Konsistensi Mie Ayam dan Bakso Malvinas

Category: Ekonomi 1,212 0


Dua tahun sebelum Soeharto lengser Roadster Bicycle atau sepeda onta jamak terlihat di Kulon Progo. Di tahun yang sama, mie ayam dan bakso Malvinas dirintis Sartono Sriyanto. Beliau warga Wonogiri yang menikah dengan perempuan Panjatan, Kulon Progo. Mereka membuka warung sederhana sekaligus tempat tinggal di Watulunyu, Pengasih. Kuliner adaptasi dari Tiongkok hijrah ke Indonesia menjadi makanan yang digemari masyarakat Kulon Progo.

Sepeda onta atau disebut sepeda jawa diklasifikasi sebagai Dutch Old Style Bicycle yakni sepeda dengan diameter ban 28 inchi dan rangka 57, 61 atau 66 cm. Pengklasifikasian sepeda jenis ini disesuaikan dengan postur tubuh orang Belanda yang tinggi dan besar. Meskipun demikian sepeda onta untuk perempuan memiliki ciri khas lengkungan di bawah paha. Tidak seperti pria yang terdapat plat lurus dari bawah paha ke bawah leher setang.

Sepeda akrab dengan perjuangan Sriyanto. Jual beli sepeda pernah dikerjakannya untuk menambah pemasukan saat awal membuka warung di selatan UNY Wates. Tidak dalam jumlah banyak. Hanya satu dua sepeda. Ketika ada yang menjual maka ia membelinya untuk dijual kembali. Sepeda yang dibeli dibawanya dengan berjalan kaki. Jika hujan, triplek digunakan untuk melindungi kepala dari guyuran air karena tidak memiliki payung.

Hidup adalah keluarga

Bagi Sriyanto yang kini memiliki beberapa karyawan dan kerap diundang menjadi pembicara di forum pengembangan UKM, hidup adalah keluarga. Bapak dua anak ini tidak ragu meninggalkan daerah asalnya Wonogiri untuk tinggal di tempat yang jauh. Selama di lokasi yang baru bisa mencari nafkah bagi kelangsungan hidup, khususnya anak dan istri, setelah ia menikah.

Berbagai pekerjaan pernah Sriyanto tekuni. Menjadi tukang batu di Wonogiri. Menjajal profesi juru ojek dengan sepeda motor Yamaha L 2 Super pernah. Merantau di Bandung menjadi loper koran. Menjadi pemijat refleksi. Bahkan kernet angkutan umum pernah dilakoni demi menyambung hidup. Sampai akhirnya rejeki berada di gerobak mie ayam bakso yang mulai ia rintis bersama istri. Saat itu anak keduanya berusia 7 tahun.

Tidak banyak yang berubah dari Malvinas sejak tahun 1996. Tekstur dan rasa bakso konsisten, gerobak tetap sama, gurih segarnya kuah masih sama, posisi meja juga di tempat semula. Yang berbeda adalah hasil kerja keras. Tinggal di warung cukup lama Sriyanto mampu menggapai pencapaian yang diinginkan banyak orang, membahagiakan keluarga dengan materi yang cukup. Meskipun tidak menjadi miliarder tapi setidaknya menunjukan bagaimana kerja keras dalam merintis usaha yang kemudian berbuah manis.

Memulai bisnis memang perkara sulit. Apalagi jika tidak tumbuh dari kalangan pengusaha, terdesak kebutuhan atau memiliki tekad kuat. Sriyanto mengamini itu. Namun ia meyakini bahwa merintis sebenarnya pekerjaan yang sederhana saja selama telaten dan tahan banting.

Hampir tutup di tahun 1998 adalah cobaan terberat yang Sriyanto rasakan. Di tahun-tahun pertama mie ayam dan bakso Malvinas berdiri, reformasi dan gerakan mahasiswa di Jakarta ternyata berdampak sampai Pengasih. Dirinya limbung karena harga bahan baku melonjak jauh. Pembeli jauh berkurang karena pekerja kantoran yang biasa mampir membawa bekal dari rumah. Belum lagi keadaan sosial politik yang tidak kondusif. Di tahun itu Malvinas hampir bangkrut jika tidak sabar dan terus bertekad untuk bertahan. Yang penting usaha jalan dan bisa makan sambil terus berdoa agar keadaan segera pulih ungkap Sriyanto.

Di balik kesuksesan meramu kuliner mie ayam bakso menjadi sumber penghasilan yang menggiurkan tersemat banyak pengalaman pahit. Dua tahun pertama menjadi masa yang sangat berat. Untuk makan sehari-hari Sriyanto dan keluarga harus berhemat karena warung belum banyak pembeli. Belum lagi dilabrak badai krisis moneter. Di tahun itu ia dan keluarga tidak memikirkan laba tapi yang penting bisa makan. Kesulitan ini yang menguatkan diri untuk semakin tahan uji menghadapi tantangan ke depan.

Fitnah dan dicurangi

Tahun 2000 baru ada beberapa warung bakso di Wates dan Pengasih oleh karena itu persaingan kuliner mie ayam bakso tidak sekompetitif hari ini. Warung bakso yang sudah ada waktu itu seperti bakso Pak Pur Karangnongko, bakso Kelana Muda, bakso Full Senyum dan Pak Waridjo, Pengasih. Daya beli masyarakat rendah sehingga walaupun warungnya sedikit tetapi pembeli tetap tidak banyak. Masyarakat lebih memilih makan di rumah daripada ngiras di warung makan.

Mie ayam dan bakso Malvinas boleh dikatakan sebagai perintis model mie ayam yang dicampur bakso di Kulon Progo. Saat itu tidak ada satupun warung mie ayam yang menyelipkan bakso di mangkuknya. Inilah wujud inovasi entrepreneur yang dilakukan Sriyanto. Tahun 2001 ia merekrut karyawan. Sebelum periode ini ia hanya bersama istri dan anak pertamanya. Mulai berbelanja bahan, mencetak adonan, hingga menyajikan mie ayam bakso ke dalam mangkuk dengan desain bergambar ayam jago.

Pasangan ini ingat betul jatuh bangun merawat Malvinas. Pernah suatu hari adonan daging yang digiling di pasar dituang minyak tanah oleh penjual lain sehingga dua hari Malvinas tutup. Mendapat fitnah baksonya menggunakan daging babi. Dituduh memakai pelaris. Difitnah memasukan celana dalam ke kuah. Semua kabar tidak benar ini pernah hinggap. Hanya dengan pasrah dan terus bertahan membuat Malvinas berdiri hingga hari ini.

Sementara itu, Idul Fitri dan Idul Adha menjadi hari yang menyenangkan bagi Sriyanto, mungkin juga bagi pengusaha kuliner lain. Pada bulan itu pendapatan mie ayam dan bakso Malvinas meningkat. Hal lain yang membuat dirinya bahagia adalah saat diperkenankan membantu orang terdekat. Mulai para karyawan di warung hingga keluarga di kampung halaman. Ia rindu membantu orang-orang terdekatnya karena mengerti betul bagaimana pahit sulitnya bertahan hidup.

Bermula dari sewa warung dengan harga Rp 350.000 per tahun, sampai hari ini dikontrak senilai Rp 10.000.000, Sriyanto masih bermimpi. Harapannya memiliki bangunan warung bakso mie ayam yang lebih luas. Lengkap dengan berbagai fasilitas yang makin baik. Seperti mushola, toilet, meja yang banyak dan tempat parkir yang nyaman. Sama seperti mimpi di tahun 1996 yang perlahan terwujud, ia berupaya merealisasikan mimpi barunya. Jika tercapai, Sriyanto akan menggratiskan mie ayam dan bakso di warungnya selama satu hari. Ini nazarnya.

Sambil duduk mengenakan kacamata dan celana pendeknya, Sriyanto berpesan untuk teguh dalam menjalani profesi. Pilih pekerjaan yang cocok, kemudian tekuni, diseriusi, pasti akan diberkati. Selain itu berdisiplinlah menabung dan mengelola uang. Niscaya dengan usaha dan kerja keras profesi masing-masing dapat berkembang dengan baik.

Oleh karena itu bagi pengusaha yang baru merintis jangan lelah bertahan di tengah kungkungan kesulitan. Seperi pengalaman mie ayam dan bakso Malvinas.

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.