budaya khususnya budaya Kulon Progo sekaligus mengajar bahasa Inggris.

Biasanya relawan asing yang datang telah memiliki jadwal kegiatan selain berbagi di area konservasi. Pada Senin dan Selasa sore mereka belajar budaya lokal. Rabu untuk aktivitas English Kids Club yaitu mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak. Hari Kamis digunakan untuk Javanese Dinner yaitu makan malam dengan masyarakat sekitar. Pada Jumat mereka mengadakan English Community bagi kalangan remaja.

wildlife resque centreEnglish Community mereka adakan agar masyarakat lokal terbiasa dengan warga negera asing, berbagi wawasan dan saling belajar budaya. Aktivitas ini kembali menyadarkan mereka dan masyarakat bahwa semua orang adalah sama. Tidak ada yang superior meskipun secara sosial dan budaya mereka berbeda.

Para volunteer asing mengajar dengan konsep bermain sambil belajar agar peserta mudah memahami materi yang disampaikan. Biasanya sebelum memasuki materi dilakukan ice breaking terlebih dahulu agar masyarakat tidak canggung belajar dengan orang baru, apalagi warga negara asing.

Jumlah pengajar yang turut serta dalam English Community tidak menentu. Terkadang hanya dua atau lima pengajar. Bahkan pernah hingga sembilan pengajar. Banyaknya pengajar tergantung jumlah volunteer yang saat itu sedang membantu di Wildlife Resque Centre.

Hadirnya para pengajar dari negara asing khususnya berbekal materi English Community disambut baik oleh masyarakat sekitar. Terbukti dengan antusiasnya peserta dari berbagai tingkatan umur. Peserta yang hadir biasanya belasan orang. Ada yang masih SMP ada pula yang telah belajar di perguruan tinggi.

Perbedaan bukanlah penghalang untuk saling berinteraksi dan berbagi. Justru dengan perbedaan masyarakat akan semakin bertambah wawasan dan saling memahami, meskipun berbeda latar belakang. Mari melayani di Wildlife Resque Centre. Menjadi berkat bagi satwa dan masyarakat. Sumber foto: www.tanyawisata.com

Related Articles

2 thoughts on “Merelakan Diri di Wildlife Resque Centre

  1. Rudi

    Kalau mau donasi atau daftar jadi relawan caranya gimana ya? Sepertinya gak banyak informasi tentang lembaga ini di internet.

    Reply
    1. Admin

      Betul tidak banyak. Monggo untuk lebih jelasnya bisa datang langsung ke lokasi.

      Reply

Tuliskan Komentarmu