Harga Kompetitif Bela Beli Kulon Progo

Category: Ekonomi, Uncategorized 370 0


Jargon Bela Beli Kulon Progo sukses tertanam di benak masyarakat Kulon Progo sejak diperkenalkan pada 2013. Jika boleh berlebihan, sepertinya hanya anak kecil dan yang sudah sepuh saja yang belum pernah mendengar jargon ini. Saat membeli, menawarkan ataupun memberi rujukan tentang barang dan jasa yang kebetulan berasal dari Kulon Progo, masyarakat acap kali menyertakan istilah Bela Beli Kulon Progo sebagai nilai tambah, khususnya produk olahan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Merayu menggunakan solidaritas kedaerahan. Ya, boleh saja seperti ini tetapi apakah produk lokal Kulon Progo siap bersaing?

bela beli kulon progoBela Beli Kulon Progo sebagai ideologi dibangun agar perputaran konsumsi masyarakat Kulon Progo sebagian besar kembali pada masyarakat Kulon Progo. Mudahnya begini, masyarakat Kulon Progo didorong membeli produk yang juga diolah oleh masyarakat Kulon Progo. Cara ini diyakini akan berdampak positif pada upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan warga. Semakin tinggi volume penjualan atas produk atau jasa tertentu, semakin tinggi pula kepercayaan diri sang produsen atau penyedia jasa untuk lebih banyak melakukan penjualan.

Pertanyaan yang kemudian muncul, siapkah produk dan jasa yang dibuat atau disediakan masyarakat Kulon Progo bersaing dengan produk dari luar daerah? Umumnya pembeli memilih produk dan jasa dari luar Kulon Progo dikarenakan harganya lebih murah. Sederhana.

Survey menunjukkan rata-rata produk Kulon Progo masih dijual oleh produsen langsung tanpa melibatkan orang lain. Ini mengakibatkan penetrasi pasar kurang luas. Sebenarnya bisa dipahami mengingat mungkin terbatasnya modal dan akses pasar, namun ke depan produk Kulon Progo tak boleh hanya dipasarkan produsen seorang. Peran jejaring dan pemanfaatan media sosial bisa menjadi solusi termudah untuk memperluas cakupan pasar.

Meski harga bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan pembelian, bagi warga masyarakat berpenghasilan rendah, harga selalu menjadi pertimbangan utama. Jika kembali pada ideologi Bela Beli Kulon Progo di mana produk Kulon Progo diharapkan dibeli oleh warga Kulon Progo, maka faktor harga harus menjadi pertimbangan utama sebelum melempar produk ke pasar. Mengingat sebagian besar warga Kulon Progo tergolong kurang mampu dan ada anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa lebih baik berhemat daripada mengeluarkan uang untuk sesuatu yang substitusinya ada di rumah.

Sebenarnya sudah ada produk UMKM Kulon Progo yang harga jualnya kompetitif terhadap produk yang sama namun berasal dari luar daerah. Jika ingin ekspansi merambah pasar luar daerah, pertanyaan selanjutnya adalah sudahkah produk Kulon Progo dijual di luar Kulon Progo dengan harga yang sama? Maka akan tampak bahwa harga produk khususnya UMKM Kulon Progo dinilai belum kompetitif.

Ke depan, setiap produsen di Kulon Progo diharapkan memiliki distributor, baik di dalam ataupun di luar daerah. Distributor akan memperluas cakupan pasar namun sepak terjangnya kembali ditentukan dari perhitungan harga. Harga yang kompetitif merupakan modal utama bagi distributor untuk membela produk Kulon Progo dalam pengertian menjual produk seluas mungkin. Setidaknya ke daerah sekitar seperti Purworejo, Sleman, Bantul dan Kota.

Fakta produk Kulon Progo

Survey perbandingan harga agen terhadap beberapa produk dalam dan luar Kulon Progo berdasarkan wawancara dengan beberapa produsen menemukan beberapa fakta menarik tentang produk Kulon Progo.

Beberapa produsen Kulon Progo belum menghitung Harga Pokok Produksi dan Harga Pokok Penjualan sebagai dasar menetapkan harga. Harga yang diterapkan mengikuti harga pasaran umum produk serupa. Harga distributor kurang atraktif sehingga produsen terpaksa melakukan penjualan langsung pada konsumen yang menyebabkan pemasaran sulit berkembang.

Selain itu, produk yang telah menerapkan harga distributor ternyata belum detail menghitung HPP, misalnya menghilangkan tenaga kerja manajemen atau tenaga dan pikiran pemilik sebagai pengelola, sehingga keberlangsungan usaha bisa terancam jika pemilik berhalangan karena sakit atau alasan lain.

Keempat fakta tersebut menjadi alasan utama UMKM tidak bisa bertahan pada bulan pertama, trimester pertama, semester pertama atau setahun pertama usaha mereka. Kalaupun berlanjut, semata bertahan, tidak berkembang. Sebuah usaha akan bertahan jika rutin terjadi penjualan dan akan berkembang jika penjualan meningkat secara berkala.

Melihat fakta di atas maka produsen UMKM harus terus belajar. Khususnya pada poin menentukan HPP dan menerapkannya secara konsisten. Selain itu keterampilan melakukan pembukuan juga harus dikuasai dan dijalankan dengan disiplin. Terutama saat mulai membutuhkan permodalan untuk mengembangkan usaha. Semoga Dinas Perdagangan bisa memfasilitasi UMKM untuk terus belajar.

Bela beli Kulon Progo sudah menjadi awal yang baik. Oleh karena itu seharusnya diterjemahkan dengan teknik dan strategi yang tidak kalah baiknya.

Related Articles

Tuliskan Komentarmu