Nitirejo, Banjarasri dan Kenangan Nasution

Category: Sejarah, Sosial 1,775 1


Suksesnya Serangan Umum 1 Maret 1949 tidak lepas dari peran Banjarasri, Kalibawang, Kulon Progo. Desa kecil di Kulon Progo ini digunakan sebagai lokasi bersembunyi, mengabarkan informasi dan menyusun strategi balasan terhadap Belanda. Dengan tidak mengecilkan sumbangsih masyarakat dan tokoh lain, peran Simbah Nitirejo, layak menjadi salah satu yang utama. Pada masa mempertahankan kemerdekaan medio 1948 sampai awal 1949, rumah Nitirejo kedatangan tamu besar. Jenderal Abdul Haris Nasution. Seorang jenderal TNI yang selamat dari percobaan penculikan tahun 1965.

Simbah Nitirejo di Banjarasri KalibawangKeadaan Banjarasri memungkinkan pejuang mendirikan pertahanan, sekaligus mengatur strategi politik dan taktik militer. Dari bukit Banjarasri yang menjulang tinggi, keadaan di bawah dapat dipantau dari lokasi ini. Banjarasri menjadi tempat mengungsi beberapa pejabat negara karena situasi pusat kota Yogyakarta sedang tidak aman menyusul agresi militer yang dilakukan Belanda.

Tlatah Kalibawang dan Nanggulan puluhan tahun sebelumnya telah menjadi area strategis menurut Diponegoro. Sejarawan Pater Carey pernah menuliskan kisah Dipenogoro yang bergerilya hingga Bukit Menoreh. Dalam satu serangan yang tak dipertimbangkan dengan baik, Kapitein Hermanus Folkert Van Ingen, pimpinan pasukan Belanda yang mengejar Diponegoro sampai lokasi ini akhirnya meregang nyawa bersama pasukannya karena salah strategi saat menyergap Diponegoro pada 28 Desember 1828. Ia dimakamkan di Nanggulan. Batu nisannya masih ada hingga kini walaupun bentuknya tidak lagi sempurna. Kabar mengenai kematian Van Ingen terpampang juga di salah satu harian Belanda yang terbit di Hindia Belanda.

Selain lokasinya yang strategis dari tinjauan geografis, ada pula keunggulan lain dari desa ini. Adanya Rumah Sakit Santo Yusup menjadi nilai tambah. Kondisi kesehatan warga sekitar lebih terjamin karena dekat denga fasilitas kesehatan. Santo Yusup didirikan misionaris Katolik yang saat itu telah melayani di Kalibawang. Kebetulan rumah Nitirejo ada di paling atas. Di dekat rumahnya ada beberapa batu besar. Dari batu ini persawahan Nanggulan terlihat jelas. Lokasi rumah sekitar 2 km dari Rumah Sakit Santo Yusup.

Tak menyangka wakil panglima

Simbah Nitirejo kakung sudah meninggal, namun Simbah Nitirejo putri masih ingat betul bagaimana ketika Nasution datang ke rumahnya. Di rumahnya yang sangat sederhana, mulanya ia dan suami tidak mengetahui sama sekali bahwa kediamannya akan kedatangan Nasution yang saat itu menjabat Wakil Panglima Besar TKR. Orang kedua di bawah Jenderal Soedirman.

Sebatas pengetahuannya, Pak Nas, sapaan akrab warga Banjarasri terhadap Nasution, adalah seorang guru dari Sumatera yang tersesat di Kalibawang. Namun lambat laun ia tahu bahwa seorang pria muda yang tidur di lincak sederhana rumahnya adalah tentara ahli strategi perang.

Keberadaan Nasution di Banjarasri dirahasiakan. Hanya orang tertentu yang bisa bertatap muka dengannya. Dua orang yang beruntung ya pasangan Simbah Nitirejo ini. Mereka berinteraksi langsung dengan Nasution selama kurang lebih 3,5 bulan. Untuk meminimalisir resiko yang terjadi, jika ada informasi dari bawah telah disediakan kurir khusus dengan kawalan tentara. Kurir ini bertugas menyampaikan informasi padanya.

Simbah Nitirejo di Banjarasri KalibawangMenurut Simbah Nitirejo putri, perawakan Nasution tinggi tegap untuk ukuran pemuda saat itu. Wajahnya ganteng. Ketika datang ke Banjarasri umurnya baru sekitar 30 tahun. Kulitnya bersih, kenangnya. Sayang ia tidak ingat berapa usia dirinya dan suami saat Nasution datang.

Simbah Nitirejo putri sehari-hari memasak makanan dan menyiapkan minuman untuk Nasution. Termasuk menyiapkan air untuk mandi. Nasution memang lebih sering di dalam rumah dengan penjagaan beberapa tentara di sekitar rumah. Nasution makan makanan apapun yang disediakan, namun makanan kesukaannya sayur lodeh. Terlihat dari lahapnya menyantap lodeh buatan Simbah Nitirejo putri.

Walaupun usia Simbah Nitirejo putri telah sepuh, ia begitu bersemangat saat bercerita mengenai Nasution sambil memegangi tongkatnya. Ia bercerita bahwa gebyok rumah asli yang digunakan saat Nasution berdiam di rumahnya pun masih terawat hingga kini. Posisinya sudah tidak di lokasi semula. Sudah dipindah agak ke bawah di samping rumah Pak Setyo, anaknya. Ia tidak menceritakan mengapa gebyok rumahnya dipindah ke bawah. Mungkin karena faktor usia sehingga simbah tidak diperkenankan tinggal sendirian.

Sehari-hari Nasution berdiam di rumah. Sesekali keluar rumah ngobrol bersama beberapa tentara. Sesekali ada tamu datang berdiskusi bersamanya. Simbah Nitirejo putri tidak mengenali siapa tamu yang datang saat itu. Nasution hanya meminta bantuan simbah untuk membuatkan minuman ala kadarnya. Nasution juga cukup sering duduk di kursi sambil menulis sesuatu. Entah apa yang ia tulis. Beliau dan suami tidak berani bertanya terlalu banyak kepada Nasution karena sungkan dan jujur ada juga perasaan takut.

banjarasri kalibawangMenurut anaknya, beberapa perabot asli milik orangutanya telah dibawa oleh pemerintah kemudian disimpan di museum sebagai bahan pembelajaran sejarah. Ini tidak bisa dipungkiri karena negara tentu sadar bahwa ada sejarah berharga yang pernah terjadi di rumah kampung sederhana milik Nitirejo. Rumah yang kini lebih kerap digunakan untuk menaungi semen, gabah dan beberapa alat perkebunan.

Di rumah yang Simbah Nitirejo putri tempati tersimpan satu frame foto dengan wajah Nasution di ruang tamu. Foto Nasution tertempel di tembok. Ia juga masih menyimpan lencana penghargaan sebagai ucapan terimakasih atas jasanya kepada negara. Sampai beberapa tahun yang lalu, keluarganya kerap diundang untuk bertemu dengan Nasution, sebelum Nasution meninggal tahun 2000. Nasution bahkan rutin memberikan bantuan pada keluarga Nitirejo. Beberapa tahun terakhir bantuan itu terhenti.

Di puncak bukit yang lain didirikan stasiun pemancar untuk berbagi kabar dengan para pimpinan republik yang terpencar di banyak tempat dan mengabarkan pesan ke dunia internasional melalui radio. Berita dikirim menggunakan radiogram yang dioperasikan memakai baterai manual. Untuk menyalakan radiogram, dua orang dititahkan untuk secara rutin pukul 15.00 dan 17.00 mengisi baterai dengan cara dipedal.

Setelah sekian bulan tinggal di Banjarasri, Nasution meninggalkan desa kenangan pertengahan 1949. Ia berpamitan dengan Nitirejo untuk melanjutkan gerilya. Meninggalkan Pos MBKD Banjarasri, Borogunung, Kalibawang, Kulon Progo, meneruskan perjuangan yang belum usai. Menuntaskan perlawanan terhadap hagemoni Belanda.

Nasution telah tiada. Namun kenangan akan kehidupan keluarganya bersama salah satu putra terbaik bangsa masih melekat di benak Simbah Nitirejo putri. Di masa tuanya, pendengaran beliau semakin menurun. Doakan untuk kesehatannya. Berdoa untuk wisata edukasi sejarah Kulon Progo yang belum dikerjakan dengan baik. Masa lalu menjadi penting karena semua dimulai dari titik ini. Peduli?

Related Articles

One thought on “Nitirejo, Banjarasri dan Kenangan Nasution

  1. endar

    mantap lur. gali terus berlian yang terpendam di kab kulonprogo, semoga generasi muda makin tercerahkan dan bangga terhadap tempat lahirnya

    Reply

Tuliskan Komentarmu