Revisi Wacana Penataan Alun alun Wates

Category: Budaya, Hukum 1,578 0


Draf Peraturan Bupati Kulon Progo tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Alun-alun Wates Tahun 2018-2023 berdampak pada pembongkaran bangunan bernilai sejarah. Draf perbup ini menjadi preseden buruk bagi upaya membangkitkan penghargaan dan kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya sendiri. Bapak Bupati dan Bapak Ibu Dinas Pertanahan dan Tata Ruang, masyarakat Kulon Progo, khususnya anak muda, melalui survei di media sosial menyatakan tidak setuju dengan rencana tersebut.

alun-alun watesMengkaji draf perbup yang kini berada di meja Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kulon Progo, pembongkaran akan menimpa Dinas Kesehatan dan Rumah Tahanan yang disulap menjadi foodcourt dan masjid. Bank BRI dan Kodim Kulon Progo yang peruntukannya menjadi lahan parkir. Bahkan SD Percobaan 4 Wates yang telah menjadi cagar budaya tidak luput dari pembongkaran.

Bersama SMP N 1 Wates unit I, SD Percobaan 4 Wates dirobohkan untuk diubah menjadi lapangan tenis indoor. Lapangan tenis di Alun alun Wates menjadi panggung pertunjukan. Rumah dinas Sekretaris Daerah menjadi area fasilitas umum. Selanjutnya SMP 1 unit 2 yang juga akan menjadi area fasilitas umum.

Walaupun hanya SD Percobaan 4 Wates yang telah menyandang gelar cagar budaya, hal ini tidak menyurutkan kewajiban dan tanggungjawab untuk merawat peninggalan yang lain. Dinas Pertanahan dan Tata Ruang sebaiknya memberikan klarifikasi menyeluruh. Bagian mana yang dibongkar? Sebagian bangunan atau seluruh bangunan? Mengapa tidak mencari lokasi lain? Pertimbangan apa yang kemudian menjadi alasan munculnya wacana itu? Untuk museum dan galeri seni bisakah dibantu dana keistimewaan? Serta banyak pertanyaan lain yang mungkin disimpan masyarakat.

Begini Bapak Ibu. Sejarah oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo belum mendapat perhatian maksimal. Belum ada lho museum yang memberi akses bagi masyarakat belajar mengenai masa lalu daerahnya. Tidak ada galeri yang memberi ruang bagi literasi tentang sejarah Kulon Progo. Belum maksimalnya program yang membuat generasi muda merasa menjadi bagian dari sejarah Kulon Progo menuju era yang lebih baik. Kepedulian dalam memperlakukan peninggalan sejarah juga kurang. Jangan dengan dalih penataan kemudian memojokan sejarah menjadi sesuatu yang tidak bernilai.

Peduli adalah menghargai

Tidak sepenuhnya perlu menunggu Surat Keputusan Cagar Budaya dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk merealisasikan kepedulian. Legalitas UU Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya perlu tapi proses turunnya surat sakti itu memakan waktu, sementara peninggalan sejarah digerogoti waktu. Peduli bisa dimulai dari menghargai. Tidak selalu dengan langkah besar. Dengan tidak menghancurkan misalnya.

Bapak Ibu, jika berkenan duduk kemudian berpikir jernih, sejarah merupakan aspek sangat penting yang dapat mengikat masyarakat Kulon Progo ke dalam kesadaran kolektif sehati sepenanggungan. Suka atau tidak kehidupan sosio-kultural masyarakat Kulon Progo ke depan akan berubah. Literasi sejarah yang baik dapat meminimalisir bergesernya jati diri masyarakat dan dampak buruk perubahan sosial.

Berkaitan dengan hal itu, betul dalam pembangunan harus ada yang legowo. Ini dipahami oleh masyarakat Kulon Progo. Terutama setelah melihat proyek bandara yang mengajak masyarakat pesisir Temon legowo merelakan tanah penghidupannya. Namun, jika melihat urgensi penataan ulang kawasan Alun-alun Wates, terlalu ambisius jika harus membongkar bangunan bernilai sejarah. Jika disetujui maka Kulon Progo sedang membakar halaman belakang rumahnya sendiri.

Saat ini draf perbup telah selesai disusun Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Kulon Progo. Tentu dalam proses penyusunannya mengundang berbagai pihak guna memberi masukan dan pertimbangan. Pertanyaan masyarakat awam begini Bapak Ibu, siapa saja pihak yang dimintai pertimbangan? Lalu apa rekomendasi hasil kajian yang kemudian diberikan pihak-pihak tersebut sehingga dengan mudahnya menyatakan pembongkaran? Sejauh mana efektifitas pasca pengalihfungsian fungsi lahan?

Pertimbangkan perluasan kota

Bapak Ibu, foodcourt, lahan parkir, masjid, fasilitas umum dan lapangan tenis indoor memang menunjang aktivitas masyarakat. Namun layak ditinjau kembali seberapa kebermanfaatannya. Coba pertimbangkan konsep perluasan kawasan perkotaan agar aktivitas sosial dan ekonomi tidak dilokalisir di Alun alun Wates saja. Toh perluasan kawasan perkotaan sudah dilakukan Pengadilan Negeri, Samsat dan Polres Kulon Progo.



Merujuk pada perluasan kawasan perkotaan, foodcourt, lahan parkir dan masjid bisa dibuat di utara perlintasan kereta api sebelah barat. Ini akan mengurangi kerapatan kendaraan di lingkar Alun-alun Wates. Meskipun tujuan masyarakat tetap ke alun-alun setidaknya jarak menuju ke sana tidak terlalu jauh, sehingga mengurangi beban kendaraan di kawasan ini. Selanjutnya lapangan tenis indoor akan lebih cocok ditempatkan terpadu di kawasan olahraga sekitar UNY Wates.

Lebih baik bangunan Dinas Kesehatan dipugar lalu dimanfaatkan menjadi museum. SD Percobaan 4 Wates diperbaiki lalu gunakan menjadi galeri seni. Rumah dinas sekretaris daerah atau Kodim dijadikan rumah pajang kreatif bagi wirausaha dan industri kreatif Kulon Progo mendemonstrasikan produknya. Ketiganya tanpa membongkar bangunan. Hanya dipugar dengan tidak meninggalkan desain asli.

Ini jauh lebih konstruktif, bijak sekaligus mendidik daripada mengubahnya menjadi area konsumtif. Memanfaatkan gedung Dinas Kesehatan menjadi museum, SD Percobaan 4 menjadi galeri seni, dan rumah dinas sekretaris daerah atau kodim menjadi rumah pajang kreatif pasti diapresiasi masyarakat. Museum, galeri seni dan rumah pajang kreatif merupakan investasi bagi generasi muda Kulon Progo.

alun-alun watesDinas Kesehatan dan SD Percobaan 4 Wates merupakan dua bangunan yang literasi sejarahnya terpapar jelas. Dapat dilihat dengan mudah secara daring di berbagai situs. Tidak dengan Kodim, Bank BRI, rumah tahanan dan gedung SMP 1 Unit I dan II serta rumah dinas sekretaris daerah yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Lakukan dulu kajiannya. Semoga tidak dibongkar kemudian setelah bangunan lenyap baru terkejut di bangunan itu tersimpan sejarah besar.

Mengakhiri kritik dan saran ini Bapak Ibu. Jika ingin membawa kembeli konsep alun-alun tradisional seperti yang diwacanakan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang, ingatlah konsep Alun-alun Wates sejak puluhan tahun silam berbeda dengan alun-alun tradisional. Bahkan sejak era Belanda jika dilihat dari susunan bangunan di lingkar Alun-alun Wates pada peta zaman penjajahan. Hari ini justru ada taman yang menyulitkan peresapan air, bercokol lapangan basket, panggung seni yang memakan lahan cukup besar dan area panjat tebing. Sehingga mari adaptasi konsep lama kemudian kawinkan dengan kebutuhan hari ini tanpa harus mengorbankan aspek yang bernilai sejarah.

Apresiasi konsep

Tentu maksud yang diwacanakan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang baik. Pengadaan area skateboard diidamkan sejak lama, memberikan kemudahan akses parkir, dan penataan kawasan kuliner untuk pengembangan usaha kecil, merupakan upaya positif. Namun sebelum terlambat mari pikirkan solusi terbaik untuk memayungi segala aspek yang menjadi kebutuhan sekaligus investasi bagi masa depan Kulon Progo. Kita yang hidup hari ini bertanggungjawab penuh terhadap kualitas hidup masyarakat Kulon Progo di masa yang akan datang.

Sehingga mari susun ulang penataan area Alun alun Wates menjadi lebih ramah sejarah, berwawasan edukatif serta visioner. Masyarakat Kulon Progo menunggu respon pemerintah terkait hal ini. Semoga cepat. Secepat revitalisasi Pabrik Gula Colomadu yang kaya akan sejarah, berubah menjadi tempat yang menawan dengan tidak meninggalkan unsur sejarahnya. (foto: Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kulon Progo)

Related Articles

Tulis komentar Anda. Isi komentar menjadi tanggung jawab pribadi.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.