Rindu Tubiran Terpendam di Suriname

Category: Sejarah, Sosial, Uncategorized 2,303 0
Sabtu, 4 April 2021 | Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kabupaten Kulon Progo temukan ikan berformalin di Pasar Bendungan dan Pasar Glaeng.
Sabtu, 15 Mei 2021 | Kasus penularan covid-19 di klaster Sangon Kecamatan Kokap, Kulon Progo, mencapai lebih dari 107 orang
Sabtu, 15 Mei 2021 | Kunjungan wisatawan di Pantai Glagah, Temon, melonjak hingga 1000 lebih pada Sabtu akhir pekan ini.
Sabtu, 15 Mei 2021 | Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melakukan uji coba pembelajaran tatap muka setelah Lebaran 2021
Sabtu, 15 Mei 2021 | Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Wates mengadakan kunjungan virtual Lebaran bagi warga binaan pemasyarakatan menggunakan 6 komputer.
Sabtu, 15 Mei 2021 | Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Badan Otorita Borobudur (BOB) sebagai wujud sinergi pengembangan wisata.
Sabtu, 15 Mei 2021 | Program vaksinasi Covid-19 di Kabupaten Kulon Progo mencapai 26,9% atau sebanyak 28.333 warga dari total 105.298 sasaran pada gelombang pertama.


Tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Soegiran Wongsotaroeno, warga negara Suriname yang kini telah sepuh, saat menjejakan kaki untuk pertama kalinya di tanah Desa Gotakan, Panjatan. Kawasan di selatan Kulon Progo ini dihuni keluarga Mbah Wongso dari garis keturunan sang ayah. Mbah Wongso adalah panggilan akrab Soegiran, anak seorang buruh perkebunan era kolonial Belanda di Suriname. Pria yang rela berlayar ribuan kilometer atau ayah kandung Mbah Wongso bernama Tubiran.

Sejarah melalui arsip yang ditemukan mencatat setidaknya 316 warga Kulon Progo pernah hijrah ke Suriname sejak tahun 1905 sebagai pekerja kontrak. Data ini mungkin dapat berubah seiring ditemukannya fakta baru. Para pekerja berangkat untuk bekerja sebagai buruh di kawasan pertambangan, pertanian dan perkebunan.

Banyak dari mereka kemudian memilih pulang selepas kontrak habis. Tidak sedikit yang belum dapat pulang. Mereka akhirnya menetap sebagai warga negara Suriname atau Belanda.

Dari total keseluruhan pekerja Kulon Progo yang arsipnya berhasil ditemukan, 160 orang diantaranya merupakan pekerja pria dan 156 orang sisanya pekerja perempuan. Kebanyakan warga Kulon Progo dan pekerja dari daerah lain merantau ke Suriname ketika masih berusia belasan tahun.

Jejak langkah Tubiran


Berdasarkan berkas keberangkatan para pekerja dari Kulon Progo, Tubiran beralamat di sebuah dusun yang saat itu masih menjadi wilayah Kadipaten Pakualaman yakni Dusun Turip, Wates. Foto Tubiran muda saat berangkat membawa nomor 212 ada di bagian atas. Tidak ada penjelasan rinci mengenai letak Dusun Turip selain posisinya di Wates. Beberapa sumber menyatakan ada dua nama Dusun Turip yang lokasinya di sekitar Wates. Dusun Turip yang pertama terletak di Ngestiharjo. Dusun Turip kedua terletak di Triharjo. Jaman berganti. Banyak kemungkinan yang terjadi terkait dusun ini.

Menurut penuturan Mbah Wongo, Tubiran, warga selatan Kulon Progo ini mulanya senang bermain kartu lalu menggunakan uang sebagai taruhannya. Tubiran muda mendapatkan uang dari ibunya sebagai upah karena telah mengasuh adiknya sementara sang ibu berjualan tempe di pasar.

Suatu ketika Tubiran tidak mendapatkan uang seperti biasa dari orangtuanya. Ia marah lalu memutuskan pergi dari rumah. Menurut sang adik yang tinggal di Kulon Progo, Songko Hardjosukoyo, Tubiran memutuskan meninggalkan rumah dikarenakan tertangkap basah bermain judi oleh orangtuanya. Ia mungkin takut dimarahi sehingga memutuskan pergi.

Saat pergi itu lah Tubiran bertemu dengan temannya. Orang ini yang kemudian mengajak Tubiran pergi bekerja di Suriname, sebuah negera di Amerika Selatan, dengan iming-iming penghasilan besar. Penghasilan yang jauh di atas rata-rata penghasilan orang Kulon Progo saat itu.

Keputusan untuk berangkat ke Suriname telah bulat. Saat berangkat ia tergolong berusia sangat muda yakni 16 tahun. Masih dari arsip yang sama, Tubiran dideskripsikan sebagai pria muda kelahiran Hindia Belanda, dengan tinggi badan 154 cm dan beragama Islam. Tubiran berangkat dari Batavia pada 24 September 1928 menggunakan kapal bernama Buitenzorg IV.

Sesampainya di Suriname, Tubiran dan mungkin bersama rombongan yang lain berlabuh di Paramaribo. Ia diperkerjakan oleh agen tenaga kerja bernama NHM pl. Marienburg dan Zoelen. Menunggu cukup lama, ia akhirnya disodori kontrak kerja berdurasi 5 tahun terhitung sejak 11 November 1928 dan akan berakhir pada 11 November 1939. Ladang perkebunan Marienburg & Zoelen menjadi tempatnya bekerja bersama banyak buruh lain.

Menikah dan Memiliki Anak


Tubiran kemudian mengenal seorang perempuan. Ia jatuh hati pada perempuan yang di arsip miliki usia jauh lebih tua dibanding Tubiran. Perempuan asal Kalijerek, Kebumen, ini bernama Satarijah. Berusia 19 tahun saat berangkat menuju Suriname pada 16 Juni 1907. Ia dituliskan dalam arsip telah menikah terlebih dahulu dengan seorang pria yang bernama Susah. Tidak diketahui pasti akhir dari pernikahan pertama Satarijah sebelum akhirnya menikah dengan Tubiran.

Satarijah mulanya bekerja di perkebunan Peperpot pada 27 Agustus 1907 dengan agen bernama Brink, Jan ten, beheerder Sur. Cult. Mij. Dari pernikahan Tubiran dan Satarijah, pasangan ini dikaruniai 3 orang anak, yakni Soegiran, Soetini dan Soeti. Soegiran lah yang kemudian datang ke Kulon Progo pada 20 Oktober 2017, lalu.

Informasi dari arsip ini merupakan data sepihak yang tidak menutup kemungkinan terdapat kesalahan atau kekurangan informasi. Untuk itu akan sangat berguna jika ada informasi tambahan yang dapat memperkaya wawasan mengenai kehidupan warga Kulon Progo di Suriname, khususnya keluarga Tubiran.

Pada 9 Agustus 1890 imigran Jawa menatap langit Suriname untuk pertama kalinya. Mungkin karena itu setiap 9 Agustus diperingati keturunan Jawa di Suriname sebagai The Day of Wong Jowo. Dalam sebuah prasasti berbentuk patung di Suriname tertulis demikian, Monument Ter Nagedachtenis Aan De Komst Van De Eerste Javanen In Suriname. Sebuah pengingat untuk mengenang simbah buyut yang bersusah payah menjaga kehidupan bagi generasi selanjutnya.

Inilah risalah mengenai kehidupan Tubiran. Seorang warga Kulon Progo yang bertekad mengadu nasib di negeri jauh sampai akhir hidupnya. Sang anak, Mbah Wongso, kemudian datang ke Kulon Progo untuk menuntaskan keinginan sang ayah pulang ke tanah kelahirannya. Kisah dua keluarga yang terpisah jauh, Kulon Progo dan  Suriname, kini telah terungkap. (Sumber: Gahetna.nl dan Kompas.com; Sumber foto: Gahetna.nl dan Surinameblogger.deviantart.com)

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Halo, Kulon Progo!

Masyarakat Kulon Progo, penyakit virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan di China. Orang yang tertular COVID-19 yang mengalami gejala ringan akan pulih tanpa penanganan khusus. Namun diperlukan penanganan medis yang lebih serius untuk gejala sedang dan berat.

Virus yang menyebabkan COVID-19 terutama ditransmisikan melalui droplet (percikan air liur) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya.

Anda dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika Anda berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi COVID-19. Anda juga dapat tertular jika menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut Anda.

Sampai saat ini, belum ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati penyakit yang disebabkan virus corona baru (COVID-19). Mereka yang terinfeksi virus harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala, dan mereka yang sakit serius harus dibawa ke rumah sakit.

Seperti penyakit pernapasan lainnya, COVID-19 dapat menyebabkan gejala ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Sekitar 80% kasus dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus. Tapi bagi sebagian orang yang berisiko tinggi (kelompok lanjut usia dan orang dengan masalah kesehatan menahun, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau diabetes), virus corona dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, bahkan menyebabkan kematian. Kebanyakan korban berasal dari kelompok berisiko itu.

Jika memiliki gejala seperti pilek, sakit tenggorokan, batuk, badan lelah, demam dan kehilangan indera penciuman atau pengecap, dihimbau untuk isolasi mandiri di rumah, RS Darurat, RS, maupun RS rujukan untuk pasien COVID-19. Isolasi diri (baik secara mandiri di rumah atau di klinik, puskesmas, dan rumah sakit) minimal 10 hari sejak munculnya gejala ditambah 3 hari. Ditambah dengan kepastian bahwa gejala yang semula muncul sudah benar-benar hilang.

Masyarakat Kulon Progo, Anda dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan berkumpul dengan banyak orang. Diwajibkan untuk mengenakan masker, menghindari tempat-tempat dengan risiko penularan tinggi, istirahat yang cukup, rutin berolahraga, dan mengonsumsi makanan serta minuman yang sehat.

Jika sangat mendesak atau diperlukan menggelar acara dengan jumlah orang yang banyak, pastikan protokol kesehatan dilaksanakan dengan disiplin, dan laporkan penyelenggaraan kegiatan tersebut kepada satgas COVID-19 setempat.

Update Perkembangan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di Kulon Progo: Klik Di Sini.