Rindu Tubiran Terpendam di Suriname

Category: Sejarah, Sosial, Uncategorized 1,001 0


Tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Soegiran Wongsotaroeno, warga negara Suriname yang kini telah sepuh, saat menjejakan kaki untuk pertama kalinya di tanah Desa Gotakan, Panjatan. Kawasan di selatan Kulon Progo ini dihuni keluarga Mbah Wongso dari garis keturunan sang ayah. Mbah Wongso adalah panggilan akrab Soegiran, anak seorang buruh perkebunan era kolonial Belanda di Suriname. Pria yang rela berlayar ribuan kilometer atau ayah kandung Mbah Wongso bernama Tubiran.

Sejarah melalui arsip yang ditemukan mencatat setidaknya 316 warga Kulon Progo pernah hijrah ke Suriname sejak tahun 1905 sebagai pekerja kontrak. Data ini mungkin dapat berubah seiring ditemukannya fakta baru. Para pekerja berangkat untuk bekerja sebagai buruh di kawasan pertambangan, pertanian dan perkebunan.

Banyak dari mereka kemudian memilih pulang selepas kontrak habis. Tidak sedikit yang belum dapat pulang. Mereka akhirnya menetap sebagai warga negara Suriname atau Belanda.

Dari total keseluruhan pekerja Kulon Progo yang arsipnya berhasil ditemukan, 160 orang diantaranya merupakan pekerja pria dan 156 orang sisanya pekerja perempuan. Kebanyakan warga Kulon Progo dan pekerja dari daerah lain merantau ke Suriname ketika masih berusia belasan tahun.

Jejak langkah Tubiran


Berdasarkan berkas keberangkatan para pekerja dari Kulon Progo, Tubiran beralamat di sebuah dusun yang saat itu masih menjadi wilayah Kadipaten Pakualaman yakni Dusun Turip, Wates. Foto Tubiran muda saat berangkat membawa nomor 212 ada di bagian atas. Tidak ada penjelasan rinci mengenai letak Dusun Turip selain posisinya di Wates. Beberapa sumber menyatakan ada dua nama Dusun Turip yang lokasinya di sekitar Wates. Dusun Turip yang pertama terletak di Ngestiharjo. Dusun Turip kedua terletak di Triharjo. Jaman berganti. Banyak kemungkinan yang terjadi terkait dusun ini.

Menurut penuturan Mbah Wongo, Tubiran, warga selatan Kulon Progo ini mulanya senang bermain kartu lalu menggunakan uang sebagai taruhannya. Tubiran muda mendapatkan uang dari ibunya sebagai upah karena telah mengasuh adiknya sementara sang ibu berjualan tempe di pasar.

Suatu ketika Tubiran tidak mendapatkan uang seperti biasa dari orangtuanya. Ia marah lalu memutuskan pergi dari rumah. Menurut sang adik yang tinggal di Kulon Progo, Songko Hardjosukoyo, Tubiran memutuskan meninggalkan rumah dikarenakan tertangkap basah bermain judi oleh orangtuanya. Ia mungkin takut dimarahi sehingga memutuskan pergi.

Saat pergi itu lah Tubiran bertemu dengan temannya. Orang ini yang kemudian mengajak Tubiran pergi bekerja di Suriname, sebuah negera di Amerika Selatan, dengan iming-iming penghasilan besar. Penghasilan yang jauh di atas rata-rata penghasilan orang Kulon Progo saat itu.

Keputusan untuk berangkat ke Suriname telah bulat. Saat berangkat ia tergolong berusia sangat muda yakni 16 tahun. Masih dari arsip yang sama, Tubiran dideskripsikan sebagai pria muda kelahiran Hindia Belanda, dengan tinggi badan 154 cm dan beragama Islam. Tubiran berangkat dari Batavia pada 24 September 1928 menggunakan kapal bernama Buitenzorg IV.

Sesampainya di Suriname, Tubiran dan mungkin bersama rombongan yang lain berlabuh di Paramaribo. Ia diperkerjakan oleh agen tenaga kerja bernama NHM pl. Marienburg dan Zoelen. Menunggu cukup lama, ia akhirnya disodori kontrak kerja berdurasi 5 tahun terhitung sejak 11 November 1928 dan akan berakhir pada 11 November 1939. Ladang perkebunan Marienburg & Zoelen menjadi tempatnya bekerja bersama banyak buruh lain.

Menikah dan Memiliki Anak


Tubiran kemudian mengenal seorang perempuan. Ia jatuh hati pada perempuan yang di arsip miliki usia jauh lebih tua dibanding Tubiran. Perempuan asal Kalijerek, Kebumen, ini bernama Satarijah. Berusia 19 tahun saat berangkat menuju Suriname pada 16 Juni 1907. Ia dituliskan dalam arsip telah menikah terlebih dahulu dengan seorang pria yang bernama Susah. Tidak diketahui pasti akhir dari pernikahan pertama Satarijah sebelum akhirnya menikah dengan Tubiran.

Satarijah mulanya bekerja di perkebunan Peperpot pada 27 Agustus 1907 dengan agen bernama Brink, Jan ten, beheerder Sur. Cult. Mij. Dari pernikahan Tubiran dan Satarijah, pasangan ini dikaruniai 3 orang anak, yakni Soegiran, Soetini dan Soeti. Soegiran lah yang kemudian datang ke Kulon Progo pada 20 Oktober 2017, lalu.

Informasi dari arsip ini merupakan data sepihak yang tidak menutup kemungkinan terdapat kesalahan atau kekurangan informasi. Untuk itu akan sangat berguna jika ada informasi tambahan yang dapat memperkaya wawasan mengenai kehidupan warga Kulon Progo di Suriname, khususnya keluarga Tubiran.

Pada 9 Agustus 1890 imigran Jawa menatap langit Suriname untuk pertama kalinya. Mungkin karena itu setiap 9 Agustus diperingati keturunan Jawa di Suriname sebagai The Day of Wong Jowo. Dalam sebuah prasasti berbentuk patung di Suriname tertulis demikian, Monument Ter Nagedachtenis Aan De Komst Van De Eerste Javanen In Suriname. Sebuah pengingat untuk mengenang simbah buyut yang bersusah payah menjaga kehidupan bagi generasi selanjutnya.

Inilah risalah mengenai kehidupan Tubiran. Seorang warga Kulon Progo yang bertekad mengadu nasib di negeri jauh sampai akhir hidupnya. Sang anak, Mbah Wongso, kemudian datang ke Kulon Progo untuk menuntaskan keinginan sang ayah pulang ke tanah kelahirannya. Kisah dua keluarga yang terpisah jauh, Kulon Progo dan  Suriname, kini telah terungkap. (Sumber: Gahetna.nl dan Kompas.com; Sumber foto: Gahetna.nl dan Surinameblogger.deviantart.com)

Related Articles

Tuliskan Komentarmu